Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
RENDI.


__ADS_3

Tentang Rendi.


Lelaki lajang yang usianya sebaya dengan Aska ini, entah kenapa dirinya masih merasa betah melajang. Enggan untuk terikat suatu hubungan yang serius, tapi selalu merindukan kehangatan di atas ranjangnya.


Meski terkadang bukan hanya ranjang yang ada di kamarnya saja, tapi Rendi selalu menginginkan rasa kepuasan dalam hasrat kejantanannya. Hanya wanita yang pernah ia tiduri yang tau bagaimana berengseknya seorang Rendi. Karena tak hanya 'dia' yang pernah melakukan, tapi gadis-gadis muda yang masih di segel pun menjadi incarannya.


Sialnya, seorang wanita bernama Zahra yang selalu saja menjadi pemuas nafsunya, entah sudah berapa tahun wanita itu melayani hasrat lelaki yang tak sengaja berhasil merobek segel privatnya itu, yang Zahra ingat, ia sudah melakukannya semenjak ia masih bersekolah menengah akhir.


Rendi selalu mengatakan bahwa ia tak ingin menjalin hubungan terikat, karena itu Zahra juga bebas memilih lelaki idamannya untuk merubah statusnya menjadi seorang kekasih, selama wanita itu masih memiliki waktu untuknya. Lalu, jika Zahra menolak kal buruk apa yang akan terjadi?


Bukan hanya sekali Zahra harus putus dari pacarnya karena ulah Rendi, hanya karena ia menolak panggilan darinya. Kenapa Rendi melakukan hal demikian, jika dirinya masih memiliki banyak wanita yang siap melayaninya siang atau malam.


"Kak, kenapa sih kita masih begini terus?" Suatu hari ketika mereka selesai pada kegiatan yang menguras tenaganya, masih terbalut selimut bercorak merah hitam Zahra berusaha mengungkapkan isi pikirannya. Terkadang ia merasa lelah.


Rendi dengan sebatang rokok yang terselip di antara dua bibirnya, menghisap lalu menghembuskan asapnya tanpa perduli pada wanita di sebelahnya.


"Kenapa apanya?" Jawabnya santai.


Zahra melirik Rendi kesal. Lelaki di sebelahnya ini sangat susah jika di ajak bicara serius. "Kenapa kak Rendi masih pengen ngelakuin hal kayak gini sama aku! Bukannya cewek yang kakak ajak kemaren lebih dewasa dari pada aku?"


Satu hisapan berhasil membuat Rendi menghembuskan asapnya lagi. "Terus?" Masih dalam nada santainya.


"Kakak enggak bosen sama aku? Kita udah terlalu lama tau kak."


"Terus?"


"Ya kenapa kakak enggak cari cewek lain aja. Emang kakak mau begini terus?" Zahra masih bisa bersabar menghadapi sikap dingin lelaki itu, bisa dikatakan sudah terlalu biasa ia diperlakukan begitu.


"Udah. Lu udah sering liat kan?" Ia melirik wanita di sebelahnya hanya dengan bagian ekor matanya saja. Tanpa mau menatap, apalagi lama-lama memandang wajahnya.


"Iya.. terus kenapa masih mau sama aku?"


"Kenapa emang? Terserah gua lah."


"Aku ngerasa bosen." Suara Zahra melemah.

__ADS_1


"Bosen?" Rendi mematikan sisa puntung rokoknya. Menekannya pada permukaan meja tanpa mau membuang di tempat yang selalu tersedia dalam kamarnya itu.


"Kakak enggak?"


"Heuh.." Rendi terkekeh sesaat, ia menyibak selimut, beranjak dari posisinya. "Jangan lu kira gua enggak tau, kalo lu juga sering ngelakuin sama cowok lu." Tanpa mau berbalik sekedar melihat mata wanitanya ketika bicara, Rendi meninggalkannya berlalu ke dalam kamar mandi di kamarnya.


Zahra menghela nafasnya pasrah. Bukannya ia tidak tau kalo Rendi mengetahui apa yang ia lakukan, wanita itu mengerti tak ada yang bisa terlewat dari pandangan lelaki itu. Tapi Zahra tak habis pikir, kenapa lelaki itu masih enggan meninggalkannya. Ia memilih menenggelamkan dirinya, tergulung selimut tebal, menghangatkan tubuhnya yang tanpa sehelai benang pun melekat pada dirinya.


***


"Si Aska tuh beruntung banget dapetin si Queen. Di kasih jandanya juga gua mau." Gumam Rendi.


