
Aska dan Queen sudah siap mengemas barang barang mereka. Saat itu juga mereka akan pulang, kembali ke pinggiran ibu kota tempat kontrakan mereka.
Setelah sebelumnya pamit kepada sang Ibu dan adik semata wayangnya, Queen seperti terasa berat meninggalkan rumah yang baru kemarin ia singgahi. Rasa nyaman dan suasana kekeluargaan yang Queen tidak bisa dapatkan dari keluarga kandungnya, membuatnya serasa tidak ingin kehilangannya lagi.
Terlebih saat Ibu Aska menitipkan sebuah nasihat tentang hubungan mereka.
"baik-baik ya ndok disana. Ibu titip mas Aska. Dia memang cuek orangnya, tapi soal hatinya Ibu tau banget. Kalo boleh Ibu pinta, tolong tungguin mas Aska, jangan ditinggalin kalo dia kelamaan. Ibu udah terlanjur sayang sama kamu. Kalo mas Aska nya yang nakal, telfon Ibu aja, biar Ibu yang marahin."
Sedikit kata sederhana, namun begitu menyentuh relung hati Queen. Dirinya bahkan sudah tidak ingat, kapan terakhir kali Ibu nya sendiri mengucapkan kata sayang untuknya.
Begitu juga dengan Aini. Queen seperti menemukan adik perempuan untuknya.
"Mbak, cepet balik lagi kesini ya, aku tunggu." Hanya sedikit kata yang ia ucapkan, tapi lagi-lagi mampu membuat hati Queen tersentuh.
Ah.. Rasanya hati Queen menjadi kesal kepada lelaki disebelahnya kini. Lelaki yang mengajaknya untuk bertemu dengan keluarga kecilnya, lelaki yang saat awal keberangkatan sudah cuek, dan kini mereka saling duduk bersebelahan dengan sikap yang sama-sama cuek.
Queen dan Aska sudah mendapati bis mereka. Dengan posisi yang sama seperti saat keberangkatan, Queen duduk di sebelah jendela, dan Aska duduk di samping Queen.
"Besok-besok aku nggak mau kalo di ajak ke kampung mas Aska lagi." Tutur Queen tiba-tiba. Pandangannya ia buang ke balik jendela, memperhatikan deretan rumah dan sawah yang bis mereka lewati.
Aska tentu terkejut mendengar gadisnya dengan tiba-tiba berucap demikian.
"Kenapa?"
"Pikir aja sendiri." Jawab Queen ketus. Masih tidak ingin melihat ke arah Aska.
Dengan cepat Aska menarik dagu Queen, memaksa untuk saling bertatapan.
"Kenapa Ra?" Tanya Aska tak sabar.
"Kamu balik ke Jakarta, kayak nggak rela gitu" Aska memicingkan matanya. Mengerti dengan maksud dari omongan Queen ia lalu melepaskan tangannya dari dagu Queen.
"Nggak usah mikir yang aneh-aneh deh Ra" Tutur Aska santai. Lelaki itu kembali fokus pada layar ponsel pribadinya.
"Siapa yang nggak bakal mikir macem-macem. Semenjak perjalanan dari rumah sampe kita naik bis sekarang, emang Mas Aska inget ada aku disebelah kamu dari tadi?" Queen mulai menggebu, tapi dnegtan nada yang rendah.
__ADS_1
"Apa sih Ra?" Aska masih sabar menghadapinya.
"Mas tuh dari tadi nyuekin aku terus. Sadar nggak sih mas?"
"Iya maap. Lagi ada yang saya pikirin. Maap ya Ira.." Aska memegang satu tangan Queen, berkata dengan lembut.
"Iya. Mikirin sih Nisya." Queen masih ketus, masih tak ingin menatap kekasihnya.
"Cie.. Yang lagi cemburu.." Aska kembali menarik pipi Queen. Mendekatkan wajah mereka untuk saling bertatapan.
"Marah terus juga nggak papa kok Ra. Saya suka kamu cemburuin gini." Ucapan yang keluar dari mulut Aska dengan senyuman tipis di wajahnya, membuat Queen seperti sedang di goda.
