
Bisakah kamu tau, seberapa besar rasa sayang yang pasangan mu miliki untukmu, meski hanya lewat tatapan matanya?
Sejujurnya, dalamnya hati seseorang tidak akan bisa kita ketahui.. meskipun sudah sekian lama kita menjalani hari bersamanya.
Lamanya waktu bukan jaminan bagi kita untuk mengetahui segalanya tentang pasangan kita. Bisa jadi, jika memang bukan jodohnya, mereka akan berpisah, meski sudah puluhan tahun berjalan bersama. Lalu, bagaimana bagi mereka yang baru saja memulai? Tidakkah itu menjadi lebih beresiko ?
Jawabannya hanya waktu yang bisa membuktikan.
***
Aska menatap lekat manik mata Queen. Dalam dan intens. Ia tidak ingin ada satu apapun yang terlewat dari pandangannya. Mengapa Aska melakukannya?
Ya, semalam, setelah keduanya sudah dalam dunia mimpinya, Aska harus terbangun saat dering ponsel milik Queen terus berbunyi. Queen mungkin lelah setelah berolahraga di malam hari, karena itu ia tidak menyadari bunyi bising yang kian mengeras.
Aska tak sempat menjawab panggilan itu, karena sudah berakhir sebelum ia sempat menyentuh benda pipih tersebut. Dalam pandangannya yang masih terlihat samar, Aska berusaha membaca pesan singkat yang tertera di layar.
Entah karena ia merasa masih mengantuk atau ia merasa masih bermimpi, sekali lagi Aska membaca lekat-lekat isi pesan tersebut.
'Queen, nanti bilang sama suami kamu, mama bakal jemput dua hari lagi.'
"Apaan?" Aska berkata sarkas pelan. Ia memandang wajah wanitanya yang masih terlelap kemudian menatap layar ponsel secara bergantian dan berulang.
Fikirannya masih belum bisa mencerna apa yang barusan ia baca. Rasanya ingin sekali ia mengganggu ketenangan tidur istrinya. Ingin segera mencari tau apa yang tidak ia ketahui.
Aska mencari-cari pesan lainnya, mencoba mencari tau sendiri tentang kebenaran. Tetapi nihil. Tidak ada pesan lain yang berhubungan dengan apa yang ia lihat barusan. Terlebih, ini adalah satu-satunya pesan dari nama kontak yang tertera 'my mom'. Saat itu juga Aska tersadar, ada hal yang tak pernah Queen ceritakan di sela obrolan di atas bantal sebelum mereka tidur. Rutinitas yang selalu mereka lakukan saat tidak dalam keadaan bertengkar.
Selama detik jarum jam yang terus berputar dari pukul tiga hingga pukul lima, kenapa waktu seolah mempermainkan temponya. Aska merasa bosan menunggu hingga kesadaran istrinya tiba. Serapat mungkin ia sudah berusaha memejamkan matanya, mencoba membunuh waktu dengan melewati alam mimpi, namun, sialnya mata itu tak juga ingin terpejam. Hatinya mulai gelisah.. tubuhnya terus bergerak, berbalik ke kanan menghadap wanitanya, berbaring menatap langit-langit kamarnya, kemudian ke kiri mencoba memunggungi istrinya dengan rasa kesal yang datang dan pergi.
"Apa-apaan.. dua hari lagi di jemput??" Aska mengulang kalimat yang di baca, pelan, seperti bergumam sendiri. Otaknya masih tak bisa mencerna arti dari kalimat itu. Hingga waktu yang ia tunggu sekian lamanya, akhirnya datang. Aska usai pada penantian.
Perlahan, kelopak mata Queen mengerjap. Entah karena terpaksa sadar akan tingkah Aska, atau memang ini sudah waktunya bangun. Yang jelas Aska terus menatap mata itu, hingga pandangan mereka bertemu. Queen mengulas senyum simpulnya. Hati wanita mana yang tak terlena, saat mendapati manik mata idamannya adalah yang pertama kali ia lihat saat membuka mata.
