
Bang Is benar-benar menjalankan apa yang ia ucapkan kemarin. Semalam, Aska berjaga semalaman di tenda darurat bersama dengan beberapa anggota lainnya.
Bayangkan saja, begitu banyak barang berharga yang tergeletak di pinggir jalan begitu saja, jika tidak di jaga, mungkin nantinya akan timbul masalah baru.
Pagi ini Aska sudah selesai membagikan makanan untuk para pengungsi dan warga sekitaran yang terkena dampak banjir, sudah berulang kali ia melihat layar ponselnya.
Gadis kesayangannya itu, tak kunjung bisa di hubungi. Tak ada kabar apapun dari siapapun saat ini. Dan tentu saja itu sungguh membuatnya setengah depresi. Larut dalam pemikiran, dengan berbagai versi.
Komandan telah tiba, dengan beberapa anggota yang akan menggantikannya bertugas. Dengan senyum licik mengembang, ia berjalan santai menghampiri Aska.
"Apa kabar Aska?" Penuturan komandannya yang sumringah, membuat hati Aska semakin gemas membalas perlakuannya. Apalagi dirinya dilarang menghubungi Rindi. Yang notabene nya adalah orang terdekat Queen.
"Kabar buruk komandan." Setengah lesu ia menjawab.
"Kenapa? Bukannya enak saya kasih cuci mata?" Aska memutar bola matanya malas, melihat senyum mengejek dari wajah atasannya itu.
"Ga sempet di cuci, airnya keruh semua." Meski jengkel, tapi ia tidak bisa berbalik dan pergi begitu saja, ada kata yang sangat ingin di dengar olehnya.
"Waduh, jangan kalo gitu, ntar sakit matanya nanti."
"Iya." Jawab Aska singkat. Abang Is tertawa.
"Lo udah makan belum sih?" Tanya komandan.
"Belum. Nggak ketelen komandan." Aska menunduk, pikirannya langsung menerawang jauh, mengingat gadisnya.
"Jangan begitu ka, masih banyak yang nggak bisa makan." Komandan menyentuh bahu Aska dengan tatapan serius. Tapi Aska tau, itu hanya akting.
"Masih banyak diluar sana yang nggak bisa makan. Dimana pun kita, harusnya kita bisa beradaptasi dengan lingkungan. Makan aja yang ada. Jangan pilih-pilih."
"Bukan gitu bang.. Ck, yaelah." Aska bingung, dan itu malah seperti hiburan untuk komandannya.
"Yaudah pulang sana. Gantian sama yang lain cuci matanya." Nah.. itulah kalimat yang sedari tadi Aska tunggu. Tanpa perlu basa basi lagi Aska berkata "Siap" dengan tegas, dan berbalik meninggalkan lelaki yang sudah membuatnya jengkel sejak kemarin.
Baru beberapa langkah Aska berjalan cepat, komandannya itu kembali memanggilnya.
"Aska.." Teriaknya, Aska berbalik menghadap dengan serius.
"Jangan sampe salah pintu ya, dari kemaren saya denger kamu salah masuk kamar orang terus." Aska terdiam kaku. Dia tak percaya atasannya itu meneriakinya seperti itu di depan banyaknya orang yang memperhatikan wajah tampannya.
habis dah reputasi gua. pikir Aska.
Ia hanya mengangguk pelan menatap atasannya itu, kemudian menggeleng samar tertunduk. Hal itu tentu saja di perhatikan oleh Bang Is. Semakin membuat tawanya menjadi.
sial..
__ADS_1
***
Aska kini sudah berada di depan pintu kamar kontrakannya. Pandangannya langsung tertuju pada beberapa pasang sepatu yang berada di depan pintu kamar Queen.
"Kok ada sepatu cowok" gumamnya pelan, sambil melepas helm yang ia kenakan.
Aska masuk kedalam kamarnya, membersihkan tubuhnya yang sejak kemarin belum sempat mandi. Kemudian memakai pakaian santai dan berjalan keluar dengan tak sabar.
Tok tok tok
Aska mengetuk pintu kamar Queen yang tertutup. Tak perlu waktu lama, ia melihat Rindi membukakan pintu.
"Iya, kenapa mas?" Suara datar Rindi membuatnya kikuk
"Ira nya ada?" dengan terbata ia menjawab.
"Ada. Kenapa?"
"Boleh ketemu?"
"Boleh. Mau ngapain?" Aska mulai kehabisan kesabarannya.
Yang bener aja nanyanya. Jodoh banget nih orang sama pacarnya.. isi hati Aska.
"Saya mau ketemu. Saya denger dia sakit, jadi mau jenguk sekalian. Boleh nggak?" Terpaksa suara tegas dan wibawanya ia keluarkan, demi membuat singkat segalanya.
