Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
dua puluh


__ADS_3

Gita kalo lagi kadung ngambek ya gitu.. pengennya di di bujuk dulu, terus bilang maaf yang banyak, alesan yang banyak kalo udah di maafin jangan lupa di manjain juga. Itu nama nya paket komplit. Kalo udah komplit gitu, baru deh Gita bisa senyum manis lagi. Hahay..


saya juga seperti itu soalnya.


Sama yang kayak Farhan lakuin sekarang, dia udah setengah stres gegara susah hubungin nomor Gita. Di telfonin dari jam tuga subuh malah di tolak, terus langsung non aktif nomornya. Astaga.. kalo udah kayaj gini mana bisa dia tidur dengab tenang.


Nasib baiknya ini hari minggu, lah coba kalo bukan hari libur, auto tidur di kelas tuh si bocah.


"Maa..." Farhan Farhan keluar kamar seraya berteriak kencang memanggil mama nya yang sudah siap di depan meja makan.


"Maaaa....." Teriaknya sekali lagi, sambil jalan menuruni tangga.


Ayahnya yang baru saja pulang dari tugas malam nya, sedang duduk di sofa merasa terganggu dengan suara teriakan anak lelaki nya itu.


"Farhan!" Panggil nya tegas. "Sini kamu."


Farhan melihat ayahnya, membuang nafas kasarnya lalu segera menghampiri sang ayah.


"Kenapa ayah?" Farhan ikut mendudukan dirinya di sofa sebelah ayahnya.


"Ngapain sih teriak teriak gitu? Yang sopan ya kalo ngomong sama mama kamu."


"Iya ayah..." Hanya dua kata itu, Farhan kembali bangkit menghampiri bundanya.


"Ma... Pinjem ponsel nya dong." Farhan bicara sambil memcomot ayam goreng cryspi buatan mamanya, yang otomatis langsung di tepis oleh mama Farhan a.k.a Rindi.

__ADS_1


"Cuci muka dulu dong. Anak laki kok jorok banget."


"Pinjem ponsel nya dong ma.. urgent nih mah."


"Kenapa? Gita?" Rindi duduk di kursi depan meja makan menyendokan nasi untuk suaminya yang kini ikut bergabung bersama mereka. "Jangan ganggu Gita dulu, dia lagi berduka."


"Ha? kenapa ma?"


"Mamanya om Aska meninggal." Jelas Rindi.


"Mama nya om Aska itu mertua nya bunda Queen ya?" Rindi mengangguk kecil.


"Mbahnya Gita?" Rindi mengangguk lagi.


"Yah... aku nggak bisa ketemu si mbah lagi dong mah.."


"Yaa.. gitu deh."


"Berati Gita sekarang lagi ada di Semarang gitu?"


"Iya Farhan."


Farhan terdiam sebentar, ia jadi mengerti, kenapa semalam Gita terus menelfonnya tanpa henti.


"Aku pergi dulu ya ma.." Farhan memaksa mencium kedua punggung tangan orang tua nya, tanpa melanjutkan acara makannya, padahal di atas piringnya tadi sudah komplit dengan berbagai lauk pauk yang mama nya masak.

__ADS_1


"Mau kemana kamu Far.. hey... jangan nyelonong gitu aja dong!!!" Teriak Rindi.


"Assalamualaikum ma... yah..." Pamitnya tanpa menoleh, ia berlari cepat menuju parkiran seraya berteriak memanggil supirnya.


hayoo.. kemana ya kira kira si bocah begajulan itu.


Sementara Gita kini sudah sampai di tujuan. Hatinya begitu Terpukul ketika melihat orang tua dari ayahnya yang begitu amat sangat ia sayangi, kini tengah terbaring terbungkus dengan kain putih juga di lapisi dengan kain bermotif batik.


Tanpa bisa ia bendung lagi, Gita langsung berhambur memeluk dengan Queen di sebelahnya. Air mata nya tunpah begitu saja tanpa bisa ia bendung. Berbeda dengan Aska yang masih bisa menahan gejolak emosi dalam dirinya. Ia hanya bersimpuh di depan tubuh wanita tersayang, wanita yang melahirkan dirinya dengan bertaruh nyawa, wanita yang mulai jarang ia jumpai ketika dirinya beranjak dewasa.


Sudah tidak ada lagi kata kata biijaksana yang mampu menenangkan dirinya ketika ia ada masalah dengan keluarga kecilnya, tidak ada lagi yang bisa menjadi tumpuannya ketika ia membutuhkan kekuatan, semuanya akan segera menjadi kenangan bersamaan dengan terkuburnya tubuh sang wanita tercinta.


Gita masih berada di sisi si mbahnya. Seketika itu juga, segala kenangan tentang si mbahnya dan masa kecilnya yang sempat ia habiskan bersama terngiang di benaknya. Ia juga masih teringat, ketika ia mencium meminta ampunan saat lebaran, tangan rapuh yang kulitnya mengkerut, terlihat seakan hanya tulang terbungkus kulit yang keriput.


Hatinya semakin sesak. Ini kali terakhirnya Gita bisa melihat wajah ayu si mbahnya. Sudah tidak ada lagi suara tawa yang jarang ia jumpai itu.


"Jangan menangis terlalu lama." Suara berat seorang lelaki masuk di pendengarannya, menyela segala kenangan yang masuk di kepala secara acak.


"Iklhas itu sulit, tapi masih bisa di lakukan." Gita menoleh.


Seorang lelaki dengan peci di kepalanya, menggunakan baju koko dan sarung, tengah duduk di belakangnya, tangannya yang sedang memegang alquran kecil. Gita tau, ia mungkin tadi sedang membacakan ayat untuk si mbah nya.


Mata mereka bertatapan sebentar, tersenyum kemudian menunduk, lebih tepatnya ia lebih memilih melihat benda kecil yang ia pegang.


"Jangan bersedih terlalu lama, tidak baik untuk alamarhum.." Ucapnya singkat. Kemudian ia kembali membuka benda kecil itu lagi. Gita memperhatikannya, suaranya pelan mengalun indah dan cepat, melantunkan ayat ayat yang ada di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2