Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
Posesif Aska


__ADS_3

Rintik hujan mulai turun, mengguyur pinggiran ibukota dengan perlahan dan semakin deras. Jalanan mulai basah, bahkan lubang-lubangnya yang terjadi karena jalanan yang rusak, perlahan mulai menggenang.


Queen mulai risau. Belum lama setelah keberangkatan suaminya tadi, hujan mulai turun. Queen tidak tau apakah lelakinya kehujanan atau tidak. Apakah suaminya tiba di tempat kerja dengan selamat atau..


Mengingat hal-hal manis sejak tadi siang, Queen takut, bahwa itu adalah pertanda buruk bagi keduanya. Tapi Queen tidak mau berfikiran yang aneh-aneh. Queen masih yakin, keadaan suaminya akan baik-baik saja. Selamat sampai tujuan.


Ya Tuhan.. semoga saja Aska dalam keadaan yang baik dan selamat. Queen terus berharap dalam hatinya. Pasalnya sudah dua jam yang lalu, dan Aska belum sama sekali menghubungi dirinya. Harusnya Aska meminjam ponsel temannya, sekedar untuk memberi kabar pada istrinya yang tengah berharap-harap cemas dirumah.


Queen tak tahan lagi, ia meraih ponsel lelakinya, mencari sebuah nama dalam deretan daftar kontak Aska. Queen menemukan nama Fiki, langsung saja Queen tekan warna hijau.


Betapa senangnya Queen, nomornya langsung terhubung. Meskipun membutuhkan waktu beberapa saat, hingga Fiki menjawab panggilannya.


"Halo, kak Fiki?" Tanya Queen.


"Bukan!" Jawab suara lelaki yang sangat familiar di telinga Queen. Tapi benarkah itu suara Aska, suaminya.


"Mas Aska?" Tanya Queen tak yakin.


"Heem.." Jawabnya ketus.


Queen menjauhkan ponsel Aska dari telinganya. "Kenapa sih ni orang?" Queen jengkel.


"Ada apaan telfon ke nomor Fiki segala?"


"Ya ampun mas, dari tadi aku nungguin kabar dari kamu. Semua punya kamu tuh ketinggalan. Dompet, STNK, KTP, hp. Kamu tuh ceroboh banget sih. Kalo ada apa-apa sama kamu di jalan gimana?" Omel Queen. Siapa yang nggak gondok, sedari tadi Queen menunggu kabar suaminya dengan cemas, tetapi yang di fikirin malah ketus.


"Iya saya tau ketinggalan, tapi ngapain telfon ke nomor Fiki? Kalo pas kamu telfon terus saya nggak ada di sebelahnya, dia yang bakal ngomong sama kamu." Aska tak mau kalah.


"Lah.. emangnya kenapa sih? Aku telfon dia juga kan buat nyariin kamu. Aku tuh khawatir sama kamu."


"Iya, iya.. terus sekarang mau apa?"

__ADS_1


"Mau apa gimana sih? Nggak jelas banget. Kalo nggak suka ya udah matiin aja, nggak usah nyolot gitu ngomongnya."


Keduanya sama-sama bicara dengan emosi. Bukankah harusnya Aska senang karena Queen berusaha mencari kabar dirinya, tapi yang Queen dapat adalah suara nada tinggi Aska juga cara bicaranya yang tak jelas.


"Yaudahlah, kamu jangan lupa makan malem, jangan tidur malem juga. Besok saya pulang cepet. Satu lagi." Nada bicara Aska yang dominatif juga tegas, membuat Queen fokus mendengarnya. "Nggak usah telfon-telfon ke nomor cowok di kontak saya. Denger?"


"Lah? Aku kan kenalnya sama Fiki doang mas?"


"Ya cari aja kontak yang namanya cewek, jangan cowok."


"Terserah aja lah mas."


"Inget ya, jangan tidur malem. Biar besok kamu udah bangun sebelum saya sampe."


"Iya bawel." Queen memutuskan panggilannya. Dasar. Ada apa dengan Aska, ia begitu protektif. Bukan lagi Queen yang tidak boleh memberikan senyumnya untuk teman Aska, Queen juga di larang menelfon, meskipun alasannya adalah mencari keberadaannya.


Helo mas Aska.. wanita mana yang ingin mencari keberadaan suaminya, dengan bertanya dengan wanita lain. Yang ada nantinya akan terjadi kesalahpahaman.


***


Fiki diminta push up hingga 100kali. Andai Fiki menolak, ia harus mencari tukang rujak di jam yang sudah melewati waktu Maghrib. Di tambah guyuran hujan lebat, mana ada tukang rujak yang masih mau menjajakan dagangannya.


