Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
rencana


__ADS_3

Keheningan biasanya selalu membawa ketenangan. Sama seperti malam yang selalu membawa kenyamanan. Tapi, berbeda dengan keheningan jika awalnya tercipta karena suatu perdebatan. Malam yang biasanya mengantarkan pada kenyamanan berubah membawa masalah, mengusik hati dan juga fikiran.


Satu hari terlewati dengan segala pemikiran tentang lelaki tersayang. Suami yang tadi pagi baru saja membuat hati Queen menjadi kian merasa bersalah. Gadis itu bahkan tidak menyematkan ucapan apapun, ketika buah hati mereka di bawa pergi begitu saja oleh Rendi.


Meskipun, itu hal yang biasa, tapi setidaknya Queen akan selalu mengingatkan lelaki itu, bahwa ia sedang bersama anak kecil. Harus menjaga sikap juga perkataan. Queen tidak mau, anak perempuan mereka kelak akan menjadi seperti Rendi, akibat terkontaminasi karena terlalu sering bersama lelaki yang sampai sekarang masih belum jelas pasangannya.


Queen menunggu suaminya dengan harap-harap cemas. Ada rasa canggung saat ia melihat jam dinding, menandakan tak lama lagi suaminya akan sampai.


Bagaimana cara ia bersikap, apa yang harus ia katakan, dan apakah sikap suaminya itu masih sama dengan yang tadi pagi. Semuanya terus terngiang di benak Queen. Takut, jika kini malah lelaki itu yang berubah sikap.


Sayup-sayup Queen mendengar suara motor. Dirinya yang awalnya duduk, seketika terlonjak menghampiri pintu, berusaha memberikan servis terbaik. Begitu suaminya tiba Queen sudah membukakan pintu untuk lelaki tercinta. Kedengarannya seperti rencana yang sempurna untuk memperbaiki hubungan.


Suara mesin motor yang kian mendekat, seiring dengan terbukanya pintu rumah Queen, detik itu juga kendaraan bermotor roda dua itu berhenti. Namun.. harapan tinggal harapan. Jenis motor itu berbeda, helmnya yang biasa suaminya pakai, begitupun dengan orangnya.


Queen hanya bisa tersenyum canggung. Kaku. Sudut bibirnya tertarik paksa, ketika pandangannya bertatapan dengan pemilik motor yang berhenti tepat di depan pintu rumahnya.


Hatinya kecewa? Tentu saja, Gadis itu bahkan menghela nafas berat dan terlalu keras. Hingga lelaki muda yang tak tau diri memarkirkan motornya di depan pintu Queen, terlihat sama canggungnya.


"Permisi mba..." Ucapnya, seraya melangkahkan kaki berlalu. Queen memperhatikannya sampai ke depan pintu dimana lelaki muda itu berhenti.


Tepat di pintu nomor dua, bekas kamar yang pernah Agung tempati. Ya.. lelaki muda yang baru beristri. Mengingatkan Queen tentang hari-hari lalu, ketika dirinya dan suami tercinta baru tinggal bersama.


Queen menutup pintunya dengan hati yang kecewa. Kecewa terlalu berat. Ia merebahkan dirinya di sofa, sambil meraih kasar remote tv di atas meja. Mengganti setiap chanel tanpa mau meneliti acara apa yang ia lewati begitu saja.


Masih dengan wajah kesalnya Queen lagi-lagi mendengar suara mesin bermotor, kali ini ia perhatikan suara mesin itu. Apakah sama dengan milik suaminya atau bukan. Tidak ingin tertipu lagi, kali ini Queen memilih sekedar mengintipnya dari jendela. Dan.. tentu saja bukan. Suara motornya memang sedikit sama, sama-sama motor lelaki, tapi jenisnya berbeda, helmnya juga beda. Jadi Queen memutuskan kembali pada sofa setianya yang selalu membawa kenyamanan pada tubuh lelahnya.


