
Setiap yang datang pasti akan pergi. Dan sebagian orang tidak suka akan perubahan. Tapi hampir semua orang pasti benci perpisahan. Karena paling menyakitkan saat di tinggalkan oleh orang terkasih, terlebih jika dia yang selalu ada, menemani di setiap suka dan duka.
Berani menyatakan cinta pada seseorang berati siap untuk segala kemungkinan. Diterima atau ditinggalkan adalah perubahan hal yang biasa dalam hubungan. Beruntungnya jika cinta kita terbalas, maka perubahan dalam hidup kita adalah hal yang paling indah dan mendamba. Namun bagaimana jadinya jika cinta kita bertepuk sebelah tangan? Akan banyak hal yang kita tidak siap untuk terima. Dan perubahan itu tentunya akan menyakitkan, apalagi jika hubungan pertemanan juga harus berakhir.
Keberuntungan Aska yang berani memiliki perasaan terhadap Queen, yang notabene nya sudah memiliki seorang kekasih. Tak tanggung-tanggung, Queen sudah menjalin hubungan selama bertahun-tahun. Syukurnya perasaan Aska yang tulus dari hati,bisa meluluhkan hati Queen, beserta sikap dan sifat yang ia miliki. Queen bahkan berani berkomitmen untuk menjalani langkah baru, mengganti status lajangnya dan menerima Aska sebagai teman hidup selamanya.
Bukan hal mudah bagi Aska untuk meminta Queen menjadi ratu dalam hatinya, menyematkan cincin di jarinya, Aska juga kesulitan saat meminta restu dari mama Queen. Bersyukurnya semua itu sudah berlalu, masa-masa sulit mendapatkan Queen seutuhnya sudah berhasil Aska taklukan. Aska dan Queen yang saat ini sudah berstatus suami istri, bahkan Queen sudah positif mengandung calon buah hati mereka membuat kebahagiaan mereka terasa lengkap. Tak ada lagi yang bisa mengusik ketenangan mereka, tak ada yang lebih membahagiakan di banding memiliki keluarga yang harmonis. Dan mimpi itulah yang selalu Queen dambakan. Tak seperti masa mudanya yang kurang perhatian dari kedua orangtuanya. Bisa di bilang Queen bahkan sudah hidup mandiri di usia remajanya.
Memiliki seseorang yang mencintai dirinya sepenuh hati, membuat hidup Queen merasa lebih berarti dan di hargai. Aska selalu memberikan segalanya yang Queen inginkan. Kecuali bulan madu yang sempat mereka perdebatkan, karena Queen sendiri yang mengalah. Statusnya yang sudah menjadi istri membuatnya lebih bisa berfikir dewasa, membuat fikiran Queen lebih terbuka. Tak masalah dimana mereka menghabiskan cuti singkatnya sesaat sudah mengikrarkan janji suci. Di manapun keberadaan mereka, selama Aska memberikan kasih sayang juga kehangatan, Queen tidak mempermasalahkannya. Toh.. mereka tetap bisa membuahkan hasil dari pergulatan manis nan panas di atas ranjang kasur Aska. Queen dan Aska tetap bahagia.
Kebahagian tetap bisa mereka rasakan. Namun sayangnya mereka lupa, jika kehidupan sebenarnya adalah saat mereka sudah menjalani kehidupannya dengan orang yang mereka pilih. Rasanya, kesulitan saat berusaha memenangkan hati pujaan kasih, tak sebanding dengan kesulitan saat menyelesaikan masalah dari dua pemikiran yang tinggal dalam satu rumah. Aska seolah lupa, jika wanitanya kali ini adalah gadis manja nan egois. Sifat Aska kali ini seakan berbanding terbalik dengan sikap dewasanya ketika mereka berpacaran dulu.
Lucunya, sikap posesif Aska bahkan lebih parah dari sikap egois Queen dulu. Sialnya, Aska memiliki dua teman yang suka mengganggu dirinya juga hatinya. Fiki dan Rendi selalu berhasil membuat hati Aska panas karena cemburu butanya. Sama seperti hari ini, Aska yang seolah ingin membalas dendam, dan menunjukan bahwa Queen adalah miliknya seutuhnya. Dan tak ada yang bisa mengambilnya, seperti yang dulu ia perbuat pada Arya.
Aska sengaja mengundang Fiki juga Rendi, ingin menunjukan seberapa besar kemesraan mereka. Namun entah keberuntungan bagi Fiki atau kesialan bagi Rendi, Fiki tak dapat hadir karena pacarnya. Perbedaan yang dominan bagi kedua lelaki itu adalah Fiki yang lebih mengutamakan pacarnya. Di banding Rendi yang lebih loyal terhadap temannya. Persamaan keduanya adalah dua-duanya adalah seorang casanova. berbanding terbalik dengan seorang Aska yang baru hanya memiliki seorang mantan. Itupun karena perjodohan orang tuanya. Jika saja tidak, maka Aska akan dengan sombongnya menyatakan bahwa Queen adalah satu-satunya wanita dalam hidupnya, dan langsung berhasil menjalin hubungan hingga ke pelaminan.
Rendi tengah berada di kediaman Aska dan Queen, tepat seperti permintaan Aska. Awalnya Aska memperlakukan dirinya dengan sangat baik. Aska bahkan memberikan alasan, bahwa Rendi di undang untuk menghabiskan makanan buatan istri tercinta. Siapa sangka jika ada alasan di balik sikap ramahnya Aska kali ini.
"Mau kemana kita?" Tanya Rendi yang berada di balik kemudi mobil Aska. Ya, Aska meminta Queen mengganti dokter kandungannya, agar tak selalu berhubungan dengan Arya.
