
Sejak beberapa saat lalu Aska pergi meninggalkan Queen sendiri dalam kedai, Queen sudah tidak bisa menghabiskan makanannya lagi. Perutnya terasa penuh. Ia butuh udara segar.
Queen memutuskan keluar untuk mencari Aska. Dalam fikiran Queen, mungkin akan menyenangkan jika mereka bisa jalan-jalan beberapa saat, menikmati indahnya alun-alun kota Bandung sebelum tengah malam.
"Mas Aska." Panggil Queen dari balik punggung Aska. Lelaki itu tengah berjongkok di samping kedai. Aska terkejut, ia langsung membuang puntung rokok di tangannya, sebelum Queen melihat.
"Kamu ngapain mas?" Tanya Queen curiga.
"Eh, enggak. Lagi ngadem aja. Kamu ngagetin saya aja." Kilah Aska. "Makanannya udah habis?" Aska mengganti topik, melihat Queen yang terlihat tidak senang.
"Aku mau pulang." Sentak Queen.
"Ya abisin dulu lah makannya baru kita pulang." Aska menarik tangan Queen, mengajaknya masuk kembali kedalam kedai.
"Aku mau pulang. Pulang sekarang!!" Suara Queen mulai meninggi. Pertanda tidak bagus.
"Iya, iya oke. Saya bayar dulu ya.." Tawar Aska. Queen diam. Tangannya terlipat di depan dada. Tatapannya tajam, melihat benda yang Aska injak tadi. Tidak salah, itu puntung rokok.
Queen harus membicarakannya nanti. Queen sangat tidak suka melihat perubahan sikap Aska kali ini. Pasti Rendi dalang di balik perubahan sikap Aska.
Aska selesai membayar, ia mengajak Queen jalan santai sambil menuju penginapan terdekat. Tidak ada satu katapun selama mereka berjalan. Fokusnya masih tertuju pada apa yang dilakukan Aska tadi.
Aska sebenarnya mengerti dengan perubahan sikap Queen, Aska mulai merasa Queen mengetahui apa yang tadi ia coba sembunyikan.
Tapi ini masih di jalan umum, Aska tidak ingin memancing keributan dalam riuhnya kota Bandung saat akhir pekan.
"Ehm Ra.." Panggil Aska, mencoba memulai obrolan. "Mau belanja sebentar nggak? Beli baju gitu misalnya. Katanya disini bagus-bagus lho!" Aska masih bersikap biasa. Tapi jawaban Queen sangat ketus, membuat Aska merasa takut sendiri.
"Aku bisa kapan aja belanja disini kalo aku mau." Queen melepaskan pegangan tangan Aska, rasanya ia malas dekat dengan lelakinya saat ini.
"Kenapa?" Awalnya pegangan mereka terlepas, tapi kemudian Aska menggenggamnya kembali.
"Aku mau jalan duluan." Sentak Queen, kembali mencoba melepaskan pegangannya.
"Enggak. Jangan mikir yang aneh-aneh ya Ra." Tolak Aska. "Kamu boleh marah, tapi jangan lepasin tangan saya, saya nggak mau kehilangan kamu lagi." Tegas Aska. Selanjutnya Aska tak memberikan ruang sedikitpun untuk Queen melepaskan genggamannya.
Hening kembali terjadi di antara Queen dan Aska sampai mereka memasuki kamar yang Aska pesan.
"Kamu nggak mandi Ra?" Aska memperhatikan Queen yang langsung naik ke tempat tidur sesaat setelah pintu di buka.
Queen tidak menjawab, gadis itu masuk kedalam selimut dan memejamkan matanya.
"Ra.." Panggil Aska sekali lagi.
Tetap saja tidak ada jawaban dari Queen. Aska melepas Jaket dan kaosnya, menyisakan kaos tanpa lengan. Lelaki itu membasuh wajah serta kaki dan tangannya sebelum beranjak naik ke atas kasur menyusul Queen.
Siapa yang tau bagaimana perasaan Aska saat ini, bisa melihat gadisnya lagi setelah beberapa hari ia tinggalkan tanpa kabar. Ups tidak.. Aska sempat meninggalkan sebuah tulisan untuk Queen sebelumnya.
"Ra.. kamu udah tidur?" Aska merangsek masuk kedalam selimut, memeluk tubuh gadisnya dari belakang. Mencium rambut belakang Queen yang panjang terurai.
