
Hingga sampai matahari sampai di puncaknya, Queen masih tidak bergerak dari posisinya, berbaring miring menghadap tembok.
Aska sesekali melongok Queen, melihat ekspresi wajahnya saat terlelap. Sendu dan sedih. Membuat hati Aska terenyuh.
Memiliki seorang istri dengan sikap manja dan kekanakan memang sesuatu. Harus memiliki kesabaran yang ekstra, juga pemikiran yang dewasa.
Aska tak masalah dengan itu semua, asalkan mereka bisa selalu bersama. Karena bagaimanapun watak dari istrinya, harus di terima, karena dialah wanita yang Aska pilih.
Aska khawatir, entah Queen sudah sarapan atau belom, yang jelas sekarang adalah Waktunya untuk makan siang.
Aska tak lagi perduli dengan amarah Queen tadi, yang jelas wanitanya harus makan sekarang. Aska menghampiri Queen, mengusap pundak Queen pelan dan berulang.
"Ra.. makan dulu yuk.." Bisik Aska dekat telinga Queen.
Queen nampak masih mengantuk, dengan mata terpejam Queen menjawab ajakan Aska.
"Nanti aja." Lirihnya.
"Tapi ini udah siang."
"Yaudah kamu aja yang makan." Ketus Queen.
Aska beranjak. Aneh juga rasanya kalau Aska meminta Queen bangun untuk makan siang, tapi makanannya belom tersedia.
Lelaki itu beranjak lagi, naik ke atas kasur mendekati Queen. "Kamu mau makan apa? Biar saya pesenin dulu."
"Terserah." Queen menggeser tubuhnya, sedikit menjauh dari jangkauan Aska.
"Jangan lama-lama tidurnya, nanti keburu saya berangkat lagi."
Queen diam enggan menanggapi.
Entah kenapa, mata Queen terasa sangat berat untuk terbuka. Tubuhnya juga lemas. Mungkin karena belum sempat sarapan juga belum makan siang. Queen sebenarnya jiga tidak berangkat kuliah karena merasa tubuhnya yang ingin berbaring, bukan karena rindu Aska.
Tapi, saat Queen pulang, Aska malah membawa berita buruk bagi Queen. Membuat emosinya kembali bergejolak.
Aska baru saja selesai memakai kaos dan celana jeans selutut, saat pintunya terdengar diketuk oleh seseorang di luar sana.
Dengan cepat Aska membuka daun pintunya. Terlihat seorang ibu muda yang ia kenal. Dengan menggendong seorang balita lelaki, ia tersenyum menatap Aska.
"Siang mas Aska, ada mba Queen nya nggak?" Wanita yang bernama Eka adalah salah seorang penyewa kamar kontrakan.
"Queen ada, tapi lagi tidur. Ada perlu apa ya mbak?" Suara tegas Aska namun sopan, lebih di anggap menakutkan bagi orang lain, kecuali Queen.
Mereka pikir Aska adalah orang dingin yang membosankan. Mungkin karena wajah Aska yang selalu serius dan tegas. Jarang terlihat senyum jika tidak sedang menyapa.
"Oh.. enggak ada apa-apa sih mas, cuma mau kasih undangan aja. Anak saya mau ulang tahun besok sore. Ya, semoga mbak Queen bisa dateng, biar rame." Jelas Eka, menyerahkan undangan ulang tahun bergambar kartun Cars.
"Yang ini yang mau ulang tahun?" Dahi Aska mengkerut, matanya seolah menunjuk ke arah balita yang di gendong menyamping.
__ADS_1
"Iya mas yang ini. Namanya Hilmi."
"Oh.. ya, nanti saya kasih Queen." Aska mengangguk mengerti.
"Ya udah, permisi ya mas Aska. Makasih.." Mama muda yang usianya sama dengan Aska itu pamit dan berlalu dari hadapan Aska.
Setelah menutup pintu Aska bergegas menghampiri Queen lagi.
"Ira.. kamu dapet undangan nih dari tetangga kamu." Aska berkata lembut, sambil mengusap rambut Queen.
"Siapa?"
"Siapa dah itu namanya, saya lupa, yang punya anak kecil. Katanya besok mau ulang tahun." Jelas Aska.
Queen berbalik menghadap Aska yang berada di belakang Queen tadi. Wajahnya nampak berfikir dan antusias.
"Anaknya siapa namanya mas?"
Akhirnya, Queen mau membuka matanya, apalagi kini ia berbicara seraya menatap Aska.
"Nih, undangannya. Namanya Hilmi, ulang tahun yang ke tiga. Di rumah, jam empat sore. Tiada kesan tanpa kehadiranmu." Aska membaca setiap tulisan yang tertera dalam undangan kecil di tangannya.
"Lucu nggak sih Ra, kamu kan belom punya anak, tapi kok kamu dapet undangan segala sih?" Ledek Aska.
"Ya, mungkin karena aku anaknya yang punya kontrakan kali."
Queen diam, ia berfikir sejenak sebelum akhirnya senyuman tersungging di bibirnya ranumnya.
"Sekalian beli kado untuk Hilmi ya?" Tawar Queen.
