Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
enam


__ADS_3

Jangan heran. Cewek emang kadang lemah sama yang namanya sengatan matahari, apalagi kalau perut belum di isi apapun saking semangatnya pengen ketemu gebetan yang terpisah jarak dua hari kemarin.


Lebay? Emang.


Begitu sih rasanya kalau orang lagi kasmaran. Apalagi anak putih abu abu. Pengennya nempel terus. Tapi, apalah daya Basagita yang sulit mendapatkan ijin keluar malam mingguan bersama cowok lain, kecuali Farhan.


Padahal jelas-jelas ayahnya sudah mengatakan bahwa jalan hidup Gita biar dia sendiri yang menentukan. Tapi tetap saja. Tanpa tedeng Aling aling, atau sekedar basa basi yang jamuran, ayah Aska langsung menolak tegas keinginan putri semata wayangnya itu.


Kejam!!?


Bel istirahat baru saja berbunyi, begitu pula dengan dering handphone Gita yang membuat si pemiliknya terkejut.


Nama Farhan tercetak jelas di layar.


"Hallo. Apa?" Suara Gita masih nampak lemah.


"Mau makan apa?" Suara Farhan tegas


"Nggak usah, aku beli sendiri aja di kantin.


"Oke, terserah aku."


Tut tut tut.


Suka gitu kan dia mah. Rese.


"Hai Git."


Belum habis kesel gadis itu pada Farhan, tapi Deni sudah menghampirinya.

__ADS_1


"Gue duluan ya Git." Suara Susan menyadarkannya.


Gita mengangguk setuju.


"Gimana keadaan kamu?" Deni duduk di sebelah Gita setelah kepergian Susan.


"Eum. Udah baikan kok."


"Ke kantin yuk. Kamu pasti belum sarapan tadi pagi."


"Mana ada sarapan malem hari." Bukan. Bukan suara Gita. Tapi suara Farhan.


Membuat Gita dan Deni sama sama melihat ke arah pintu masuk.


Farhan bergerak menghampiri arah dua sejoli


"Kakak kelas geser sonoan deh, pengen ngeliatin orang pacaran nih gue." Ya. Farhan berbicara pada wanita yang duduk di depan meja Gita. Membuat si empu berdecak tidak suka, namun tetap memberikan ruang pada Farhan.


"Oh.. ini toh mukanya orang yang udah nelantarin cewek di toko buku kemarin. Nggak ngasih kabar pula." Ejek Farhan sengit.


"Nggak ada urusannya ya sama lu."


"Banyak ya, jangan sok tau."


"Lu yang jangan sok tau." Jari telunjuk Deni dengan tegas mengarah pada wajah Farhan.


Bukannya takut, Farhan malah tertawa sinis.


"Maling tuh gini Ta, takut kalo udah di hadapin sama bukti."

__ADS_1


"Farhan. Udah ya." Suara Gita akhirnya terdengar.


"Adek kecil kamu ini nih, yang selalu ganggu kita akhir akhir ini."


"Iya aku minta maaf."


"Bisa ga sih, hubungan kita kayak kemaren kemaren aja, sebelum dia masuk ke sekolah ini." Tatapan Deni tajam pada Farhan.


"Gua tuh ada disini buat ngejagain jodoh gue. Jadi elo." Tunjuk Farhan. "Makasih ya selama ini udah ngejagain jodoh gue." Senyum Farhan penuh kemenangan.


Braakkk!! "Sialan lu emang." Deni menggebrak meja di hadapannya. Membuat Gita dan siswa lainnya terperanjat kaget. Kecuali Farhan.


"Jangan begitu, ntar kalo rusak bisa nggak lu gantiinnya?"


"Jangan mentang-mentang jabatan bokap lu, jadi belagu lu ya disini. Duit yang lu pake itu juga duit orang tua lo. Nggak usah belagu."


"Udah yank.. tenang. Farhan kamu pergi dulu aja lah. Aku pengen ngbrol sama Deni dulu." Pinta Gita. Melihat situasi yang kian memanas.


"Biarin aja sih Ta. Pengen liat aku marahnya dia kayak apa." Pandangan Farhan beralih ke Deni.


"Aku ke kantin duluan Git, terserah kamu mau ikut atau nggak." Deni memilih pergi duluan.


"Ke kantinnya jangan pake duit bokap nyokap lo ya.." Suara Farhan terdengar nyaring di dalam kelas. Membuat langkah Deni semakin cepat menjauh.


hayo.. yang kemaren mikir si Farhan itu anak kaku siapa?


Farhan memang anak kelas sepuluh, tapi dia sudah banyak mengenal anak dua belas yang memiliki kuasa di sekolah. Bukan tanpa alasan.


Farhan pikir, untuk memiliki kekuatan dia harus memiliki back up yang mumpuni.

__ADS_1


Itulah prinsipnya sejak dulu untuk menjaga jodohnya


__ADS_2