
Malam hari, di saat kehidupan tengah siap berehat dari aktifitasnya, tapi Aska mendapat kabar yang seakan menghantamnya, memaksa tubuhnya untuk terjaga dari rasa kantuk.
"Kenapa mas?" Queen melihat perubahan ekspresi itu. Aska terduduk sebentar dengan wajah sayu seperti orang kebingungan. Badannya juga lemas seketika, setelah mengangkat telfon yang terus berdering sedari tadi.
"Ibu meninggal." Ucap nya pelan.
"Inalillahi wainailaihi rojiun.." Queen ikut terdiam sejenak. Tubuhnya juga ikut melemas, pandangannya kabur seketika dengan mata yang memanas.
Tapi Queen tidak boleh larut dalam kesedihan saat ini. Ia menggenggam tangan suaminya, mencium punggung tangannya dengan lembut dan sedikit lama. Suaminya sangat butuh sandaran saat ini. Karena itu, Queen memeluk tubuh Aska yang mulai sedikit gemetar.
"Kamu kuat mas.. Ada aku sama Gita di sisi kamu. Yang penting kita harus pulang sekarang. Ada Aini yang masih nunggu kita, butuh kehadiran kamu sebagai penguatnya." Lembut dan sangat hati hati Queen membisikkan setiap kalimat di sela pelukan mereka. Tangannya terus mengusap punggung Aska, memberi kekuatan.
Perlahan, Queen merasakan Aska memberi jawaban dengan menganggukkan kepalanya, samar.
"Aku bangunin Gita dulu ya. Kamu siap-siap."
Queen beranjak dari kasurnya. Dengan gerakan cepat namun tetao berusaha tenang, ia berjalan cepat keluar kamar, beralih ke kamar Gita.
"Git.. Gita... Udah tidur belum?" Queen mengetok pintu kamar Gita dan terus memanggil.
"Belum bun.."
Tak lama Gita keluar, terlihat jelas bahwa remaja ini sudah bersiap untuk istirahat.
"Kamu kemas sekarang. Kita mau ke Semarang."
__ADS_1
"Lho! mendadak banget bun.. ada apa?"
"Mbah meninggal." Tetes air mata Queen kembali terjatuh
Gita bergumam pelan, mengucapkan kalimat yang sama dengan yang di ucapkan oleh Quenn tadi.
"Udah buruan. Siapin baju yang sopan, jangan lupa bawa buku pelajaran kamu ya." Titah bundanya yang segera kembali ke kamarnya untuk bersiap.
Sama seperti kedua orang tuanya, reaksi tubuh Gita juga merasakan hal yang sama. Ia lemas seketika, mata nya juga memanas seiring hati nya yang berdenyut sakit. Biar bagaimanapun juga, meski dirinya jarang bertemu dengan Orang tua dari ayahnya, tapi Gita sangat menyayangi si mbah nya itu. Karena beliau juga sangat menyayangi Gita, cucu satu satunya dari anak lelakinya.
Gita segera meraih ponselnya, entah apa yang ada di fikirannya saat ini. Tapi yang jelas dirinya harus segera menghubungi Farhan. Dia harus mengabari Farhan lebih dulu, mungkin saja, Farhan bisa ikut menemaninya nanti.
Satu kali panggilan tidak terjawab. Gita mengulanginya lagi dengan kaki yang terus menghentak pelan tanda ia mulai cemas. Waktunya menipis, tapi Farhan tidak kunjung menjawab panggilannya.
Gita tau Farhan sedang kumpul bersama teman temannya, tadi sebelum tidur Gita sempat berkirim chat dengan lelaki yang lebih muda itu.
"Gita.. udah siap belum? Om Rendi udah di jalan." Aska menengok ke kamar anaknya yang masih berdiri di samping tempat tidurnya dengan tangan yang terus menggenggam ponsel.
"Iya yah.. sebentar lagi." Gita pasrah. Hatinya mulai kesal. Jadi seperti ini kelakuan ornag yang terus berteriak akan menjaganya. Kenyataannya, dia tidak ada di saat titik terendahnya. "Awas aja nanti." Seiring dengan ponsel yang ia lempar di atas kasur.
***
Sepanjang jalan, Gita terus mengechek ponselnya, berharap ada jawaban dari nomor yang terus ia hubungi hingga beberapa kali tadi. Sengaja ia tidak mengirim pesan tentang alasannya, biar saja nanti jika Gita sampai di tempat tujuan baru ia mengabari. Ingin tau reaksi Farhan nanti.
"Tidur aja Git, nanti ayah bangunin kalau udah masuk rest area." Titah Aska.
__ADS_1
Gita duduk di belakang bersama bundanya, sedangkan Aska duduk di depan di samping pengemudi.
"Belum tenang kalau belum dapet kabar dari pacar ya Git?" Suara Rendi seakan menghancurkan suasana yang tadi sunyi.
"Apaan sih om. Siapa juga yang punya pacar." Bantah Gita.
"Jangan yang aneh aneh ya Git, lulus dulu baru boleh punya temen deket." Aska menyela.
"Aku enggak ayah."
"Jangan kaku gitu lah As.. terima nasib aja, kalo anak lu tuh dari orok juga udah punya pacar. Kalo gua nggak salah inget, dari belom jadi juga udah ada yang nungguin. Ya nggak Queen?" Rendi melirik Queen dari spion atas.
"Haha.. iya bener." Queen membenarkan ucapan Rendi yang seraya membangkitkan emosi Aska.
"Sama aja berdua nya. Tidur Git, tutup kuping kamu, jangan dengerin ucapan om kamu yang kurang waras ini."
"Ck elah.. kurang waras tapi mantan gua banyak As.. Gita. kalo ada yang mau di tanyain pendapat soal cowok jangan sungkan bilang sama om. Jangan tanya sama ayah kamu yang kaku ini."
"Siap om.."
Mendengar ucapan anaknya, Aska seketika membalikkan tubuhnya ke belakang, tidak segan menatap tajam mata putrinya itu. Dan tanpa mau mendengar selaan ayahnya Gita langsung menutup matanya, memposisikan dirinya bersandar pada pundak bundanya dengan tangan yang memeluk boneka kesayangan.
Namun baru saja Gita benar benar akan terlelap di sela sentuhan hangat tangan bunda di lengannya, tiba tiba ponsel Gita bergetar tanpa suara. Gita melihat nama Farhan di layar. Ia melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul setengah tiga dini hari.
"jam segini baru balik?" cicitnya pelan.
__ADS_1
Terlanjur kesal, Gita enggan menjawab, tangannya malah menggeser warna merah, lalu menonaktifkan ponselnya.
Baiklah.. permainan di mulai.