Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
Virus


__ADS_3

Sampai pada saat ini,


aku memulihkan rasa di hatiku


baru aku bisa, bisa bicara..


nyanyi dikit.. hayoo siapa yang tau lagunya???.


***


Aska tergolek lemah tak berdaya. Suhu badannya terasa lebih hangat dari biasanya. Kalau sudah seperti ini, bagaimana ia bisa duduk berduaan bersama dengan wanita kesayangannya seperti biasa. Yang ia lakukan hanya merebahkan tubuhnya di atas kasur, dengan mata yang terpejam.


Suhu AC dalam ruangan juga Aska Queen kecilkan. Ia menutupi tubuh suaminya dengan selimut yang tebal, berharap agar sakitnya tidak memburuk.


Queen menghela nafas dalam-dalam, ia pasrah. Duduk di pinggiran atas ranjang, di samping suaminya yang tengah berbaring. Ia hanya memandang lurus ke arah wajah Aska, sambil sesekali menggerakkan tangannya memijat bagian kaki suaminya itu.


"Kamu tuh kenapa sih mas? Kon bisa sampe kayak gini?" Suara Queen lirih namun masih bisa di dengar oleh Aska.


Lelaki itu membuka matanya perlahan, nampak sangat rasa bersalah yang terpancar di raut wajahnya. "Aku nggak pa-pa kok Ra. Cuma kecapean aja."


Sekali lagi. Queen menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghelanya dengan kasar.


"Makanya mas.. jangan suka cari-cari penyakit. Kalo udah begini, siapa yang susah? Kamu sendiri kan yang ngerasain."


"Aku tuh nggak nyari penyakit Ra, dia sendiri yang dateng ke aku.." Queen mengalihkan pandangannya. Rasanya jengah mendengar penuturan lelaki di sampingnya ini. Bagaikan bocah kecil yang belum mengerti apapun.


Tanpa mengatakan apapun, Queen berdiri dengan tiba-tiba. Membuat Aska sedikit terkejut. "Ra?" Cepat-cepat ia meraih pergelangan tangan istrinya, takut-takut ia salah berucap. "Mau kemana?" Tanyanya sedikit panik.


"Mau ke dapur, bikinin kamu teh anget. Kenapa?"


Siapa yang nyangka, mungkin orang sakit lebih paranoid.


"O,oh.. oke. Jangan lama-lama ya.. temenin aku disini."

__ADS_1


"Emang aku bisa kemana sih mas? Ya pastilah disini nemenin kamu. Kan aku emang tinggal disini." Ia mengatakannya sembari tidak menatap wajah Aska. Hanya sambil berjalan menuju ke dapur. Yah.. tepatnya seperti sedang menggerutu.


Apa yang bisa Aska lakukan? Hanya menghela nafasnya pasrah.


Kalau kalian berfikir, Kenapa Queen seperti kelihatan nampak jutek, tidak merasa cemas yang berlebihan, padahal lelaki kesayangannya tengah tergolek lemah tak berdaya. Tapi ia cukup perhatian kan.. Kenapa?


Karena memang Aska sendiri yang membuat dirinya seperti itu.


Coba bayangkan, dengan pekerjaannya yang banyak menguras tenaga saat tengah turun ke lapangan, ia masih saja tidak mengistirahatkan tubuhnya. Ya memang, ia merebahkan tubuhnya, tapi matanya tidak terpejam. Selama malam hingga datangnya pagi, mata Aska masih sibuk fokus pada layar ponsel dalam genggamannya.


Apa yang ia lakukan, sampai matanya tidak bisa lepas dari ponsel? Bermain game. Bermain dengan Rendi dalam koneksi internet. Setelah pagi menjemput, ia masih harus bekerja lagi lalu di lanjut sparing futsal dengan Rendi. Waw.. Queen patut waspada..


Kenapa Rendi lebih di utamakan sekarang. Mulai bengkok kah suaminya itu?


Alhasil, Aska pulang dengan suhu tubuh yang lebih hangat dari biasanya. Ia juga mengatakan kepalanya seperti berkunang-kunang, pandangan di depan matanya seperti ada bayangan. Syukurnya, Aska masih bisa pulang dengan selamat. Tidak terluka ataupun lecet sedikitpun.


Itu juga yang membuat Queen terus menghela nafasnya. Sangat sulit ia membayangkan, suaminya masih bisa pulang dengan selamat, dengan kepala yang berkunang-kunang. Apalagi ia harus menjaga konsentrasi saat berkendara roda dua. Sungguh. Tidak ingatkah Aska, bahwa ia bukan kucing yang katanya memiliki sembilan nyawa.