Queen melepaskan pegangan tangan Aska dari pipinya. Hatinya sudah tidak lagi merasa jengkel seperti tadi. Tapi entah kenapa lelakinya itu masih fokus dengan layar ponselnya.
"Chat sama siapa sih mas?" Tanya Queen penasaran.
Alih-alih menjawab pertanyaan Queen, Aska malah merebahkan kepala Queen di atas pundaknya.
"Kita liat bareng-bareng." Tuturnya.
Rupanya Aska sedang membuka chat grup WhatsApp nya sesama polisi.
"Entar malem mau ngerazia yang pada balapan liar." Jelas Aska kepada Queen. Gadis itu mengangguk pelan diatas pundak Aska.
Tak berselang lama, ponsel milik Queen berdering. Dengan satu tangannya ia membuka isi pesan tersebut.
Karena yang tertera adalah nama Rindi, Queen tidak segan-segan memperlihatkan isi pesan tersebut kepada Aska, yang pasti akan dengan mudah juga ia bisa membacanya.
"Queen, gimana? Ka Agung nanyain mulu" Satu kalimat jelas terbaca dari layar ponsel Queen. Dengan hati yang juga terkejut, Queen melirik ke arah Aska, berharap lelaki itu tidak ikut membacanya.
Tapi harapan tinggal harapan, Aska dengan cepat merebut ponsel milik Queen dari genggamannya.
"saya liat" Dengan nada antusias, Aska membuka isi chat milik Queen bersama Rindi.
Ia mencoba mencari tau maksud dari pesan Rindi tadi.
__ADS_1
"Biar aku aja yang jelasin" Queen mencoba mengambil ponselnya.
"Enggak. Tolong, saya pinjem sebentar." Titah Aska.
Queen tidak bisa apa-apa, selain mematung di tempatnya. Hanya bisa melihat raut wajah Aska yang kian berubah seiring jarinya yang terus bergerak di atas layar ponsel Queen.
Ya.. Memang sejak kemarin, assdos nya itu terus bertanya kepada Rindi tentang nomor handphone Queen. Tapi karena Queen enggan menjawabnya, dia lupa kalau Rindi mungkin akan menanyainya lagi.
"Kenapa kamu nggak bilang sama saya Ra?" Wajah Aska mulai tak bersahabat.
"Mas, please.. Ini didalam bis. Aku nggak mau jadi pusat perhatian. Oke?" Queen memohon.
Aska terdiam. Pandangannya tertunduk sesaat. Kemudian ia tatap kembali manik mata Queen.
"Saya tuh bingung Ra harus gimana?"
"Gimana apanya sih mas?"
"Gimana bisa ikat kamu. Rasanya status pacar aja nggak cukup buat ngeyakinin hati saya. Tapi buat nikahin kamu, saya juga belum bisa. Jadi saya harus gimana Ra?"
Queen tidak bisa menjawab. Dia takut kalau sampai salah ucap, dan malah menambah ketegangan diantara mereka.
"Kamu tau Ra, sebentar lagi saya bakal di mutasi. Tempat tugas saya bakal dipindah, dan artinya kontrakan saya juga harus pindah. Dan itu akan bikin kita jadi susah untuk ketemuan." Terdengar jelas nada putus asa dari penjelasan Aska.
Queen tidak bisa menjawab apapun. Dia hanya merebahkan kembali kepalanya diatas pundak Aska. Berharap lelakinya itu akan tenang, dan mulai membicarakan segalanya dengan kepala dingin.
Aska juga membalasnya dengan merangkulkan tangannya, melingkari tubuh Queen. Rasa takut kehilangan jelas Queen rasakan dari sentuhan Aska.
Jauh dalam hati Queen sudah berjanji. Apapun yang akan terjadi dalam hubungan mereka, Queen akan tetap setia memilih Aska sebagai teman hidupnya kelak. Tapi bagaimana cara meyakinkan lelakinya itu.
Jika didiamkan terus, Queen takut rasa ketakutan Aska yang berlebihan malah akan membuat dirinya menyerah, dan berbalik meninggalkan Queen nantinya.
***mohon dukungannya untuk Queen dan Aska. like nd koment ya. biar aku tau cerita ini mau lanjut atau selesai.*
😔😔 sedih akunya. selalu rendah**.
__ADS_1