
"Ira.." Aska berbisik lembut di samping telinga Queen. Pagi ini Queen bangun lebih dulu di banding Aska. Padahal hari ini adalah hari libur bagi keduanya, tapi Queen memaksa bangun seperti biasanya karena ingin masak spesial tanpa di bantu oleh Aska.
Melihat suaminya yang begitu lemah semalam, Queen tau, sesuatu yang berbeda sedang terjadi pada Aska. Namun Queen yang sekarang tidaklah seperti gadis manja sebelumnya. Ia lebih memilih diam dan mengamati, sampai saat Aska siap bercerita kepadanya. Di banding harus memaksa suaminya bercerita tentang apa yang tengah ia alami.
"Pagi-pagi gini, lagi ngapain sih?" Aska memeluk tubuh Queen dari belakang. Melingkarkan kedua tangannya di atas perut Queen yang belum nampak perubahan yang signifikan. Ia menghirup aroma wangi tubuh Queen dari perpotongan leher Queen. Menenggelamkan wajahnya sambil memejamkan mata. Aska hirup aroma wanitanya dengan seduktif. "Udah wangi aja Ra.. kapan mandinya?" Tutur Aska. Hembusan nafas Aska yang hangat di leher Queen, membuat bulu halus Queen meremang.
"Tadi, bangun tidur langsung mandi. Jangan gini mas Aska.. aku nya jadi susah motong sayurannya." Pinta Queen. Wanita itu memang tengah berdiri di dalam dapur, mengiris sayuran yang akan di masaknya untuk sarapan. Namun, belum sempat ia menyelesaikan pekerjaannya, Aska sudah lebih dulu bangun, lalu menghampirinya.
Aska sebenarnya ingin berlama-lama dengan Queen, kalaupun bisa, ia ingin menghabiskan setengah harinya di atas ranjang bersama istri tercinta. Memeluknya sampai puas, mencium serta membelai lembut rambut wanitanya. Namun, ketika Aska belum sepenuhnya sadar, ia mendapati tempat disebelahnya telah kosong. Guling hidup kesayangannya, yang tadinya ingin ia manja, sudah tidak ia rasakan. Aska segera beranjak mencarinya. Meski masih dalam keadaan mengantuk tapi Aska berusaha sampai menemukan wanitanya. Hingga ia mendapati sosok wanitanya tengah berdiri di bagian ujung kontrakannya.
"Hari ini kan kita libur, kenapa harus bangun pagi-pagi sih Ra?" Dagu Aska yang berada di atas bahu Queen membuat dirinya mudah mengamati setiap gerakan tangan Queen. Dan tentu membuat gerakan tangan Queen menjadi sedikit melambat karena berat.
"Aku mau pas kamu bangun nanti, sarapannya udah siap. Jadi mas Aska bisa langsung makan. Tapi.. malah masnya bangun duluan.." Ada sedikit nada kecewa terdengar dari kalimat Queen.
"Hem.." Mata Aska terpejam lagi, menghirup aroma wangi tubuh Queen banyak-banyak. Ia jadi terbayang bau nasi yang tak dapat ia terima saat ini. "Aku nggak mau makan dulu, bisa nggak sih Ra?" Tanya Aska ragu-ragu.
"Kenapa emang?"
"Emm.. rasanya aku lagi musuhan gitu sama nasi." Queen terdiam. Pikirannya menerawang jauh, menyusun beberapa waktu yang mereka lalui kemarin. Ia mengingat-ingat setiap kejadian aneh suaminya saat makan. Mungkinkah sikap lemah Aska kemarin karena perutnya yang tidak kemasukan nasi, di tambah kemarin adalah waktunya Aska senam beserta anggotanya yang lain.
"Aku mau makan kamu aja, boleh nggak sih Ra?" Aska masih memeluk tubuh Queen dari belakang. Satu tangannya menangkup pipi Queen, mengarahkannya pada wajah Aska yang berada di samping.
Tak perlu waktu lama bagi Aska, untuk menunggu bibirnya menempel pada bibir Queen. Wanita ini sudah menjadi candu bagi dirinya semenjak mereka bertemu. Aska ******* halus dan lembut, menikmati rasa manis dari bibir Queen.
Bibir mereka hanya terpangut beberapa saat, sampai Aska melepasnya lebih dulu. Ia tidak menuntut, juga tidak sedang terbakar gairah. Aska hanya menyalurkan rasa sayangnya yang selalu menginginkan bagian tubuh Queen. Entah kenapa Aska selalu ingin mengabsen bagian wajah Queen yang satu itu. Tidak pernah seharipun ia tidak merasakan bibir Queen.
