Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
salah paham


__ADS_3

Queen masih duduk di atas sofa kamar Aska. Merenungi apa yang tengah terjadi, merutuki sikapnya yang bodoh dan kekanak-kanakan. Lelaki itu meninggalkannya pergi tanpa senyum karena emosi yang masih ia pendam.


Beberapa saat sudah berlalu, Queen kembali teringat dengan lelakinya. Apakah ia sudah sampai di tujuan dengan selamat, ataukah Aska tidak jadi bertandang ke rumah Rendi. Kalaupun benar iya sampai, kenapa masih belum ada kabar darinya. Dan apa yang sedang mereka lakukan saat ini.


Ya ampun, perasaan tersiksa macam apa ini. Sungguh sesak di dada rasanya. Queen seakan menangis dalam diam. Meski tak keluar air mata, tetapi luka ini terasa menyayat hati serta menguras kesabarannya.


Diwaktu yang bersamaan ponsel Queen berbunyi. Dengan cepat Queen menyambar ponsel dihadapannya. Mengira bahwa Aska akan sebaik itu, bermurah hati memaafkan kesalahannya dan mau memaklumi perbuatannya.


Tapi, terkadang kenyataan tak berjalan sesuai kenyataan. Nama yang tertera di dalam layar ponselnya, bukanlah seseorang yang tengah ia nanti kabarnya sejak tadi.


Dengan malas, Queen menjawab panggilan itu.


"Iya ka. Kenapa?" Queen ketus.


"Kamu dimana? Jadi jalan nggak?" Agung menjawab dari kamarnya, yang letaknya hanya beberapa pintu dari tempat Queen saat ini.


"Kalo aku bilang nggak jadi, gimana?"


"Ya.. nggak masalah sih. Paling ntar aku tinggal bilang, kalo kamu di bantuin sama aku. Jadi kita impas." Suara Agung santai.


"Ck, kalo gitu tadi ngapain nanya kayak gitu?" Queen mulai tak sabar.


"Haha.. aku cuma mau ingetin doang."


"Emang begitu cara anak calon S2 bahasa bertanya dengan baik dan benar? Kalah dong sama anak SD."


"Ya.. itu cara ngingetin dengan halus Queen. Jangan marah mulu dong, bikin tambah gemes deh.." Queen mulai tak suka dengan cara kakak angkatannya ini.


"Ck. Bikin males aja dah." Queen jengah.


"Ya udah, kamu dimana? Biar saya jemput."


"Di rumah pacar!" Queen mengatakannya dengan tegas dan menekan.


"Perasaan kamu betah banget deh disitu. Emang nggak takut di omongin sama tetangga?"


"Nggak masalah, ini punya aku, kalau ada yang berani ngomong di depan aku, tinggal aku bilang sama mamang biar diusir aja dari sini." Kesombongan Queen mulai keluar. sifat yang tak akan pernah ia lakukan pada kekasihnya.


"Wuidih, tau dah anak yang punya kawasan mah.. berani bener."


"Iya, apa ka Agung mau jadi yang pertama ngalaminnya?"


"Santai Queen. Semua itu bisa di bicarain baik-baik, oke?" Tiba-tiba Agung memutuskan sambungan teleponnya. Queen sempat bingung awalnya, sampai ia tau, ada seseorang yang berdiri di depan pintu kamar Aska yang masih terbuka sejak tadi.


"Hayok" Ajak lelaki itu. Lelaki yang menjadi penyebab utama dalam marahnya kekasih Queen saat ini.


Queen membuang nafasnya kasar. Rasanya masih enggan ia untuk menepati janjinya kepada Agung. Tapi janji adalah hutang. Mau tidak mau itu sudah menjadi kewajibannya saat ini.


Sial.


***


Tujuan Queen saat ini ialah taman jajan di sekitaran komplek yang letaknya tak jauh dari kontrakan Queen. Awalnya Agung hendak mengajaknya makan di cafe kecil dengan live music performance. Tapi Queen menolak, meminta Agung memarkirkan mobilnya di tepi taman. Kemudian berjalan kaki menyusuri jalan yang penuh dengan pedagang kaki lima.


"Kamu yakin Queen, mau makan disini?" Agung tampak ragu dengan permintaan Queen. Selama ini Agung mengira Queen adalah gadis dengan level tinggi.


"Kenapa ka? Kamu nggak suka?" Queen tak mengerti dengan ucapan Agung.


"Bukan, tapi ini pedagang kaki lima semua lho. Kamu mau makan apaan emang?" Agung salah tingkah, takut Queen salah paham padanya.


"Em, aku lagi pengen mie ayam."


"Oh gitu, yaudah yuk!"


Berjalan tanpa bergandengan adalah bukti kesetiaan Queen kepada Aska. Dia tidak ingin lelaki manapun menyentuh dirinya selain Aska.


Setelah mereka selesai dengan acara makan mie ayam mereka. Queen langsung mengajak Agung untuk pulang. Dan tanpa Queen percaya, lelaki itu seketika mengiyakan keinginan Queen.


