
Queen masih tak terima dengan kenyataan yang ia terima saat ini. Kenapa lelakinya bisa sampai hati menuliskan kata-kata untuk berpisah.
Sebenarnya apa alasan yang membuat lelakinya memilih meninggalkannya?
Apakah ia mulai lelah dengan sikap manja Queen selama ini?
Atau ia sudah tak menginginkan restu dari mama Queen?
Tapi kenapa? Kemarin, semua masih baik-baik saja. Aska bahkan tak melepaskan pelukannya sampai Queen tertidur lelap.
Mata kuliah Queen telah usai, Queen memilih duduk di kantin, memesan makanan tanpa ada rasa selera makan dalam dirinya.
Queen sudah tak tahan. Karena telfonnya tak kunjung di angkat Aska, Queen memilih untuk mengirim sebuah chat.
"Mas Aska, kenapa telfon aku nggak di angkat?" Dengan sisa-sisa harapan yang ia miliki, Queen terus memandangi isi layar ponsel. Sampai saat datang balasan pesannya.
Saya sibuk. Singkat dan jelas. Queen tertegun, ada rasa sakit yang menusuk saat ia membaca. Kenapa rasanya berbeda dari Aska nya yang dulu.
"Aku nemuin kertas di atas meja tadi pagi, itu punya kamu?" Jantung Queen berdegup lebih kencang, masih ada harapan, bahwa itu semua hanya kesalahpahaman. Lagi, dan lagi.
Untuk kamu. Pass!! Pas sekali di hati Queen.. Aska benar-benar tau caranya memberikan kejutan untuk hati Queen.
Bukan itu pertanyaan Queen, tapi jawaban dari lelaki setengah dewasa itu berikan, sungguh pas untuk membuat Queen cepat mengerti.
Disini. Di tengah keramaian isi kantin saat jam makan siang. Queen sudah tak ada lagi kekuatan dalam dirinya. Tangis Queen pecah. Ia terisak sejadi-jadinya. Air mata yang sejak pagi tadi ia tahan, seolah memberontak. Mengalir dengan derasnya tanpa memperdulikan rasa malu lagi. Membuat siapapun yang berada di dekatnya terkejut.
Queen terluka. Hati Queen seperti sudah di ambil paksa. Tenaga dalam dirinya pun sudah tak ada lagi. Queen menyembunyikan wajahnya di atas meja, dalam kungkungan tangannya.
Kenapa lelakinya menjadi seperti ini. Tidak taukah ia, bahwa hati Queen sudah ia berikan seluruhnya untuk lelaki itu.
Queen sadar, sikap manjanya memang sering keterlaluan. Tapi itu karena ia merasa nyaman berada di dekat lelakinya. Tidak mengerti kah Aska? Tidak bisakah ia memberikan penolakan secara halus sebelumnya, jika ia memang tak suka sikap Queen itu? Kenapa baru sekarang? Kenapa baru sekarang ia pergi, saat Queen sudah tak mampu kehilangan lelaki yang mulai menjadi brengsek untuk Queen.
Suara gadis konyol itu membahana di tengah kantin. Queen mulai menjadi perhatian. Siapapun yang berada di sekitar pasti melirikan matanya menatap Queen.
Tapi tak satupun yang berani mendekat pada Queen. Mereka kenal Queen, mereka juga tau Arya. Sungguh tak ingin ada kesalahpahaman nantinya yang mungkin akan berakibat buruk.
Semenjak kepergian Queen dari hidupnya. Arya benar-benar lepas kendali. Arya tidak lagi menjadi lelaki ramah yang selalu terlihat tersenyum. Ia menjadi brutal, sekali senggol maka tak ada ampun.
Bagi mereka yang pernah satu sekolah saat menengah akhir pasti tau bagaimana sikap Arya dulu, tapi semenjak bersama Queen, Arya menjadi lebih tenang dan terkendali.
Maka dari itu, mereka takut kalau Arya melihat Queen menangis, pasti tidak akan mau mendengarkan penjelasan apapun.
Jadi, mereka lebih memilih memberitahukan kepada Arya, bahwa gadis yang masih menjadi ratu di hatinya, sedang terpuruk dan menangis di tengah kantin.
Entah siapa yang memberi kabar, kapan Arya tau. Yang jelas Arya sudah datang dengan nafas memburu, menerobos keramaian mahasiswa yang hendak berjalan ke kantin.
__ADS_1
Arya duduk di sebelah Queen. Tangannya mengusap lembut atas kepala Queen. Gadis itu tau, siapa pemilik tangan ini. Wangi parfum coklat kesukaan Queen, masih Arya kenakan.
