Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
delapan.


__ADS_3

"Gita berantem sama Farhan." Queen memulai obrolannya dengan suami.


Seperti biasa, ratu di dalam keluarga kecilnya itu akan menceritakan setiap kejadian yang ada di rumah selama suaminya bekerja.


Queen bisa saja menceritakannya lewat pesan dan Aska akan menelfon nya balik ketika ia ada waktu senggang.


Tapi Queen enggan. Ia ingin bercerita dengan tatap muka. Lebih seru ia pikir, mungkin karena ekspresi Aska yang berbeda ketika di telfon atau berdua di kamar. Seperti saat ini.


"Kenapa lagi?" Lelaki itu merebahkan tubuh lelahnya di sebelah sang istri.


"Eh bukan sih, Gita nya aja yang ngambek sama Farhan." Queen meralat ucapannya.


"Kenapa?" suara Aska lembut, satu tangannya bergerak memainkan rambut Queen pelan.


"Nggak tau tuh."


"Lho, kok nggak tau? Emang belum kamu tanya?"


"Aku udah tanya ya mas, tapi anak kamu nya aja tuh yang nggak jelas?" Queen mulai tersulut emosi.


Melihat bibir yang cemberut itu, Aska malah tertawa kecil.


mengecupnya sekilas "Pinter banget sih ni bibir kalo ngomong."


"Aku lagi serius ya mas.."


"Iya iya," Lelaki itu membenarkan posisi tidurnya, dengan pandangan menghadap ke langit-langit kamar, seraya memejamkan matanya. "Lanjutin deh, aku dengerin."

__ADS_1


"Aku udah tanya sama Farhan, tuh anak bilang katanya Gita malu mungkin, karena Farhan ngelarang Gita ke kantin."


"Alasannya?" Aska masih menyimak meski dengan mata tertutup.


"Eum.. kenapa ya? Aku lupa nanya, atau aku lupa jawabannya ya.. ah, lupa deh pokoknya."


Mendengar itu, Aska membuka satu matanya, seraya melirik ke arah sang istri, yang sedang berbaring miring menghadap dirinya.


Sesaat, matanya kembali terpejam. "Terus?"


"Tapi waktu aku tanya sama anak kamu, dia bilang Farhan berantem sama temennya di kelas."


"Temen siapa?"


"Ya temen Gita lah. Masa temen kamu."


"Oh.. yaudah pas berati."


"Apa nya?"


"Gita anak aku."


Queen memicing, ia tidak mengerti dengan ucapan sang suami. Kemudian memukul sekali lengan tangannya Aska. "Anak aku juga ya mas."


Aska terkekeh kecil.


"Gita nggak boleh ke kantin, terus karena Farhan berantem sama temen sekelasnya, Gita jadi malu. Ngambek deh jadinya."

__ADS_1


"Datar banget sih mas kamu ngejelasinnya." Queen terdiam sejenak. "Bener juga ya mas kata kamu. Terus aku harus gimana? Kalo di diemin aja nanti mereka nggak baik baikan jadinya."


Queen masih menunggu jawaban dari Aska.


"Mas?" Panggil Queen pelan.


"Mas Aska.." Menggoyangkan lengan Aska pelan. "Mas Aska ihh... belum selesai malah di tinggal tidur." Tak sabar ia cubit saja lengannya.


Sambil berbalik memunggungi sang suami Queen mengancam. "Bodo ya, aku nggak bakalan mau ikut ke Semarang weekend nanti. Pergi aja sana sama Gita, atau sendirian aja ke sana nya, biar kamu puas bisa ketemu sama sang mantan calon istri tersayang tercinta terlembut ter ter ter kamu itu." Jengkel rasanya Queen.


Pelan Queen merasakan gerakan di kasurnya. Berbarengan dengan tangan yang terselip setelah kepalanya di angkat pelan, kemudian satu tangan yang melingkar di perut Queen.


"Aku nggak akan kemana mana kalau kamu nggak ada di sebelah aku."


Masih bergeming dengan perlakuan sang suami.


"Nggak usah mikirin yang aneh aneh.. pikirin aja besok masak apa buat sarapan kita."


Aska mengecup puncak kepala Queen yang berada di bawah dagunya.


"Masalah anak anak, jangan ikut campur, mereka udah beranjak dewasa, tau apa yang harus mereka lakuin, kita cukup melihat dan mengarahkannya aja."


Lelaki itu kembali mengeratkan pelukannya.


"Tidur, udah malem."


🙃🙃😉

__ADS_1


__ADS_2