
"Ayolah Ra.. tolong.. untuk kali iniii aja.. aku minta pengertian kamu." Aska memeluk manja istrinya dari samping. Ia benar-benar sudah tidak tau lagi harus berbicara bagaimana agar istri kesayangannya itu dapat mengerti keadaan mereka.
"Kamu juga harus ngertiin aku dong mas.. mana.. katanya kamu mau nurutin semua permintaan aku. Mana? Ngomong doang." Queen melipat tangannya di depan dada dengan wajah yang di tekuk. Berharap, suaminya dapat mengerti yang ia rasakan.
"Tapi yang satu itu aku nggak bisa Ra.. coba deh.. sekarang kan Gita baru masuk Tk, tapi biayanya mahal banget, kalo kita pake habis tabungan kita, terus gimana nanti buat kedepannya. Buat sekolah dasarnya, SMP nya, SMA nya.. hayo, gimana coba.. katanya kamu pengen anak kita sama sama terus bareng anaknya sahabat kamu itu." Panjang kalimat Aska di ucapkan dengan santai dan tenang, berharap Queen mengerti dengan pemikirannya kali ini.
Queen diam sesaat. Obrolan ini sudah menyita waktu kebersamaan mereka, terbuang percuma hanya karena isi kepala yang berbeda. Queen bahkan enggan bicara dengan Aska saat putri mereka masih terjaga. Queen tidak ingin emosinya keluar di depan buah hati mereka.
"Coba deh kamu minta yang lain, pasti aku turutin, tapi yang satu ini aku enggak bisa sayang.. bukan karna aku nggak mau biayain, tapi.. ya.. menurut aku, sekolah dimana aja kan sama aja Ra, yang penting sama-sama bareng Farhan kan?" Kalimat terakhir Aska cukup menyentak alam pikiran Queen.
Untuk yang satu itu masih bisa di mengerti, dimana aja yang penting Gita dan Farhan sama sama di sekolah yang sama. Itu salah satu cara agar hubungannya berlanjut sampai dewasa nanti.
Ya.. Aska kurang setuju dengan perjodohan anak-anak mereka, tapi, tidak salah mengangkat itu agar Queen mau menuruni egonya kali ini. Lagian kalau di pikir-pikir, anak mereka berbeda usia dua tahun. Tentu saja sulit untuk bersekolah di tempat yang sama. Kalaupun iya mereka satu sekolah, jarak waktunya hanya sebentar. Mana cukup untuk ngebangun chemistry di antara keduanya.
"Gimana Ra? Bisa di mengerti?" Aska mengerling, membujuk istri tercintanya agar semakin luluh.
Queen terus terdiam, sambil menimang-nimang ucapan suaminya.
"Oke! Aku setuju.." Jawabnya cepat, membuat Aska antusias. Lelaki itu menarik nafas dalam-dalam. Paru-paru nya hampir kehabisan udara saat menunggu jawaban dari istri cantiknya itu.
"Aku setuju buat ganti permintaan, sebagai ganti Gita sekolah di tempat yang biasa, Asal. Asal sekolahnya sama sama Farhan."
Aska mengangguk cepat. "Oke. Nanti kamu bicarain sama Rindi lagi ya, nggak papa jauh, yang penting nggak terlalu jauh dan nggak mahal-mahal banget."
__ADS_1
"Sebagai gantinya, aku mau Gita punya adek." Aska mengangguk cepat. Tidak secepat otaknya yang masih memproses kalimat Queen, saking senangnya ia karena Queen mau menuruti dirinya kali ini.
"Bener ya mas.. janji lho.." Queen ikut girang. Senyumnya sudah kembali mengembang. "Aku pengen Gita punya adek cowok. Biar ada yang jagain dia." Ekspresi Queen Penuh harap.
"Apa? Siapa yang punya adek?"
"Gita. Aku nggak masalah kalo ngebagi tabungan kita buat dua anak. Seenggaknya nanti ada yang bisa kita banggain kan."
Aska kembali menghirup udara dalam-dalam. Kali ini berbeda kebutuhan paru-parunya. Seperti kembali sesak.
"Gita itu udah pasti bisa kita banggain nanti kalo udah dewasa. Lagian, udah ada Farhan kan yang ngejagain dia nanti kalo udah gede." Lagi. Aska seolah setuju dengan rencana perjodohan istri dan sahabatnya itu.
"Tapi tadi kamu udah ngangguk, itu tandanya kamu setuju mas.." Queen berdiri tiba-tiba. "Pokoknya aku mau Gita punya adek. Aku nggak mau dia kesepian. Yuk." Queen menarik satu tangan suaminya.
"Kemana?" Aska bingung.
Aska lemas.. kegiatan itu sangat menyenangkan dan enak bagi Aska, tapi untuk satu alasan itu, ia rasanya enggan untuk melakukannya.
"Tenang aja, nggak bakal butuh waktu lama kok. Kan aku belum KB bulan ini."
"Apaa???"
"Sshtt.. jangan kenceng-kenceng, nanti Gita bangun."
__ADS_1
"Ya ampun Ra..."
"Ayok lah mas.. aku semangat nih.." Queen terus berusaha menarik-narik tangan suaminya. Mencoba membawanya masuk ke dalam kamar mereka.
"Aku lagi nggak pengen deh Ra. Capek banget aku tuh." Rengek Aska. Ya, Queen sudah berhasil memaksa Aska untuk berdiri, tapi lelaki itu sengaja memperlambat langkahnya masuk ke dalam kamar, benar benar enggan untuk menapakkan langkah kakinya masuk ke dalam kamar, apalagi merebahkan tubuhnya di atas ranjang kasur mereka.
Sesampainya di kamar, Queen memaksa tubuh suaminya untuk terlentang di atas kasur mereka. Karena Gita yang kini sudah berbeda tempat tidur dengan orang tuanya, membuat Aska dan Queen bebas kembali melakukan hal apapun di ranjang mereka.
"Besok-besok aja lah Ra.." Aska masih berusaha menolak tingkah istrinya yang kini tangannya mulai bergerak bebas di atas dada polos tanpa kain.
"Aku suka deh mas sama bagian ini. Favorit aku ngeliat kamu yang kayak gini."
"Kayak apa?" Aska mengernyit.
"Ini." Tunjuk Queen pada dada bidang Aska.
"Apa sih, aku gagal paham." Aska membuang arah pandangnya, enggan menatap Queen, takut-takut keinginan Queen menular padanya.
Queen beranjak, ia menekan saklar lampu, meredam cahaya dalam kamar mereka. Lalu kembali mendekat ke arah suaminya.
"Suka sama dada telanjang kamu.." Suara bisik Queen terdengar halus di telinga Aska, membuat dirinya meremang.
Queen yang mulai mengecup wajah suaminya tak beraturan, lalu bergerak bebas pada bibir tebal Aska, yang langsung di sambut hebat oleh sang lelaki.
__ADS_1
Menolak pesona Queen masih menjadi hal tabu bagi Aska. Ia tidak bisa untuk tidak menuruti keinginan istri cantiknya yang satu itu. Seenggan apapun Aska untuk melakukannya, tetap saja kalah dengan bisikan suara halus di telinga Aska. Yang menjadi salah satu kelemahan Aska.
Kabur lah.. nggak mau ngintip. 🙃🙃😉