"Ra.. ngobrol sebentar yuk.. Saya kangen." Pinta Aska lagi dengan suara memelas. Kini gantian leher jenjang Queen yang Aska cium.
"Awas.. aku nggak mau deket-deket sama orang yang bau asep rokok." Jawaban Queen membuat Aska terdiam. Aska menghembuskan nafasnya pelan dengan wajah tertunduk lesu. Benar saja, Queen sudah melihatnya tadi.
"Saya bukan perokok aktif Ra, jadi nggak terlalu menyengat." Aska mengendurkan pelukannya. Queen terus saja memaksanya melepas pelukan itu.
"Tapi saya masih kangen kamu, peluk sebentaaar aja."
"Enggak. mas Aska bau." Aska putus asa, akhirnya ia mengalah. Melepaskan pelukan mereka kemudian beranjak pergi dari kasur.
Queen mengintip sebentar, melihat kemana perginya lelaki itu. Tapi Aska Tak terlihat, ia berada di balik punggungnya.
Sampai Queen mendengar suara air dari dalam kamar mandi. Mungkinkah lelakinya mandi hampir di jam tengah malam? Awalnya Queen perduli, seterusnya ia tidak menghiraukannya lagi.
Wangi harum sabun beraroma lemon menyeruak sat Aska perlahan membuka pintu kamar mandi, rambutnya ia usap kasar menggunakan handuk kecil yang tersedia di kamar mandi.
__ADS_1
"Udah mandi nih Ra, udah seger.. nggak bau asep rokok yang kayak kamu bilang tadi, boleh dong deket-deket kamu sebentar?" Canda Aska sembari berjalan mendekat ke arah Queen.
Aska duduk di lantai, bersandar pada ranjang kasur dekat posisi Queen tidur berbaring miring. Dan Aska duduk tepat di dekat wajah Queen, membelakangi.
"Nggak usah pake ngambek-ngambek segala lah Ra, ngomong aja apa yang ada di hati kamu. Bentar lagi kan kita sah.." Aska masih berbicara seperti menggoda.
"Gimana, kalo saya nyanyiin satu lagu buat kamu. Lagu favorit saya tentang kamu?" Aska mencari jawaban dari wajah Queen yang berada dekat pundak di belakangnya.
Queen masih diam, tapi tatapannya seolah menyetujuinya.
"Oke setuju, kamu cukup denger sampe abis. Kalo nggak suka boleh marah sampe nanti saya baca ijab Qobul untuk kamu. Tapi kalo kamu suka, kasih saya ruang lagi buat tidur di sebelah kamu. Gimana?" Aska menaik turunkan alisnya, dengan senyum menggoda.
Queen mengangguk pelan.
Aska ikut mengangguk, tangannya berseluncur di atas layar ponsel Queen yang ia pinjam. Ponsel Aska terlalu jauh letaknya.
Mencari di YouTube versi karaoke.
***Melihat senyum ***manis mu, ada cinta yang ku rasa menyapa hati ini.
Tak ingin ku menunggu jadikanlah aku oh cinta, kekasih pilihan di hatimu..
ku percaya, dirimu satu cintaku..
Tuhan tolong aku katakan padanya, aku cinta dia, bukan salah jodoh.
Dia untuk aku bukan yang lainnya, satu yang kurasa, pasti bukan salah jodoh..
Bila cinta t'lah bicara, tak kan ragu hati ini mendekat kepadamu.
Tak ingin ku menunggu, jadikanlah aku oh cinta kekasih pilihan di hatimu..
Tuhan tolong aku katakan padanya, aku cinta dia, bukan salah jodoh.
Dia untuk aku bukan yang lainnya, satu yang kurasa, pasti bukan salah jodoh..
Berdua, jalani kisah bersama, hanya ada kamu aku kita******..
Suara Aska tak se merdu penyanyi aslinya, tapi cukup enak terdengar di telinga Queen. Diam diam Queen tersenyum menyimak kata demi kata yang lebih mirip seperti gombalan baginya.
Aska bernyanyi santai, penuh dengan rasa. Tangannya sambil menepuk-nepuk paha kakinya sendiri.
Queen dan Aska sama-sama menikmati momen mereka masing-masing.
