Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
kegalauan aska


__ADS_3

Queen bangun lebih dulu. Perlahan matanya mengerjap. Kesadarannya pun datang sepenuhnya. Dirinya merasa hangat. Terasa hangat karena pelukan dari lelakinya.


Queen memang tidak tau kehadiran Aska tadi. Obat yang ia minum mengandung bahan penenang. Jadi setelah meminum nya akan terasa mengantuk.


Aska yang tidurnya tidak terlalu lelap. Merasakan gerakan tubuh Queen, saat gadis itu perlahan menyingkirkan tangan Aska dari atas tubuhnya.


"Udah bangun Ra?" Tanya Aska.


Kemudian ia meletakkan telapak tangannya di atas kening Queen. Mencoba merasakan suhu tubuh gadisnya.


"Kenapa?" Dahi Queen mengernyit.


"Cuma pengen tau aja, kamu masih demam atau nggak!" Suara Aska masih parau.


Bangun dari tidur singkatnya setelah semalaman tidak tidur, membuat kepalanya masih terasa berat.


"Kenapa mas Aska masih disini?" Aska yang hendak bangun, mendadak terhenti dan menatap wajah Queen lekat lekat. Mencoba mencerna arti pertanyaan Queen.


"Bukannya kamu harus tugas?" Queen masih berbaring dengan lengan sebagai bantalan.


Aska menarik nafasnya dalam. Entah kenapa mendengar pertanyaan Queen, membuat dadanya sedikit sesak.


"Tugas juga ada batas waktunya sayang.."


Aska mengusap rambut gadisnya lembut. Tetapi Queen menolak menepis tangan Aska kasar. Berbalik memunggunginya.


Aska sadar, gadisnya tengah merajuk. Entah alasan yang mana yang membuat emosi Queen memuncak. Lelaki itu sangat sadar, sudah terlalu banyak mengingkari keinginan wanita kesayangannya.


"Kamu mau apa? saya pesenin sekarang ya?" Aska mendekatkan wajahnya, berbisik halus dekat telinga Queen.


"Nggak usah." Queen ketus.


"Kenapa?" Tangan Aska bergerak, menyelipkan anak rambut dibalik telinga Queen.


"Paling nyampenya besok!"


Oke fix. Sampai sini Aska tau alasan gadisnya ini. Bukannya marah, Aska malah tersenyum menanggapi emosi Queen.


"Em.. kamu mau saya minta maaf untuk hari kemarin, atau kamu nggak mau saya ganggu?" Queen berbalik tiba-tiba, membuat wajah mereka menjadi dekat.


Aska yang terkejut, terpana sebentar. Melihat manik mata Queen. Terlihat jelas di bola mata Aska bibir ranum Queen yang sedang merengut, membuatnya tergoda.


Alih-alih menciumnya, ia memilih mundur dan bangun dari posisinya. Membuat Queen semakin tersulut emosi.


"Pulang aja sana! Aku pengen sendiri!" Suara Queen meninggi, Aska diam memandangnya tanpa ekspresi.


"Kenapa? Enggak suka? Kemarin aku lagi pengen sama kamu, kamu tinggal sendiri. Sekarang aku pengen sendiri!'


Aska masih diam tanpa suara. Ekspresinya datar, hanya sorot matanya yang terlihat tajam. Tak ada rasa takut sedikitpun di hati Queen melihat Aska. Entah karena dirinya yang sudah nyaman atau emosinya yang sudah semakin menjadi.


Aska mengalah, memutuskan pandangan itu dan berjalan menuju pintu. Lelaki itu membuka pintu, tanpa berjalan keluar dan kembali menutupnya sedikit keras.


Dirinya tidak ingin meninggalkan Queen sendiri, jadi ia memainkan sedikit drama untuk mengetahui isi hati Queen yang sebenarnya. Berjalan menuju sofa dan duduk dengan hati-hati. Tidak ingin Queen mengetahuinya.


"Ih.. nyebelin nyebelin nyebelin banget sih tuh cowok tua!!" Maki Queen, saat mendengar suara pintu tertutup. Queen awalnya hanya menggertak, tak percaya lelakinya benar-benar menuruti ucapannya.

__ADS_1


Aska yang di maki demikian, berusaha menahan tawanya kuat-kuat!


cowok tua katanya. Taudah yang masih muda mah. Gumam Aska dalam hati


Queen terisak, sesekali mengumpat nama kekasihnya. Aska hanya diam mendengarkan, sambil memainkan ponsel dengan tersenyum.


"Huhuhu.. Kenapa beneran pulang sih! Tuh orang beneran polos atau nggak peka sih?" Queen semakin tersedu. Berbicara panjang kali lebar. Mengeluarkan segala isi hatinya.


"Mas Aska..." Panggilnya pelan, di ujung tangisnya.


Aska yang sudah tak tega mendengarnya, akhirnya membuka suara.


"Saya disini" Jawabnya datar.


Queen berhenti memukuli bantal sebagai pelampiasannya sedari tadi. Mendengar suara lelakinya.


"Mas?" Ulanginya lagi.


"Apa?" Jawab Aska yang masih fokus pada layar ponselnya.


Queen sudah yakin, dirinya tidak berhalusinasi.


