
Pernahkah kalian mendapatkan kesialan yang bertubi-tubi dalam satu hari, atau dalam satu waktu? Seberapa pun besarnya kesabaran seseorang pasti selalu ada batasnya. Kecuali jika orang itu menelan sendiri kesabarannya, ketika tengah menghadapi cobaan di depan matanya.
"Ra, aku ke kamat mandi dulu ya, kamu tunggu disini, jangan kemana-mana dulu sebelum aku dateng." Aska menangkup kedua pipi Queen mengarahkan pandangan mata mereka, agar saling beradu. "Oke sayang?" Aska mencari kepastian, dan Queen mengangguk sekali dengan senyumnya sebagai jawaban.
"Jangan lama-lama ya mas.." Pinta Queen.
"Iya sayang" Aska mengecup sebentar kening wanitanya. Ia menyempatkan melirik Rendi sebentar, yang masih terdiam karena terkejut dengan apa yang di dengarnya tadi. Aska lalu beranjak meninggalkan mereka, melangkah secepat mungkin menuju toilet.
Rendi yang masih terdiam menatap wanita di depannya itu, kembali tersadar ketika mendengarnya kembali bersuara.
"Oh iya mas, sekedar info. Saya beli baju baby, belum tentu itu untuk anak saya. Saya belanja itu untuk keponakan saya. Dan satu lagi, saya masih single." Setelah menekan kata terakhirnya, wanita tadi melenggang pergi ke kasir meninggalkan Rendi yang masih tak bersuara. Sebenarnya wanita itu memang tak memberi Rendi waktu untuk membela. Dirinya sangat tidak suka lelaki dengan sikap yang sok kenal dan sok dekat seperti apa yang Rendi lakukan padanya.
"Wuah, parah tuh cewek!" Rendi yang baru saja tersadar dari keterkejutannya berusaha menyusul langkah perempuan tadi. Tentu saja ia tak terima dengan tuduhan tak beralasan. Bagaimana mungkin wanita itu menarik kesimpulan hanya dengan satu fakta yang ia lihat.
Namun, dengan cepat Queen menarik tangan Rendi. Mencegah teman suaminya itu agar tidak melangkah lebih jauh lagi. Queen juga tentu tak ingin mendapat malu, jika sampai Rendi berdebat jangan wanita yang tidak mereka kenal.
"Bentar Queen, gua mau kasih pelajaran dulu buat tuh cewek. Biar dia tau gua siapa!" Queen masih tetap memegangi tangan Rendi, kali ini dengan kedua tangannya.
"Nggak udahlah kak, malu diliatin sama orang."
"Ck." Rendi hanya berdecak kesal. Ia kesal sekesal-kesalnya.
"Harusnya tuh As, tadi tuh kita kesini nya pake seragam dinas aja. Biar kita nggak diremehin kayak begini."
"Kak Rendi."
__ADS_1
"Apa?" Suara Rendi masih meninggi. Menyentak Queen. Queen terkejut namun masih dalam kesadarannya.
" Mas Aska nya nggak ada." Suara lugu nan polos Queen saat menjawab ucapan Rendi semakin membuat Rendi terlihat sangat konyol. Ia melirikkan ekor matanya ke kanan dan kiri, memperhatikan keadaan di sekitarnya.
"Kemana dia?" Suara Rendi melemah.
"Ke toilet."
Sekali lagi Rendi berdecak, kali ini dengan rasa malu yang sangat begitu menyerang dirinya. Ia merasa tempat ini sudah sangat terasa tidak nyaman lagi. Rendi lalu menarik tangan Queen, memintanya meminta mengikuti langkah kakinya yang begitu cepat dan lebar meninggalkan toko tersebut.
"Kak. Pelan-pelan dong. Aku kan lagi hamil muda." Queen berusaha menyeimbangkan langkah kaki Rendi. Namun tetap saja, langkah lelaki lebih lebar di banding wanita, apalagi wanita manja di tambah sedang hamil muda.
Lelaki itu mendengarnya, ia lalu memperlambat langkahnya, lagi pula mereka juga sudah berada sedikit jauh dari toko sialan yang menjatuhkan harga diri Rendi hingga terjun bebas ke pantai.
"Telfon laki lu, bilang kita tinggu di resto kakek fc, di lantai bawah."
