Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
keinginan Queen


__ADS_3

Sebelum pulang menemui Queen, Aska menyempatkan mampir ke tukang nasi goreng yang pernah Queen sebutkan. Hal itu yang selalu Aska ingat, dan ucapkan dalam hatinya selama menempuh perjalanan ke kota Bandung.


Rasa lelah dan kantuk Aska dan Rendi, karena menempuh perjalanan Bandung-Jakarta tanpa jeda istirahat setelah pulang dinasnya. Juga kembali pulang setelah urusan Aska dan mama Queen selesai.


Baginya, rasa lelah itu akan terbayar nanti, saat mama Queen mengucap memberi restu bagi hubungan mereka.


Aska dan Rendi pergi menggunakan mobil Rendi, dengan demikian maka Rendi yang mengantar Aska pulang terlebih dulu.


Waktu sudah menunjukan lewat tengah malam, ketika Aska sampai di kontrakannya. Secepatnya Aska masuk ke dalam kamar, melepas rasa lelahnya dengan berbaring di sofa.


Aska menelfon Queen, memintanya datang. Tapi Queen tak kunjung mengangkat panggilan itu. Ada rasa jengkel saat Aska melihat Chat Queen masih online, lalu kenapa gadisnya tidak mau menerima panggilan darinya?


Aska bangun, mengetuk pintu kamar Queen pelan, sambil masih terus mencoba menelfon Queen.


Sampai saat Aska mengirim sebuah pesan, bahwa dirinya pulang membawa nasi goreng yang Queen inginkan.


Queen langsung membukakan pintu untuk Aska. Tapi Queen adalah Queen, gadis manja yang konyol dan juga labil.


Bukannya ucapan terima kasih seperti yang Aska harapkan, Queen malah mengerutkan bibirnya. "Kamu dari Bandung?" Tanya Queen kesal.


"Em.. iya, tadi di ajak Rendi kesana." Alibi Aska, tak ingin Queen tau yang sebenarnya.


"tapi kok nggak kasih tau aku dulu sih mas?" Queen makin kesal mendengar nama Rendi di sebut.


Di mata Queen, Rendi adalah lelaki yang suka memainkan hati perempuan. Bukan hanya hati yang Rendi tuju, tapi lebih tepatnya ia mengincar mahkota perempuan.


"Maaf, ini kan balesan rasa terima kasih saya buat dia, kemaren dia udah bantu saya buat jelasin ke kamu." Satu kebohongan yang timbul, akan menimbulkan kebohongan lainnya. Tidak taukah Aska kalau itu berbahaya bagi hubungan mereka kelak.


"Udahlah nggak usah di panjangin Ra. Saya capek banget soalnya." Aska memelas.


"Lho! Emang aku yang bikin kamu capek?" Queen semakin emosi, tak terima mendengar keluhan Aska.


'Kalo boleh jujur, saya sama Rendi capek buat hubungan kita Ira..' hanya dalam hati Aska.


"Iya iya maaf.. kamu udah makan belum Ra?" Aska mengalihkan topik, mengingat makanan di tangannya sudah mulai dingin.


"Kan aku bilang, aku mau makan kalo mas Aska udah pulang." Queen masih mencebik, melipat kedua tangannya di depan dada.


"Saya kan udah pulang sekarang. Yok, kita makan dulu."


"Di sini aja ya makannya." Queen menunjuk teras depan kontrakannya. Memang beralas keramik, tapi sadarkah Queen jam berapa sekarang?


Aska melongo. Terkejut tak percaya dengan permintaan gadisnya. "Udah lewat tengah malem gini Ra, kamu mau makan di luar. Bahaya angin malam Ira.." Giliran Aska yang merengek.


"Terserah aku dong mas, kan acara malem minggu aku berantakan karena kamu." Queen mengingatkan.


"Tapi saya kesana bukan kemauan saya sendiri Ra.. di dalem ajalah.. udah malem." Aska masih berusaha membujuk Queen.


"Ya udah gini aja, aku makan disini, mas Aska makan di dalem. Gimana?" Tawar Queen, tentu saja dengan cepat Aska menolaknya.


"Enggak, kalo di dalem ya di dalem semua, di luar ya di luar semua." Tolak Aska tegas.


"Oke, deal. Di luar makannya. Aku bersihin dulu, mas Aska yang angetin makanannya, gimana?" Queen selalu tau, cara membuat batin Aska menjerit.