"Queen.." Bisik Arya halus, tubuhnya setengah membungkuk, menyamakan tinggi mereka.
Queen masih terisak. Tak mampu menyapa Arya, atau menjawab panggilan sang mantan.
"Kamu kenapa? Cerita sama aku." Suara Arya begitu lembut, tapi kenapa hati Queen malah semakin sakit.
Ucapan yang tak seharusnya keluar dari mulut Arya. Sekarang Queen dengar, karena Aska. Queen memilih Aska, menjatuhkan hatinya di tangan lelaki tua yang menyebalkan, dan meninggalkan Arya.
Queen semakin sedih. Kadang kebodohan selalu saja berakhir dengan penyesalan. Queen menyesal meninggalkan Arya. Tapi hati Queen sudah terpatri pada Aska.
Arya melirikan matanya ke sekeliling. Melihat tatapan-tatapan dari mahasiswa dan mahasiswi lain di sekitar kantin. Aska geram. Tak rela gadisnya di pandang rendah.
Arya berdiri, menggebrak meja dengan keras. "Ngapain lo pada liat-liat? Nggak pernah ngeliat orang nangis? Mau nyobain lo?" Arya geram.
Seketika semua pasang mata yang awalnya menatap Queen, langsung tertunduk mengalihkan pandangan mereka. Sungguh. Mereka masih sayang nyawa. Rasanya tak sebanding jika harus babak belur hanya karena kepo dengan alasan tangisan Queen. Meski sebenarnya itu membuat mereka sangat penasaran.
Setelah kondisi di rasa aman. Arya kembali membungkukkan tubuhnya di dekat Queen. "Coba kasih tau aku alasan kamu nangis." Ada nada kesal yang terselip disana. Queen tak ingin masalah semakin rumit. Atau Queen sedang butuh penjagaan bagi dirinya.
Gadis itu memberikan kertas yang ia temukan di atas meja kamar Aska tadi pagi, tanpa menoleh ke arah Arya. Arya menerimanya, tangan Queen bergetar. Rasa sakit itu pasti nyata dan dalam.
Pernahkah ia membuat gadis manja ini menangis seperti ini. Ah, rasanya tidak pernah. Arya juga belum pernah melihat Queen menjadi se-menderita ini.
Arya membacanya, guratan urat syaraf yang menegang, dan gertakan rahang Arya terdengar. Arya sangat emosi.
Tak kunjung dapat jawaban, Arya mengambil ponsel Queen, mencari nomor Aska dan memasukan dalam kontak ponselnya sendiri.
Amarah itu sudah tak tertahan, Arya marah, emosi. Pikirannya sudah tak karuan. Yang ia tau, ia harus mendapatkan penjelasan dari siapapun itu. Karena Queen tidak bisa, maka sang lelaki yang ia tuju sekarang.
Memerlukan waktu yang sedikit lama, sampai Aska menjawab panggilan nomor tak dikenal dalam layar ponsel.
"Halo." Suara tegas itu. Suara yang Arya kenal, sangat ia ingat saat merampas yang paling berharga dalam hidupnya.
"Halo. Dengan bapak Aska." Suara Arya tak kalah tegas, kali ini karena emosi.
Aska juga masih mengenali suara itu, ia memicing, tak suka dengan jawaban dari Arya. "Ada apa?" Bukankah Aska sudah bersikap baik pada Arya? Bukankah Aska sudah memperingatkan untuk memanggilnya dengan sebutan abang? Aska tak mengerti.
"Maaf Bapak Aska yang terhormat. Apa yang udah lo lakuin sampe Queen gue kayak gini." Sentak Arya keras.
Aska tak menanggapi pertanyaan Arya. Ia lebih fokus pada dua kata Arya barusan 'Queen gue'. Apa maksud bocah ingusan ini.
"Maksud kamu?" Aska tak terima, sikap lelaki dewasa yang tegas mulai Arya rasakan dari nada suara Aska.
"Dia nangis nangis di tengah kantin karena tulisan lo dan lo nggak tau? Lo nggak perduli? Cowok apaan lo? Nyesel gua ngerelain Queen begitu aja sama lo? Muka doang lo sangar, tapi bisanya nyakitin cewek doang." Tutur Arya yang sudah tak terkendali.
__ADS_1
"Yang cowok apaan itu saya atau kamu? Dari tadi nyerocos mulu. Jangan ikut campur masalah saya." Aska memutuskan sambungan telefonnya. Membuat Arya semakin geram. "Sialan!!" Sentak Arya kasar.
Arya semakin tak habis pikir, apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia benar-benar dendam dengan Aska, tapi Arya juga sadar, tidak akan mudah bagi dirinya menang melawan Aska.
