
Entah kenapa Rendi percaya begitu saja dengan ucapan Aska. Ia pikir, ada benarnya jiga apa yang di ucapkan oleh temannya yang satu itu. Menyakiti seorang perempuan sama saja seperti menyakiti ibu kandungnya sendiri. Tapi rasanya, ucapan Aska percuma jika baru ia ucapkan sekarang. Seharusnya Ska mengatakannya saat awal mereka bertemu, ketika Rendi sudah menunjukkan kegilaannya tentang pesona wanita.
Hari makin sore, saat mobil yang mereka tumpangi perlahan memasuki lahan parkir kontrakan milik almarhum ayahnya Queen, tempat mereka tinggal. Aska yang kali ini duduk bersebalahan dengan Rendi di depan, hatinya sudah tidak terlalu kesal dengan Rendi. Malah, ia berfikir untuk membantu teman gilanya yang satu ini untuk segera bertobat dari kebiasaannya. Aska memiliki feeling yang baik tentang wanita tadi yang mereka temui. Melihat Rendi yang sangat antusias mengenai wanita yang satu itu.
Queen yang sedang tertidur di bangku belakang, membuat Aska terus saja tersenyum saat menatapnya. Sudah seperti kebiasaan baginya semenjak mereka belum menjalin hubungan sekalipun, Aska tak akan pernah membiarkan Queen berjalan sendiri setelah tertidur pulas di mobil selama perjalanan mereka.
Aska memberikan kunci rumahnya pada Rendi, memintanya untuk seger membuka pintu. Karena Aska akan membopong tubuh wanitanya selama ia masih tertidur. Sekali lagi, sikap Aska membuat hati Rendi bergetar. Kenapa temannya yang satu ini, sangat suka menunjukan kemesraan di hadapannya. Dengan mulut yang terus menggerutu tanpa suara, Rendi membukakan pintu dan mempersilahkan dua sejoli itu untuk masuk lebih dulu.
"Kasian sama gua napa As.. dari tadi berasa jadi sopir beneran. Ngeliat lu sama bini lu asik-asikan mesraan berdua. Sekali-sekali biar gua tang bopong si Queen. Rela gua biarpun berat juga."
"Gua yang nggak rela." Aska membawa wanitanya masuk ke dalam kamar, merebahkan tubuh wanitanya di atas ranjang. Sedangkan Rendi menunggunya sambil duduk di sofa.
"Ya ampun.. kayaknya gua kudu ketemu si Zahra nih." Rendi mengeluarkan ponselnya, lalu mencari kontak nama atas nama Zahra. Wanita yang selalu sedia ketika Rendi sedang membutuhkan kehangatan. Aska keluar dari kamar, dengan cepat ia mengambil ponsel dalam genggaman temannya.
"Woy.. kaga ada nomor cewek laen apa Ren? Perasaan lu nelfonnya sih Zahra mulu." Aska ikut merebahkan tubuhnya di atas sofa. Berat badan Queen yang semakin bertambah, seiring membesarnya perut juga bagian tubuhnya yang lain.
"Banyak!" Jawab Rendi cepat.
"Lah terus kenapa lu nelfoninnya sih Zahra mulu?"
"Tiap ama lu, gua ingetnya tuh anak mulu." Jawaban santai Rendi membuat Aska mengulang lagi hal yang membuat gadis muda itu kehilangan hal yang paling berharga dalam hidupnya. Entah bagaimana nanti kehidupannya saat akan memulai rumah tangga. Aska sebenarnya merasa bersalah terhadapnya. Tapi perasaan Queen kali itu lebih berharga di banding apapun. Aska tidak ingin hubungannya menguap begitu saja dan tak ingin kehilangannya. Namun Aska sudah berjanji, tidak akan ada Zahra-Zahra yang lainnya lagi. Aska juga sudah berjanji akan membuat teman gilanya ini tenggelam karena cinta yang sesungguhnya.
"Queen masih tidur As?" Suara Rendi membuyarkan lamunannya.
"Iya. Capek banget kayaknya dia."
"Haha.. gua ajak olahraga bentar sih tadi dia."
"Ha?" Aska terbelalak menatap Rendi. "Olahraga gimana maksud u?"
"Cuma gua ajak lari doang sebentar."
"Jih.. si odoy.. lu tau kan dia lagi hamil." Aska merasa kesal.
"Sorry As.. tadi gua buru-buru pengen keluar dari toko tadi, jadi gua ajak dia keluar. Tapi ternyata langkah gua kecepetan buat dia."