"Saya capek banget Ra, sumpah!" selemah mungkin Aska berucap, agar gadisnya kali ini mau mengalah.


"Ya udah tidur aja kalo capek." Queen berbalik hendak masuk ke dalam kamarnya.


Namun dengan cepat Aska menarik lengan Queen. "Oke. seperti yang kamu mau.." Aska mengusap pipi gadisnya lembut, kemudian menunjukan wajah melasnya, sebelum beranjak masuk, menghangatkan makanan seperti yang Queen pinta.


Meskipun rasa lelah dan kantuk yang Aska rasakan, lelaki itu tetap melakukannya. Aska tidak ingin Queen terus merajuk entah sampai kapan. Dan itu akan sangat merepotkan nantinya.


Aska sudah selesai memanaskan makan malam mereka. Seperti keinginan gadisnya, mereka makan di teras depan kamar Queen. Queen sangat menikmati makan malam mereka.


Meski rasanya biasa, tapi karena mood Queen yang sedang baik, maka itu terasa jauh lebih nikmat. Senyumnya terus terlihat selama mereka makan.


"Enak banget ya mas masakannya.." Tutur Queen setelah memakan habis nasi gorengnya.


"Jelas, siapa dulu yang masak?" Aska menepuk dadanya, bangga.

__ADS_1


Queen memicing. "Lah, orang abangnya sih yang masak. Mas Aska kan cuma manasin doang!" Seru Queen. Buyar sudah segala kesombongan yang tadi mampir di hati Aska.


Queen tertawa pelan, mengingat hari semakin larut, meskipun ini malam minggu, tapi bukan hanya anak muda yang tinggal dalam lingkungan kontrakan itu.


"Tidur yuk Ra, udah malem." Ajak Aska, sambil membawa piring bekas makan mereka.


"Oke, di kamar mas Aska ya.." Queen antusias. Mengikuti langkah lelakinya.


"Dasar, kalo tidur aja baru sepakat." Aska mendengus.


"Haha.. nggak pa-pa, kayak mas Aska nggak suka aja aku temenin." Aska terkekeh, gadisnya selalu bisa membuat hatinya terasa hangat.


Setelah membersihkan tubuhnya, Aska menghampiri Queen yang sudah lebih dulu beranjak ke atas kasur Aska.


Queen sebenarnya sudah menahan kantuknya, sambil menunggu kepulangan Aska. Dirinya selalu risau saat Aska tak kunjung pulang, terlebih saat itu Aska sedang bersama Rendi, si lelaki setengah buaya.


"Kamu udah tidur Ra?" Aska menyentuh pundak gadisnya, yang berbaring memunggungi Aska.


Dilihatnya gadis itu, sudah terpejam Aska tersenyum. "Udah ngantuk aja banyak gaya. Segala ribet dulu sial makan." Aska mendumal. Tapi senyumnya mengembang melihat Queen yang tenang dan tidak bertingkah.


"Selamat malam Ira sayang.." Aska memeluk tubuh Queen dari belakang, mengecup rambutnya sedikit lama dan dalam.


Hari ini memang melelahkan. Sangat melelahkan, tapi itu semua sirna, saat Queen sudah berada di hadapannya.


Entah bagaimana rasanya nanti, jika mereka sudah tinggal dalam satu rumah, membina rumah tangga seperti yang mereka tunggu.


Akankah sama dengan saat ini, atau akan lebih menyenangkan dan lebih menantang saat mereka bertengkar.


Aska ikut memejamkan matanya, menutup hari nya yang begitu panjang. Untung saja besok ia libur, andai saja Aska masih harus tugas, mungkin Aska akan bangun kesiangan.


***


Queen bangun lebih dulu. Mendapati wajah Aska susah berada dekat di hadapannya. Ada rasa hangat yang menjalar tubuh Queen. Sungguh ia juga senang berada di posisinya saat ini.


Rasa kasih sayang dan kelembutan Aska, tidak pernah ia dapatkan dulu. Tapi sekarang, hari-hari Queen sudah di temani dengan Aska. Lelaki pilihan hatinya.


Queen tidak ingin kebahagiaannya saat ini terusik, tetapi Queen juga tidak ingin mempersulit keadaan lelakinya. Maka ia memilih membangunkan Aska, Queen kira Aska masih ada tugas dinas pagi.