Aska turut tersenyum. Bibirnya secara otomatis bergerak mengikuti bentuk bibir di hadapannya. Satu tangannya terjulur, menyapa pucuk kepala Queen dengan lembut, bergerak turun kebawah, mengusap bibir bawah Queen yang mengering dengan ibu jarinya.
Queen terpesona dengan tingkah Aska. Masih sangat awal jika mereka harus mengumbar kemesraan. Baru saja semalam mereka melakukannya, tak mungkin kan jika suaminya meminta jatahnya, lagi?
Queen hanya terdiam, diam merasakan sentuhan itu, menikmati manik mata yang teduh di depannya. Hingga sekian lama, akhirnya Aska membuka suara lebih dulu.
"Mandi duluan gih, kamu bau iler.." Suara itu pelan. masih setengah parau, layaknya orang yang baru bangun tidur. Tetapi kenapa isi kalimatnya seakan menghantam kesadaran Queen untuk segera terjaga. Bibirnya mengerucut seketika, dengan alis mata yang menukik tajam. Queen tak ingin lagi terus berbaring, menatap manik mata hitam itu. Queen segera bangkit dari posisinya dengan wajah kesal.
__ADS_1
"Ngerusak suasana aja!" Tuduhnya pelan namun jelas terdengar di telinga Aska.
Lelaki itu hanya tersenyum gemas melihat raut wajah Queen. Ia tak menahan istri kecilnya untuk segera bangun. Dengan rasa gemas di hatinya, ia ikut melangkah di belakang wanita kesayangannya. Dan sebelum wanitanya sampai di pintu dapur, Aska berhasil memeluk tubuh Queen dengan oeruyt buncitnya dari belakang.
"Morning honey.." Sapanya lembut di dekat telinga Queen. Namun hati itu sudah terlanjur kacau. Kesal karena kalimat yang menjatuhkan harga dirinya tadi.
Queen melepas tangan yang melingkar itu, membebaskan dirinya dan segera berjalan masuk ke dalam kamar mandi, tanpa mau menjawab sapaan paginya yang hangat tadi.
***
Queen tak lama-lama di dalam kamar mandi. Ia sangat sadar diri, di tempatnya kini hanya ada satu kamar mandi yang harus ia bagi dengan suaminya. Apalagi lelaki itu sangat membutuhkannya lebih dari pada Queen saat ini.
Setelah siap dengan pakaian rumahannya, Queen segera menyiapkan segala perlengkapan yang harus di kenakan oleh Aska-suaminya. Barulah ia berjalan keluar, mencari kebutuhan untuk sarapan mereka berdua.
Karena waktu yang tadi ia pakai untuk menatap manik mata suaminya saat terbangun, Queen rasanya sudah enggan untuk memasak. Biar saja lelaki itu makan siang tanpa harus membawa bekal, yang penting sarapannya sudah ia sajikan.
Dua bungkus nasi uduk sudah berada di atas piringnya masing-masing. Aska yang kini tengah selesai dengan perlengkapannya, menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Ia melihat wanitanya yang juga berada di satu ruangan yang sama dengannya.
"Ra.." Aska membuka suara.
"Hm?"
"Iya." Jawab Queen singkat.
Namun, Aska masih tak puas dengan jawaban itu, kedua alisnya malah terpaut menatap Queen yang malah menyandarkan punggungnya pada sofa.
"Terus..?" Aska menunggu hal berikutnya.
"Besok ajalah bawa bekelnya, aku lagi nggak mood." Oke, Aska paham situasinya kini. Tapi entah apa yang membuat wanitanya menjadi tak bersemangat kini. Padahal ia sudah menyapanya tadi pagi, memberikan kecupan sebentar di atas pucuk kepalanya tadi. Lalu.. bagian mana yang membuat Queen tak puas?
Yasudahlah.. tak ingin larut dalam suasana tak menguntungkan, Aska lebih memilih mengambil makanan di hadapannya laku membawanya ke dalam mulut, hingga habis.
"Kamu nggak makan?" Tanya Aska lembut.
"Nanti." Jawab Queen singkat.
"Mau aku suapin?" Aska masih berusaha.
"Nggak usah."
__ADS_1
Sudahlah. Wanita hamil mungkin memang seperti ini. mood swing nya selalu datang dan pergi tanpa bisa Aska terka.
