Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
cobaan


__ADS_3

Hari pertama Aska saat menjalani tugasnya yang kini jaraknya menjadi semakin jauh dari tempat tinggalnya, mau tak mau harus membuatnya berangkat lebih awal dari biasanya.


Jam lima pagi, Aska sudah rapih lengkap dengan pakaian dinasnya. Meskipun hanya tidur beberapa jam karena gangguan dari Queen, tapi pekerjaan adalah hal yang harus diutamakan.


Queen masih terlelap dalam mimpinya saat Aska menggoyangkan pelan bahu Queen


"Ra.." Panggil Aska halus. Lelaki itu dengan dengan sabar menanti gadisnya bangun dari tidurnya.


"Ra.. bangun dulu sebentar, saya mau berangkat." Queen mulai bergerak, meerentangkna tubuhnya, kemudian menggosok matanya dengan punggung tangan.


Aska mencegahnya, gemas rasanya i melihat kebiasaan buruk Queen yang satu ini.


"Bangun dulu.. kamu masih mau disini atau mau pindah tidurnya?" Tutur Aska dengan lembut, sambil memegang tangan Queen.


"hem... masih ngantuk aku" Suara parau Queen khas orang bangun tidur.


"Yaudah, saya berangkat dulu, jangan sampe kesiangan nanti, ada kuliah kan?" Sentuhan lembut belaian Aska pada pucuk kepala Queen saat ini, adalah hal yang paling Queen suka saat menginap di rumah kekasihnya.


"iya. Mas berangkatnya pagi banget?" Queen melirik jam dinding yang tergantung di kamar Aska.


"Iya. Takut kena macet." Aska bangun dari duduknya, mengenakan jam tangan yang tadi ia ambil dari atas nakas.


"Hem.. pulangnya larut dong mas?"


"Saya hari ini di kantor, jadi pulang tepat waktu. Cuma lebih lama sedikit dari biasanya." Queen mengangguk mengerti. Tau alasan yang di maksud Aska.


"Yaudah, saya berangkat dulu." Aska mengecup kening Queen sebentar, mengusap pipinya dengan senyum yang tak lepas dari pandangan Queen.


"Kamu udah sarapan mas?"


"Nanti disana aja. Kamu juga jangan lupa sarapan ya. Saya bisa tau lho kamu makan atau enggak." Aska berjalan keluar, menutup pintunya kembali, dan Queen hanya bisa mengamatinya dari belakang.


Rasa ngantuknya yang tadi ia miliki, perlahan hilang saat lelakinya yang sudah berangkat di jam sepagi ini. Dengan semangat dan tanpa kata mengeluh, Aska semakin membuat Queen tak berdaya karena rasa takut kehilangan.


Ah.. haruskah hubungan mereka terus begini, jika saja lelakinya itu tak kunjung mengganti status hubungan mereka.


Queen meraih ponselnya, mengetikkan jarinya di atas layar.


"Kalau udah sampe kabarin ya.." Queen benar benar ingin tau, seberapa lama Aska berada di jalan. Seberapa jauh jarak tempuh kekasihnya.


***


"Hari berganti siang, tak ada yang menarik perhatian Queen di kampus akhir-akhir ini. Hanya tugas yang di berikan oleh dosen, membuat Queen harus berlama-lama di dalam perpustakaan kampus.


Mencari referensi di antara tumpukan buku yang Queen bawa, dan ia letakkan di atas meja baca yang panjang di perpustakaan, sungguh, baru melihatnya saja membuat Queen sudah merasa lelah.


Untungnya tadi Queen sudah tepat sarapan dan makan siang, jadi ia memiliki begitu banyak tenaga.


Queen terkejut saat seseorang menarik bangku disebelahnya dan duduk dekat dengan dirinya.


Queen menoleh cepat. Seorang lelaki dengan wajah yang tak asing oleh Queen sedang tersenyum lebar kepadanya.


"Ka Agung ngagetin aja deh." Queen mengusap dadanya karena terkejut.


"Maaf ya Queen. Lagi dapet tugas dari pak Nainggolan ya. Aku bantu mau nggak?" Agung memberi tawaran.


Tentu saja Queen mengangguk dengan cepat.


"Mau dong ka.. rezeki nggak boleh di sia-siakan." Queen tersenyum senang. Akhirnya ia tak harus membaca tumpukan buku dihadapannya.


"Tapi ini namanya nepotisme lho Queen. Saya kan asdosnya beliau." Agung masih menatap lekat Queen dengan senyum simpul yang misterius.


"Kalo ada syaratnya, ngapain ka Agung mau bantu aku?" Queen mencebik manja. Dan Agung malah semakin menyukainya.


"Ck ya.. cari keuntungan di atas kesulitan orang, sesekali mah boleh kan?"


Queen mengerti maksud lelaki di sebelahnya.


"Apa syaratnya?" Tanya Queen yang penasaran.


"Kita jalan ntar malam, gimana?" Alis Agung terangkat.


