
Waktu tak pernah berhenti untuk berjalan, begitupun dengan kenyataan yang kadang tak ingin bersahabat dengan harapan yang kita buat.
Sejak kejadian ketika Queen mengharapkan ikut mengalami adegan dalam drama favoritku, Queen tidak ingin lagi berpikiran yang sama dengan hari itu.
Rasa malu ia alami, meski lelakinya tidak mengetahui apa yang terjadi. Queen terus menyimpannya dalam hati. Hingga waktu satu minggu telah terlewati.
Hari ini, tepat di awal bulan. Waktunya ia menerima pundi-pundi uang dari setiap sumbernya. Salah satunya adalah kiriman dari mama kandung Queen, yang tak pernah telat mentransfer untuk kebutuhan putri semata wayangnya. Sayangnya hanya uang yang selalu Queen terima, bahkan sedikit kabar tentang mamanya pun Queen tak pernah tau.
Disinilah Queen sekarang, di akhir mata kuliahnya dan bersiap untuk pulang. Saat tawa antara Queen dan Rindi membahana di setiap lorong kampus yang mereka lalui, ponsel Queen berdering.
Queen yang selalu mengira itu adalah panggilan dari kekasihnya, dengan senyum yang menghilang melihat nama dalam layar ponsel.
"Iya ma?" Queen menghentikan langkahnya, menjawab dengan malas, dan terdengar sedikit ketus.
"mama sudah transfer kamu ya Queen." Jawab suara yang sangat jarang Queen dengar.
"Oke." Saat Queen hendak menutup panggilannya, Rindi memukul lengan Queen, mengingatkan tentang syarat Aska dari rengekan Queen tempo hari.
"Ma.. sebentar." Dengan cepat Queen menempelkan kembali di telinga. Berbicara sekeras mungkin supaya mamanya tidak menutup sambungan mereka.
"Kenapa?"
"Lagi dimana? Aku butuh ketemu mama." Pinta Queen.
"Kalau mau ketemu, tiga hari lagi mama ke Bandung, kita ketemu disana."
"Oke. Kabarin Queen lokasinya nanti."
"Iya." Setelah kalimat terakhir yang Queen dengar, mama Queen seketika mematikan sambungan telfon Queen.
Queen merasa jengah dengan sikap mamanya. Tidak sedikitpun ia bertanya tentang kabar dirinya. Tidakkah beliau ingin tau bagaimana Queen saat ini. Tidakkah beliau penasaran dengan perkembangan putrinya yang sudah hampir lima tahun tidak bertemu. Yah.. Padahal beliau masih disekitaran dalam negri, kenapa terasa jauh entah dimana.
Queen mengedikkan bahunya santai, saat ia merasakan tangan Rindi tengah mengusap bagian punggungnya.
"Ayok jalan." Ajak Queen tidak ingin Rindi larut dalam rasa khawatirnya.
***
Ingatkan hanya Rindi yang Queen punya saat dulu belum bertemu Aska. Dan kepercayaan Rindi kepada Aska sudah sudah terlanjur dalam. Rindi tidak ingin Queen merasakan kesedihannya lagi dalam kesendirian, karena itulah Rindi memberi tau Aska apa yang terjadi dengan Queen tadi.
Aska mengerti, ia sengaja pulang secepat mungkin saat patrolinya sudah selesai. Ingin segera bertemu dengan gadis manja konyol kesayangannya itu.
Tapi sayangnya, Queen hari ini tidak seperti biasanya. Tidak menyapanya ketika Aska sudah sampai di rumah.
Aska duduk di sofa, masih dengan seragam lengkap tak sabar memberi tau kedatangannya, ya.. mungkin saja Queen tidak mendengar suara motornya.
Cukup lama sampai Queen mengangkat telfonnya. Aska menunggu hingga dua panggilannya tidak terjawab tadi.
"Halo, Ra.." Telfon tersambung, Aska menyapanya dengan lembut.
"Kenapa sih?" Tanya Queen sedikit jutek.
"Em, engga. Saya udah dirumah." Aska sedikit kikuk.
"Ya. Terus?"
"Kamu nggak kemari?"
"Enggak. Aku lagi pengen di kamar." Jawab Queen malas.