***

__ADS_1


"Makasih ya ka, udah ngajakin aku makan, udah mau bantu aku ngerjain tugas" Queen berbasa-basi dengan Agung. Tak ingin di cap sebagai wanita sombong yang tak tau diri, Queen menurunkan egonya sedikit.


Dengan sebuah tugas yang sudah rapih lengkap dengan kertas kliping, Queen berdiri di depan kamar Aska. Lelakinya itu masih belum pulang.


"Iya. Nggak masalah, biarpun sebentar, seenggaknya kamu udah mau nepatin janji kamu. ya.. meskipun dengan sedikit paksaan. Haha.." Agung tertawa pelan, merutuki nasibnya.


"Iya. Semoga nggak ada lain kali ya ka. Aku masuk dulu."


"Bentar Queen. Lain kali pasti ada. Cuma caranya aja yang beda, tapi kita pasti jalan bareng lagi. Dan kali ini kamu nggak bakal terpaksa kayak tadi." Agung yakin dengan ucapannya. Sedangkan Queen memutar bola matanya, jengah mendengar Agung.


"Oke. Aku masuk." Queen berbalik dan masuk kedalam kamar Aska dengan santai. Tanpa menunggu Agung pergi. Seolah-olah itu adalah kamarnya sendiri.


Queen menutup pintunya tanpa mengunci. Kemudian ia rebahkan tubuhnya di atas kasur Aska, tanpa ada lelaki yang menjadi pemilik kamar itu.


Rasa sesak kembali Queen rasakan, mengingat kekasihnya belum ada kabar sedari tadi. Padahal sudah hampir tiga jam Aska pergi.


Queen enggan untuk merasakan sakit lebih dalam. Pikirannya ia fokuskan pada layar ponsel miliknya, yang sedang memuat film drama korea.


Benar saja, tak butuh waktu lama bagi Queen untuk hanyut kedalam isi cerita tersebut. Seketika pikiran tentang Aska hilang di gantikan rasa yang jungkir balik karena drama tersebut.


Sudah beberapa episode yang Queen lihat. Sampai ia mendengar suara motor lelakinya berhenti di depan pintu kamar. Queen enggan menghampiri. Ada rasa kesal karena sikap Aska, juga tidak ingin kelewatan dari setiap adegan drama tersebut.


Queen bahkan sempat menitikkan air matanya tadi, larut dalam isi cerita tentang kehilangan. Bahkan Queen benar-benar tak merespon, saat bayangan dari tubuh itu mendekat kearah Queen.


"Ngapain Ra?" Tanya nya.


Queen menoleh, menatapnya dengan mata sembab. Tanpa ia sadari Aska menjadi panik melihat matanya yang merah.


"Kamu kenapa?" Aska merangkak naik ke atas kasur. menarik bahu Queen agar berbalik menghadapnya.


"Kamu abis nangis? Kenapa?" Aska tak sabar mendengar jawaban Queen.


"Enggak. Aku nggak nangis kok" Queen nampak tak bersalah.


"Terus, kenapa mata kamu sembab gini?"


"Oh.. Ini gara-gara takut kehilangan. Ditinggalin pas lagi sayang sayangnya tuh sakit banget tau mas.." Queen kembali menitikkan air matanya.


"Iya aku tau kamu nggak bakal ninggalin aku." Queen menyeka air matanya.


"Kalo gitu jangan nangis lagi ya, saya udah disini." Aska berkata dengan segenap rasa bersalah di hatinya.


"Sedih banget tau mas ceritanya, kamu juga bakal nangis kalo nonton ini" Sampai sini Aska mulai bingung dengan maksud Queen.


"Cerita apaan? kamu lagi nonton?" Aska meyakinkan.


"Iya. Ini film darma Korea terbaru. Ceritanya sedih bener, pas udah sayang malah harus pisah." Queen menjelaskan tanpa tau, bahwa lelakinya itu keliru.


"Ya ampun." Aska mengusap wajahnya. "Ira.. kamu itu.. bener-bener ya.."


"Kenapa?" Queen tak mengerti.


"Saya kirain kamu nangis karena tadi saya pergi." Suara Aska sedikit meninggi. Membuat Queen mengerjap bingung.


"Udahlah, saya ngantuk. Kamu nggak pulang?" Aska merebahkan tubuhnya di samping Queen yang memunggunginya.


"Enggak. Aku mau tidur disini aja. Biar ada temennya." Fokus Queen masih terhadap adegan dalam cerita tersebut.


"Ya udah.." Aska melingkarkan tangannya di atas perut datar Queen. mengecup rambut belakang Queen dengan lembut. Seolah menyalurkan segenap rasa rindu di hatinya.


"saya sayang kamu Ra.." Bisiknya pelan, dekat telinga Queen.


"Enggak!" Queen berkata cepat. "Jangan gini, please.." Aska segera mengangkat wajahnya sedikit tak percaya.


"Kenapa Ra? salah saya apa?" Aska seperti putus asa. Ia kembali menarik tubuh Queen agar menatapnya.