"Enggak ah. Aku takut pacar aku marah" Tolak Queen tegas. Sengaja ia berikan alasan langsung, agar orang di sebelahnya ini mengerti.


Agung mengangguk dengan wajah tertunduk.

__ADS_1


"Oke. I see.. but it's oke. no problem for me" Agung menggeleng dengan senyum.


"Lah, emang ka Agung nggak takut jalan sama pacar orang?" Queen terperangah. Tak percaya mendengar jawaban Agung yang tak perduli dengan statusnya.


"Kita cuma jalan kok, enggak ngapa-ngapain."


"Tetep aja lah ka, nantinya bakal ada yang salah paham."


"Enggak akan terjadi, kalo kamu minta ijin dulu sama pacar kamu, kasih tau alasannya kenapa kamu harus jalan sama aku!" Agung meyakinkan.


Ia tau Queen masih labil, dan alasan karena tugas cukup untuk menekan Queen mau menerima ajakannya.


"Pacar mana sih ka, yang ngijinin pacarnya jalan sama cowok lain?"


"Yaudah, kalo gitu kamu minta tolong pacar kamu aja buat bantuin. Deadline nya besok lho Queen."


Agung menjauh, membetulkan posisi duduknya. Sambil membuka satu buku dari atas tumpukkan buku Queen.


Tak kunjung dapat jawaban dari gadis favoritnya kini, ia kembali menekan Queen secara halus.


"Emang pacar kamu ngerti? Ini jurusan bahasa lho, sedangkan pacar kamu polisi. Jauh banget bedanya." Queen semakin tak percaya dengan pilihannya.


"Emang yang bakal kena ocehannya bapak dosen itu cowok kamu, yang nggak kasih ijin karena cemburu buta?" Runtuh sudah pendirian Queen saat mengingat nilainya yang akan anjlok karena tidak mengumpulkan tugas.


"Terus aku harus gimana?" Queen mulai putus asa.


"Ya terserah kamu. Mau terima tawaran aku, atau begadang semalaman cuma karena tugas ini. Buat aku sih ini cuma butuh sejam doang." Agung mulai menyombongkan diri.


"Ya ampun.. ntar kalo ada apa-apa sama hubungan aku, ka Agung tanggung jawab ya?"


"Haha..." Agung tertawa pelan.


Tanggung jawab kayak gimana yang kamu maksud sih Queen. Dalam hati Agung.


"Oke deh aku mau. Tapi bener ya, cuma satu jam. Aku mau cepet pulang soalnya."


"Iya Queen. Tenang aja. Sini laptop kamu." Queen mengeluarkan barang yang diminta oleh Agung. Menaruhnya kehadapan Agung.


"Atau, kamu pulang aja sekarang. Ini tugasnya aku kasih pas jemput kamu nanti malam. Biar sekalian aku print."


"Di repotin kamu, aku suka kok. Udah tinggal aja. Pokoknya terima beres."


"Bener nih nggak pa-pa?" Queen menatap lekat Agung.


"Iya nggak pa-pa. Udah sana pulang, nanti ke sorean."


"Oke. Makasih ya kak. Aku pulang duluan."


Queen tersenyum dengan senangnya, berjalan pulang dengan semangat. Ia tak tau apa yang akan terjadi nanti kepada hubungannya.


***


Sore sebelum maghrib Aska sudah pulang, Queen menyambutnya dengan antusias. Queen sudah menyiapkan makanan untuk dirinya dan Aska.


Ya, meski makanannya bukan Queen sendiri yang masak. Setidaknya ia tau rasanya enak.


"Udah pulang mas?" Sapa Queen dari ambang pintu kamarnya.


Aska membuka helmnya, tersenyum menatap Queen. Terlihat jelas rasa lelah di wajahnya.


Aska duduk di lantai ambang pintu kamarnya, membuka sepatu boot yang ia kenakan, kemudian berjalan masuk. Ia tau gadisnya akan mengikuti dirinya dari belakang.


Benar saja, tak lama Queen datang dengan membawa makanan di tangan. Meletakkannya di atas meja, kemudian duduk di sofa.


"Aku udah bawa makanan, kita makan dulu yuk!"


"Nanti, saya mau mandi dulu." Jawab Aska seraya mengusap pelan pucuk kepala Queen.


"Oke. Jangan lama ya, ada yang mau aku omongin" Queen berbicara dengan santainya, tanpa memikirkan apa yang nanti akan terjadi. Yang ia yakini adalah lelakinya itu mau mengerti keadaannya.


***


Aska sudah rapih, harum dan segar. Rasa lelah yang tadi Queen lihat sudah hilang di ganti dengan senyum senang dari bibir Aska.


"Tumben kamu bawa makanan. Kalo gini tiap hari aja, semangat saya pulangnya." Aska duduk di samping Queen.

__ADS_1


"Haha.. boleh, nggak masalah buat aku." Jawab Queen.


"Tapi saya lebih suka kalo kamu yang masak." Tatapan intens Aska, terasa seperti apa yang barusan dikatakannya adalah sebuah titah.