Setelah lagu nya selesai, Aska membalikkan tubuhnya, menghadap kearah Queen. Tangannya ia lipat di atas kasur, memangku wajahnya.
"Gimana Ra? Bagus nggak lagu nya? Lagunya ya, bukan suaranya.." Aska menekan setiap katanya, agar Queen paham.
Wajah Aska begitu dekat dengan wajahnya, menyisakan jarak hanya beberapa sentimeter saja. Kenapa Queen menjadi gugup. Ia sudah memaafkan Aska, tapi Queen tak ingin Aska mengulanginya lagi. Jadi Queen perlu membuat sedikit drama.
Queen menggeleng, seperti tak suka. Membuat kepercayaan diri Aska yang sudah setinggi langit, jatuh ambyar hancur ke tanah, masuk ke dalam lubang tikus tang tak terlihat.
Aska kecewa. Sirna sudah harapannya ingin bermesraan dengan Queen.
"Yang bener apa Ra? Saya udah total banget nyanyinya." Aska memelas. Tapi ia tidak kehabisan ide, jika cara menggoda gagal untuk Queen, maka cara yang lain adalah bertindak tegas. Queen tidak pernah menolak setiap Aska sudah mulai serius. Mereka harus bicara serius.
Aska membuang nafasnya kasar, berbalik kembali memunggungi Queen.
"Kamu tau Ra seberapa kangennya saya sama kamu?" Aska mulai serius. "Kamu tau Ra apa aja yang udah saya laluin beberapa hari ini?" Aska tersenyum kecut, mendapat jawaban dari dirinya sendiri.
Bagaimana Queen tau, kalau kenyataannya Aska tidak memberi tau sebelumnya, tidak sedikitpun meninggalkan pesan tentang kepergiannya.
"Dua hari saya pulang pergi Jakarta-Semarang Ra, demi bisa bawa Ibu ketemu sama mama kamu." Aska memijit pangkal hidungnya. "Saya harus bantu Ibu saya panen dulu, supaya bisa ketemu tepat waktu sama jadwal yang mama kamu kasih."
Queen terkejut, mulai tertarik dengan pengakuan Aska selama dirinya menghilang.
__ADS_1
"Saya kangen banget sama kamu, setiap Zaki sebut nama kamu. Saya sama dia gantian bawa mobilnya pulang pergi ke Semarang dan Jakarta.. tadinya dia selalu pengen ketemu kamu, kalo saya lagi dinas. Tapi saya suruh dia tidur di tempat Fiki, biar dia nggak ngantuk nantinya." Aska mengusap rambutnya kebelakang.
"Waktu yang mama kamu kasih ke saya, singkat banget Ra. Awalnya saya bingung harus gimana ngomong sama kamu, tapi saya juga nggak mau kehilangan kesempatan lagi. Makanya saya tulis surat yang kamu temuin di atas meja buat kamu." Aska menjeda kalimatnya. "Tapi siapa sangka, ternyata yang saya maksud nggak sesuai, dan malah bikin kamu salah paham." Aska tertunduk, memainkan jemarinya di atas layar ponsel Queen. Melihat isi chat Queen untuk dirinya.
"Coba aja kalo kamu tau, gimana perasaan saya waktu di telfon Arya kemarin. Pengen banget saya terbang langsung nemuin kamu. Tapi yang saya lakuin waktu itu, demi masa depan saya dan kamu. Jadi saya minta Rendi buat jagain kamu selama saya sibuk sendiri."
Aska menoleh ke arah Queen, melihat keadaan gadisnya. Jangan sampai Queen tidur karena dongeng pengakuan Aska.
Tapi tatapan Queen saat ini teduh, Aska bisa merasakannya. Manik mata yang selalu Aska rindukan.
"Ada yang mau kamu tanyai Ra?" suara Aska lembut.
"Sejak kapan mas Aska mulai ngerokok?" Pertanyaan yang di luar prediksi Aska.
Lagi-lagi Aska tersenyum kecut. Satu tangannya membelai rambut Queen pelan dan mengulang. Queen sudah tidak menolak lagi. Artinya, ia berhasil membujuk gadisnya.
"Inget nggak, waktu kamu minta ijin mau jalan sama Agung?" Queen mengangguk. "Itu pertama kalinya saya ngerokok lagi setelah ketemu kamu." Aku Aska.
"Berati dulu mas Aska juga perokok?" Queen mulai tertarik.
