Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
dua puluh satu


__ADS_3

Tau kan, kalau ikhlas itu emang enggak segampang itu. Susah, bahkan susah banget mengikhlaskan seseorang yang kita sayang buat pergi ninggalin kita.


Tidak semudah itu ferdinand..


Baik Aska, Queen, Rendi juga Gita dan semua keluarga serta kerabat yang turut hadir dalam proses pemakaman masih di liputi rasa sedih yang mendalam. Begitu juga Aini, adik kandung Aska yang selalu menemani sang bunda dan berada disisi nya sampai beliau menghembuskan nafas terakhir.


Berbeda dengan Aska yang memang anak sulung dan seorang lelaki, Aini seakan masih hanyut dalam duka nya. Hatinya benar benar pilu, seakan setengah dunianya runtuh. Tapi ia kini juga sudah menjadi seorang ibu dari anak lelaki yang berusia tiga tahun, masih belum mengerti tentang semua yang terjadi. Jadi, biar bagaimanapun ia harus tetap terlihat tegar di depan putra nya.


Bocah kecil itu terus merengek, ia merasa lapar, dan lelah, karena harus ikut kemanapun ibunya berjalan. Ya.. mengurus pemakaman di perkampungan memang sangat melelahkan. Banyaknya tamu datang dari jarak yang jauh sekalipun meski tanpa di undang. Rasa solidaritas di daerah perkampungan memang sangat di junjung tinggi.


"Nang.. karo mbak mu ndisek yo.." Ujar Aini pada si buah hati.. "Gita.. tolong jagain adiknya dulu ya sebentar, mbak mau sibuk di dapur dulu."


Aini, dengan logat jawanya yang kental, mnyerahkan tangan kecil si bocah beralih pada Gita. Ya karena Gita belum mengerti urusan dapur dan segala kesibukan yang ada, jadi Gita sangat senang mendapat tugas sederhana seperti ini. Cukup membantu pikirnya


"Ayo sayang... kita main di luar." Ajak Gita. Ia memilih duduk di pekarangan depan rumah, duduk di bale yang terbuat dari anyaman bambu.


Jurus andalannya adalah, memperlihatkan ponsel pintarnya, ia mencari channel untuk anak kecil dari aplikasi youtube, lalu memangku si kecil.


"dek.." Queen mendongak, melihat asal suara itu. Lagi, lelaki yang tadi pagi menginterupsi kesedihannya datang membawakan piring dan segelas air putih.


"Ini untuk anaknya mbak Aini."


"Apa ini?" Tanya Queen. Ia mencoba mengambil benda yang di sodorkan oleh lelaki itu. Tapi segelas air putih yang ia bawa malah di letakkan di bale, bukan di berikan pada Gita. Alhasil, satu tangan Gita yang tadinya bersiap menerima benda itu hanya terjulur tanpa menerima apapun.


Gita tidak mengerti, ia bingung dan tidak suka dengan sikap lelaki muda ini.


"Tolong di suapin sampai habis, pesan mba Aini." Lelaki itu pergi begitu saja, tanpa perubahan ekspresi apapun pada wajahnya, dan yang membuat Gita lebih tidak suka, selama lelaki itu berbicara ia tidak pernah melihat ke arah wajah, hanya sesekali tertunduk atau menatap wajah si bocah di pangkuannya ini.


Gita masih memperhatikan kepergian lelaki tadi, dengan motor keluaran lama, ia pergi meninggalkan tempat kediaman si mbahnya.


"Hoy!" Satu telapak tangan besar menutup wajah Gita.

__ADS_1


"Nggak boleh ngeliatin anak santri sampe kayak gitu. Berrr..do..sa!!"


Rendi melepaskan tangannya dari wajah Gita, beralih duduk di sebelahnya.


"Sini, om yang suapin."


Sambil melihat om tersayang dan terbawel nya itu menyuapkan sedikit demi sedikit makanan ke dalam mulut si kecil, Gita mulai mengeluarkan segala pertanyaan yang sudah bersarang di kepalanya, tentu saja tentang si lelaki itu.


"Siapa om?"


"Om? Om kamu lah, mantan calon ayah kamu yang gagal karena bunda kamu ternyata lebih cinta sama ayah kamu."


"Ih!" Gita memukul lengan Rendi pelan.


"Bukan itu maksud aku."


Rendi tertawa kecil. "Terus apa?"


"Ngapain nanya nanya?"


"Dia songong gitu om ke aku."


"Songong gimana?"


"Kalo ngomong ngeliatnya ke bawah mulu. Muka aku ada di atas kan om, bukan di tanah." Gita merengut kesal mengingatnya.


"Anak santri mah, emang gitu Gita.. dilarang melihat wajah lawan jenis. apalagi menatap mata. Beuh... lunturrr semua pahalanya."


"Yang bener om?" Tanya Gita antusias. "Tau dari mana?"


"Tau lah.. kan dulu om pernah pacaran sama anak pesantren." Rendi meringis kecil, ketika teringat memory tentabg salah satu mantannya itu.

__ADS_1


"Sebenernya, dia nggak boleh pacaran, tapi karena pesona om.. hehe.. jadi dia mangut mangut aja tuh om ajak kemana aja juga."


"Dih... dia ajak kemana aja om emang?"


"Ke..."


"Udah stop. Jangan dengerin omongan si bapak tua yang satu ini." Aska menyela pembicaraan antara anak putrinya dan Gita.


"Ayah.. orang lagi serius juga."


"Nggak usah banyak ngobrol sama om mu yang ini. Yang ada isi kepala kamu tambah ngawur nanti. Udah, ikut sama mas mu sana."


"Mas siapa lagi."


"Tuh, mas maulana, bunda mu minta di beliin apa tau tuh, pusing ayah." Melihat raut wajah Aska ya terlihat kusut, membuat Rendi tertawa kecil.


"Nang, di temenin sama Gita ya, tolong di carikan sampe ketemu."


"Maaf pakde, tapi kalo boleh lebih baik pade aja yang temenin saya." Jawab lelaki yang ternyata bernama Maulana itu.


"Lah, bukannya tadi kamu udah pergi?" Tanya Gita yang sontak membuat Rendi dan Aska menoleh ke arah Gita, berbeda dengan Maulana yang hanya melirik sebentar, kemudian kembali melihat ke wajah Aska.


"Maaf nang, saya ndak bisa. Gita yang tau selera bundanya." Mendengar itu Maulana mengangguk paham.


"Kalau gitu, saya pamit de." Maualan mencium punggung tangan Aska juga Rendi, lalu berjalan ke arah motornya di ikuti Gita di belakangnya, tentu saja dengan Aska yang sedikit memaksa dengan dorongan kecil.


"Gita. Jangan lupa sama Farhan ya..." Teriakan Rendi, membuat Maulana terdiam sebentar dan Gita yang berbalik hanya untuk memperlihatkan wajah cemberutnya.


Tidak hanya mereka saja, tapi Aska juga memukul main main lengan Rendi. Tapi Rendi malah tertawa puas atas setiap reaksi yang ia terima.


"Jangan berisik, saya lagi berduka."

__ADS_1


"Iya tau tau.. elah."


__ADS_2