"Iya. Kita makan dulu terus cari kado." Layaknya seorang Ayah yang menuruti keinginan anaknya supaya mau makan.
"Asik." Gumam Queen, ia senang, sangat senang. Mencari hadiah ulang tahun untuk anak balita pasti seru. Queen segera beranjak dari kasur, menyibak selimut tebal yang sedari tadi menutupi tubuhnya.
Aska sedikit terhenyak. Ia menggelengkan kepala dengan senyum dan decakan dari bibirnya. "Seneng banget ya kamu?" Tanya Aska.
"Iya lah. Nyari kado untuk anak kecil tuh seru tau. Lucu-lucu gitu. Untungnya laki-laki, coba kalo perempuan, bisa sampe malem aku milih nya." Queen duduk di depan meja rias seraya mengoleskan lipstik peach dan bedak tabur di wajahnya.
"Kalo gitu milihnya sama Rindi ajalah. Saya kan harus berangkat nanti." Aska berjalan ke arah depan tv, membuat Queen mengejarnya.
"Enggak gitu lah, aku mau nya mas Aska yang nemenin. Biar kamu tau, kalo barang-barang anak kecil tuh lucu-lucu." Wajah Queen terlihat sangat antusias dan sumringah.
Aska tertegun. Betapa dia harus berterima kasih pada tetangganya barusan. Tak masalah jika Aska harus mengeluarkan uang banyak demi kado untuk anak itu. Ia seperti berhutang karena telah membuat Queen bersemangat lagi. Membuat Queen kembali ceria lagi.
"Yaudah ayok, kita jalan. Biar bisa lama-lama milihnya nanti." Aska berjalan mendahului Queen, menyalakan mesin motornya.
Saat Aska sudah bertengger keren di atas motor, Queen selesai mengunci pintu. Namun pandangannya langsung malas melihat Aska.
"Kamu tuh mas. Udah tau aku lagi lemes gini, malah di ajak naik motor." Queen mencebik. Aska sedikit bingung awalnnya. Namun ia mengerti apa yang di maksud dengan Queen.
__ADS_1
"Ngomong dari tadi dong Ra kalo nggak mau naek motor." Aska mencubit gemas pipi wanitanya.
Untung saja, kunci mobilnya masih ada di dalam tas kecil yang selalu Aska bawa saat pergi bersama Queen. Seandainya ada di dalam, males banget rasanya Aska jika harus masuk ke dalam lagi.
Malas? Kenapa Aska bisa berfikir tentang kata malas? Bukan Aska banget rasanya.
***
Aska dan Queen kini berada di salah satu mall terdekat dari tempat tinggal mereka. Queen tidak ingin berlama-lama berada di jalan.
Aska langsung menggandeng tangan Queen, mengajaknya masuk kedalam sebuah tempat makan cepat saji dekat dengan pintu masuk.
Sebenarnya Queen tidak masalah dengan apa yang harus ia makan nanti. Karena masalah makan Aska sangat tidak suka Queen menundanya.
Namun anehnya Aska kali ini, ia tidak bertanya lagi pada Queen. Biasanya Aska akan meminta pendapat pada Queen sebelum mereka masuk. Kali ini Aska seperti tidak perduli dengan pendapat Queen itu.
Queen duduk di bangku sambil menunggu Aska memesan makanan untuk mereka. Sedikit agak lama karena Aska yang harus mengantri. Maklumlah, di jam makan siang seperti ini restoran cepat saji pasti selalu ramai pengunjung.
Aska tiba, dengan baki di tangannya. Dua paket nasi ayam hot crispy chicken serta dua minuman bersoda di letakkan Aska di atas meja.
"Em.. mas Aska.." Cicit Queen.
"Apa?" Aska menyamankan posisi duduknya.
"Aku enggak mau minum ini. Ini bersoda nggak bagus untuk kehamilan." Tutur Queen. Aska terpana.
"Tapi kamu kan belum hamil Ra?"
"Iya.. tapi aku lagi mempersiapkan diri untuk kehamilan." Aska membuang nafasnya kasar.
"Terus kamu mau minum apa?"
"Mocha float enak kayaknya." Queen tersenyum.
Baiklah baiklah.. Aska selalu kalah dengan permintaan Queen di sertai dengan senyumnya.
Aska beranjak lagi dari duduknya, ikut mengantre kembali demi moccha float pesanan Queen.
"Inih sayang minuman pesanan kamu!" Aska meletakkannya tepat di hadapan Queen yang tengah membelah daging ayamnya dengan tangan
"Makasih calon ayah.." Ledek Queen.
Aska agak sedikit aneh dengan panggilan Queen barusan, bukan perasaan tak suka, juga perasaan risih. Tapi entah apa yang jelas itu terdengar agak mengganjal di pendengarannya.
Aska hanya mengedikkan bahunya dengan panggilan baru dari Queen. Ia memilih menyantap makanan yang tak sehat di hadapannya. Setelah ini mereka harus menuruti permintaan Queen tadi.
"Makannya abisin ya. Nanti kita kan mau muterin isi mall ini." Entah itu pujian atau ledekan dari Aska. Uang jelas Queen suka mendengarnya.
🙃🙃😉
__ADS_1