
Aska sudah sampai di kontrakannya setengah jam, sebelum waktu Queen harus berangkat kuliah. Lelaki itu bisa menarik nafasnya lega, mengingat dirinya masih sempat bertemu dengan istrinya.
"Ra.." Panggil Aska, mengetuk pintu kamarnya beberapa kali. Tanpa perlu menunggu lama, Queen sudah membukakan pintu untuknya.
Beginikah rasanya? Selalu ingin pulang cepat karena sudah ada yang menunggu di rumah. Aska masuk, dan langsung menubruk tubuh Queen, memeluknya dengan erat setelah pintu kamar mereka tertutup.
"Mas Askaa.." Queen mencubit kecil lengan Aska.
Aska mengaduh, merasakan tanda protes dari istrinya. Tetapi Aska tidak marah, ia mengusap-usap di tempat Queen mencubitnya, dengan sedikit kekehan.
"Sakit tau Ira.." Aska membalas mencubit ujung hidung Queen.
Ia tersenyum lalu beranjak masuk kedalam kamar mandi. Di ikuti dengan Queen di belakangnya. Queen berharap, lelakinya sudah kembali dengan sikap normalnya lagi, sama seperti saat mereka belum menikah kemarin.
"Masak apa Ra?" Aska menyempatkan melihat isi tudung saji yang terdapat di atas meja makan yang ia lewati.
"Kamu beli?" Tatapan Aska tak suka, menunggu jawaban Queen.
"Iya. Tadi beli di tempat nasi uduk, tuh deket gerbang depan." Jawab Queen santai.
Aska kembali menutup tudung saji itu, lalu dengan wajah cemberut ia membuka seragam dinasnya, dan memasukkan nya ke dalam keranjang cucian kotor. Kemudian masuk ke dalam kamar mandi, tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Queen yang berada di belakangnya.
'Kenapa lagi sih nih orang?' Gumam Queen. Sebagai seorang wanita yang sudah bersentuhan badan dengannya, membuat Queen sedikit banyaknya bisa merasakan sesuatu yang berbeda dari Aska.
Sama seperti kali ini. Lagi dan lagi, Queen di buat pusing dengan Aska yang diam dengan bibir mengerucut setiap kali bertatapan dengan Queen.
"Kenapa sih mas?" Aska yang sudah selesai mandi, tanpa belum mengenakan pakaiannya, ia sudah meminta Queen menyediakan sarapan untuknya.
"Nggak pa-pa." Jawabnya Aska. Queen merasakan nada bicara Aska yang sedikit dingin dari biasanya.
"Ya udah." Queen meletakkan gelas berisi air putih di atas meja depan Aska. Dan berlalu kedalam meninggalkan suaminya yang tengah sarapan.
Queen sibuk memasukan beberapa buku mata kuliahnya ke dalam tas. Kemudian menggantungkan talinya di pundak Queen.
"Udah selesai makannya mas?" Queen melirik bungkusan bekas nasi uduk yang Aska makan tadi.
"Udah." Jawabnya singkat.
"Ehm.. ya udah, aku berangkat dulu ya.." Queen hendak mencium punggung tangan Aska. Tapi Aska menahan genggaman tangan Queen.
"Kamu kok jahat banget sih Ra sama saya?" Aska memelas.
"Kenapa?" Queen bingung, ia merasa tidak berbuat apapun yang aneh sejak tadi. Ia bahkan selalu menuruti permintaan Aska, yang menginginkan dirinya untuk selalu dilayani.
"Saya baru pulang, belum tidur, masih kangen sama kamu, malah di kasihnya masakan orang lain. Udah gitu makannya nggak di temenin lagi. Sekarang, saya juga yang harus ngeberesin bekas makan saya. Terus kamu tinggal begitu aja, padahal saya belum apa-apain kamu." Bibir Aska mencebik.
Astaga.. ada apa dengan penuturan Aska kali ini, kenapa terasa seperti Queen yang lebih tua darinya.
"Yah.. mau gimana lagi, mas juga nggak ngomong kalo nggak mau beli sarapannya. Terus aku kan harus udah berangkat kuliah mas.. udah mau siang ini." Queen melirik jam tangannya.
"Sebentar doang Ra.. masih kangen sama kamu.." Aska berdiri, masih dengan menggenggam tangan Queen. Wajah sendunya membuat hati Queen merasa ingin tertawa.