Ia bangkit menghampiri sumber suara. Dan betapa terkejutnya Queen melihat manik mata orang yang sedari tadi ia sebut namanya.


"Iih.. mas Aska nyebelin deh" Queen menghambur memeluk Aska dari samping. Memukul dada Aska pelan namun berulang.


Aska tertawa pelan, menahan pukulan gadisnya. Ia tidak menahan tangan Queen, malah menarik tubuh Queen kembali dalam pelukannya. Merengkuhnya dengan tawa penuh kemenangan.


Tidak ada salahnya kan bagi Queen, menikmati pelukan dari lelakinya itu. Pelukan yang selalu ia dambakan kehangatannya, aroma tubuhnya juga sentuhan lembutnya.


Queen menyudahinya, berdiri mendekati jendela. Menyibak hordeng yang menutupi.


"Kamu mau makan apa?" Tanya Aska, sambil fokus ke arah layar ponsel.


"Ayam geprek aja" Pandangan Queen masih menatap keluar jendela.


"Enggak! Itu pedes" Tegas Aska.


"Dih.." Queen melirik tajam.


"Yaudah. Ayam geprek tanpa sambel ya?" Aska memberi penawaran, alisnya terangkat. Queen menghampiri lelakinya lagi.


"Mana ada sih mas ayam geprek tanpa sambel" Suara Queen merajuk.


"Loh. Ayam geprek itu, ayam di geprek kan, bukan ayam sambel geprek."


"Iya.. tapi mana enak sih kalo nggak pake sambel" Queen melengos. Membuang pandangannya dengan tangan terlipat didepan dada. Aska hanya tertawa melihatnya. Queen melirik. Ia bangun mengambil ponselnya dan kemudian duduk lagi.


"Yaudah deh, kalo gitu aku chat-" Belum sempat Queen meneruskan ucapannya, Aska sudah merebut ponsel Queen.


"Apaan sih mas?"


"Kamu itu!" Suara Aska galak. "Kamu tuh percaya banget ya kalo saya sayang banget sama kamu?" Aska memajukan wajahnya, pandangannya seolah mengintrogasi.


"Kamu yakin banget ya, kalau saya takut kehilangan kamu?" Queen yang melihat keseriusan didalam nada suara Aska, hanya diam mendengarkan.

__ADS_1


"Seenaknya kamu ngancem saya. Saya ini lelaki Ra" Suara Aska makin meninggi. Queen kelabakan mencoba mencari alasan agar lelakinya kembali tenang.


"Mas, emang aku ngomong apa? Aku kan cuma bilang pengen chat, apanya yang ngancem sih?" Queen berbicara selembut mungkin.


"Emang di kontak aku cowok semua? Aku tuh pengen chat Rindi"


"Iya saya tau!" Aska menjawab cepat.


"Lah, terus kenapa masih marah?"


"Saya kan cuma tanya, kamu percaya banget saya sayang sama kamu? Yakin banget saya takut kehilangan kamu?" Aska semakin tak terkendali. Dan Queen menciut.


"Emang mas Aska enggak sayang sama aku?" Suara Queen melemah.


"Iya!"


"Ha? Iya apanya?" Queen mengerjap bingung.


"Kalo kamu percaya, iya saya sayang banget sama kamu. Kalo kamu yakin, iya saya takut banget kehilangan kamu!" Dan terdengar tawa di ujung kalimat Aska.


Butuh beberapa waktu bagi Queen, untuk mencerna ucapan Aska. Saat Queen tersadar, ia tersenyum gemas, terharu dengan gombalan pak polisi muda yang sudah menjadi kekasihnya kini.


"Nyebelin banget sih mas!" Queen mencubit pipi Aska, kemudian merebahkan kepalanya di atas pangkuan Aska. Ia menerima, mengusap lembut kepala Queen dengan satu tangan masih memegang ponsel.


"Kita ambil jalan tengahnya aja ya sayang.. boleh pesen ayam geprek, tapi level sambelnya saya yang tentuin!"


"Oke, nggak masalah" Jawab Queen.


Setelah selesai memesan makanannya, Aska melempar ponselnya keatas sofa sebelahnya, kemudian menarik rambutnya kencang, mengusapnya kasar. Queen yang melihatnya kebingungan.


"Kenapa mas?"


"Pusing saya!" Aska menyandarkan kepalanya di punggung sofa.


"Kenapa?"


"Makin hari, saya makin takut kehilangan kamu." Queen tersenyum.


Gombal banget sih nih cowok batin Queen.


"Tapi buat iket kamu juga saya belum bisa!"


Kali ini Queen benar-benar merasakan keseriusan dalam kalimat Aska. Terlihat sangat kegalauan yang tengah ia rasakan.


Kepalanya ia sandarkan. Matanya terpejam dengan lengan yang menutupinya. Ada guratan di atas dahinya.


Lelakinya ini benar-benar berada di dalam dilema yang besar.


Satu tangan Aska kembali bergerak, membelai lembut rambut Queen yang masih berada di atas pangkuannya.


**Dan tak mungkin, untuk kita bersama diatas perbedaan, yang s'lamanya mengingkari.


Dan tak mungkin, bila ku melepasmu sungguh hati tak mampu,


mengertilah cintaku..**

__ADS_1


__ADS_2