"Ck. Kalo ada apa-apa sama dia nanti, lu harus tanggung jawab ya Ren!"
"Siap bos!! Nggak ada apa-apa juga gua mulu yang harus tanggung jawab. Ya nggak?" Rendi beranjak dari sofanya, ia memukul lengan Aska pelan seperti berpamitan.
"Mau kemana lu?" Tanya Aska.
"Cabut ah.. udah janjian ama guling idup gua."
"Ren!" Aska mengerti benar apa yang di maksud oleh temannya. Suara sentakkan Aska tidak membuat Rendi takut, ia malah menyeringai merasa penuh kemenangan.
"Oke deh Ren, gimana kalo gua bisa temuin cewek tadi? Bisa nggak lu jangan gangguin si Zahra terus?"
"Waw.. menarik.."
__ADS_1
"Gua serius Ren.." Rendi kembali duduk di sebelah Aska. Ia merasa penasaran dengan penawaran Aska kali ini.
"Kalo lu bisa bawa dia di depan gua, atau minimal lu bisa dapetin nomornya dia buat gua, em.. satu permintaan lu bakal gua turutin. Gimana?" Aska mengernyit menatapnya.
"Serius? Apapun itu?"
"Yes.. anything." Jawabnya yakin.
"Kalo gua minta rumah sama lu, gimana?"
"Nggak masalah.. yang penting gua bisa jalan sama dia."
"Gua nggak pengen nasib dia sama kayak si Zahra Ren.."
"Kenapa? Yang penting kan satu rumah bisa lu dapetin, dengan mudah lagi.." Melihat Aska sedikit berfikir, Rendi menatapnya tajam. "Gimana?"
Ya.. permintaan yang bijaksana. Aska memang sedang membutuhkan sebuah rumah untuk keluarga kecilnya di masa depan nanti. Rasanya tidak mungkin jika mereka harus selamanya tinggal di dalam kontrakan yang hanya beberapa petak itu. Ia tidak ingin membuat Queen hidup dalam kesulitan. Aska percaya, sangat percaya jika Rendi akan mampu memenuhi syarat perjanjian mereka. Pasalnya, Aska tau betul seberapa besarnya kekayaan yang di miliki oleh ke dua orang tua Rendi, juga keluarga besarnya yang lain. Bagi mereka, uang bukanlah hal yang sulit di dapat, yang paling utama dalam kehidupan mereka adalah harga diri. Ya.. keluarga besar dan kaya seperti keluarga Rendi, biasanya sangat menjunjung tinggi yang namanya harga diri. Itulah yang membuat Rendi sedikit takluk di bawah titah Aska terkadang. Selain karena rasa tulus dalam pertemanan mereka, Aska juga memiliki beberapa rahasia penting tentang Rendi, yang andai ia beri tahu kepada ke dua orangtuanya, maka habislah sudah kebebasan yang Rendi miliki saat ini.
Namun, Aksa juga bukan lelaki yang semudah itu membuka suaranya demi mendapatkan keuntungan pribadinya. Ia lelaki yang memegang teguh tentang janji juga kepercayaan. Itulah yang membuat beberapa temannya sangat sungkan padanya, juga merasa nyaman menceritakan rahasia kehidupannya yang tak ingin orang lain tau, namun juga tak kuat memendamnya sendirian. Seperti halnya Rendi dan Fiki, dua orang casanova yang sedang dalam masa pencarian jati diri.
"Woy.. malah bengong. Berasa ngomong sama candi gua." Rendi mulai merasa kesal. Melihat Aska yang tak juga merespon ucapannya.
"Ya.. liat ntar ajalah.."
"Yaudahlah gua cabut. Salam buat sih Queen ya.. jangan kasih dia bangun sore As, ntar dia nggak bisa tidur malem lagi. Kasian baby nya."
"Sotoy.. kayak udah pernah aja lu."
"Yaudah sono pergi. Jangan lupa tutup pintu."
Aska bangkit dan berjalan ke dalam. Tanpa menunggu temannya yang masih berdiri keluar dari dalam kontrakannya.
"Sial emang tuh orang. Dari tadi gua pengen cabut di ajak ngomong mulu. Sekarang malah gua yang di usir." Gerutunya sambil berlalu pergi.
***
"Ra.." Aska mengusap pipi Queen dengan lembut. Ia berusaha membangunkan wanitanya karena hari semakin menjelang senja.
