
"Mas kemana aja sih?" Tanya Queen. Gadis itu masih dalam dekapan Aska. Dirinya yang sudah tertidur tadi, jadi tidak mengantuk lagi, karena suara Aska yang tadi mengganggunya.
"Saya yang seharusnya nanya, kamu kemana aja sayang?" Aska membuka matanya, tidak lagi mengantuk.
"Aku tadi di ajak Aini jalan-jalan mas."
"Kemana?"
"Sekitaran kampung."
"Pasti banyak yang gangguin kamu di jalan?"
"Enggak banyak."
Aska memutar bola matanya malas.
"Makanya Ira.. Saya udah bilang, tunggu sama saya keluarnya. Saya nggak suka banget ngeliat kamu di godain gitu tadi." Aska mengusap lembut rambut Queen. Mereka juga berbicara dengan suara serendah mungkin.
"Tapi mas Aska nya aja tidur mulu, terus ke masjidnya lama banget."
"Ya, itu karena saya nggak mau berdebat sama kamu. Besok jangan gitu lagi ya, keluarnya tunggu sama saya."
"Dari tadi ngomongin masalah keluar mulu. Keluar aja sekarang."
"Apaan sih kamu Ra?"
Queen malah bingung, tidak mengerti.
"Aku mau tidur lagi ya mas.."
"Enggak! jangan tidur dulu, saya masih kangen sama kamu."
"Kangen apaan?"
Tanpa berkata lagi, Aska mengecup pelan bibir Queen lembut.
"Kangen ini." Aska memegang bibir bawah Queen dengan ibu jarinya.
"Kamu itu punya saya Ra.. Please.. Jangan tunjukkin pesona kamu sama cowok lain."
"Enggak kok"
__ADS_1
Aska kembali mengecup bibir Queen, kali ini lama Queen juga membalasnya. Menikmati sepinya malam di desa dengan saling berpelukkan dan melilitkan lidah.
***
Terdengar ayam jantan yang mulai berkokok, Aska yang semalam telah melepas rindu atas rasa bibir Queen mulai tersadar dari tidurnya. Memang ia tidak menikmati mimpinya dalam nyenyak, mengingat dimana tempatnya sekarang berada.
Aska bangun, membuka pintu perlahan dan memindai keadaan sekitar sebelum keluar. Dilihatnya keadaan masih sepi, Aska bergegas menutup kembali pintu kamar dimana tempat ia tidur semalam. Bergerak menuju kasur lantai depan meja tv.
Dadanya yang masih berdetak lebih cepat dari biasanya, langsung ia tenangkan dengan mengucap kalimat "aman" secara perlahan. Aska juga menyelimuti bagian atas tubuhnya dengan sarung yang masih ia kenakan dari semalam.
Tidak lama setelahnya, terdengar suara pintu kamar yang terbuka, lelaki itu kembali membuka matanya dan mengamati dalam persembunyian sarungnya.
suara kaki perlahan menghampirinya, mengusap pelan atas kepalanya. Sesaat ia mengira itu adalah gadisnya, sampai ia mendengar suara parau orang bangun tidur berlogat bahasa jawa kental.
"Banyak nyamuk mas, pindah kekamar ibu." Tuturnya. Dan Aska langsung tau siapa pemilik tangan yang tadi menyentuhnya.
Aska tidak bergerak, juga tidak bersuara. Ia memposisikan tubuhnya sedang dalam tidur yang nyenyak. Padahal matanya hanya terpejam beberapa jam saat dirinya dikamar berdua dengan Queen tadi.
Setelahnya beliau pergi meninggalkan Aska. menuju kamar mandi, mencuci wajahnya agar segar sebelum ia memulai aktivitas di saat subuh belum menjemput.
Ibu sudah harus berkutat dengan asap kompor dalam dapur untuk menyiapkan makanan untuk sarapan nanti.
Ketika suara adzan mulai berkumandang, ibu sudah siap dengan masakan sederhana yang ia siapkan tadi. Bergegas ia menghampiri Aska, membangunkannya untuk melakukan tugas agama mereka. Begitu juga dengan Aini. Diusianya yang sudah lulus dari sekolah SMA, seharusnya dia sudah membantu ibu melakukan segala aktivitas dalam rumah tangga.
