
mata pelajaran yang menjadi kelas terakhir queen telah usai. semua yang ada di dalam ruangan berjalan santai menghambur ke luar kelas. tapi tidak dengan agung. assdos yang baru datang itu masih berada di balik meja kebesarannya dalam kelas, memperhatikan queen yang berjalan sambil tertawa karena obrolannya dengan rindi.
queen dan rindi berjalan beriringan sampai di pintu gerbang, mereka berpisah karena rindi telah di jemput terlebih dahulu oleh gebetannya yang tak lain adalah atasan dari aska.
"queen, mau bareng nggak?" tanya bang is dari balik kemudi nya.
"enggak usah bang.. makasih. mas aska udah pesenin aku taxi online" bohong queen, menolak halus ucapan bang is karena tak ingin mengganggu acara kencan rindi.
"oh oke.. kalau gitu kita duluan ya..." pamit bang is.
mobil mereka pun pergi perlahan, meninggalakan queen yang masih mematung di depan gerbang kampus nya.
'mas.. aku udah selesai nih kelasnya' queen mengirim pesan singkat kepada aska, dan tak lama ia mendapat jawaban.
'udah saya pesenin.' tak lupa aska juga mengirimkan detail mobil yang sudah ia pesan tadi.
queen masih berdiri, memainkan ponselnya sambil menunggu sang driver menjemputnya lima belas menit kemudian.
suara klakson mobil di sebelahnya membuat queen terkejut, ia mengarahkan pandangannya ke arah mobil tersebut.
hotnda Civic warna putih dan plat nomor yang berbeda dengan detail driver yang aska kirim, membuat queen bingung.
perlahan kaca mobil itu terbuka, lelaki di dalamnya memperlihatkan senyum di wajahnya kepada queen.
"hai queen.. mau pulang ya?" tanya agung dari balik kemudi.
queen mengerjap beberapa kali, menyadarkan dirinya dari keterkejutan.
"oh.. iya nih kak. lagi tunggu taxi online" jawab queen, mengedarkan pandangannya ke jalanan di depan.
"batalin aja. balik bareng saya. saya juga mau ketempat kamu sekarang"
"ngapain kak?" tanya queen, ia mulai gugup mendengar ajakan dari agung.
"hari ini saya pindahan ke situ. kita bakal jadi tetangga deh... jadi mulai sekarang kita satu arah kan?!" agung antusias.
"oh... em... makasih kak, tapi maaf aku nggak bisa pulang bareng sekarang. enggak enak juga mau cancel nya." tolak ramah queen.
"emm.. gitu ya.. oke deh.. nggak bisa sekarang juga nggak papa. tapi next time kita pasti pulang bareng" tutur agung pasti.
dan queen hanya menjawab nya dengan senyum kaku yang di paksakan..
"saya duluan ya kalau gitu. sampai ketemu di rumah queen" agung melambaikan tangannya sesaat sebelum meninggalkan queen. menginjak pedal gasnya setelah menutup kaca jendelanya yang ia buka untuk berbicara dengan queen tadi.
'astaga.. lebih PeDe dari mas aska nih orang. bahaya' gumam queen dalam hati.
tak lama mobil taxi online yang aska pesan tadi sampai. membuka kacanya dan menengadahkan wajahnya, mencari arah pandang queen.
"mbak queen...ne..ra ya?" tanya sang driver terbata. agak susah mengeja nama queen.
"iya pak.."
"oke.. silahkan masuk mbak" sopan sang pengemudi. queen membuka pintu penumpang di depan yang bersebalahan dengan sang driver.
"pakai dulu seat belt nya mbak..."
__ADS_1
"oke.. kita jalan ya mbak..." pamit sang driver. roda mobil bergerak pelan. meninggalkan depan pintu gerbang kampus queen tadi.
tapi, hati queen masih berdetak tak seirama mengingat percakapannya dengan agung tadi. pikirannya menerawang jauh, dimana akan sulitnya ia nanti menolak jika agung benar tinggal menjadi tetangga nya. kecuali hanya jika jadwal mereka yang berbeda.
hingga bunyi ponsel dari dalam tas queen terdengar, membuyarkan lamunan itu.
queen menggeser gambar televon berwarna hijau .
"halo.." jawab queen.
"halo.. ra..." terdengar suara aska di seberang.
"kenapa mas? aku udah di jalan nih"
"iya.. saya tau. cuma mastiin doang kok! soalnya kamu nggak kasih kabar juga" suara aska terdengar kesal.