"Ra.. udah mau maghrib ini.. bangun dulu. Ntar malem kamu susah tidur."
"Emm.." Queen malah berpaling memunggungi Aska.
"Ira.." Aska masih berusaha membangunkannya. Namun Queen masih enggan tersadar. Alhasil Aska malah ikut berbaring di sebelahnya, dan mmeelukynya dari belakang.
Queen yang merasakan Aska memeluknya, berbalik lalu balas memeluk lelakinya itu.
"Emm.. udah mau jadi bunda kok masih masih manja aja sih Ra.."
"Hem.. nggak papalah mas, siapa tau nanti kalo baby nya udah keluar, sayangnya kamu malah terbagi." Queen dengan suara parau nya
__ADS_1
"Nggak akan ada yang bisa ngerubah sayangnya aku sama kamu Ira. Apalagi kalo ada dedek nanti, yang ada aku malah makin cinta sama kamu."
Yah.. wanita mana yang tak akan senang mendengar kata-kata manis saat baru saja terbangun dari alam mimpinya. Begitu pula dengan Queen, ia merasa senang sampai tak henti-hentinya tersenyum.
"Ayok bangun dulu, terus kita makan." Satu kecupan Aska tinggalkan di kening Queen.
"Lima menit lagi ya mas.."
"Oke lima menit lagi. Aku juga masih pengen peluk kamu." Aska mempererat pelukannya namun dengan penuh rasa sayang. "Rasanya aku nggak bisa ngebayangin hidup aku ke depan nanti, kalo nggak ada kamu Ra.."
"Em.. siapa yang tau nanti mas.."
"Nggak akan ada yang bisa ngalihin pandangan aku dari kamu Ra.."
"Jangan gombal terus ah.."
"Kamu nggak suka?"
"Nggak."
"Payah." Aska menciumi pipi Queen kanan dan kiri dengan gemas, membuat Queen merasa geli. Aska masih terus berusaha mencari celah menggapai pipi wanitanya, yang di tutupi oleh telapak tangan Queen. Bukannya lekas bangun, Mereka malah bercanda, dengan senyum yang terus terpancar di antara keduanya.
Aska baru berhenti, ketika berhasil merapatkan bibirnya dengan bibir Queen. mengakhirinya dengan rasa puas.
"Ayok bangun terus cucian aja. Nggak usah mandi udah mau maghrib. Abis itu kita makan" Aska menarik ke dua tangan Queen, memaksanya untuk bangun.
"Em.." Queen yang masih merasa malas, malah membuat Aska semakin gemas.
"Yaudah sini, aku bukain bajunya." Queen mengangguk dengan tersenyum.
"Oke." Perlahan Aska menanggalkan pakaian Queen, namun hanya pakaian luar, tidak dengan atasan juga bawahan dalamnya. Aska mengangkat tubuh Queen, menggendongnya ala bridal, lalu berjalan hingga ke depan pintu kamar mandi.
"Dah sampe."
"Makasih ya calon ayah.." Namun ketika Queen hendak masuk ke dalam, Aska kembali menahannya, menangkup ke dua pipi Queen.
"Inget ya, jangan mandi. Cuci muka sama sikat gigi aja. Udah mau malem."
"Dih kan jorok kalo begitu doang mah.."
"Nggak pa-pa, aku nggak masalah, di banding harus ngeliat kamu sakit nanti."
"Terserah.." Aska mencium kening Queen dalam dengan matanya yang terpejam. Ia seperti berusaha menyalurkan rasa sayang yang membuncah dari dalam hatinya.
"Jangan lama-lama ya Ra, aku tungguin di sini."
Aelah mas Aska, sih Queen kan cuma ke kamar mandi. Lebhay amat.
Dan benar saja, setelah mengambil handuk untuk Queen, Aska benar-benar berdiri di dekat pintu menunggu wanitanya keluar.
__ADS_1
Sampai saat Queen keluar pun, Aska yang membantu Queen untuk mengeringkan bagian tubuhnya yang terkena air. Lelaki itu mengelapnya dengan lembut dan sabar.
Sebenarnya Queen tidak meragukan sikap Aska, namun entah kenapa Queen merasa ada sesuatu yang sedikit mengganjal dalam hatinya. Meskipun ini bukan yang pertama Aska bersikap manis terhadapnya. Tetap saja, insting seorang wanita selalu peka dan kemungkinan besar biasanya benar.