Aska menggeleng. "Cuma kalo lagi kumpul sama temen doang di kampung. Tapi waktu kita pulang sama-sama saya nggak lagi, saya udah janji berubah jadi lebih baik, setelah ngeliat kamu waktu pertama pindah."
"Terus, kenapa mas Aska balik lagi?"
"Ya, karena saya lagi emosi, dateng ke rumah Rendi, dia lagi ngerokok elektrik. Awalnya dia nawarin, saya coba nolak. Tapi inget kamu lagi jalan sama Agung, saya nggak sengaja udah nerima tawaran Rendi yang kesekian. Maaf ya Ra.." Lirih Aska.
Tangannya masih bergerak mengusap lembut rambut Queen. Queen tersenyum kecil, mendengar pengakuan Aska. Caranya meminta maaf sungguh imut menurut Queen.
"Dari situ, mas Aska jadi perokok lagi?" Tanya Queen masih bingung.
"Enggak. Cuma keadaan tertentu doang saya ngelakuinnya. Contohnya ya kayak kemaren, kalau saya lagi kesal sama diri saya sendiri, atau lagi pusing mikirin kamu." Aska tersenyum mencubit ujung hidung Queen pelan.
Queen dan Aska sama-sama diam. Manuk mata mereka saling menatap, Queen sudah kembali masuk dalam pesona seorang Aska. Dan itu tidak Aska sia-siakan begitu saja.
Rasa rindu yang membara di hatinya selama beberapa hari, hampir saja tidak tertahan lagi.
Aska bergerak maju, merapatkan bibirnya di atas bibir Queen. Pelan dan dalam. Mengobati rasa rindunya pada gadis yang selalu menjadi candunya.
Queen memejamkan mata sebentar, selama Aska ******* bibirnya halus. Menyesap bibir Queen dalam-dalam, sambil menahan seluruh rasa yabg terus menagih Aska melakukan yang lebih.
Tapi Queen akan menjadi miliknya sebentar lagi. Aska tidak mau menghancurkan malam pertamanya nanti, Aska juga sudah berjanji pada Queen untuk tidak mengulangi perbuatannya yang seperti dulu, dimana ia hampir kehilangan kontrol diri.
"Mas Aska.." Ucap Queen, menyentuh pipi Aska lembut. Aska terpejam, merasakan sentuhan tangan lembut Queen. "Hng?" Jawab Aska.
"Aku mau, mas Aska nggak ngulangin itu lagi ya, tetep jadi mas Aska yang selama ini aku kenal." Pinta Queen lembut.
Aska membuka matanya, suara Queen terdengar begitu indah saat sedang mode kalem seperti ini. Senyum Aska mengulas, seiring anggukan di kepalanya.
"Jangan ulangin, demi alasan apapun." Tambah Queen.
"Iya Ira sayang.." Aska memegang tangan Queen, mendekatkan kembali wajahnya, demi menggapai kening Queen.
Ciuman sebentar namun hangat, Aska membisikan suara lirih di telinga Queen. "Saya udah boleh peluk kamu belum? Atau ahrus nunggu sampai kita sah secara hukum juga agama?" Tanya Aska.
Queen tidak menjawab, namun ia menggeser tubuhnya mundur kebelakang, memberi ruang untuk Aska tidur di dekatnya.
Aska beranjak cepat, naik ke atas kasur, di tempat yang sudah Queen persilahkan tadi. "Makasih ya Ra, udah mau percaya lagi sama saya." Aska membawa kepala Queen masuk kedalam pelukannya.
Aska benar-benar tidak rela, kalau sampai Queen meninggalkannya hanya karena kesalahpahaman tak berarti.
Aska juga tidak menyediakan ruang senggang bagi hubungan mereka, tidak untuk Queen merajuk, tidak untuk emosi yang berlarut-larut. Semua harus di bicarakan dari hati ke hati. Agar hubungannya tetap baik, dan Queen terus merasa nyaman.
"Saya kangen banget sama kamu Ra.." Bisik Aska sekali lagi, sebelum memejamkan matanya, ia juga menyempatkan mencium kening Queen sebentar, dan berulang.
Membuat Queen yakin. Tidak salah jika ia tidak ingin kehilangan Aska.
__ADS_1
**vote aku terjun bebas..**
🙃🙃😉