Rasanya Queen merasa mulai putus asa, menunggu suaminya pulang dengan wajah cerianya. Itu terdengar sedikit meragukan kini. Sekali lagi, telinganya mendengar deru mesin motor, tapi lalu menghilang. Ah.. Queen mulai berhalusinasi nampaknya.


Semakin cepat jarinya memencet tombol di remote dengan asal. Semakin besar rasa kecewa di hatinya, saat itu pula gadis itu melempar remote ke ujung sofa, berbarengan dengan suara pintu terbuka.


Queen dengan ekspresi kesalnya, sangat terkejut melihat wajah lelaki tersayang sedari tadi ia tunggu, kini menatapnya bingung. Mata mereka saling mengunci, detak jantung Queen pun semakin keras.


Kejutaaaan.....!!!! Yeay. kejutan untuk Queen. Rencana indah yang Queen susun di menit tadi hilang, berganti dengan waktu yang seolah memberi kejutan balik untuk Queen.


"Assalamualaikum.." Suara Aska lebih dulu memecah keheningan.


"Wa, ehm.. Wa'alaikumsalam mas.." Suara Queen seperti tercekat di tenggorokan. Ia berdehem sebentar memperbaiki volume suaranya. "Kamu udah pulang? Kok aku nggak ngedenger suara motor kamu?" Queen beranjak menghampiri suaminya yang kini tengah duduk di lantai, berusaha membuka sepatu kebesarannya itu.


"Aku matiin tadi waktu ngobrol sebentar sama si ibu pintu nomor sepuluh." Jawab Aska, tanpa menoleh kepada Queen.


"Ngobrol apaan mas?" Queen mulai penasaran. Tentu saja. Kalau ada masalah kontrakan harusnya si ibu bicara sama Queen. Kan, Queen yang ada di rumah, bukannya cegat si mamas yang baru pulang tugas.


Aska selesai, ia berdiri, mencium kening Queen sebentar, lalu berjalan masuk melewatinya. "Bukan apa-apa, cuma ngasih tau anak gadisnya baru dateng dari kampung."

__ADS_1


"Lho? Apa hubungannya sama kamu?" Queen mulai tak santai.


"Nggak tau." Mereka sampai di ruangan dapur, Aska memutar tubuhnya menghadap Queen yang terus mengekori. "Aku haus." Cicitnya.


"Oh iya. Aku belum bikinin kamu teh."


"Nggak usah, aku minum air putih aja," Aska lalu membuka kulkas, mengambil satu botol besar berisi air putih dingin, lalu menuangkannya di gelas.


Sambil menunggu kegiatan suaminya minum, Queen masih setia berdiri di samping Aska, menunggu cerita lebih banyak lagi. Sungguh, hatinya kini mulai penasaran dengan apa yang lelaki tersayang dan si ibu itu bicarakan.


"Mas?" Ucap Queen.


"Hem?"


"Aku masih nunggu lho!"


"Nunggu apa?" Aska berjalan masuk ke kamar, sambil membuka tiap kancing seragamnya.


"Nunggu cerita kamu." Dan Queen masih setia mengekori.


"Yang mana?"


"Sama si ibu itu."


"Ooh.." Jawabnya santai. Aska sudah selesai dengan kancing-kancingnya. Memberikan pakaian bau kecut itu pada Queen dengan santainya.


"Enggak. Dia cuma bilang, anaknya baru baru dateng dari kampung, katanya masih udah umur 20." selesai Aska melepas ikat pinggangnya, selesai pula ceritanya.


"Terus?" Queen menerima benda milik suaminya lagi.


"Ya.. udah, apa lagi?"


"Yang bener?"


"Bener.. kalau nggak percaya, tanya aja sono sama si ibu." Baru saja Aska melepas kancing atas celana bahannya, baru memegang resleting yang siap ia turunkan, saat itu ia mendengar suara kencang benda terjatuh di atas kasur mereka. Aska menoleh, melihat Queen sedikit berlari keluar.


Nasib bagus Aska memiliki pemikiran yang cepat. Mengerti dengan apa yang terjadi. Aska segera berlari menyusul istrinya yang mungkin tengah di kendalikan oleh emosi? atau cemburu?