"Ke supermarket aja Ren.." Aska yang awalnya membukakan pintu mobil penumpang belakang untuk Queen, kini malah ikut masuk duduk di samping Queen. Memeluknya dari samping.
Rendi yang tak menyangka dengan perlakuan Aska terhadap dirinya, dengan cepat ia membalikkan tubuhnya menghadap Aska di belakang. "As.. lu nggak duduk di depan?" Tanya nya terkejut.
"Enggak. Gua mau deket-deket sama istri gua tersayang." Aska mengecup kening Queen dengan bangga.
__ADS_1
eeuuh.. Bola mata Rendi berputar malas melihat tingkah konyol temannya.
"Gua berasa jadi sopir As, kalo lu duduk di belakang." Rengek Rendi.
"Tapi gua nggak mau jauh-jauh dari istri gue."
"Ya elah Aska.. lu duduk di depan juga masih keliatan sama sih Queen. Dia juga nggak masalah kali, kalo lu di depan. Nggak jauh Aska.." Suara Rendi melemah. Tapi ucapan Rendi malah membuatnya semakin tersenyum lebar.
"Tapi guanya yang masalah Ren.. Udahlah ayok jalan. Ntar keburu sore." Titah Aska yang langsung membuat Rendi membenarkan posisi duduknya dengan jengah.
Pantulan raut wajah Rendi dari balik cermin atas dalam mobil, membuat Aska semakin tersenyum puas. Itu membuat Queen menghembuskan nafas beratnya. Ia sedikit kasihan pada Rendi, namun ia juga tak mungkin membela sikap Aska, itu akan mengganggu mood Aska nantinya.
"Labil banget lu as.. tadi minta anternya ke rumah sakit, sekarang pengennya ke supermarket." Rendi menggelengkan kepalanya pelan beberapa kali, sambil menginjak pedal gas. Perlahan ban mobil berputar, meninggalkan jejaknya di atas permukaan tanah merah yang sedikit basah.
"Aska!!" Bentak Rendi. Belum lama mobil mereka melaju di tengah ramainya jalanan Ibukota, tapi Aska sudah mengganti tujuannya berkali-kali. Tentu saja itu membuat hati Fendi gemas dan geram.
Dengan raut wajah marah, Rendi meninggikan suaranya menyebut nama Aska. Sontak saja itu membuat dua penumpang yang berada di bangku belakang terkejut, dengan wajah tegang Queen dan Aska sama-sama menatap wajah Rendi yang sekilas melirik mereka.
"Kenapa sih lu?" Aska bingung. Ia juga berusaha menenangkan Queen yang sangat terkejut karena suara Rendi.
"Lu tuh ya.. gua ini bukan supir, woy.. kalo mau minta di anterin ngomong yang bener, yang jelas tujuannya ke mana. Lu tuh lama-lama ngeselin banget tau nggak sih. Kenapa nggak nyetir sendiri aja sih?"
"Gua pengen duduk santai sama istri gua Ren.." Tangan Aska masih melingkar di balik tengkuk leher Queen. Menyampirkannya di atas pundak Queen.
"Ya kalo gitu lu pesen taxi online aja, kan lebih enak malah."
__ADS_1
"Nggak ah ribet. Enakan juga gini, bisa ngajak istri sama temen gua jalan-jalan." Ucap Aska santai.
"Apanya yang enak? Risih gua ngeliat lu mesra-mesraan mulu. Hargai jiwa gua yang masih jomblo dong As.."
"Ha?? Jomblo?" Queen nampak terkejut. Lebih terkejut dari suara tinggi Rendi tadi. "Lah.. bukannya kak Rendi sama Zahra ya?"
Rendi melirik wajah Queen dari cermin kecil di depannya. Ia tersenyum melihat kepolosan raut wajah Queen yang terlihat sangat imut baginya. "Dia bukan pacar aku Queen.." Dengan senyum ramahnya suara Rendi begitu lembut menjawab pertanyaan Queen.
"Lah.. kok bisa gitu sih kak? Yang aku dengar kalian udah pernah tidur bareng deh.." Queen melirik ke samping. Sorot matanya seperti meminta jawaban pada Aska.
"Dia kan casanova Ra.. Nggak perlu status kalo buat tidur bareng doang."
Queen diam, sebenarnya ia mengerti dengan maksud Aska, ia hanya sedikit tak percaya dengan kemampuan Rendi yang seakan bisa menghipnotis wanita yang dia inginkan.
Belaian lembut tangan Aska di rambut Queen segera menyadarkannya lamunannya, mata Queen menatap manik mata Aska yang tampak berbinar melihatnya.
"Udah.. nggak usah di pikirin, itu permainan laki-laki. Yang penting kamu udah aman sama saya. Kita udah sah secara hukum juga agama. Kita juga udah terikat, jadi hati kamu nggak akan tersakiti." Sekali lagi kecupan kecil Aska di kening Queen seolah menyadarkannya. Hatinya kembali menghangat. Tentu saja permainan laki-laki yang tadi Aska sebut, tidak merujuk pada semua lelaki. Contohnya suami Queen saat ini. Lelakinya benar-benar bersih. Namun nyaris Queen membuatnya kehilangan kesadaran saat mereka masih berpacaran dulu.
"Wey As.. bahasa lu dalem amat. Lu nyindir gue gitu?"
"Enggak. Tapi kalo merasa ya.. alhamdulilah lah."
Mereka bertiga sama-sama tertawa. Hanya saja setiap tawa mereka memiliki arti masing-masing yang hanya diri mereka sendiri yang tau.
😉😉😁
__ADS_1