
Ada yang nyebut nama Rendi kemaren???.
***
Seharian ini Queen benar-benar di buat sibuk oleh ulah suaminya. Entah ada apa dengan diri lelakinya itu, terllau banyak hal yang di minta oleh Aska, sampai Queen tidak memiliki waktu untuk istirahat.
"Udah jadi belom kuenya?" Aska menghampiri Queen yang kini tengah berkutat di dapur. Tatapannya fokus pada adonan yang sedang ia mixer, tanpa mau menjawab pertanyaan suaminya.
"Masih lama nggak?" Untuk menghibur hati istrinya, Aska memeluk Queen dari belakang.
"Awas ah, jangan ngeribetn." Akhirnya Queen membuka suara.
"Iihh.. galak banget sih." Aska melepas pelukannya, mencubit pipi Queen pelan. "Yang ikhlas dong bikinnya.." Aska masih berdiri di samping Queen, mengamati benda itu bergerak memutar adonan dengan tempo teratur.
"Kurang ikhlas gimana aku tuh?" Queen melirik Aska sekilas. "Semalem mintanya sup ayam sama sambel, udah aku bikinin cape-cape malah nggak di makan. Terus ituh ager isi buah sebanyak itu buat apa? Kalo anaknya pengen aja nggak di kasih." Mata Queen memicing tajam menatap Aska. "Sekarang, baru aku mau istirahat malah di suruh bikin kue bolu segala. Jahat banget kamu hari ini tau."
Aska tertawa, melihat wajah Queen yang sedari pagi terus masam, tapi tetap mau menuruti setiap permintaan suaminya.
"Aku minta maaf ya sayang..." Aska memijit kedua bahu Queen. "Sebagai gantinya, nanti malem aku enakin deh kamu. Gimana? hm? hm?" Aska menghadap Queen, memainkan alisnya naik turun, menggoda wanitanya.
"Apaan? Kalo enak yang kamu maksud itu olahraga malem, sama aja enakin kamu juga itu mah."
"Ya nggak pa-pa lah Ra, artinya ini hari aku. Seharian tenaga kamu untuk nyenengin aku." Aska mengedipkan sebelah matanya, setelah itu pergi meninggalkan Queen sendiri.
Di ruang sofa, Gita tengah duduk manis sambil memainkan beberapa boneka yang ia jejer menyandar pada punggung sofa.
"Hai sayang.." Aska mencium pipi buah hatinya. "Om Rendi mau dateng lho hari ini.." Gita tersenyum antusias ke arah ayahnya.
"Yee.. yame dong yah nanti." Gita memang belum bisa mengucapkan huruf 'R' dan 'L'. Tapi itu yang membuat dirinya jadi bahan candaan oleh ayah dan om - sahabat ayahnya itu.
"pelan-pelan ngomongnya, jangan sampe bunda denger.. Oke?" Aska ikut berbisik.
"Takut nda mayah ya yah?" Wajah Gita imut saat bertanya pada Aska.
__ADS_1
"Heem.. nanti juga ada Farhan, sama om Arya. Rame deh pokoknya."
"Asik.. kalo ada Pahan hayus banyak makanan yah.. biay Pahan cepet gede." Celotehnya.
"Kan bunda udah masak banyak."
"Tapi Pahan sukanya buah yah.." Wajah Aska berubah malas seketika. Buah hati semata wayangnya ini selalu saja mengutamakan Farhan. Mengingat betul apa yang menjadi favorit teman kecilnya itu.
"Bunda udah masak ager yang dalemnya ada buahnya. Farhan bisa makan itu ta.." Aska memberi pengertian.
"Tapi Pahan sukanya buah pisang yang keciy-keciy itu yah.. Ayah udah punya beyum?" Gita masih mendesak ayahnya tentang kesukaan Farhan.
"Oke, kita telfon om Rendi, buat beliin pisang kecil itu, oke?" Gita mengangguk setuju dengan cepat.
"Tata yang biyang sama omnya.." Aska mendial nomor Rendi, lalu memberikan ponselnya pada Gita saat tersambung.
"Hayo om.." Sapa Gita.
"Eh.. anaknya om, ada apa sayang?" Jawab Rendi santai. Rendi memang seperti itu saat berbicara dengan Gita, membuat Aska jengkel seketika. Seperti saat ini ia bergumam sendiri mendengar ucapan Rendi.
"Ha? Apaan?" Rendi kurang mengerti ucapan Gita.
"Pisang kecil kesukaan Pahan itu om." Baik, Rendi masih kurang mengerti.
"Om mau nanya sama ayah dulu dong, boleh nggak?" Rendi mengikuti gaya bicara Gita.
Bocah cantik itu menyerahkan ponselnya pada ayah di sebelahnya.
"Apaan si, gua nggak ngerti."
"Pisang kecil dodol. Gitu aja nggak ngerti. Lu beliin tuh di pasar lembang noh, buanyak disono."
"Oh.. yaudah. Ini gua udah siap meluncur, yaudah ya, gua matiin, entar pulsa gua abis lagi. Bye."
__ADS_1
Rendi mematikan sambungannya, sedangkan Aska terpaku heran. "Tadi ayah apa om Rendi sih yang telfon?" Tanya Aska pada Gita.
***
"Oh, kak Rendi?" Queen terkejut mendapati tamu tak ia undang hadir di balik pintu rumahnya. "Masuk kak. Mas Aska ada di dalem." Rendi dengan satu kantong plastik penuh dengan pisang kecil, melangkahkan kakinya santai masuk ke dalam.
"Mana anak aku?" Bertanya pada Queen, namun kalimat Rendi khas di telinga Aska. Ia lalu keluar dengan Gita menghampiri si pemilik suara.
"Kalo ngomong. Nikah aja belom udah ngomongin anak mulu lu." Balas Aska.
Terlalu biasa bagi Aska dan Queen mendengar kalimat itu Kalau Aska selalu kesal, Queen hanya mengabaikannya sambil tersenyum.
"Ah, ngapain nikah segala, kan udah ada Tata ya," Rendi membawa Gita di atas pangkuannya, "Ya nggak ta?" Mencium gemas pipi si kecil. Gita tertawa geli dengan bulu-bulu halus di dagu Rendi, mengusak pipi nya.
"Buruan nikahin si Zahra, jangan di tidurin doang, udah kelamaan, di ambil orang baru tau rasa lo."
"Gua udah sering di selingkuhin sama dia, kalo lu mau tau."
"Yang bener kak? Ya ampun." Queen terkejut, ia baru datang dari dapur membawa minuman untuk Rendi.
"Nggak usah kaget gitu Ra.. dia itu nggak seganteng aku, ya wajarlah kalo masih di selingkuhin sama Zahra." Aska sombong.
"Gile, kalo ngomong. Lupa lu kalo si Zahra lebih milih gua di banding elo." Rendi.
"Dia sama lu itu karna gua tolak. Lupa? Ha?" Aska.
"Terus aku cuma pelarian kalian doang?" Queen.
Rendi dan Aska langsung beralih fokus pada wanita di hadapan mereka.
"Ya.. kan aku nolak Zahra karena kamu Ira sayang.." Suara Aska lembut.
"Malam aku emang ama Zahra, tapi hati aku masih buat kamu kok my Queen." Randi dengan tatapan menggodanya.
__ADS_1
"Tata juga sayang nda.." Si kecil membuka suara. Membuat tiga orang dewasa itu menoleh seraya tertawa bersamaan.
🙃🙃😉