Nah lho! kok ada si Arya?
Pikiran Aska seketika kosong, tak ingin berspekulasi. Apalagi melihat kekasihnya yang tengah tergolek lemas dengan mata terpejam.
"Eh bang.." Arya yang menyadari kehadiran Aska langsung bangun dari posisi duduknya di sebelah Queen tadi, menjabat tangan Aska.
Aska menerima jabatan tangan Arya dalam diam, memandang lurus ke arah Queen.
"Ira kenapa?" Tanya aska tegas.
"Nggak pa-pa bang cuma lemes aja." Jawab Arya pelan.
"Udah sarapan?"
"Udah. Abis minum obat langsung tidur lagi."
"Saya denger dia mual-mual?" Pandangan matanya masih menatap Queen intens.
"Em, bahasa sederhananya, dia masuk angin. Karena kena cuaca dingin dengan perut kosong." Aska mengangguk pelan mendengar penjelasan Arya.
__ADS_1
"Handphone Queen mana?" Aska menatap Rindi. Awalnya Rindi ingin bermain sebentar dengan Aska yang sudah menelantarkan sahabatnya itu, tetapi melihat ekspresi datar dan suar tegas Aska yang seperti mentitah, membuat nyalinya ciut seketika.
"Aku nggak tau" Jawab Rindi mengedikkan bahunya. Aska berpikir sebentar.
"Coba cari di tasnya, kecil warna coklat yang talinya panjang" Rindi dan Arya terdiam. Begitu jelas Aska menjabarkan.
Rindi mencarinya. Memang benar, tas ini lah yang kemarin Queen pakai saat pergi periksa ke dokter.
Setelah menemukannya Rindi memberikannya kepada Aska.
"Kamu, kenapa kemarin nggak kabari saya?" Sambil menerima ponsel Queen.
"Bang Is suka marah kalo aku hubungin mas Aska" Alasan Rindi. Aska menelan salivanya kasar, mendengar nama atasannya disebut.
Aska berjalan mendekat kearah Queen, memperhatikan wajah Queen yang tampak tidur dengan nyenyak. Mengusap rambutnya lembut.
"Kamu dari kemarin disini?" Aska bertanya kepada Arya.
"i.. iya bang" Arya memalingkan pandangannya.
"Em.. yaudah kamu bisa pulang, biar saya yang ganti jagain dia." Jika saja Aska tak mengingat bahwa Arya adalah orang ia sakiti dulu, mungkin ia takkan sebaik ini, membiarkan lelaki lain menginap di kamar calon masa depannya.
"Dia nginep disini sama aku juga kok" Rindi bersuara.
"Iya saya tau."
"Tau darimana?" Tanya Rindi.
"Dari pacar kamu." Jawab Aska asal.
"Masa? padahal aku nggak kasih tau dia lho." Aska memejamkan matanya, mendengar jawaban Rindi. Hatinya geram menahan emosi.
Kemana sih cewek yang nyomblangin gua sama Ira dulu. Dia bukan sih? jangan-jangan kembar lagi nih bocah.. pikir Aska.
Meski jarak usia Aska dengan Queen dan teman-temannya hanya empat tahun. Tapi entah kenapa pembawaan Aska terlihat lebih dewasa. Membuat mereka tidak berani melawan. Hanya Queen yang tampak santai merajuk di depan lelaki dewasa ini.
"Yaudah saya permisi dulu ya bang. Tolong jagain Queen." Pamit Arya yang mendapat anggukan dari Aska.
"Gue nebeng ya" Rindi menyela. "Jagain Queen yang bener ya mas. Inget jadwal makannya pagi siang malem. Jangan kelewat." Rindi memperingati. Kemudian jalan keluar menyusul Arya.
"Jangan lupa tutup pintu!" Titah Aska
Tinggallah Aska berdua dengan Queen kini. Melihat Queen dihadapannya, membuat hati Aska terasa ngilu. Mungkinkah Queen begini karena ulahnya kemarin. Aska benar-benar diliputi rasa bersalah.
Aska menggeser tubuh Queen, sedikit merapat ke dinding. Queen bergerak sebentar menyamankan posisinya, membuat Aska tersenyum melihat gerakan tubuh gadisnya.
__ADS_1
Kemudian ia ikut berbaring disebelahnya. merengkuh Queen dalam dekapannya. Ia sangat rindu akan gadisnya ini sejak kemarin.
"Saya ikutan tidur ya Ra. Ngantuk banget. Kalo kamu bangun duluan, langsung bangunin saya ya Ra.." Aska mengecup kening lembut, setelah berucap pelan di dekat telinga Queen. Kemudian memejamkan matanya, mencoba melepaskan rasa lelah pada tubuh juga hatinya.