"Udah makan belum?" Aska masih khawatir dengan gadisnya.
"Belom. Nggak laper. Aku matiin ya telfonnya?" Queen terdengar malas dan ketus berbicara dengan Aska.
"Kamu mau saya ke tempat kamu?"
"Nggak usah. Aku lagi pengen sendiri." Queen mengakhiri obrolan mereka. Padahal Aska masih ingin berbicara dengannya.
Aska tidak ingin ambil pusing, setelah ia menghempaskan nafas berat yang membuat sesak dadanya, Aska bangun menuju kamar mandi. Membersihkan tubuhnya sebentar karena bayangan Queen terus mengganggu pikirannya.
Sampai akhirnya ia sudah rapih dan hendak merebahkan tubuhnya di atas kasur. Baru saja Aska menempelkan tubuhnya, ponsel yang pegang berdering.
Satu chat via WhatsApp masuk dari Queen.
aku laper.
Aska sedikit terkejut melihat isi pesan dari Queen. Perasaan baru tadi ia menanyakan hal tersebut. Sekarang sudah berbeda jawabannya. Ya.. hati, pikiran dan perut orang siapa yang tau..
Ayok keluar.
__ADS_1
Ajak Aska, mungkin kalau ia mengajaknya berjalan sebentar, fikiran Queen akan kembali terbuka.
Rasa lelah tidak lgi Aska hiraukan jika sudah menyangkut masalah Queen. Aska berjalan keluar dengan kunci mobil di tangan. Tak lupa ia membawa dompet yang ia masukkan kedalam kantong belakang celananya. Yang satu itu jangan sampai terlewatkan.
***
Aska hanya membawa Queen ke taman jajan dekat komplek tak jauh dari kontrakan mereka. Menyadari bagaimana perasaan Queen yang sedang tidak jelas, Aska tidak ingin ambil resiko. Sepanjang perjalanan yang hanya sekitar sepuluh menit saja, Aska sudah pusing mendengar ocehan Queen.
"Mas, kenapa bawa mobil sih, kan jadi lama. Aku laper banget tau." Queen masih ketus sejak ia memasuki pintu mobil yang di buka oleh Aska.
"Tadi saya tanya, katanya kamu nggak laper." Jawab Aska santai, tapi Queen malah menatapnya sinis.
"Emang ini perut aku atau kamu. Kamu nggak ngerasain kan sakitnya. Aku yang ngerasain tau." Aska hampir saja menghentikan laju mobilnya saat itu juga, kaget mendengar jawaban Queen yang nyolot.
"Iya.. maaf. Saya kan enggak tau. Harusnya kamu tadi bilang bawa motor aja."
"Kok kamu jadi nyalahin aku sih mas. Aku kan udah kasih tau kamu tadi, kenapa bawa mobil kan jadi lama, kamu nggak denger?"
"Tapi kamu bilangnya kan pas kita udah jalan?" Aska masih mencoba santai
"Terus salah aku? Aku laper juga kamu nyalahin aku? Salahin aja terus, aku mah nggak pa-pa, udah biasa." Queen melipat kedua tangannya di depan dada. Pandangannya melihat keluar jendela di sampingnya.
"Saya nggak nyalahin kamu Ira sayang.. maaf ya saya nggak peka." Aska mengumpulkan seluruh kesabarannya kali ini. Ia mengira Queen bersikap demikian karena pengaruh kesal pada telfon mamanya tadi.
Aska memarkirkan mobilnya, Queen yang tak sabar sudah keluar lebih dulu sebelum Aska sempat membukakan pintu untuknya.
"Kenapa kesini sih mas?" Pertanyaan pertama yang Aska dengar saat sudah berdiri di sampingnya.
"Kan, tadi kamu bilang udah laper banget. Jadi yang deket aja saya pikir."
"Masa? bukan karena males deket-deket sama aku?"Queen meliriknya tajam, wajahnya masih mencebik dengan suara ketus QueenUsen melangkahkan kakinya mendahului Aska.
Lelaki itu hanya menggeleng pelan, sambil membuang nafas frustasinya. Sedikit berlari mengejar gadisnya yang sudah semakin menjauh.