***


Sedih rasanya jika seperti ini. Queen yang bolak-balik ke kamar, mengecek suhu tubuh suaminya dengan rasa cemas. Ia juga harus melakukan semuanya sendiri. Makan malam sendiri, nonton tv sendiri dan sekarang rasa ngantuknya yang sudah melanda.. haruskah Queen tidur, tanpa perlu mengobrol seperti biasanya? Rasanya sungguh asing. Tapi mau gimana lagi, nggak mungkin kan kalo ia harus membangunkan Aska dari istirahatnya.


Yasudahlah, Queen memutuskan untuk pergi tidur saja. Tidak enak rasanya melakukan hal tanpa di temani suami kesayangan.


Ia mematikan saluran tv nya, beranjak dari sofa menuju kamar mandi. Queen selalu mencuci muka juga tangan dan kakinya sebelum tidur. Ketika ia tengah berada di dapur untuk mengambil minum, Queen merasakan tubuhnya di peluk dari belakang. Ia menunduk, melihat tangan yang melingkar di atas perut buncitnya, helaan nafas juga terasa di tengkuk leher Queen.


"Kok bangun mas?" Queen bertanya pelan.


"Hem.. aku laper." Suara Aska masih parau.


"Yaudah yuk, makan dulu. Kamu tunggu di depan, biar aku ambilin."


"Enggak." Mata Aska masih terpejam. "Aku mau sama kamu aja."

__ADS_1


"Dih." Queen menepuk punggung tangan Aska pelan. "Makan dulu kalo laper mah."


"Aku laper kalo deket kamu. Cicipin kamu aja dulu, boleh nggak?"


"Enggak. Nggak usah yang aneh-aneh ya mas.. ini udah malem."


"Ya karena ini udah malem Ra.."


"Kamu udah mendingan?" Queen memutar badannya, meletakkan telapak tangannya di atas kening Aska, mencoba mengecek suhu tubuh suaminya itu.


"Iya." Aska kembali memutar tubuh Queen, kembali memeluknya dari belakang. "Di jagain sama bidadari aku, mana mungkin nggak cepet sembuh." Mereka terdiam sejenak. "Kamu harum banget sih Ra. Besok-besok kalo mandi barengan aja yuk" Kecupan kecil di tengkuk leher Queen, membuat gelenyar di hatinya.


"Apaan sih kamu, kayak anak kecil aja deh."


"Rendi bilang kalo suami istri sering mandi bareng bikin hubungan mereka lebih mesra tau Ra.."


"Ah kamu" Queen melepas pelukan Aska. Mendengar Aska yang menyebut nama Rendi membuat Queen teringat pada emosinya yang sempat terlupakan tadi. "Mas Aska tuh kebanyakan main sama kak Rendi, makanya virus mesumnya tuh nular ke kamu." Queen mendengus. "Awas aja ya mas, kalo virus playernya ikutan nular juga ke kamu, aku nggak bakal tinggal diem." Ancam Queen, dengan jari telunjuk mengarah ke wajah Aska.


Hah.. kayaknya Aska salah ngomong. Yes?


Lelaki itu hanya bisa diam, melihat kepergian Queen yang berjalan meninggalkannya. Tertunduk menatap lantainya berpijak dengan wajah lesu namun masih terlihat senyum tipis di bibirnya.


"Ira..." Panggilnya pelan, ia ikut menyusul wanitanya. "Cantik.. nggak usah marah-marah lah.. kasian dede bayi nya kan." Kecupan kecil Aska berikan di atas perut buncit Queen.


"Kamu tuh ya mas, kalo gini aja bawa-bawa dede bayi, tapi pas kamu salah, kamu inget nggak sama dia? Kamu enak-enakan main sama temen kamu, sampe lupa tidur gitu. Kalo kamu kenapa-kenapa nanti, siapa yang bakalan susah? Siapa yang bakal kena dampaknya? Aku sama anak kamu mas Aska!"


Akhirnya, meledak sudah emosi Queen yang sedari tadi sudah berusaha ia tahan, bahkan sudah sempat terlupakan.


"Iya iya maaf.. aku kan cuma kecapean doang Ra. Nggak usah marah sampe segitunya lah. Liat nih, cuma tidur sebentar doang juga sakit aku sembuh kan?"


"Dengerin aku ya mas.. besok-besok, kalo kamu begitu lagi, suruh kak Rendi yang ngurusin kamu." Queen memiringkan tubuhnya menghadap tembok. Memunggungi Aska.


Bagaimanapun juga, Queen tidak bisa meminta Aska untuk tidak bertemu atau tidak berteman dengan lelaki satu itu. Itu adalah privasi suaminya, juga karena Rendi sudah terbukti jiwa kesetikawanannya. Terlalu banyak dirinya juga Aska yang menarik Rendi masuk dalam masalah percintaan mereka.

__ADS_1


🙃🙃😉


__ADS_2