Tatapan Aska semakin lekat, terasa sedih dan dalam. Queen tidak bisa berpaling untuk menghindarinya. Jarak pandangan yang semakin terkikis oleh jarak, membuat Queen sadar, apa yang diinginkan oleh lelakinya.
Wajah Aska kian mendekat, hingga hembusan nafas Aska terasa di wajah Queen. Queen diam, menanti saat bibirnya menyatu dengan bibir Aska.
Matanya mulai terpejam. Aska sampai, dengan perlahan namun pasti, Aska seolah mengunci pergerakan Queen dengan tatapannya. Membuat Queen tidak bisa berkutik, tidak bisa melakukan hal apapun selain membalas tatapan manik mata Aska.
Perlahan, Aska mulai menyatukan bibir keduanya, mengecupnya kecil namun berulang. Semakin lama dan semakin dalam. Kecupan kecil berganti menjadi lumatan kecil di bibir Queen.
Sekali lagi, Queen tidak bisa berbuat banyak. Ia selalu kalah dalam setiap gerakan yang menyatukan bagian tubuh di antara keduanya.
Queen hanya bisa menerima dan membalas pangutan Aska, yang semakin dalam dan menuntut untuknya.
Rasa panas mulai menguar, mengalir dari dalam tubuh keduanya. Kecupan kecil di awal tadi berganti dengan gerakan yang semakin panas. Aska menuntut Queen. melumatnya dalam, berusaha meraup semua rasa di bibir Queen. Belitan lidah di dalam, membuat Queen kewalahan. Ia mengalungkan tangannya di leher Aska. Sesekali Queen mer*mas rambut lelakinya.
Queen sudah panas di gulung gairah, karena pangutan yang menuntut dari lelaki nya. Wajah mereka yang saling bergerak ke kanan dan ke kiri demi bisa meraup setiap ujung bibir dari wanitanya.
Queen merasakan jantungnya mulai kehabisan oksigen. Ia berusaha meraup udara di sela-sela sesapan Aska. Lelaki itu benar-benar terasa seperti mendamba Queen. Padahal sore kemarin Aska sudah melakukannya. Aska tidak membiarkan pangutan mereka terlepas, meski ia juga merasakan dirinya mulai kehabisan nafas. Tapi ia tak perduli. Yang ia ingini saat ini adalah wanitanya.
Andai saja bisa, Aska ingin memeluk tubuh Queen seharian, mengungkungnya dalam dekapan erat, di bawah balutan selimut tebal di atas kasurnya.
Ingin sekali Aska mengatakan, Queen untuk tidak berangkat kuliah. Tapi sialnya, Aska sendirilah yang selalu mengatakan Queen harus lulus kuliah. Dan bagaimana ia bisa lulus dengan cepat, jika Aska selalu membuat Queen bolos dari mata pelajarannya.
Queen tak tahan lagi, ia memukul pundak Aska pelan. Memintanya melepaskan pangutannya meski hanya sebentar. Aska yang menyadari kode itu, langsung menarik mundur wajahnya, sedikit memberi jarak antara bibir keduanya, namun kening mereka masih menempel.
Bukan hanya Queen yang berusaha meraup udara sebanyak-banyaknya, mengisi oksigen untuk organ dalamnya. Aska juga melakukan hal yang sama, deru nafasnya terasa memburu di wajah Queen.
"Mas Aska.. aku udah siang." Cicit Queen. Tubuhnya di bekap erat oleh kedua tangan kokoh Aska.
"Sebentaar aja." Pinta Aska. "Nanti saya anter kamu, biar nggak telat." Aska yang sedang menghirup aroma wangi coklat, karena lotion di leher jenjang Queen.
"Nggak usah, kamu belum tidur, biar aku pesen ojek online aja, lebih aman." Tawar Queen. Aska memejamkan matanya, menahan segala hasrat dalam tubuhnya.
__ADS_1
Bukan tentang penyatuan inti tubuh mereka yang Aska inginkan, atau pencapaian dalam kepuasan dari batang kejantanannya. Aska hanya ingin berdua dengan Queen, mengahabiskan waktu sebanyak-banyaknya yang mereka bisa. Dobel sialnya, inilah waktu singkat yang mereka punya.
Aska melepaskan pelukannya, dengan tubuh yang masih bertelanjang dada, Queen mengambilkan kaos dan memberikannya kepada Aska. Queen pikir Aska sengaja melakukannya.