"hmm.." Aska menjawab dalam setengah kesadarannya.


"Udah hampir pagi, mas nggak kesiangan?" Tanya Queen, suara lembut Queen yang parau nan manja, membuat Aska membuka matanya.


"Saya libur hari ini Ra." Jawab Aska.


"Libur?" Queen bingung. "Terus, kenapa semalam sok sibuk gitu kalo hari ini libur?"


Aska mulai mengerti nada suara itu akan seperti apa akhirnya, dengan senyum yang menggoda Aska kembali beralasan. "Hari ini buat kamu Ra."


"Yang bener?" Queen antusias, tapi tak bergerak dari posisinya.


Aska mengangguk, mengecup kening Queen sebentar, kemudian kembali memejamkan mata, berusaha menjemput alam bawah sadarnya lagi.


"Terus sekarang kita mau kemana?" Queen sudah tidak bisa tidur lagi, rasa senang karena ucapan Aska tadi, membuat hatinya bersemangat.


"Sekarang kita tidur dulu, nanti siang baru kita pikirin mau kemana." Aska menjawab dengan mata yang masih terpejam.


Queen berdecak. "Aku udah nggak bisa tidur lagi." Queen hendak bangun, tapi Aska melarangnya. "Mau kemana sih Ra?" Membuatnya kembali terjaga. Tatapan Aska lekat. Tak suka Queen hendak meninggalkannya.


"Mau ngambil hp aku mas di kamar aku. Mau nonton drama Korea aja, sambil nunggu kamu bangun." Aska melepaskan pelukannya, mengusap wajahnya, seraya berusaha terjaga.


Ia bangkit, mengambil ponsel miliknya di atas nakas dekat tempat tidur. "Pake hp saya aja. Kamu download aplikasinya." Aska memberikan ponselnya kepada Queen, kemudian beranjak naik ke atas tempat tidur, kembali memeluk tubuh Queen dalam selimut tebal.


"Nyaman banget ya Ra.. gini aja deh sampe besok pagi. Males bangun saya jadinya Ra." Cicit Aska. Tentu saja membuat hati Queen kecewa.


"Tadi katanya mau jalan-jalan. Gimana sih mas?" Queen merajuk.


"Lho! Saya kan bilang hari ini buat kamu. Bukan ngajak kamu jalan-jalan.." Aska terkekeh geli.


"Dis.. apa banget deh mas Aska." Lagi-lagi Queen ingin beranjak, dan kembali di cegah oleh Aska.

__ADS_1


"Nggak usah ngambek-ngambek gitu. Hari masih pagi, malu sama matahari."


"Bodo." Jawab Queen sengak.


"Dih.." Aska tertawa melihat bibir mancung gadisnya. "Sini saya yang download, apa nama aplikasi yang kamu mau? kita nonton bareng." Aska menyeluncurkan jarinya, mengetik kata yang Queen ucapkan.


***


Hari makin siang, tapi Aska dan Queen masih bergelut di bawah selimut tebal yang membuat mereka sangat nyaman. Sudah tiga episode drama Korea yang mereka lihat.


Aska sebenarnya tidak lupa dengan perkataan mama Queen semalam. Aska hanya menunggu waktu yang tepat bagi Queen, agar mau menceritakan keseluruhan tentang keluarganya.


Tibalah saat mereka selesai makan siang, Aska mencoba setenang dan senatural mungkin bertanya kepada Queen. Duduk berdampingan dengan Queen.


"Ra.." Aska memulai obrolan. Detaknya lebih cepat di banding biasanya. Ya, Aska takut, kalau ucapannya nanti salah, dan Queen akan merajuk lagi.


"Hm?" Queen menoleh ke arah Aska.


"Hm.. saya perhatiin, hubungan kamu sama mama kamu kurang baik ya?" Aska memilih kata sehalus mungkin, takut-takut Queen akan tersinggung nantinya.


Queen memutuskan pandangannya, kembali fokus melihat drama yang sedang ia putar di ponsel Aska. "Emang!" Jawab Queen santai.


"Kalau saya boleh tau, kenapa?"


"Seperti yang mas Aska denger kemarin." Queen menghelala nafasnya berat. "Mama sama papa sibuk cari uang untuk nyenengin aku katanya." Queen berdecak.


