Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
di antara tamu


__ADS_3

Pertengkaran kecil adalah hal manis ya terkadang membuat rumah tangga menjadi lebih harmonis. Karena dari kejadian itu, kita bisa menjadi lebih dekat dan saling mengenal dari sikap dan sifat pasangan kita.


Queen yang masih berdiam diri di dalam mobil, sedangkan Aska masuk menghampiri calon pengantin, berbincang sebentar dengan keluarga bang Is. Sialnya, pertanyaan yang muncul selalu tentang wanitanya.


"Lho, kok sendiri? bojomu mana?" Ayah bang Is.


"Mas Aska.. mbak Queen nya mana?" Nissa


"Aska.. istri mu nggak ikut?" mama bang Is.


"Woy.. mana gandengan lu? Udah nikah masih sendirian aja." Bang Is.


Yah.. yang bisa Aska jawab adalah, "Lagi di kamar mandi dulu. Biasalah, lagi hamil, jadi bawaannya pengen ke kamar mandi mulu." Dengan cengiran kudanya.


"Aku tau mas.. pasti si Queen lagi ngambek kan? Tadi kak Rendi bilang, kamu datengnya sama dia."


Aska mendesah. Wajah sendunya langsing terlihat. "Iya. Di dalem mobil dia, biar gosong lah di dalem sana." Ujar Aska malas. Ia sudah bingung, bagaimana lagi harus membujuk wanitanya. Jika Rindi-sahabat-nya saja sudah mengangkat tangannya, apalagi dengan Aska.


"Rin.. maaf banget ya, si Queen cuma nitip salam doang. Mungkin, entar malem kali dia baru ketemu kamu." Aska pasrah. Mungkin lebih baik ia pulang saja, dari pada harus berbohong terus, setiap kali ada pertanyaan yang datang. Tidak mungkin jika Aska menjawab dengan kejujuran. Mau taruh di mana mukanya nanti.


"Pamit dulu ya mas.." Aska seraya bersalaman dengan bang Is. "Maaf nggak bisa lama-lama, kanjeng ratu lagi ngidam."


"Iya iya.. makasih ya, udah mau nyempetin. Oh iya. Bilang sama bojomu. Kalo mau dateng, jangan malem-malem." Bang Is menarik tangan Aska, membuat keduanya lebih dekat. "Itu waktunya untuk pengantin." Sontak saja hanya bang Is dan Aska yang tertawa dengan kerasnya. Hanya mereka berdua yang tau apa yang di katakan sang pengantin.


Cukup lama Queen menunggu suaminya dateng kembali. Karena udara panas yang kian menyengat dan ac mobil yang tidak di nyalakan, membuat Queen merasa waktu begitu lama.


Mendapati sosok itu datang, hati Queen langsung tenang. Aska membuka pintu mobilnya dan duduk di balik kemudi.


"Kemana aja sih mas?" Tanya Queen tidak sabar.


"Apa? Aku kan dari dalem." Jawab Aska ketus, sambil menyalakan mesin mobilnya.


"Lho. Kita mau kemana?"


"Pulang lah. Ngapain lagi disini."

__ADS_1


"Aku kan belum ketemu sama pengantinnya."


"Tadi di ajak enggak mau." Meski mesin mobil sudah di nyalakan. Tapi Aska belum juga menginjak gasnya. Ia merasa Queen sudah berganti pikiran.


"Aku tuh nungguin kamu jemput aku tau.." Queen mencebik. Benar saja perkiraan Aska. Ia rupanya perlahan sudah bisa menebak pemikiran istri kecilnya.


"Yaudah, terus sekarang maunya gimana?"


"Aku pengen di cium sama Rendi deh kayaknya."


"Apa??" Mata Aska membulat seketika. "Maksudnya gimana Ra? Aku kurang paham deh."


"Bawain bayi kali mas.." Queen santai.


"Jangan yang aneh-aneh ya Ra. Itu anak aku, kenapa kamu pengennya di cium sama Rendi." Aska emosi. Kepalanya menggeleng yakin, "Nggak bakal aku ijinin. Sekalipun anak aku ngiler, nggak bakal aku ijinin cowok laen cium kamu. Nggak usah genit deh."


"Genit gimana sih mas? Aku sama Rindi tuh udah biasa kayak gitu. Dari aku belum nikah juga kita selalu kayak gitu."


Aska terdiam. Ia merasa ada yang salah. Ia menarik nafas dalam-dalam. Berusaha meraup udara untuk mengganti rasa emosi di hatinya.


"Ira.." Aska memandang lekat Queen. Menggenggam satu tangan Queen dengan kedua tangannya. "Jadi, sekarang kamu lagi mau apa?" Suara Aska melembut.


"Maaf ya.." Satu tangan Aska membelai rambut Queen. "Tadi pertama kamu bilangnya si Rendi. Makanya aku marah.."