Tempat rujak yang Fiki tau juga, sudah tutup jika jam segini. Jadi Fiki memilih untuk menerima tawaran push up seratus kali dari Aska. Rasakan!


Beberapa anggota polisi yang ada di kantor tertawa melihat ulah Aska dan Fiki. Keduanya seperti tom and Jerry. Meskipun selalu ribut dan berdebat, tapi mereka terlihat sangat dekat.


Belum genap lima puluh, ponsel Fiki berdering dengan nama Aska tertera si layar. Tentu saja membuat Fiki bingung. Ia fikir ponsel Aska hilang, karena itu ia memberi tau pada pemilik nomor tersebut. Untung saja Fiki tidak menjawab sebelumnya, andaikan ia jawab dulu, entah bagaimana ekspresi Aska, saat mendengar Queen berbicara dengan Fiki. Pastilah Fiki yang akan menanggung akibatnya lagi.


"Udah lah udah aja. Bosen gua liat lu. Masih kerenan juga gua kalo lagi push up." Aska melengos meninggalkan Fiki dengan wajah meledek Aska.


"Dasar lo, polisi korban perempuan." Seru Fiki pelan. Iya tak ingin Aska mendengarnya.

__ADS_1


***


Malam kian beranjak larut, subuh sudah hampir menjelang. Aska yang duduk di balik meja piket sudah merasa lapar lagi. Padahal bekal yang ia bawa hasil masak bersama istrinya tadi sudah habis. Tapi kini isi perut Aska sudah kembali kosong, menghasilkan getaran yang membuat Aska lapar.


"Fiki. Beli apaan kek sono. Laper banget gua." Aska memelas.


"Bodo amat, lu yang laper kenapa mintanya sama gua?" Fiki tak menanggapi.


"Gua nggak bawa dompet, nggak bawa hp. Mau bayar make apaan."


"Make muka ganteng lo aja. Kasih kedipan, terus senyum, terus lu ambil deh tuh makanannya." Ucap Fiki santai.


"Muka gua nggak seganteng nabi Yusuf, yang bisa bikin orang yang ngeliatnya jadi gagal fokus. Gua juga bukan cowok modus kayak lo." Cerca Aska.


"Yaudah kalo nggak mau mah, tahan aja perut lu yang laper. Tahan ampe lu sampe di rumah, palingan lu yang di suruh bini lu buat cari sarapan. Haha.."


Aska mulai terpancing. "Awas kalo lu nanti minta bantuan gua." Kesal Aska.


"Gua sih mau bantuin lu mas bro." Fiki menatap Aska dengan seringaian. "Asal ada syaratnya."


"Apa?"


"Bagi foto bini lu dong. Waktu lu nikahan juga nggak pa-pa. Demen banget gua ngeliatnya."


"Lo tuh, **** apa gimana sih Fik? Lu minta foto bini orang sama lakinya sendiri gila." Aska memuncak. "Jangan sampe lu gua bikin putus sama pacar-pacar lu ya.." Tantang Aska.


"Yaelah.. selow apa mas bro.. susah payah gua dapetin mereka, kalo lu sih enak, tinggal nyodorin nomor hp terus mereka yang nelfonin lu duluan. Lah gua?" Fiki menunjuk wajahnya sendiri. "Butuh perjuangan joga modal buat mereka mau sama gua." Ia memasang senyumnya kecut.


"Sabar ajalah." Aska tak ingin meladeninya, lebih baik ia mendengarkan suara orang mengaji dari masjid terdekat kantornya


Meski itu bukan suara orang yang membaca Alquran secara langsung, tapi setiap lantunan ayat-ayat suci yang Aska dengar, membuat hatinya terasa tenang dan damai. Cukup lama Aska memusatkan pendengarannya pada suara merdu dari masjid itu. Sampai suara adzan berkumandang, secara bersahutan dengan masjid yang lainnya. Tanda dirinya akan pulang sebentar lagi.

__ADS_1


Terbayang wajah cantik Queen yang sudah sejak kemarin malam tak ia lihat, juga tak mendengar suaranya. Betapa ingin Aska memeluk tubuh mungilnya saat dingin subuh melanda. Tubuh yang kini sudah menjadi miliknya seratus persen. Dan hanya untuknya sampai akhir hayatnya. Aska akan memastikannya selalu.


Tunggu! Apakah Aska memang selalu protektif dan se-posesif sekarang? Atau Ini hanya perasaan Aska semata? Sikapnya mulai berbeda.


__ADS_2