***
Aska yang baru saja keluar dari kamar mandi dan mendapat panggilan dari Queen, langsung menuju tempat yang di beri tau oleh wanitanya tadi dengan secepat mungkin untuk segera sampai. Namun saat Aska tak melihat jalan di hadapannya, ia menabrak seseorang. Aska melihat kantong belanjanya berjatuhan di lantai. Ia lalu membantu membereskannya, sebagai bentuk rasa tanggung jawabnya atas kesalahan yang tak fokus saat berjalan.
"Maaf ya mbak saya nggak sengaja. Saya nggak ngeliat tadi."
"Ia mas nggak pa-pa." Setelah menyerahkan kantong belanjaan dari tangannya, Aska sekali lagi meminta maaf lalu kembali pergi melanjutkan langkahnya. Secepat mungkin agar cepat sampai pada dua orang yang tadi ia tinggalkan.
"Maaf ya Ra, lama." Aska yang baru saja sampai langsung mencium kening wanita tersayangnya. Yang tengah menyeruput minuman mc. float yang di pesankan Rendi tadi.
__ADS_1
"Kemana aja sih lu, lama amat." Rendi dengan sisa-sisa kemarahannya, masih sedikit dendam karena Aska yang pergi begitu saja tanpa memberitahunya.
"Ke toilet gua. Terus nggak sengaja nabrak cewek yang tadi ribut sama lu." Sejenak Aska menatap Rendi, kemudian kembali fokus pada wajah Queen.
Senyum manis Aska tampilkan. Rasa sayang itu masih besar ia rasakan. Mengingat di tambah ada makhluk kecil bernyawa yang harus di bawa Queen kemanapun ia pergi selama sembilan bulan penuh, hasil perbuatannya, juga hal yang paling Queen dambakan selama mereka menikah.
Rendi awalnya mendengar ucapan Aska hanya lalu, namun mendengar wanita tdi yang menjatuhkan harga dirinya, bertemu lagi dengan Aska. Ia lalu bersemangat. Rendi berdiri dengan antusias dan emosi. Sampai bangku yang ia duduki mundur kebelakang dengan keras. Membuat beberapa pengunjung terkejut karena suaranya. Beberapa pasang mata pengunjung memperhatikan dirinya. Tak terkecuali dengan Queen juga Aska. Mereka terkejut sikap Rendi yang begitu tiba-tiba, membuyarkan suasana romantis nan magis yang terjadi di antara tatapan keduanya.
"Kenapa sih lu Ren? Santai dikit kenapa sih lu?" Aska sedikit kesal.
"Dimana lu ketemu tuh cewek? Biar gua susul." Rendi bersemangat menanti jawaban Aska, namun mata Aska hanya memicing, menatapnya lalu menyeringai.
"Kenapa lu liatin gua begitu?"
"Nggak pa-pa." Aska menggeleng kecil. Menyuapkan satu iris kentang goreng crispy ke dalam mulut Queen. "Yang banyak makannya ya sayang. Soalnya bukan kamu doang yang harus terpenuhi nutrisinya." Berlanjut dengan satu suapan berisi nasi juga suiran ayam berbalut tepung renyah. Sedikit sisa saos tomat di ujung bibir Queen Aska usap dengan ibu jarinya, membuat Queen tersenyum bangga.
Suaminya kini lebih romantis dari biasanya. Apakah ini juga salah satu dari bawaan bayi yang ia kandung, atau karena rasa sayang yang begitu besar Aska rasakan. Rendi yang semakin tak tahan melihatnya, ia menggebrak meja dengan kedua telapak tangannya.
"Woy.. masih ada gua disini."
Tidak sadarkah mereka dengan sifat seorang casanova yang kinibtengah sendiri.
"Iya. Gua tau Ren. Udah lu duduk dulu, minum yang banyak biar tenang." Aska mneyodorkan minuman bersoda milik Rendi sendiri. "Nggak usah nge-gas gitulah Ren. Tenang aja. Lu masih diikutin sama dewi Fortuna elu kok. Nggak perlulah galak-galak sama cewek. Inget sama nyokap lu juga cewek."
Baik Queen maupun Rendi, sama-sama tak mengerti dengan sikap Aska. Apa yang ada si dalam pikiran Aska di balik sikap santainya kali ini?
__ADS_1
****Hai.. aku mau ucapin sorry yang sebanyaknya untuk kalian terutama @fihfo. Yang kemaren sempet di php.in di bilang mau up double, ternyata malah libur lama lagi. Haha.." Maaf banget yak.
masih di tunggu komen kalian ya*.."*