"Kenapa sih mas?" Queen yang tak suka acaranya di ganggu terus.


"Maksud kamu ngomong tadi tuh apa? salah saya apa? kenapa saya nggak boleh deket-deket sama kamu?" Aska benar benar di luar kendali. Dirinya tak habis pikir, kenapa gadisnya itu sampai menolah sentuhan dan kata sayang dari dirinya.

__ADS_1


"Siapa yang nggak boleh? Kamu nggak salah apa apa kok. Aku biasa aja." Queen makin tak mengerti maksud Aska.


"Tadi kamu bilang enggak, waktu saya bilang sayang sama kamu. Kamu juga ngelarang saya untuk peluk kamu."


"Aku ngomong enggak tuh, karena cowoknya yang ngucapin kata perpisahan. Aku nggak mau mereka pisah mas.." Queen kembali menjelaskan.


Aska mengerutkan dahinya. Matanya sebentar terpejam, menahan luapan emosi karena Queen yang begitu terhanyut dengan drama di hadapannya.


Dengan cepat Aska mengambil ponsel milik Queen, meletakkannya di atas nakas, kemudian berbaring kembali di atas kasur. Queen yang terkejut hanya terdiam tak mengerti.


"Kamu kenapa sih mas? Aku kan cuma nonton doang. Bukan chat sama pemainnya juga." Queen kesal.


"Tidur. Udah malem." Titah Aska dengan tatapan tajamnya.


"Tapi aku lagi seru nontonnya. Ambilin nggak?" Queen tak kalah galak.


"Tidur." Aska masih menahan emosinya.


"Itu lagi tanggung ceritanya. Sedikit lagi selesai. Ambilin ih.. aku tuh bingung deh sama kamu. Aku jalan sama temen nggak boleh, aku nonton drama Korea juga nggak boleh. Kamu itu belum jadi suami aku tapi udah suka ngatur banget sih mas. Sebel deh sama kamu. Aku mau pulang aja lah."


"Pulang sana." Jawab Aska santai.


Queen menghentakkan tangannya di atas bantal dengan keras. Sepertinya emosinya sudah tidak bisa ia tahan. Queen bangkit, dan turun dari kasur, melewati Aska yang berbaring di pinggir.


"Hei. Mau kemana?" Aska mencekal lengan Queen, saat gadis itu mengambil ponselnya.


"Tadi kan kamu yang nyuruh saya pulang."


"Iya. Ini kan juga kamar kamu. Sama aja kan disini juga pulang namanya." Aska berusaha memegang kuat tangan Queen.


"Engga. Aku mau pulang ke kamar aku sendiri."


"Udah disini aja."


"Nggak mau."


"Sini aja" Aska berusaha berkata dengan tenang.


"Nggak. Lepasin.."


"Ck.. iya iya saya yang salah, saya minta maaf.. tadi saya kelewatan. Saya cemburu Ra.." Aska memelas.


"Cemburu ama siapa lagi? Masa iya kamu cemburu sama drama?" Queen memicing, menatap Aska tajam.


"Perhatian kamu Ra. Saya butuh perhatian kamu. Kamu nya tuh terlalu fokus sama film itu, jadi lupa sama saya."


Queen diam, tak menjawab.


"Saya masih butuh kamu disini, buat perbaikin hati saya. Disini aja ya Ra tidurnya.." Pinta Aska lembut. Sebenarnya itu hanya di buat-buat agar gadisnya tenang dan tidak emosi. Aska benar-benar menghindari pertengkaran.


"Emang aku bengkel, bisa perbaikin hati kamu. Lepas!" Queen menghentakkan tangan Aska kasar, ia lalu bergerak naik keatas tempat tidur tanpa ponselnya, yang kembali di rebut Aska tadi.


Aska menggeleng pelan kepalanya, dengan senyum gemas melihat kelakuan gadis tersayangnya.


Dasar bocah.. gumamnya dalam hati.


"Tidur ya sayang.." Ucap Aska saat sudah berada di samping Queen.


"Hm.." Queen berbaring miring memunggungi Aska.


"Ra.." Panggil Aska pelan. "Mau peluk nggak? Saya masih nunggu perhatian kamu lho.."


Mendengar suara memelas Aska, Queen berbalik menghadapnya. Masuk kedalam pelukan Aska yang begitu hangat.


Aska tersenyum penuh kemenangan. Bukannya marah karena perkataan Queen tadi, Aska lebih memilih menganggapnya sebuah rengekan.


Bagaimana bisa Aska mendapatkan gadis se manja ini. Dan bagaimana nantinya Aska akan menghadapi sikap Queen saat mereka sudah resmi dalam agama dan negara.


Yang jelas, Aska akan menghadapinya dengan rasa penuh kesabaran, karena sayang yang tulus dan rasa takut kehilangan.

__ADS_1


**biarin aja hubungan mereka mengalir perlahan. Aska masih pengen Queen menikmati waktu mudanya guys.. jangan dipaksa menikah dulu Queen nya. Mending kasih like dan komen nya aja buat hubungan mereka.**


__ADS_2