Aska yang sedang duduk sambil memesan ojek online untuk Queen, melirik sekilas kaos yang Queen sodorkan di hadapannya. Lalu beralih pada Queen di sampingnya. Aska mencium pipi Queen dari samping dan tersenyum. "Makasih ya sayang.." Senyuman manis Aska serta suara lembutnya menembus hingga jantung hati Queen.
***
Queen sudah sampai di gerbang pintu masuk kampusnya, melepaskan helm milik abang ojek dengan jaket berwarna hijau dan hitam.
"Makasih ya bang.." Queen menyerahkan helmnya. Sambil merapihkan rambut panjangnya yang berkibar karena angin tadi, Queen berjalan masuk ke dalam kampus.
Hari ini Queen hanya punya dua mata kuliah, yang artinya ia tidak harus berlama-lama di dalam kampus, apalagi Rindi tidak satu kelas dengannya kali ini. Membuat Queen tambah enggan melenggang kan kakinya.
"Queen.." Suara lelaki yang sangat Queen kenal memanggil namanya. Queen menoleh ke arah sumber suara, ia melihat lelaki itu setengah berlari menghampirinya.
Queen menghentikan langkahnya saat Arya semakin dekat dengannya. Queen baru tersadar, jika lelaki yang pernah mengisi hari-harinya selama bertahun-tahun itu tidak datang saat acara pernikahan mereka kemarin.
"Queen, gua tungguin lu dari tadi." Nafas Arya sedikit tersengal, akibat mengejar Queen tadi.
"Mau ngapain?" Jawab Queen santai.
"Ck. kemaren lu nggak masuk kuliah kenapa?"
"Kepo.." Queen kembali melangkahkan kakinya, di iringi Arya yang berjalan di sebelahnya.
"Kenapa kemaren nggak dateng? Perasaan aku udah undang deh." Queen melirik lelaki di sebelahnya sekilas.
"Kenapa ya?" Arya terkekeh, dirinya seperti salah tingkah, mencari alasan yang tepat sambil menggaruk leher belakangnya yang entah benar gatal atau tidak.
"Kenapa?" Desak Queen.
"Masih ngeri ketemu sama laki kamu, mungkin" Arya mengedikkan bahunya tanda tak yakin.
"Kenapa emang?" Queen kaget. Ia menghentikan langkahnya, demi mendengar penjelasan Arya. "Perasaan kalian nggak pernah ribut deh." Queen mencoba mengingat-ingat tentang pertemuan keduanya.
"Ck, kata siapa?" Arya terkekeh. Senyumnya berubah kecut saat pintasan memory di kepalanya.
"Inget nggak sih kamu, waktu kamu nangis-nangis di kantin, di liatin sama segitu banyaknya mahasiswa yang ada. Inget nggak?"
Queen nampak berfikir. "Oh iya.. inget, terus kenapa?" Queen masih belum mengerti.
"Aku kan telfon bang Aska sambil marah-marah. Terus udah gitu aku juga hampir berantem sama utusannya yang dateng-dateng terus ngajak kamu pulang bareng dia."
"Apanya yang kenapa mulu sih Queen. Ya aku ngeri lah ketemu sama mereka berdua. Entar tau-tau aku di culik terus di tembak, terus aku di buang ke selokan. Seolah-olah aku korban tabrak lari." Arya mendramatisir.
"Mana ada tabrak lari ada bekas tembakannya. Apalagi peluru yang masih nyarang di lukanya. Nggak jelas banget pemikiran kamu Ar.."
Queen mencebik, tak suka suaminya di jelek-jelekin dalam pemikiran Arya.
"Bercanda Queen.." Arya mencubit pipi Queen dengan gemas dan tertawa.
Queen juga ikut tersenyum melihat keadaan Arya yang baik-baik saja kini. Kemarin ia sempat khawatir, karena Arya yang tak datang di hari bahagianya. Tapi melihat tingkahnya kini, Queen rasa Arya bisa mengatasi lukanya dengan cepat.
"Cie.. mantan yang di tinggal nikah." Sapa seorang lelaki yang Queen rasa kenal dengan Arya. Pasalnya ia berani meledek Arya secara langsung.
"Bacot lu." Aska mencubit bibir lelaki itu, menariknya, tepat seperti bibir bebek, dan Queen tertawa melihatnya.
