
Oh, begini rasanya kehilangan dirimu kekasih
tak pernah ku bayangkan sakitnya akan separah ini
kau telah pergi dari hidupku
Oh mengapakah kau tinggalkan aku seperti ini?
saat aku berharap
cinta ini masih bertahan untuk kita
Oh mengapakah kau membawa semua kenangan indah kita dulu?
kini berakhir semuanya
Oh begini rasanya kehilangan dirimu, kekasih..
Tak pernah kubayangkan sakitnya akan separah ini.
Cukup lama Rendi berada di depan rumah Aska, sesuai permintaan temannya yang sedang berjuang demi keutuhan rumah tangganya. Hari ini untuk pertama kalinya, setelah hampir sekian lama Aska selalu pulang terlambat, Aska datang tepat di jam yang seharusnya.
Raut wajah tegangnya terpampang jelas terlihat oleh Rendi. Cepat-cepat ia memarkirkan motor dan mematikan mesin. Ia menghampiri Rendi yang benar-benar menjadi satpam penjaga pintu kamarnya.
"Lu di telfonin kenapa nggak di angkat sih?" Aska kesal, sambil membuka helm ia melampiaskan isi hatinya.
"Sorry ya.. hp gua ketinggalan di kamar. Buru-buru gua kemarinya bro." Rendi biasa saja menghadapi Aska.
Aska tak lagi menghiraukan Rendi, ia berjalan masuk kedalam tanpa mencopot sepatu, bergegas mencari Queen.
"Ra?" Ia melihat ke dalam kamar, tapi Queen tak ada. Selanjutnya ia menuju kamar belakang, tempat kulkas, meja makan, juga alat makan lainnya, namun Queen tetap tak ada. Harapan terakhirnya adalah dapur dan kamar mandi, tempat terujung dari kontrakan mereka.
"Ra.."
"Apa?" Sapaan Aska di balas dengan jawaban sinis dari Queen. Ia bahkan tidak melirik sedikitpun ke arah Aska.
Suara nafas berat Aska terdengar, begitu berhasil menemukan Queen.
"Em.. kamu lagi apa?"
"Cuci piring,"
"Aku tau kok." Aska mencoba melingkarkan tangannya di atas perut Queen. Namun Queen menolak.
"Kenapa Ra?"
"Nggak pa-pa."
Aska kecewa. Dalam hatinya benar-benar kecewa dengan sikap penolakan dari Queen. Tapi ia tau, bahwa sakit hati Queen sangat dalam. Wajar saja jika Queen masih enggan menerimanya.
"Aku bener-bener minta maaf Ra." Sekali lagi Aska mencoba memeluk Queen dari belakang. Dan penolakan itu kembali ia terima. Queen mencuci tangannya hingga bersih, barulah ia berbalik menghadap suaminya. Mendorong Aska hingga mundur beberapa langkah kebelakang.
"Kamu masih inget nggak mas, apa yang aku minta tadi pagi?" Wajah Queen serius.
Aska tidak bergeming. Pandangannya ikut serius menatap Queen. Ia berfikir, apa yang harus ia lakukan untuk mengalihkan pembicaraan yang tak menyenangkan ini.
"Kalo kamu lupa biar aku ingetin. Aku mau kita pi.."
Cup.
Aska menghentikan kalimat yang hendak Queen ucapkan dengan satu kecupan. Queen sempat terdiam sesaat, terkejut dengan perlakuan Aska. Namun sedetik kemudian, bukan rona merah yang biasa Aska lihat ketika Queen tersipu. Raut wajah Queen benar-benar marah. Siapa yang sangka, jika hal romantis kesukaan Queen, malah menyulut emosinya kini.
"Apa-apaan kamu?" Sentak Queen.
Giliran Aska yang terkejut. "Kenapa emang aku?"
"Enak banget ya jadi kamu!"
"Aku kenapa?" Aska masih bingung.
__ADS_1
"Dirumah ada aku, kamu bisa ngelakuin yang ada di fikiran kamu sama aku. Terus di luar, kamu ada dia, kamu juga ngelakuin seenaknya yang kamu mau sama dia. Sedangkan aku? Apa yang bisa aku lakuin disini? Cuma nungguin kamu yang nggak tau pulang kerja atau kamu abis mesra-mesraan sama cewek lain. Aku ini lagi hamil mas, anak kamu! Apa kamu juga mau punya anak dari dia? Ha?" Queen histeris, ia terus berbicara. Mencoba meluapkan isi hati juga fikirannya.