"Mau makan apa Ra?" Tanya Aska, sambil berjalan menyusuri jalan yang di penuhi gerobak kaki lima.
"Mas kayaknya udah nggak se mesra dulu ya" Jawaban yang sangat jauh dari pertanyaan.
Aska kemudian tersadar, buru-buru ia menggenggam tangan Queen, tidak ingin memperburuk keadaan.
"Kamu mau makan apa sayang?" Aska bertanya sekali lagi.
"Bentar aku masih lihat-lihat dulu yang enak."
"Ck." Queen berbalik menatap Aska sebal, menghempaskan pegangan tangannya hingga terlepas. "Sabar kenapa sih mas, kalo nggak mau nemenin ya udah aku juga bisa jalan sendiri." Queen mengatakannya cukup keras, membuat tertarik pengunjung lainnya.
Aska yang terkejut berusaha menenangkan gadisnya. "Iya iya maaf.. ayok jalan lagi saya temenin sampe ketemu yang kamu mau." Aska merangkul pundak Queen, mengarahkannya kembali jalan, sebelum semakin banyak menarik perhatian orang lain.
"Nggak usah peluk gini mas. Malu tau di liatin orang!!" Queen melepaskan lagi tangan Aska.
Aska hanya meliriknya lagi tanpa suara.
Ya Tuhan.. boleh nggak sih masukin si Ira ke dalam karung?. Batin Aska meratap.
Aska tidak lagi berani berkomentar, ia hanya mengikuti jejak kaki Queen melangkah, dengan menggenggam tangannya. Sampai mereka menemukan makanan yang Queen mau. Mie ayam. Padahal sudah entah berapa gerobak mie ayam yang mereka lewati.
"Ra, sebentar, saya mau beli gorengan dulu boleh nggak?" Aska meminta izin.
"Okeh. Jangan lama."
"Kamu mau nggak?"
"Enggak" Aska mengangguk, meninggalkan Queen yang sedang menunggu pesanannya di buat.
Beberapa waktu Aska meninggalkannya, Aska kembali dengan kantong kertas berisi gorengan. Tidak lama pesanan Queen sudah selesai di buat, Aska membayarnya dan Queen mengambil kantong kertas berisi gorengan Aska. Sambil menunggu abang mie ayam menukarkan uang untuk kembalian Aska, Queen kembali membuat ulah.
"Mas." Bentak Queen, Aska menoleh dengan cepat. "Kenapa isinya bakwan semua. Aku kan pengen yang manis manis."
"Tapi tadi kamu bilang nggak mau?" Aska mulai merasa takut.
"Kamu ya.. nggak pernah peka jadi cowok. Selalu pengen enaknya doang!" Queen kembali menarik perhatian orang disekitar. Hanya kata 'maaf' lagi yang bisa lelaki itu ucapkan.
Apaan enaknya doang? emang enaknya buat gua apa? gemas batin Aska.
"Ini mas kembalinya." Suara abang mie ayam seperti penolong untuk Aska. Cepat Aska berdiri menerima uang yang disodorkan abang mie ayam.
"Sabar ya mas.. cewek emang sensitif kalo lagi ngidam. Istri saya juga dulu gitu. Tapi itu normal kok. Baru anak pertama ya?" Tutur abang mie ayam pelan, berharap Queen tidak mendengarnya.
Tapi justru pertanyaan itu terasa nyaring di telinga Aska.
__ADS_1
Ngidam? Apaan? Tanem aja belum, masak udah ada benih. Pikirnya.
Tapi Aska adalah lelaki dewasa yang selalu tau cara bersikap. Ia hanya mengangguk dengan cengiran di bibirnya.
"Kuat kuat ya mas. Semoga sehat jabang bayinya." Doa abang mie ayam.
"Iya pak. Terima kasih doanya." Aska menggenggam tangan Queen jalan keluar dari tenda abang mir ayam dengan rasa geli di hatinya.
"Kamu mau apa lagi?" Tanya Aska tak ingin membuat kesalahan lagi.
"Dari tadi aku pengen siomay, tapi kamunya nggak paham."
"Kapan ngomongnya?"
"Dari tadi aku ngeliatin gerobaknya, tapi kamunya nggak nawari aku." Cabik Queen.