"iya maaf aku lupa. "
"yaudah hati hati.." setelah mendengar jawaban dari queen, aska memutuskan panggilannya.
membuat queen tersadar.
gila.. kalo baru ngehalu aja udah di tegor ama telfonnya mas aska. gimana kalo gua sampe jalan bareng.. bisa di apain gua nanti sama mas aska.
fikirannya benar benar rumit, sampai queen mendapat jawaban dengan putus asa.
santai aja lah.. ada mas aska ini di sebelah gue. pasti dia juga bakalan nyerah. tapi sayang juga ngelepas agung yang cakep, tajir juga kayanya.. mantep tuh kalo beneran dia naksir gue. bisa iri satu kampus sama gue..
queen masih bermain drama dalam fikirannya. membayangkan hal yang membuat hatinya semakin tak menentu.
terkadang senyumnya lepas tanpa sepengetahuan nya . tak lama senyum itu hilang.. dan muncul lagi. membuat sang driver bingung di buatnya.
"mbak.. maaf.. lagi seneng ya.. dari tadi senyum terus?" tutur sang driver.
"oh.. enggak pak. lagi ada yang di inget aja" jawab queen sopan.
lelaki yang hampir paruh baya itu. membuat queen memperhalus kata katanya. ia teringat sang ayah yang sudah lebih dulu meninggalkannya.
"oh.. pacar ya mbak. yang tadi naik mobil putih itu ya?" tebak sang driver.
"bapak tadi lihat?"
"iya.. saya masih nyari si mbak nya. saya kirain bukan. jadi saya tunggu sampe mobil itu jalan."
"oh.. gitu ya pak."
arah pandang queen yang semula sempat menatap si bapak, beralih kembali ke kaca jendela, menampilkan suasana di jalanan yang ia lalui.
"orang kaya pasti tuh mba.. mobilnya aja gitu."
tutur si bapak lagi, membuat queen tersenyum simpul.
"terus orang yang mesen ini siapanya mbak?"
"hemhem.. yang mesen ini pacar saya pak. yang tadi asisten dosen ya pak. kalo mobilnya keren, tapi orang tuanya yang beliin ya.. sama aja nggak keren pak.." jelas queen.
__ADS_1
"waduh.. pacarnya si mbak pak polisi.. serem juga. pangkatnya apaan mbak?"
"saya nggak tau juga sih pak. nggak pernah tanya soalnya"
"wuah.. si jodohin emangnya mbak? nggak takut mbak kalo ketauan selingkuh nanti,?"
pertanyaan santai dari si bapak driver membuat queen tersentak. mata nya membulat sempurna menatap si bapak yang masih fokus dengan jalanan di depannya.
queen hanya diam. saat pandangannya kembali ia alihkan. sama dengan sang driver.
"maaf ya mbak. saya jadi tanya tanya. biar santai aja gitu mbak. jalanan nya macet gini takut si mbak nya bosen"
apanya yang santai woy... jantung gue pengen copot keluar. ngedenger pertanyaan yang situ bilang santai.
"iya nggak papa pak."
bapak driver mulai menyadari bahwa pertanyaan nya membuat queen terkejut. karena itu ia mengatakan seperti tidak perlu di jawab. dan setelahnya hanya ada keheningan terpecah suara radio dari dalam mobil nya, hingga ban mobil itu berhenti di pinggir jalan.
"oke mbak.. kita sudah sampai"
queen tersentak. entah kemana fikirannya kali ini melayang. ia sampai tidak menyadari keberadaannya kini.
"berapa pak?" tanya queen. mencari dompet dari dalam tasnya.
"sudah di bayar mbak sama si mas nya."
"oh.. oke. makasih ya pak.." queen tersenyum. membuka pintu mobil dan menutupnya kembali.
"mbak.. maaf ya kalo pertanyaan saya tadi nggak sopan."
"iya nggak papa pak."
sang driver pamit dengan tawa kecilnya. pergi meninggalkan jejak mobil roda nya di jalanan.
queen jalan memasuki halaman kontrakannya. matanya mulai mengawasi keadaan di sekitarnya, menyapu tempat mobil biasa di parkiran. semoga saja tidak ada mobil yang ia temui di kampus tadi.
mobil putih itu memang tidak ada, tapi ia melihat mobil merah hati milik aska yang masih terparkir manisnya, karena jarang beranjak dari tempatnya.
dan satu mobil truk pengangkut barang, yang queen yakini adalah mobil pengangkut barang pindahan.
what??pindahan??
jantung queen seraya bergerak cepat, memompa daranya naik ke kepala. hati nya bergetar tak karuan mengingat percakapannya tadi dengan agung.
jangan jangan.. agung benar jadi tetangganya. oh astaga...
semoga mas aska nggak ada di rumah
hanya itu yang selalu terlintas di kepala queen.
**kalo hari senin aku usahain dua episode.**
*boleh kan aku minta like and komen nya dulu untuk satu episode ini*
💖💖💖
__ADS_1
💓💓💓
💔