Dia kini masih bersama Zahra, menikmati udara malam sambil mengisi perutnya yang kosong, terkuras oleh tenaga untuk mencapai klimaksnya tadi. Kebiasaan mereka, Rendi masih memiliki sedikit hati pada wanita-wanita yang ia tiduri, tidak seperti wanita panggilan yang langsung di tinggalkan setelah sampai di puncaknya, Rendi akan membawa wanitanya makan dan mengobrol sebentar, meski terkadang obrolan itu membuat hati sang wanita tercubit.


"Kakak suka beneran ya sama mbak Queen?" Zahra menatap serius lelaki di hadapannya, masih asik memandangi foto mereka saat merayakan ulang tahun Queen kemarin.


Rendi tersenyum, kecut. Merasa miris pada nasibnya yang kalah sebelum berperang. Yaa.. andai saja dulu dia yang bertemu lebih awal, sudah pasti segala cara akan ia lakukan demi mendapatkan wanita idamannya. Sayang, nasibnya sial karena lelaki pilihan Queen adalah teman terbaik dalam hidupnya.


"Kenapa enggak di rebut aja kak?" Usul Zahra.


Zahra hanya mengedikkan bahunya dengan senyum terpampang jelas di bibirnya.


"Enak di elu dong."


"Lah.. sama sama enaklah, kakak dapet cewek yang di suka, aku juga. Satu sama lah." Zahra menyangkal.


"Lu kira gua *****. Kebanyakan nonton sinetron lu bocah." Rendi melempar irisan timun dalam piring nasi gorengnya. "Gua yang jelek namanya kalo begitu mah."


"Kok bisa?" Zahra tak mengerti.


"Makanya nonton tuh berita, adu debat, atau apalah yang nambah wawasan.. bukan yang ngotorin otak sama hati elu." Suara Rendi jelas ia dengar. "Keseringan di bawah sih lu, jadi otaknya nggak kepake."


"Idih.. gitu amat sih kak ngomongnya."


"Makanya, sering-sering di atas, biar otak lu kepake buat mikir." Rendi terkekeh sebentar.

__ADS_1


"Mikir apaan kalo begitu caranya."


"Ya mikir, gimana caranya bikin gua enak. Bukan gua mulu yang ngenakin. Kadang capek juga gua ngajarin elu, tapi malah lu bilang bosen, nggak mikir emang lu. Nggak ngehargain kerja keras keringat gua yang udah ngebantu buat masa depan lu nanti."


"Ngebantu masa depan aku?" Zahra semakin tak mengerti.


"Iyalah.." Rendi memajukan wajahnya mendekat pada gadis yang lebih muda dari dirinya. "Ngebantu elu buat nyenengin suami lu nanti.. kan lu udah sangat berpengalaman berkat gua, jadi laki lu pasti merasa puas."


Zahra menajamkan tatapannya. "Yang ada dia malah kecewa kak, aku udah bekas." Jawaban Zahra malah membuat Rendi gugup, menyentil kening gadis muda itu.


"Jangan kenceng-kenceng ngomongnya tablo.. nggak malu lu di denger orang."


"Ah, udah ilang malu aku mah.. udah di ambil pergi sama kakak, tau kemana." Ia menyeruput minuman es teh manisnya, selesai pada sesi makan malamnya.


Rendi terkekeh. "Bagus lah. Udah selesai lo? Ayoklah balik. Udah mau tengah malem." Rendi beranjak, hendak membayar pesanan mereka.


"Tunggu lah, belum turun makannya." Tolak Zahra.


"Jangan di turunin lah, mubadzir, abis di isi malah di buang. Simpen aja, biar perut lu ada isinya terus.. kan jadi utuh duit gua."


Zahra terpaku. Terdiam tak bergeming. Benar-benar tak bisa menjawab perkataan lelaki itu.


"Oh iya.. jangan keseringan makan nasi goreng.. nggak sehat." Ia mengatakannya saat mereka sudah masuk ke dalam mobil.


"Nggak sehat?" Zahra terharu.. ternyata lelaki di sebelahnya ini masih perduli pada dirinya. Meskipun hanya perhatian kecil tapi membuat hati Zahra menghangat.


"Iya. Nggak sehat, bikin gua ingat sih Queen mulu. Itu salah satu makanan favoritnya."


"APAAA???"


Suara Zahra histeris, Rendi hampir terlonjak mendapati perubahan nada suara Zahra yang begitu drastis.


🙃🙃😉.


Maaf ya, aku selingin, biar nggak bosen sama cerita Queen dan Aska.

__ADS_1


***


__ADS_2