Melihat Queen yang terus fokus pada benda pipih di tangannya, Aska jadi teringat pada sebuah pesan yang mengganggu acara tidurnya semalam. Yang membuat Aska tak bisa lagi memejamkan matanya yang hanya terpejam dua jam sebelum bunyi dering itu.
Aska masih merasakan pusing di kepala.
Lelaki itu menatap lekat manik mata Queen, mencari sesuatu yang mungkin saja terlewat dari pandangannya. Tetapi Queen hanya diam dengan raut wajah jutek tanpa mau menoleh membalas tatapan Aska. Apakah Queen menyembunyikannya dengan sengaja? Entahlah. Aska benar-benar tak bisa melihat itu sekarang.
Queen seperti, tidak ingin membahasnya. Padahal waktu yang mamanya berikan tinggal dua hari lagi. Dan Aska yakin, jarak yang harus memisahkan mereka tak main-main.. jika itu hanya antar pulau atau provinsi, Aska masih bisa mempertimbangkannya, namun itu antar negara. Mana sanggup Aska melewati masa-masa seperti itu.
Bukan. Bukan karena Aska tak sayang. Bukan juga karena alasan Queen tak berarti. Sungguh. Queen adalah segalanya dalam hidupnya, prioritas utama dalam dunianya.
Tapi..
Rasanya sayang sekali, jika Aska harus menghamburkan uang, demi mengikis jarak temu keduanya. Bukankah lebih baik di tabung untuk persiapan kelahiran calon bayi mereka?
Waktu tak terasa sudah semakin cepat berlalu. Mereka hanya hening dalam fikirannya masing-masing. Queen tau ia terus di tatap intens. Tapi hatinya enggan untuk ikut membalas tatapan itu. Sampai akhirnya, Aska beranjak dari duduknya. Ia siap untuk berangkat tugas lagi, karena matahari yang kian menyapa.
Saat sampai di ambang pintu, Queen mendekatkan dirinya pada Aska, seperti hal yang biasa harus ia lakukan. Mencium punggung tangan suaminya sesaat sebelum lelaki itu menjalani harinya.
Aska membalas dengan mencium kening Queen dalam. Rasa di hatinya kian membuncah, kala Aska memejamkan matanya, meresapi isi hati untuk wanita kesayangannya.
Setelahnya dengan lembut Aska berucap.
"Ra. Apapun pertanyaan kamu nantinya. Aku kasih kamu jawabannya sekarang. Denger ya.." Aska menjeda kalimatnya, menatap lurus pada manik mata Queen. "Aku nggak mau kamu tinggalin. Meski itu cuma itungan jam, hari atau minggu. Apalagi berbulan-bulan.." Aska menggeleng yakin. "Aku nggak mau. Kalo itu bukan karena sesuatu yang di haruskan!" Ia menekan kata terakhirnya. "Oke?"
Yah.. meskipun ia mengatakannya dengan lembut dan santai, namun Queen menangkapnya sebagai perintah yang tegas dan mutlak. Sungguh ada banyak penekanan dari tiap katanya. Membuat Queen dengan cepat mengangguk mengerti.
"Iya." Jawabnya singkat, di iringi dengan senyum simpul. Entah kenapa hatinya menghangat mendengar pernyataan itu. Ia merasa menjadi seseorang yang penting bagi lelaki di hadapannya.
Yah.. cinta Aska memang sudah tak di ragukan lagi untuknya. Sudah seperti bucin yang bisa kehilangan arah. Jika sosok wanita itu tidak ada di dunianya.
Queen melepas kepergian suaminya dengan senyum dan rasa hangat di hatinya. Begitupula dengan Aska, ia turut mengulas senyum sekali melambaikan tangan sebelum berlalu dari pandangan wanita tersayangnya.
Ah.. Queen jadi menyesal, kenapa tadi ia tidak membawakan suaminya bekal. Biar lelaki itu terus teringat akan dirinya.
Well.. penyesalan memang selalu ada di belakang Queen. Karena itu ia selalu di takuti oleh sebagian orang yang berfikir matang.
🙃🙃😉
__ADS_1