"Kapan sih Ra kita boleh main lagi?" Suara Aska sendu.
"Main apa?"
"Hem.. main apa ya?" Aska sedikit berfikir,ia tidak ingin bahasanya terlalu frontal di depan Queen. Aska mengalihkan fokus Queen yang tertuju menunggu jawabannya. Lelaki itu masih memeluk, melingkarkan tangannya dan menggoyang tubuh mereka ke kiri dan kesamping, pelan.
"Mandi dulu gih.. nanti kita sarapan bareng." Tutur Queen, yang langsung membuat Aska kehilangan semangatnya lagi.
"Kan aku udah bilang Ra.. aku lagi nggak bisa makan nasi."
"Hem.. ya udah mas mandi dulu, nanti kita cari jalan keluarnya." Queen melirik sekilas ke arah wajah Aska, dengan dahi yang mengerut. "Kamu bau tau.." Sontak membuat Aska terkejut. Ia terkekeh beberapa saat menyadari dirinya yang belom mandi, tapi sudah meminta jatah bibir Queen.
"Haha.. aku bau ya?" Canda Aska. Ia melepaskan pelukannya, berjalan mengambil handuk yang tak jauh dari mereka berdiri. Aska menghampiri Queen lagi. Kali ini meminta wanitanya berbalik menghadapnya. Menangkup kedua pipi Queen. Ia menahan wajah Queen lalu mengecupnya kecil hingga beberapa kali. Sesudahnya ia tertawa sampai masuk ke dalam kamar mandi. Tingkah Aska yntg semakin konyol seperti anak tanggung, terkadang membuat Queen gemas.
***
__ADS_1
Seperti biasa, Queen sudah menyiapkan segala keperluan suaminya sesaat ketika Aska masuk kamar mandi. Acara masak sarapannya pun sudah siap. Tinggal ia hidangkan di atas meja makan. Meskipun mereka memiliki meja makan. Tapi, Aska lebih senang makan di sofa depan tv. Queen juga mau tak mau harus mengikuti sikap lelakinya. Hanya saja ketika Queen tengah berada sendiri, atau terkadang bersama Rindi yang sedang mampir ke tempatnya. Barulah ia makan di meja makan.
"Mas.. kalo kamu nggak mau makan, ini makanannya buat siapa?" Tanya Queen. Aska memilih sarapan hanya dengan biskuit rasa gurih kelapa, di celup dengan teh hangat. Tidak akan habis kalau Queen yang memakannya sendiri.
"Aku panggil temen aku aja deh, yang masih pada sendirian. Biar mereka bisa ngerasain kehebatan masakan kamu." Puji Aska. Sebenarnya itu juga untuk menghibur hati Queen yang sedang bersedih, lantaran niat baiknya yang menjadi sia-sia.
"Iya, terserah kamu deh.."
Sambil menunggu kedatangan Fiki dan Rendi yang Aska telfon tadi, Queen memilih berbaring di atas kasur. Melepaskan rasa penat akibat berkutat dalam dapur. Karena dirinya yang tengah hamil muda, maka Queen juga harus menjaga kesehatan dirinya juga janin dalam kandungannya.
Aska juga tidak keberatan kali ini. Kalau biasanya ia selalu ingin di temani Queen, dimana pun itu saat dirinya berada di rumah. Tapi kali ini ia memberikan sedikit kelonggaran bagi Queen. Mengingat istrinya yang sudah nampak kelelahan.
"Ra.. ganti bawahan kamu, sebelum temen aku dateng. Pake baju yang biasa aja, biar temen aku nggak ngeliatin kamu terus." Seru Aska dengan nada dominatif.
Queen tercengang. Sikap Aska yang posesif begini kadang berada di luar nalar batas pemikiran Queen. Kalo pun Aska tak ingin temannya bertemu Queen, kenapa harus memanggil dua serigala berbulu domba itu datang ke kandangnya, membiarkan mereka melihat kelinci putihnya. Dasar..
"Terus aku pake baju apa?" Jawab Queen dari dalam kamar.
"Pake baju yang kayak ibu sebelah itu lho.. yang terusan panjang."
"Apaan? Gamis? Yang buat ngaji itu?"
"Bukan. Yang biasa di pake ibu sebelah kalo lagi ngejemurin."
Aska kecewa. "Ya udah nanti kita beli, sekarang pake baju apa aja yang penting terusan. Jangan pake hot pants, apalagi rok pendek. Itu cuma buat aku." Tegas Aska.