"Itu aku harus belajar dulu, baru boleh kamu kasih makan masakan aku." Queen berkata dengan kikuk.


"Haha.. bercanda saya." Kembali Aska mengusap pucuk kepala Queen. "Selesaiin aja dulu kuliah kamu."


"Oke. Ayok makan." Makanan rumahan yang Queen beli di rumah makan terdekat dari kontrakannya, mulai mereka santap.


Setelahnya, barulah Queen berbicara santai, meminta ijin kepada Aska.


"Apa yang mau kamu omongin?" Aska meletakkan gelas kosong yang baru saja ia minum di atas meja.


"Em.. aku mau minta ijin nih.." Jantung Queen tiba-tiba berdetak lebih cepat. Alis Aska bertautan.


"Aku nanti.. mau.. jalan, sama.. ka Agung" Queen terbata, takut dengan tanggapan Aska. Entah hilang kemana keyakinannya tadi.


"Jalan sama siapa?" Aska tak mengerti dengan ucapan Queen.


"Sama ka Agung, itu loh, asisten dosen aku." Mendengar Queen menyebut titel lelaki di antara mereka dan bukan menyebutnya dengan kata tetangga, membuat Aska mengerti apa yang sedang mereka bahas.


"kemana?" Aska masih berkata dengan sabar saat ini


"Enggak tau, tadi dia ngajakin jalan nanti malam" Queen menunduk, menatap jarinya yang saling bertautan.


"Kenapa kamu mau?"


"Ya, dia janji mau ngerjain tugas aku, jadinya aku iya'in." Mendengar alasn Queen, Aska mulai tak terima. Hanya karena sebuah tugas kuliah. Ada berapa banyak tugas saat mereka kuliah, dan apa mereka akan terus janjian jalan hanya karena tugas.


Emosi Aska mulai naik. Tapi tak sampai meneriaki Queen. Ia berkata dengan tenang. Hanya dirinya sendiri yang merasakan emosi itu.


"Kamu kuliah buat apa kalau tugasnya di kerjain sama orang lain?" Meski Aska berkata dengan pelan. Tapi Queen tau, lelakinya mulai tak terima.


"Itu susah banget mas.." Queen merengek, tangannya bergelayut di lengan Aska. "Batas waktunya juga besok pagi. Aku nggak bisa ngerjainnya sendirian." Queen mencoba beralasan.


"Kenapa nggak minta bantuan saya? Kamu nggak percaya sama saya?" Tatapan Aska mulai tajam.


"Kamu kan capek mas, jam segini baru pulang, pagi banget udah berangkat, kalo masih harus bantuin aku, kapan kamu istirahatnya?" Queen berkata dengan semanja mungkin. Agar lelakinya bisa mengerti.


"Kalo kamu nggak bisa ngerjain tugasnya, buat apa kamu capek capek kuliah?" Queen terdiam.


"Harusnya kamu omongin ini lebih awal Ra. Kamu udah janjian baru kamu ngomong sama saya."


"Aku bisa kok batalin kalo kamu nya enggak ngijinin." Tutur Queen cepat sebelum Aska semakin panjang lebar.


"Tugasnya mungkin udah jadi, terus kamu batalin. Isi kepala kamu tuh apa? Dimana hati kamu?" Aska semakin tersulut emosi.


"Ya terus gimana?" Queen putus asa.


"Tau!" Aska membuang pandangannya. menatap ke arah luar pintu yang tak tertutup.


"Kasar banget sih mas.." Queen mulai sedih. Sebenarnya bukan karena sikap Aska, melainkan karena ia mulai menyesali keputusannya.


"Kapan kamu perginya?" Aska masih tidak ingin menatap Queen.


"Nanti jam tujuh kayaknya, tunggu dia jemput sambil ngasih tugas aku." Jawab Queen pelan.


Aska melirik jam dinding. Raut wajahnya semakin berubah. Terlihat jelas, kerutan di dahinya. dan alis yang saling bertautan. Membuat Queen tau, sedalm apa emosi Aska.


Aska mengusap wajahnya kasar dengan satu tangan. Dengan cepat ia bangkit, membuat Queen terperanjat kaget.


"Mau kemana mas?" Aska mengambil kunci motornya.


"Mau kerumah Rendi."


"Ngapain?" Queen tak senang dengan temannya yang satu itu.


Aska berbalik, menatap Queen lekat.


"Cowok mana sih Ra, yang mau liat pacarnya jalan sama cowok lain." Aska berkata tegas, tapi entah kenapa Queen merasakan rasa sakit di hatinya melihat wajah Aska.


Apakah ini juga yang di rasakan oleh Aska. Sakit dan perih. Meski tak berdarah, tapi itu cukup membuat air mata Queen menetes.


"Jangan nangis, emang mau keliatan jeleknya sama asdos kamu." Aska berkata lalu pergi dengan motornya, meninggalkan Queen yang masih terpaku duduk di atas sofa. Menatap kepergian lelakinya yang masih di liputi emosi.

__ADS_1


**Maaf ya, kesiangan.."


__ADS_2