"Ya udah ayok!" Jangan sampai obrolan ini semakin panjang.
Sejak saat itu, setiap kali Queen melirik sedikit lama ke arah gerobak makanan, maka Aska akan membelinya untuk Queen. Entah sudah berapa jenis makanan yang mereka beli. Yang penting, gadisnya ini tidak lagi merajuk.
Sudah di rasa cukup Aska mengajak Queen untuk pulang. Awas saja kalo nanti Queen tidak makan habis jajanannya.
Baru saja Aska masuk duduk di belakang kemudi mobil, Queen sudah bersuara lagi.
"Mana baksonya mas?"
"Kita emang nggak beli. Kamu nggak minta, tadi juga kamu nggak ngelirik gerobak bakso." Aska cepat-cepat memberi pembelaan.
"Aku mau bakso. Perut aku tuh lagi sakit. Aku butuh yang seger seger tau!" Lagi, permintaan Queen yang jelas seperti perintah.
"Perut sakit itu nggak boleh makan yang pedes sayang.. ke dokter aja yuk, kita periksa" Ajak Aska dengan lembut.
"Enggak! Aku mau bakso sekarang!"
"Ntar mie ayamnya keburu nggak enak Ira."
"Siapa yang mau mie ayam. Aku mau bakso. Kalo kamu nggak mau beliin, yaudah aku beli sendiri." Queen membuka pintu mobil disebelahnya, dengan cepat Aska menarik tangan Queen sebelum ia sempat keluar.
"Kamu tunggu disini aja. Saya yang beli." Tawar Aska.
"Gitu kek dari tadi." Queen melipat tangannya, badan dam kepalanya ia sandarkan di sandaran jok, dengan mata yang tertutup.
Aska rasanya sudah mulai habis kesabaran, dengan cepat ia menghubungi Rindi saat berada di gerobak bakso. Tapi dengan santainya sahabat kekasihnya itu bilang mungkin periode cewek.
Periode cewek apaan. Ngambek setiap awal bulan gitu. Aska meratap, menggeleng kepalanya tak mengerti jawaban Rindi.
Pesanan Aska sudah siap, dengan keyakinan yang teguh, jika saja Queen masih merengek sakit perut, tanpa bertanya lagi Aska akan membawa Queen ke dokter. Mungkin saja benar ada benih di dalam perut Queen.
Setibanya Aska di dalam mobil, Aska berusaha selembut mungkin dengan kekasihnya. Kemana keyakinannya yang tadi. Menguar begitu saja.
"Mas.." Sapa Queen kali ini dengan lembut.
"Apa lagi?" Aska berusaha menekan emosi uang sudah mulai terasa panas di kepalanya.
"Ayok buruan pulang!" Ajak Queen. Alhamdulillah, pernyataan yang sudah Aska tunggu.
"Iya sabar. Tadi abangnya rame yang beli."
"Aku minta maaf ya ma.." Tiba-tiba Queen menangis, semakin terisak, semakin membuat Aska bingung.
"Kamu kenapa? Saya nggak pa-pa Ra.. nggak usah nangis." Aska menenangkan.
"Aku minta maaf, maaf banget kamu mau marah sama aku juga aku terima." Di tengah isaknya Queen terus berceloteh.
"Kamu kenapa sih Ra? Saya nggak pa-pa kok. Nggak marah."
"Darah aku tembus mas.. jok kamu kotor." Queen semakin tersedu sedu. Aska tak mengerti, ia bingung mendengar kalimat yang baru pertama kali ia dengar.
"Tembus apaan, kenapa berdarah?"
"Ish.. kamu mah.."
"Apaan sih Ra? ngomong yang jelas, saya makin takut nih Ra."
"Aku dateng bulan mas.. ayok buruan pulang."
"Dateng bulan?" Aska mengulanginya lagi.
Oh, yasudahlah.. ini alasan si bocah sakit perut dengan sikap konyolnya yang hampir membuatnya kehilangan muka tadi. Aska selalu bergumam dalam hati, hampir sepanjang hari..
__ADS_1
**maaf banget kalo lagi nggak jelas. selalu minta like nya boleh kan?**
🙃🙃😉