"Ra.." Melewati ambang pintu, akhirnya Aska berhasil menarik pergelangan tangan istri imutnya. "Mau kemana?"


"Aku mau tanya langsung."


"Nggak usah. Aku cuma bercanda." Aska masih menggenggam tangan wanitanya dengan kencang. Tidak ingin sama sekali melepasnya.

__ADS_1


"Bercanda gimana?"


"Iya.. bercanda begitu. Yaudah ayok masuk, kita terusin lagi."


"Apanya yang di terusin mas?" Bukan. Itu bukan suara Queen. Melainkan suara tetangga sebelah yang lagi ngejemurin di tambah ngeliat adegan sinetron. Di bumbui dengan pemandangan tubuh atas Aska tanpa pakaian, juga kancing celana yang terbuka.


Aska yang menyadari kehadiran pengganggu, seketika terkejut. Berbanding terbalik dengan Queen yang masih tak mengerti dengan ucapan si ibu.


"Eh, Ehm.. masuk dulu yuk Ra." Bingung mau jawab si ibu gimana. Aska lebih memilih menarik pergelangan tangan istrinya secara lembut. Beruntung Queen tidak melawan. Jadi.. tidak ada season tambahan buat si ibu penguping itu.


Rencana Aska yang sengaja mempermainkan emosi Queen,berubah menjadi mempermainkan rasa malu untuk Aska sendiri. Siapa sangka jika Queen benar-benar akan bertanya pada orang yang di ucap oleh Aska. Astaga.. Queen benar-benar di luar prediksi.


"Mas?"


Setelah pintu Aska tutup dengan pelan tak lupa ia kunci. Setelah Aska melepas pegangannya, Queen baru menyadari.


"Apa?"


"Maksud kamu apa?"


"Apa?" Aska masih tak mengerti, yang mana yang Queen maksud.


"Kamu keluar nggak pake baju begini, celana juga nggak di kancing. Maksud kamu apa? Kamu mau pamer gitu sama orang kalo badan kamu bagus? Iya? mau biar semua orang tau, kalau badan kamu putih? Atau mau si ibu itu tau, kalau kamu cocok jadi mantunya? Iya? Gitu?"


"Kebanyakan nonton drama kamu tuh. Apus aja lah aplikasinya. Atau.. nggak usah megang hp kalo nggak penting." Aska menghembuskan nafasnya lelah, lalu beranjak ke dalam.


"Jangan ngalihin pembicaraan ya mas."


"Enggak. Entar kita lanjutin wawancara aku nya." Aska terus berlalu ke dalam.


"Mau nagapain kamu?" Queen masih membuntuti.


Aska yang tiba-tiba berbalik, menghadap Queen. Membuat langkah Queen terhenti.


"Aku mau mandi dulu Ira sayang... nanti udah abis mandi baru kita lanjutin interogasinya. Oke? Atau.. mau lanjut sambil mandi? Oke, aku mah nggak masalah." Entah karena suara Aska yang menggoda, atau karena usapan jemarinya lembut di pipi Queen. Gadis itu hanya terdiam dan terpaku mengunci tatapannya pada manik milik Aska.


"Aku siapin baju kamu dulu." Queen merona, malu. Saat ingin berbalik, Aska menahannya, mengucap sebentar bibir ranum yang terlalu banyak bicara itu.


"Aku nggak bakal lama." Cicit Aska, lalu beranjak meninggalkan Queen begitu saja.


# Bodo amat mau lama apa enggak. Terserah.... nggak ada untungnya buat orang seperti saya yang tidak bisa merasakan kecupan Aska, atau sentuhan lembut jemari mas Aska. Cuma bisa ngebayangin sambil nunggu, perlakuan chesy mas Aska selanjutnya.


Hari ini, di kediaman Aska dan Queen. Dua rencana gagal begitu saja.

__ADS_1


Masih ada yang nungguin cerita ini atau enggak. Yang jelas cerita ini berlanjut sampai kisah anak mereka.


🙃🙃😉


__ADS_2