"Dih, nggak begitu Ra. Kamu nggak tau yang sebenernya." Aska terpancing emosi dengan tuduhan Queen.
"Iya!! Aku emang nggak tau! Aku nggak tau karena kamu yang selalu nutup-nutupin kebenaranya."
"Iya makanya dengerin saya dulu."
"Dengerin apa? Aku harus ngedengerin kebohongan kamu terus gitu?" Manik mata Queen melotot menatap Aska, seperti menantang.
"Iya saya akuin, kemaren emang saya bohong. Tapi sekarang saya bisa ngejelasin apapun yang kamu mau Ra."
"Alaah.. Sekali bohong tuh selamanya tetap bohong mas. Satu kebohongan nggak akan cukup nutupin kenyataan."
"Aku nggak nutup-nutupin ya Ra. Kamu nya yang nggak mau dengerin penjelasan saya!"
"Penjelasan apaan? Penjelasan tentang perasaan kamu sama cewek itu? Penjelasan tentang hubungan kalian? Atau penjelasan soal apa aja yang udah kalian lakuin?" Queen memberi jeda. "Nggak perlu mas. Dulu aku juga ada di posisi dia. Cuma keadaanya aja yang beda. Jadi aku tau gimana kelakuan kamu sama dia. Nggak usah banyak ngomong deh mas, biar nggak banyak bohongnya." Queen berjalan ke depan, meninggalkan Aska yang juga mengikutinya.
Aska tak ingin pembicaraannya berakhir dengan tragis, karena itu ia mencekal lengan Queen, agar menghentikan langkahnya.
"Ira.."
"Apa? Apa? Mau ngomong apa lagi ha? Mau bohong apa lagi? Ayok, coba.." Tantang Queen. Suaranya keras, hingga Rendi mendengar kemudian masuk menghampiri keduanya.
"Saya nggak bohong Ra. Ini cuma salah paham doang. Kamu bisa diem dulu nggak sih? Dengerin saya dulu sebentar."
"Wey.. wey.. ada apaan nih? Rame bener." Rendi mencoba melerai.
"Ini nih cowok yang lagi puber kedua. Maunya menang sendiri, mau enaknya sendiri aja."
"Saya tuh enak apanya sih Ra? Daya nggak ngapa-ngapain, saya cuma jadi benang buat Rendi sama Dissa."
"Ooh.. namanya Dissa? Boleh juga namanya, orangnya juga lumayan.. kayaknya seumuran sama kamu. Pantes aja, kamu lupa sama yang di rumah." Queen menepis tangan Aska keras, kemudian menarik koper yang sudah ia siapkan sejak tadi.
Sebenarnya Aska sudah merapihkan isi koper Queen yang sebelumnya, tapi siang tadi, Queen kembali memasukan pakaian yang biasa ia kenakan ke dalam koper itu.
"Queen tunggu dulu." Rendi ikut mencegah agar Queen tidak keluar.
"Gua enggak ikut campur, gua cuma nggak enak aja, gimanapun juga gua juga bersalah disini Queen."
"Minggir. Kalian berdua emang sama aja. Kalian pasti udah sekongkol buat cari alasan. Aku nggak akan perduli lagi sama omongan kalian."
Rendi menatap Aska cemas. Ia melihat Aska yang juga sedang di sulut emosi. Raut wajah Aska tak lagi menggambarkan kesabarannya.
"Ira! Kalo kamu berani keluar dari pintu itu, kamu nggak bakal lagi bisa ngeliat jalanan di depan sana!!" Ancam Aska.
Baginya, Queen sudah melewati batas. Ia sudah di luar kendali, kesabaran tidak bisa lagi Aska berikan untuk wanitanya yang sedang sangat marah.
"Apa? Kamu pikir aku takut, kamu udah nggak ada hak buat ngelarang-larang aku."
"Saya suami kamu Ra. Jangan yang aneh-aneh ya.!"
"Hah suami? Masih bisa ngomong suami. Suami yang punya simpenan dari istri yang lagi hamil." Sarkas Queen.
"Kamu tuh. Di baikin dari tadi. Bisa diem nggak sih kamu? Ha? Mau kamu tuh apa sih?"
"Aku? Aku mau kita pisah!"
"Queen!!" Rendi kembali bersuara. Ia sudah mendengar dari cerita Aska,namun hatinya benar-benar seperti tertusuk saat mendengar secara langsung dari mulut Queen. Otaknya tidak bisa lagi bercanda. Keadaan ini benar-benar di ujung tanduk bagi keutuhan rumah tangga mereka.
"Oke. Kalo kamu emang mau pisah. Kita bahas sekarang!"