"Masa sih mas? Aku nggak ngerasa deh.." Oke. Sampai sini Aska paham. Wanita memang tidak akan mengatakan maaf. Meskipun ia sadar kesalahannya.


Aska melepas genggamannya. Mematikan mesin mobilnya.


"Aku yang salah denger kok Ra. Ayok lah turun." Kini, Queen sendiri yang membuka pintu mobil disisinya. Meskipun demikian, Aska tetap menghampiri Queen, mengulurkan tangannya untuk di gandeng Queen.


"Jalannya pelan-pelan ya Ra.." Queen tidak mengenakan sepatu ber-hak. Tapi Aska sesekali masih memandang langkah kaki Queen. "Baju kamu kepanjangan nih Ra. Nanti kalo keinjek gimana?"


Queen mengenakan dress batik dengan model leher shanghai, menutupi sebagian leher jenjangnya. Rambutnya di sanggul simpel, membuat Queen nampak lebih anggun dari biasanya.


Kalau dulu Queen selalu datang ke acara seperti ini dengan dress selutut, lengan pendek dan bagian dada yang terbuka. Kini, Queen selalu mengenakan dress panjang, lengan panjang dan leher yang tertutup. Mencocokkan dengan suaminya yang selalu terlihat wibawa di setiap gerakannya.

__ADS_1


"Bukan kepanjangan mas, ini tuh harusnya make sepatu ber-hak. Tapi kamunya ngelarang aku."


"Iyalah sayang.. kamu kan lagi hamil, kasian kamunya juga, nanti sakit kaki kamu."


"Kan ada kamu.." Ah.. manis sekali ucapannya itu. Membuat Aska tersenyum manis sambil mengusap pipi Queen lembut.


Percakapan mereka yang berlangsung selama langkah mereka memasuki ruangan, di perhatikan oleh beberapa tamu undangan yang ada. Termasuk dua wanita yang sempat hadir dalam kehidupan Aska.


Mata itu memperhatikannya. Memandang penuh misteri menatap Aska dan Queen yang tak sadar menjadi perhatian dari sekelilingnya.


Ya.. memang sudah seperti kebiasaan. Dimanapun mereka, pasti akan ada pasang mata yang memperhatikan, dan mengambil alih suasana.


"Hai.. Queen.. " Rindi menghampiri, memeluk pelan tubuh sahabatnya. "Kemana aja sih lu baru nongol?"


"Hehe..." Queen tertawa tanpa alasan. Dua sendiri tidak tau harus menjawab apa. Terlalu malu untuk bilang, kalo dirinya menunggu suaminya menjemput di dalam mobil. Konyol.


"Rin.. katanya dia minta di cium penganten." Aska menyela.


"Sini sini, biar saya aja yang cium." Bang Is membentangkan kedua tangannya sambil menghampiri Queen. Tentu saja sang pemilik bergerak dominatif, maju menjaga di depan tubuh Queen. "Enak aja!" Ucapnya. Membuat ke dua pengantin itu tertawa.


"Kan saya juga pengantin."


"Iya. Tapi Ira mau nya ama Rindi. Ya kan Ra?" Tatapan Aska meminta kepastian. Queen juga membalas tatapannya menelisik isi pikiran suaminya.


"Aku sih sama yang mana aja mau. Yang penting sama-sama pengantin."


"Ya ampun Ra.." Aska memelas, ia berbalik hendak meninggalkan Queen. Lemes sudah tulang belulang yang ada di dalam tubuhnya.


Queen menariknya, tawa mereka terngiang di telinga Aska, apalagi suara Queen, suara yang sampai pada relung hatinya.


"Aku bercanda mas.." Queen bergelayut manja di lengan Aska. "Aku maunya sama kamu doang kok." Tak ketinggalan Queen mencubit gemas pipi Aska.


Mendengarnya, hati Aska kembali menghangat, tidak perlu waktu untuk menjeda, Aska langsung menempelkan bibirnya di pipi Queen. Meski hanya kecupan kecupan kecil, tapi berulang. Membuat Queen merona malu.


Begitu juga dengan yang lain, yang melihat keduanya. Mereka tertawa dengan malu-malu. Tapi tidak dengan Nissa dan Dissa. Senyum mereka kaku, terkesan di paksakan.

__ADS_1


"Woy.. coba perhatiin situasi.. jangan terlalu mesra juga lah.. nggak bagus buat yang lagi patah hati." Lagi dan lagi, suara Rendi menyela kebahagiaan di antara mereka Aska tak memperdulikannya lagi. Ia justru merangkulkan tangannya di pinggang Queen, mengecup kening Queen dengan mesra dan lembut. Semakin membuat teriris hati wanita yang mengidolakan di antara ke duanya. Siapa sangka, ternyata Arya juga Rindi undang.


🙃🙃😉


__ADS_2