Entah itu bertemu empat mata seperti saat dulu, atau melalui sambungan telepon seperti yang tadi ia lakukan, Arya akan tetap kalah pada sikap tenang dan tegas Aska.
Sepuluh menit sudah berlalu, Arya tak tau harus bagaimana dengan Queen saat ini. Ia hanya bisa menemaninya duduk, seraya mengusap punggung belakang sang mantan.
Queen memang sudah tidak tersedu-sedu seperti tadi. Tapi air matanya masih saja mengalir sendiri dari ekor matanya. Queen menjatuhkan kepalanya di atas meja, miring menghadap Arya.
Ah.. tidak taukah Queen, melihat mata Queen yang begitu berair, bengkak dan merah, membuat hati Arya semakin panas. Karena Queen yang enggan di ajak pergi dari kantin, maka yang bisa Arya lakukan hanya diam, menunggu keinginan Queen selanjutnya.
"Queen." Suara lelaki yang tak kalah tegas memanggilnya. Queen kenal dengan suara ini, tapi tidak dengan Arya.
Arya menoleh lebih dulu dengan cepat. "Siapa lo?" Ketus Arya. Lelaki itu tak menghiraukannya, ia lebih fokus pada gadis di hadapannya.
"Ayok pulang, aku anter." Dialah Rendi, lelaki yang membawa pengaruh buruk untuk Aska, menurut Queen.
Arya bangkit, mengitari tubuh Queen, mendorong Rendi dengan kasar. "Heh, gua tanya lu siapa?" Amarah Arya mulai timbul lagi.
Ingatkan Arya tolong, bahwa tidak semua lelaki dewasa itu bisa setenang Aska. Rendi yang mendapat perlakuan tidak menyenangkan dan ditonton oleh banyak pasang mata, tentu saja sama dengan mengajaknya berkelahi.
"Bocah, elo nantangin gue?" Tidak perduli itu kawasannya atau bukan. Rendi tetap berani. Untungnya saat ini ia tidak sedang mengenakan seragamnya. Andai saja demikian, maka mahasiswa lainnya tentu akan naik pitam pula. Melihat Rendi sedang mencengkram kerah kemeja Arya.
Queen tersentak kaget, ia berdiri dengan cepat melerai perkelahian dua lelaki itu. "Cukup cukup, tolong lepasin kak Rendi, maaf dia lagi emosi." Queen membela Arya. Dia tau seperti apa seorang Rendi. Berbanding terbalik dengan Aska.
Rendi mendengarkan. Ia melepas cengkraman tangannya dari kemeja Arya. "Jangan sok hebat lu." Sentak Rendi. "Ayok Queen aku anter." Meski emosi dengan Arya tapi Rendi lembut terhadap Queen.
"Bentar kak." Pinta Queen. Ia memandang Arya. "Maaf Ar, ini kak Rendi temannya mas Aska. Mungkin mas Aska yang minta dia datang jemput aku." Jelas Queen.
Arya berdecak. "Jadi dari tadi kamu nggak mau pergi dari kantin, karena masih ngarep lelaki itu bakal jemput kamu?" Arya mengutarakan pendapatnya. Kenyataan yang menyakitkan. Queen mengangguk. "Makasih ya Arya, kamu udah mau temenin aku." Senyum Queen kembali mengulas untuk Arya.
"Ayok Queen buruan." Panggil Rendi. Barang-barang Queen sudah berada di tangan Rendi, saat Queen memberikan penjelasan pada Arya tadi.
Queen mengangguk pada Rendi. "Aku pulang dulu ya Ar.." Pamit Queen. Wajah gadis itu masih terlihat sendu. Senyumnya masih tidak secerah biasanya.
"Nanti kabarin aku kalo udah sampe rumah." Arya berteriak, melambaikan tangannya pada Queen yang semakin menjauh dari pandangannya. Queen membalas lambaian tangan itu. Tetapi Rendi tidak membiarkan Queen berhenti meski hanya sebentar.
Rendi.. Rendi.. benar-benar menjadi orang yang sangat di andalkan. Jika abang Is adalah orang yang ia tuakan, maka di saat seperti ini peran Rendi sangat Aska perlukan.
Ingatkah bahwa jarak rumah Rendi dan kampus Queen sangat dekat. Mereka masih satu daerah. Sama-sama di Pamulang, maka tak banyak waktu yang di perlukan Rendi untuk sampai di kampus Queen.
Entah kebetulan yang nyata, atau waktu yang sudah di atur oleh sang pemilik kuasa. Rendi bisa datang di saat Aska memerlukan bantuannya.
**Semoga ngerti sama judulnya**
__ADS_1
🙃🙃😉