Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
menanti


__ADS_3

Rendi terus menarik tangan Queen, menyeretnya setengah berlari memaksa Queen mengikuti jejak kaki langkah Rendi yang lebih besar dari langkah kakinya.


Queen tertatih hingga Rendi membawanya sampai pada lahan parkir dan masuk kedalam mobil Rendi.


"Buru-buru banget sih kak?" Dengus Queen kesal saat Rendi sudah berada di balik kemudi.


"Haha.. sorry ya.. mas Aska kamu nyuruhnya buru-buru sih." Rendi mengenakan sabuk pengaman, kemudian melajukan mobil nya keluar dari area gedung kampus.


Siang hari, jalanan begitu ramai. Membuat laju mobil Rendi sempat terhenti beberapa saat. Rendi menggumam, menyanyikan sebuah lagu tanpa alunan musik sambil mengetukkan jari telunjuknya di atas stir kemudi.


Sungguh lelaki yang sangat santai. Pikir Queen. Tidak taukah ia betapa sakit hatinya Queen saat ini, karena perbuatan temannya.


"Kak.." Panggil Queen pelan. Rendi menoleh ke arah Queen dengan alis terangkat. "Mas Aska ada dimana?" Lirih Queen.


Rendi tertawa. Queen semakin bingung dibuatnya. "Kak?" Queen mengulangi.


"Oh maaf maaf.. lagian kamu kenapa sih bisa milih lelaki kaku kayak si Aska? Hm?" Rendi malah bertanya balik.


Queen hanya diam, tertunduk melihat jemarinya saling bertautan.


"Ah.. cowok nggak peka kayak mas Aska mu memang harusnya butuh banyak di ajarin. Kan sayang nantinya kalo cewek secantik kamu bisa kelepas." Hati Queen kembali teriris. Mengingat isi dalam tulisan surat yang Aska tinggalkan.


"Mas Aska udah mutusin aku kayaknya." Queen kembali lirih. Masih tak percaya dengan apa yang ia alami.


"Ha?" Rendi terkejut. Antara tak percaya atau merasa mendapat lelucon baru. Lelaki itu malah tertawa terbahak-bahak.


"Yang bener Queen?" Queen mendengus.


"Iya. Sayang suratnya ketinggalan di meja kantin." Air mata Queen sudah menumpuk di pelupuk matanya.


Rendi tak henti-hentinya tertawa. Memukulkan tangannya beberapa kali di atas stir kemudi. "Maaf ya Queen. Kalo menurut aku sih, kamu mending diem-diem di kamar, sambil tunggu mas Aska mu." Queen melongok.


"Kamu tau kan mas Aska mu itu orangnya kayak gimana?" Tatapan Rendi berusaha meyakinkan gadis konyol disebelahnya. "Positif aja mikirnya. Kalo sekarang dia lagi jauh aja, masih bisa ngerepotin orang buat jemput kamu. Apalagi kalo dia deket? Ya nggak?" Rendi tersenyum. Membiarkan Queen kebingungan dengan ucapannya.


Kalo benar Aska sedemikian pedulinya, lalu apa maksud ia memberikan suratnya tadi?


Mobil Rendi sudah memasuki halaman parkir kontrakan Queen. Rendi berhenti, menunggu Queen turun tanpa berniat mampir atau mengantarnya.

__ADS_1


"Queen, inget ya, diem-diem di kamar, enggak usah ngelakuin hal konyol yang nantinya malah bikin sakit hati kamu itu menjadi kenyataan." Sekali Rendi memperingati Queen sebelum meninggalkan jejak ban mobilnya di atas tanah parkiran kontrakan Queen, dan berlalu pergi.


***


Semakin lama Queen menatap layar ponselnya, semakin terasa sesak dada Queen. Aska tak kunjung memberi kabar.


Queen sudah menolak Arya kemarin, saat akan berkunjung ke kontrakannya. Tapi ucapan Rendi belum juga menjadi kenyataan.


Tiga hari sejak Aska meninggalkan tulisan tangan untuk Queen. Tiga hari itu pula Queen masih terus berharap pada sosok Aska yang sangat ia rindukan sentuhannya.


Andai saja dapat di perbaiki hubungan mereka, Queen berjanji akan merubah segala sifat dan sikap manjanya selama ini. Asalkan Tuhan mau mengembalikan Aska pada Queen.


Saat ini, hanya Rendi yang bisa Queen harapkan. Sedikit memberi bocoran info kapan Aska pulang. Dan jika benar ucapan lelaki itu, harusnya hari ini Aska akan pulang ke kontrakannya.


Queen terus menunggu. Menunggu tanpa lelah di balik jendela. Apakah begini rasanya tersiksa karena mencintai?


Beginikah yang Aska rasakan saat Queen menghilang begitu saja tanpa memberi tau keberadaannya. Queen berjanji, akan menjaga hubungannya baik-baik, jika Aska datang lagi.


Hampir larut malam, dan Aska tak kunjung datang. Queen menyerah, tubuhnya sudah lelah terus berdiri menanti kehadiran Aska.