"Aska!!" Rendi benar-benar di beri kejutan setiap detiknya. "Ngomong apaan sih lu As. Gila ya lu?!"
"Biarin aja. Itu kan yang dia mau. Biar dia puas sekalian."
"Wuah.. gila lu emang."
"Duduk sini, kalo kamu emang udah bulet sama keputusan kamu." Titah Aska pada Queen.
__ADS_1
Queen menatap Aska serius. Ia sedikit tak percaya dengan pernyataan suaminya tadi.
"Kenapa? Nggak mau juga?" Tantang Aska tak sabar.
Queen perlahan menurut dengan ucapan Aska. Ia duduk seperti apa yang di perintahkan, meski hatinya tidak seratus persen percaya. Aska ikut duduk di sofa single.
"Lu bisa balik sekarang Ren, makasih banget udah mau jagain bini gua sampe gua pulang."
"As.. lu ngerti nggak sih ama yang lu lakuin?" Rendi benar-benar cemas.
"Gua tau apa yang terbaik buat gua sama dia." Aska memandang Queen dengan tatapan tajamnya. Sampai Rendi menendang kursi yang Aska duduki, barulah ia pergi meninggalkan dua orang dengan otak konyolnya.
"Ayok, sekarang, coba kamu ngomong apa mau kamu?" Aska memulai percakapan dengan nada lebih rendah di banding tadi.
"Aku mau kita pisah."
"Oke. Kalo itu mau kamu."
Queen terdiam sebentar, mencari maksud lain lewat pandangan mata Aska. "Kamu yakin mas?"
"Lho! kok kamu malah nanya sama saya? Kan kamu yang minta. Kamu tau ka, saya bisa kasih apapun yang kamu mau. Apalagi kamu sampe bilang berkali-kali."
"Aku tuh minta pisah lho mas.." Sekali lagi Queen mengatakan, mungkin saja suaminya tadi salah dengar.
"Iya saya tau. Saya denger dengan jelas setiap kalimat kamu" Aska masih dengan nada suara yang sama. Ia begitu tenang kali ini.
"Oh bagus deh kalo denger."
"Jadi, mulai kapan?"
"Apa?" Queen terdiam sebentar. "Oh.. lebih cepat lebih baik."
"Oke, sesuai permintaan. Tapi masalahnya Ra. Saya nggak tau gimana caranya."
"Bohong aja kamu nggak tau." Queen memicing.
"Emang saya nggak tau, saya nggak pernah cari tau caranya." Aska nampak tak perduli.
"Yang aku tau, secara agama mas tinggal bilang cerai juga udah jatuh talak."
"Masa sih Ra?" Kini Aska memajukan wajahnya, ia nampak serius dengan jawaban Queen. "Gampang banget ya Ra buat saya."
"Ya emang.."
"Terus abis itu apalagi?"
"Yaudah tinggal ke pengadilan."
Aska mendapatinya. Ia melihat nada suara Queen sudah mulai rendah, yang berati emosinya juga sudah lebih baik di banding tadi. Hatinya bisa sedikit tenang. Setidaknya ia bisa menahan Queen bersamanya dalam beberapa saat.
"Kok kamu tau banget sih Ra? Kamu niat banget ya, pasti kamu cari-cari di mbah gugel. Ya kan?"
"Enak aja. Aku nggak pernah cari hal yang nggak penting ya buat aku."
"Terus, kamu tau dari mana?"
"Bukannya aku udah pernah bilang ya, dulu orang tua aku kan pisah. Sedikit banyaknya aku tau lah.."
Sambil mendengar jawaban Queen, ia berdiri memdekati pintu, lalu menutup kemudian menguncinya. Tak lupa Aska juga mencabut kunci secara pelan-pelan tanpa pengetahuan Queen.
"Oh.. semoga kita nggak ngalamin kayak gitu ya Ra.." Jawab Aska, ia berjalan tapi tidak kembali duduk di sofa, melainkan berlalu meninggalkan Queen menuju kamar, melepas sepatunya dengan senyum yang terulas.
"Amiin.." Queen terhenyak. Ia tak sadar dengan ucapannya. "Lho!Mas Aska mau kemana?"
"Mau mandi." Setelah melepas sepatunya dengan cepat, Aska berlari menuju kamar mandi dengan senyum kian mengembang.
"Mas Askaaaaaa....." Teriak Queen. Ia baru sadar jika dirinya sudah ditipu sesaat oleh suaminya.
🙃🙃😉
__ADS_1
aku selalu nyanyi setiap mau nulis cerita. 😄