"Nggak usah nyebut gua mantan ya sama dia. Dan nggak usah banyak mulut kalo nggak tau apa-apa." Sungut Arya kesal. Ia menarik lengan Queen untuk segera menjauh dari laki-laki tadi.
Arya mengantar Queen sampai di pintu kelasnya. Ingatkah, seberapa lama Arya menjalin hubungan dengan Queen? Hingga lelaki itu tau, mulai dari kebiasaan, jadwal, hingga kelas Queen setiap harinya.
"Nanti tunggu aku di kantin ya.." Pesan Arya.
"Kapan?"
"Nanti, kalo kamu udah selesai mata kuliah ke dua. Aku ada praktek dulu. Mungkin lewat sedikit dari jam biasanya." Jelas Arya.
"Oke. Nggak lebih dari tiga puluh menit ya, lebih dari itu aku tinggal." Ancam Queen dengan wajah serius.
"Siiipp.." Arya mengacungkan dua ibu jarinya, seraya berjalan mundur ke belakang. Ia masih melihat Queen sampai wanita yang pernah singgah di hatinya itu masuk ke dalam kelas.
***
"Lama ya Queen?" Nafas Arya tersengal, sepertinya ia juga berlari saat hendak kemari. Terlihat dari nafasnya yang tak beraturan, Arya menarik kursi di dekatnya.
"Mang, es jeruk peras satu. Jangan pake asem." Teriak Arya pada penjaga kantin.
Lelaki yang belum sampai setengah baya itu, mengacungkan ibu jarinya ke arah Arya sambil mengangguk mengerti.
"Kamu tau nggak, kenapa aku ajak ketemu disini?" Tanya Arya setelah nafasnya teratur.
Queen menggeleng malas. Menurut Queen pertanyaan Arya sangat konyol.
__ADS_1
"Soalnya kalo ketemuan di kamar aku, nanti aku bisa di gorok sama suami baru kamu." Queen melongok.
Arya yang sedang bercanda, atau Arya sedang mengejek dirinya dengan sebutan suami baru. Tapi apapun itu, kalimatnya begitu aneh menurut Queen. Apalagi saat Arya tertawa setelah mengucapkannya. Tawa yang tidak bisa Queen mengerti.
Queen membuang nafasnya malas. Sampai es jeruk peras tanpa rasa asem pesanan Arya datang, menyelamatkan candaan garing Arya.
"Bentar ya, aku minum dulu, aus.." Arya menyeruput minuman di hadapannya hingga nyaris tandas, hanya dalam satu sedotan.
"Aus banget ya Ar?" Tanya Queen dengan pandangan aneh.
"Banget. Abis praktek aku langsung lari kemari, takut kamu keburu kabur."
"Emang ada apaan sih?" Queen mulai penasaran. Queen fikir Arya hanya mengajak mereka bertemu untuk saling menyapa saja. Tidak tau niat hati lelaki di hadapannya ini.
Arya nampak mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
"Ini buat kamu." Kotak kecil berbentuk love, dengan warna merah menghiasi seluruh bentuk kotak tersebut.
"Apaan nih?" Queen perlahan membuka isi kotaknya.
"Ini hadiah pernikahan kamu. Maaf ya kemarin nggak bisa dateng. Ada sesuatu yang harus aku selesaiin, dan itu butuh waktu." Arya mulai serius.
"Ya ampun Ar.." Queen terkejut, cincin emas dengan satu mata berlian di tengahnya, membuat cincin itu terlihat manis.
Arya membantu Queen mengeluarkannya dari dalam kotak, memperlihatkan ukiran nama di balik cincin tadi.
"Ini ada nama kamu nya, jadi aku nggak bisa kasih ke orang lain. Dari pada mubazir, jadi ya.. berani nggak berani sama suami kamu, aku tetep kasih ke kamu. Hehe.. Maaf ya kasih nya telat." Arya memberikannya pada Queen.
Queen menelisik setiap bentuk dan ukiran yang terdapat pada cincin yang ia pegang.
"Jadi, kamu nggak dateng karena pesanan cincin ini?"
"Bukan." Arya menghabiskan minumannya hingga terdengar bunyi nyaring dari sedotannya.
"Terus kenapa?" Queen masih bingung.