"Lho, bagus dong! Tandanya mereka sayang kamu." Aska mencoba memberi pengertian.


"Iya, tapi cara mereka aku nggak suka mas. Mereka pisah tanpa mikirin aku. Itu yang mereka maksud sayang sama aku?" Queen balik bertanya.


Aska memandang Queen teduh. "Coba kamu ceritain ke saya, biar saya ngerti dimana salah pahamnya."


"Nggak ada yang salah paham mas.. aku cuma nggak suka cara mereka nyayangin aku. Menurut aku mereka salah." Queen tidak mau mengerti.


"Oke, terus?" Aska semakin penasaran.


"Ya nggak ada terusannya, aku lebih milih tinggal disini, dari pada harus milih diantara mereka yang sama-sama egois." Queen sudah tidak selera meneruskan acara drama Korea tadi.


Ia membanting ponsel Aska ke sofa sebelahnya. Memilih merangkul lengan Aska, seraya merebahkan kepalanya dekat lengan Aska.


"Aku nggak mau jadi seperti mereka mas nantinya. Sia-siain anak mereka sendiri, terus alasannya demi kebaikan aku katanya. Aneh banget deh."


Aska dapat mengerti perasaan gadisnya kali ini, tetapi Aska juga tidak ingin Queen larut dalam kesedihan selamanya. Queen harus keluar dari zona nyamannya, dan berbicara dari hati ke hati kepada wanita yang sudah membawanya ke dunia ini.


Aska menatap sendu wajah Queen dari samping, membelai rambut gadisnya perlahan dan teratur.


"Saya juga nggak mau kalau nanti di tinggalin sama anak kita." Aska memberi jeda. "Apalagi itu kamu, wanita yang saya sayang, sudah mengandungnya selama sembilan bulan. Hanya karena kesalahan yang belum ia tau, terus kamu di jauhin begitu aja. Saya nggak mau begitu Ra.." Queen mengangkat kepalanya, menyatukan pandangan mereka.


"Please Ra.. nggak ada salahnya kita ngalah demi masa depan." Selembut mungkin suara Aska berucap, agar gadisnya bisa mengerti. "Kamu mengalah, bukan berati kamu bersalah, kasih beliau kesempatan bicara.. sekali aja. Sebagai imbalannya, apapun mau kamu saya bisa turutin. Oke?" Aska tersenyum. Meyakinkan Queen bahwa semua akan baik-baik saja.


Andainya mama Queen tidak memberikan embel-embel tentang janji memberinya restu jika Queen mau berbicara dengannya, Aska juga tetap akan memperbaiki hubungan antara mama dan anak kandung itu. Sayangnya, Aska baru tau setelah ia bertemu secara langsung dengan wanita yang Queen tak pernah sebut namanya.


Jadi, apa yang selama ini membuat Queen menyembunyikan masa lalu kedua orangtuanya? Kenapa Queen sangat mengunci tentang kehidupan pribadi tentang yang satu itu? Padahal Queen secara gamblang Aska bisa masuk ke hati Queen dan mencuri hati gadis itu dengan mudah dari Arya.


Kalau di pikir-pikir, Queen juga tidak pernah membicarakan masa lalu tentang Arya pernah yang pernah menyakitinya dulu.


Jadi beginilah Queen. Ia manja karena ingin melarikan diri dari kehidupan di masa lalunya yang sudah ia kunci rapat.


Queen masih menatap lekat lelakinya, mencoba mencari keyakinan dari manik mata hitam itu. Tapi hatinya sudah terlanjut jatuh pada Aska. Meski Queen selalu tau caranya melawan ucapan Aska, dalam hati Queen, sudah tidak bisa lepas dari lelakinya.


Aska mengusap rambut Queen, mencium kening gadisnya. "Nanti kita cari waktu yang pas ya Ra.. saya bakal temenin kamu." Senyum Aska seakan menghipnotis alam bawah sadar Queen, gadis itu mengangguk pelan tanda setuju.


"Janji ya mas.." Queen mengucapkannya, seraya merebahkan kembali kepalanya di atas dada bidang Aska.


Boleh minta like nya dulu. jangan lupa poin nya.


hehe..


🙃🙃😉

__ADS_1


(Kecewa banget.bDari kemarin masih diriview. Jadi terpaksa aku hapus visualnya. maaf..)


__ADS_2