Queen beranjak ke atas kasurnya, tertidur dengan mata yang masih sembab. Bukan hal mudah bagi Queen, kehilangan kasih sayang dari orang yang sudah berarti dalam hidupnya untuk kesekian kali.


Kalau boleh Queen memilih, lebih baik Queen tidak pernah merasakan sentuhan Aska, dari pada harus mengalami luka setelah belaiannya.


Pagi hampir tiba. Queen terbangun bukan di jam seperti biasa. Ini masih terlalu pagi bagi Queen untuk mengawali harinya. Tapi di hati Queen masih ada harapan, masih ada yang di harapkan. Karena itulah tidur Queen tidak bisa seperti dulu.


Queen melihat jam di layar ponsel. Andai benar Aska datang, harusnya ia belum berangkat jam segini.


Queen berlari keluar, sebelum sempat mencuci wajahnya. Tak ada lagi yang ada di pikirannya selain seorang Aska Prayoga.


Queen tak putus asa, meski motor yang biasa Aska bawa tak nampak di depan pintu kamarnya. Queen baru saja mau mengetuk pintu kamar Aska, saat daun pintu di hadapan Queen terbuka dari dalam.


Gadis itu terkejut, begitupula degan lelaki di hadapannya. Namun Aska yang ada di depannya kali ini, rasanya tak sama dengan Aska sebelum ia meninggalkan surat untuk Queen.


Mata tajam Aska lekat memandang Queen. Sesaat mata itu memicing menatap Queen. Gadis itu bingung, apa yang salah dengannya. Tidakkah lelaki itu merindukan dirinya, seperti ia merindukan Aska?


"Mas Aska.." Sapa Queen lirih. Dadanya sedikit lega melihat kehadiran lelaki yang sudah di nantinya. "Kapan pulang?" Terasa canggung bagi Queen sekarang.

__ADS_1


"Ngapain pagi-pagi begini udah di luar?" Jawab Aska sarkas. Lelaki itu nampak begitu sibuk, rasanya tidak betah berlama-lama berbicara dengan Queen. "Saya mau berangkat." Tanpa senyuman Aska berlalu melewati Queen.


Queen yang tidak ingin kehilangan momen begitu saja, memegang tangan Aska. "Nanti pulang jam berapa mas?" Queen memberanikan diri.


"Saya masih ada urusan di Bandung." Jawabnya singkat, lalu pergi begitu saja. Queen tertegun. Untuk apa ia selalu ke Bandung akhir-akhir ini?


"Terakhir kali mas Aska ke Bandung sama ka Rendi. Kak Rendi pasti tau alasannya." Queen sudah tak ingin larut dalam kesedihan. Tiga hari baginya cukup untuk merasakan getirnya kehilangan. Dan Queen tidak ingin itu terus berlanjut, sampai akhirnya ia menyesal kemudian.


Queen harus berbuat sesuatu, sampai ia bisa mengucapkan kata 'Setidaknya ia sudah berusaha'. Jangan sampai ada penyesalan yang mendalam nantinya.


Queen kembali ke kamarnya. Dengan cepat ia menelfon Rendi yang entah sedang dinas atau tidak. Yang jelas Queen harus tau alasannya saat ini.


"Halo, kak Rendi." Sapa Rendi setelah telfon tersambung.


"Apa Queen? Masih pagi ini." Suara Rendi parau, seperti orang bangun tidur.


"Semalam mas Aska pulang." Lapor Queen.


"Ya terus? Kan aku udah kasih tau kamu dede gemes.." Masih saja Rendi mengucapkan kata santai di tengah kepanikan Queen. Tau kah Rendi akibatnya jika Aska tau dia memanggil Queen dengan sebutan demikian?


"Kak, serius sebentar oke?" Queen mulai frustasi. "Aku mau tau ngapain mas Aska selalu ke Bandung?"


"Nggak usah tau. Biar kamu kaget." Jawaban yang sangat ambigu bagi Queen. Tapi belum sempat Queen melanjutkan pertanyaannya. Rendi sudah mengakhiri sambungannya.


Queen merutuki dua lelaki itu. Benar-benar temen yang kompak. Sama-sama nyebelin. Queen kembali mengganggu Rendi dengan telfonnya.


"Apalagi sih Queen? Aku baru mau tidur ini, abis dinas malam." Suara Rendi terdengar kesal.


"Oh, iya maaf. Satu pertanyaan lagi, dan kak Rendi bakal tenang dunia akhirat." Queen menjeda kalimatnya. "Mas Aska hari ini pulang nggak?"


"Nggak tau aku Queen.. ntar tanya langsung aja sama Aska nya."


"Oh.. tapi dia pasti nggak bakal jawab. Dia aja udah nggak pernah kabarin aku." Queen putus asa.


"Kalo dia nggak jawab, aku mau gantiin dia nanti sama kamu. Udah ah, mau tidur dulu." Rendi tak ingin lagi mendengar pertanyaan tak bermutu dari Queen menurutnya. Ia langsung mematikan daya ponselnya setelah mengakhiri sepihak sambungan telfonnya.


**Sampe sini masih gedeg nggak sama sikap cuek Aska?**

__ADS_1


__ADS_2