"Cincin ini aku pesen, waktu.. empat tahun anniversary kita dulu. Aku pikir bakal ngelamar kamu di tahun berikutnya, tapi.. malah kamu nya udah di ambil sama yang lain." Arya tersenyum kecut. "Coba aja waktu itu aku lebih cepet ya Queen, mungkin, semuanya bakalan berbeda endingnya." Arya berusaha untuk tidak menatap Queen. Pandangannya ia alihkan ke segala arah, demi tidak menatap Queen.
Hati Queen berdesir ngilu. Bagaimana ia harus menyikapi momen ini. Ini pertama kalinya Arya terlihat begitu dewasa bagi Queen.
"Kalo itu niat awal kamu.." Queen memasukkan kembali cincinnya ke dalam kotak. "Maaf.. aku nggak bisa terima."
Arya kecewa, dengan cepat ia menjelaskan maksudnya kali ini.
"Bukan, bukan gitu.." Sangkal Arya. "Itukan udah lewat, lagian kan ada nama kamu nya Queen. Kalo aku kasih cewek lain, ya nggak mungkin dong. Terus kalo aku pake, ntar di kiranya aku nggak bisa move on dari kamu. Terus, kalo aku simpen, nggak baik juga buat hubungan aku sama pasangan aku nantinya, di pikir aku ada main sama kamu. Kalo aku buang, janganlah Queen.. mahal banget itu. Sayang lah.." Tutur Arya panjang lebar.
Yang intinya Arya ingin Queen menerima cincin itu, menganggapnya seperti hadiah pada umumnya. Tapi dimana ada hadiah dari mantan yang berbentuk cincin. Akan jadi boomerang bagi keduanya kelak.
"Aku takut mas Aska marah nanti."
"Ya.. kamu bilang itu hadiah pernikahan aja. Nggak usah jelasin yang macem-macem." Usul Arya.
"Terus kalo dia ngelarang aku make, gimana?"
"Nggak usah di pake Queen, aku cuma mau kasih sama pemilik cincin ini aja. Nggak perlu di pake. Cukup di simpen sama kamu. Kamu mau terima aja, aku udah bersyukur banget Queen. Ya.. please.." Arya menangkupakan kedua tangannya, seperti memohon.
Queen tidak tau harus bagaimana lagi cara menolaknya, ia menelan salivanya kasar, sebelum mengambil keputusan.
Andai saja Rindi ada di sini. Pasti tidak akan sesulit ini bagi Queen, ketimbang harus menghadapinya sendirian.
"Ya udah deh, aku terima." Queen menarik kembali kotaknya. "Makasih ya Ar.. nanti kalo ada kebutuhan yang mendesak, aku jual ya?" Ledek Queen, berusaha mencairkan suasana.
"Yah.. janganlah Queen. Aku nggak rela kalo cincin itu ada si tangan orang lain." Raut Arya kembali bersedih. "Kalo kamu butuh apapun, bilang aja sama aku. Aku siap kok buat bantu kamu. Aku bisa.. bisa banget malah."
"Haha.. iya iya percaya. Kamu kan anaknya insinyur kedokteran. Mungkin, kalo ada sesuatu sama kesehatan aku atau suami aku, aku bolehkan dateng ke rumah sakit punya ayah kamu. Siapa tau biayanya gratis." Canda Queen.
"Boleh banget. Mau aku yang jadi dokternya juga bisa banget Queen."
"Oh.. kalo itu aku enggak mau. Takut salah diagnosis."
"Dih.. enggak banget ya aku kayak gitu." Arya seolah merajuk.
Ketika mereka tengah asik berbincang dan tertawa, ponsel Queen berbunyi, panggilan masuk dari 'husband'. Ah.. Aska.. entah dirinya ingin di akui, atau memang ingin terlihat mesra. Tapi itu terasa aneh untuk Queen.
"Iya mas?" Queen menjawab panggilannya, ia mengisyaratkan Arya untuk diam.
"Ini udah pulang, aku langsung otw ya.." Queen mematikan sambungan telfonnya. Ia segera pamit pada Arya, seraya memasukan kotak kecil pemberian Arya tadi.
"Bye Queen. Hati-hati ya.. jangan sampe buat bayar ojol nya." Teriak Arya.
Arya sempat menawarkan diri untuk mengantar Queen. Tapi wanita itu menolaknya, memilih pulang menggunakan ojol. Dan tentang hal itu, Arya tidak ingin memaksa. Takut kalau ia sampai salah langkah, apalagi membuat Queen dalam kondisi waktu yang buruk.
🙃🙃😉
__ADS_1