"Iya, iya.." Queen berdiri, ia segera melaksanakan titah lelakinya. Memilih satu dress yang pernah ia kenakan saat pergi dengan ka Agung ketika malam tahun baru lalu.
Tak lama, suara salam dari seseorang terdengar. Pintu rumah mereka yang sedikit terbuka, membuat tamunya tidak perlu menunggu lama hingga sang empunya terlihat.
"Mas.. aku belum selesai." Suara Queen dari dalam, membuat Aska panik. Ia lalu segera menutup pintu rumahnya, sesaat sebelum Rendi berhasil masuk.
"Woy.." Seru Rendi. Ia sedikit terkejut dengan sikap Aska.
"Bentar. Si Ira belom selesai ganti baju." Jawab Aska menahan kesalnya. Kenapa wanitanya masih ceroboh. Harusnya ia mengganti pakaiannya di dalam kamar mandi, bukan di kamar yang tidak ada pintu (hanya sekatan dengan tembok) apalagi pintu rumah mereka terbuka. Dasar..
"Udah mas.." Queen muncul dari balik kamarnya. Tanpa melirik ke arah Queen lagi, Aska lalu membuka daun pintu, dimana sudah ada Rendi yang menunggu sambil menggerutu sejak tadi.
"Udah boleh masuk nih?" Tanya Rendi sedikit mengejek. Ia tak mau mengalami kejadian yang sama lagi.
"Udah." Aska mempersilahkan Rendi masuk lebih dulu. Membuat Rendi yang pertama kali melihat Queen terbalut dengan dress pink selutut.
__ADS_1
"Ya ampun Queen. Segitunya nunggu aku dateng. Sampe nyempetin dandan segala." Rendi terpana. Aska terkejut. Ia segera menoleh ke arah Queen.
Hah? Bukan ini yang ia perintahkan tadi.
"Ira..." Ucapnya gemas.
"Kenapa?"
"Tadi kan saya bilang jangan menarik perhatian mereka."
"Kan mas bilang aku suruh pake terusan. Ya, ini terusan sederhana yang aku punya."
Aska berjalan mendekati Queen. "Tapi kamu cantik banget kalo begini.." Aska sedikit frustasi. Tidakkah Queen mengerti maksud dari perkataan Aska tadi?.
"Yaudahlah, ntar abis Rendi makan kita sekalian ajak buat periksa rutin, terus kita belanja baju daster, biar kamu sama anak saya nyaman di dalam sana." Aska mengusap perut datar Queen. Berjongkok di hadapannya, lalu mencium lembut. Seolah menyapanya.
"Wedeh.. pagi-pagi udah jadi obat nyamuk aja gua disini." Dengus Rendi. Tanpa menunggu di persilahkan duduk, ia sudah duduk duluan. Tak ingin melihat adegan yang membuat matanya memerah.
"Makanya, buruan di sahin. Jangan di simpen terus." Aska duduk di sofa sebelahnya.
"Entar. Kalo gua udah nemu yang manisnya pas.. udah buruan mana makanannya. Siapin, bawa keluar.."
"Astaga.. anaknya orang kaya ternyata bisa kelaperan juga ya?" Aska meledek. Ia sedikit tak suka, wanitanya di perintah begitu saja.
"Gua lagi belajar mandiri man."
Beberapa saat Queen berada di dalam. Lalu kembali muncul dengan membawa menu sarapan hasil jerih payahnya tadi.
"Ren.. ini nggak gratis ya.. abis ini anterin gua sama Ira cari dokter yang bagus sekitaran sini."
"Lho, mas Aska.. aku kan udah biasa sama dokter kenalannya Arya.." Queen menyela.
"Ganti aja lah Ra.. itu kejauhan. Kita cari yang deket aja. Biar nanti kalo ada apa-apa nggak ribet juga." Alibi Aska.
"Jangan percaya Queen.." Rendi berucap setelah memaksa menelan makanannya. "Palingan sih Aska cemburu sama mantan lo."
"Kok lu kalo ngomong suka bener sih Ren?" Meski nada bicaranya seperti marah. Tapi mereka melakukan tos setelah Aska tersenyum.
"Ya ampun mas.. semoga anak kita nggak kayak kalian ya kelakuannya.." Cibir Queen. "Aku konsultasi sama dokternya dulu ya. Minta ijin dia dulu."
"Oke sayang.." Aska tersenyum puas. Ia membiarkan Queen menelfon dokter yang sudah seperti dokter pribadi Queen, akibat ulah Arya. Dan kalaupun nanti Queen tidak mendapat izin, Aska akan tetap membawa Queen pergi ke tempat dokter yang lain.
__ADS_1
🙃🙃😉