"Bangun ndo'.. Shalat subuh dulu." Ibu mengusap pelan pundak Queen. Queen mengusap kulit matanya, menggeliat pelan. Pertanda dirinya sudah sadar. Ibu pun berlalu meninggalkannya.
Aska yang sudah bangun lebih dulu dan sudah selesai membersihkan tubuhnya dalam kamar mandi. Air yang begitu dingin, tajam menembus kulit Aska, membuat matanya sukses terbuka sempurna. Dalam ingatannya ia tau betul, semenjak mengenal Queen, waktu tidurnya tidak lagi menentu, jadwal kesehariannya juga seperti bertambah, apalagi mengingat tentang hatinya yang masih begitu labil. Aska seperti hidup dibayangi dengan rasa takut kehilangan setiap saat.
Alhasil, masih menggunakan lilitan handuk disebagian tubuhnya Aska menemui Ibunya yang masih sibuk menata lauk di atas meja makan.
"Bu.." sapanya
"Kenapa?" Tanya Ibu tanpa menoleh ke arah Aska.
"Aku tuh serius lho bu sama Ira."
"Ibu kok nggak lihat si mas?"
"Masa' sih bu? Aku udah bawa dia pulang seperti yang ibu pinta." Aska meyakinkan.
"Tapi Ibu lihat, Mas masih sibuk main sama temen-temenmu."
__ADS_1
"Temu kangen sebentar kan nggak salah bu?"
"Sebentar kok sampe mau subuh gitu sih mas."
"Em, kalo semalam tuh ada yang aku kangenin bu, jadinya lupa sampe mau subuh" Aska berkata dengan terbata, mengingat hal yang ia lakukan semalam.
Aini yang sudah keluar kamar mandi ikut bergabung dalam obrolan antara Ibu dan Aska.
"Tau tuh mas.. Mba Queen cuma dijadiin pajangan doang disini"
"Kamu.. Mas belum bahas soal kamu ajak Ira pergi kemarin sore. Nggak usah ikut-ikutan"
Aska nampak emosi.
"Udah diem. masih pagi udah berantem" Perhatian Ibu mulai teralihkan. Kini pandangannya serius menatap Aska.
"Mas.. Emang uangmu udah cukup? Ibu lihat Ira tuh bukan gadis sembarangan lho. Dia enggak sama kayak Nisya atau gadis disini."
Aska terdiam.
"Udah, pakai bajumu shalat, ibu juga mau lanjut ke sawah"
"Tapi bu..."
"Iya Ibu paham, Ira nggak akan pergi kalo kamu jaga hatinya bener. Nggak main-main, apalagi sampe subuh." Ibu berlalu meninggalkan Aska.
Dengan hati yang berat Aska ikut mengekori sang Ibu, namun ia menuju kamarnya. Diam-diam Queen ikut mendengarkan apa yang tengah mereka perbincangkan. Sebenarnya tidak sengaja, hanya saja Queen tidak enak kalo dia lewat di tengah obrolan tentang dirinya.
Tapi anehnya, Aska tidak sama sekali meliriknya. Dirinya masih terus berjalan tanpa menghiraukan keberadaan Queen yang tadi berpapasan dengan dirinya. Queen tidak ingin ambil pusing, kemudian ia menuju kamar mandi untuk melakukan perintah calon ibu mertuanya tadi.
Sedangkan Aska masih sibuk dengan pikirannya, sambil mengenakan pakaian perlengkapan untuk shalat. Dia menyalami punggung tangan Ibunya sebelum berangkat ke masjid.
"Bu, nanti siang aku harus berangkat." Tutur Aska.
"Lho.. Bukannya masih besok mas?" Tanya ibu terkejut.
"Iya, perintah atasan bu"
"Yaudah, nanti ibu pulang cepet sebelum mas berangkat"
"Makasih bu" Aska tersenyum, kemudian pamit meninggalkan ibunya yang masih menatapnya sampai keluar pintu dan tidak terlihat.
__ADS_1
"Anakmu udah gede pak, udah tau anak cantik, udah minta dinikahin." ucap ibu pelan, air matanya sudah menumpuk di pelupuk matanya.