Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
Pemikiran Aska


__ADS_3

"Woy, bapak pengantin baru kita, ngelamun aja nih." Fiki menyenggol lengan Aska yang sedang duduk di balik meja piket. "Jangan bilang lagi kesel gara-gara nggak bisa ngelonin dede gemes gua." Sadarkah Fiki apa yang di ucapkannya barusan. membuat Aska segera tersadar sambil menatap tajam ke arah Fiki.


"Wuuih, santai mas bro, cuma kepeleset lidah gua barusan. Nggak inget udah ada yang halalin." Fiki segera memijit mijit pundak lelaki yang tengah menatapnya tajam, berusaha membujuk agar emosinya reda.


"Ada apa sih mas Aska kita? hm? gua siap dengerin cerita lu. Ya nggak Fir?" Fiki sedikit berteriak sambil melongokan kepalanya, ke arah dalam kantor, pada satu wanita muda yang tengah duduk di balik meja komputer.


"Iya aja biar cepet." Jawab Fira, satu angkatan dengan Fiki dan Aska.


"Ah.. jangan sensi gitu lu, mentang-mentang Aska udah punya orang jadi nggak semangat gitu. Tenang aja Fir, janur kuning boleh melengkung, tapi selama bendera kuning belom berkibar, hati lu masih boleh tenang." Santainya Fiki berucap, membuat Aska menjadi bertindak. Ia meninju pelan lengan Fiki, membuatnya mengaduh.


"Kalo ngomong, inget seragam yang lu pake." Sentak Aska, di susul tawa Fira dan beberapa anggota yang melihatnya.


"Aska mainnya kasar, ih jadi ngeri deket-deket." Fiki menggeser duduknya sedikit menjauh. "Fira.. kalo ada laporan tentang kekerasan dalam rumah tangga dengan nama pelapor atas nama Queen, langsung kasih tau gua ya..biar gua yang handle kasusnya." Sekali lagi Fiki berteriak. Membuat beberapa anggota tak fokus pada pekerjaannya, lebih memilih mendengar ucapan Fiki.


Aska berdiri dari duduknya membuat Fiki terkejut. "Mau kemana As?"


"Mau nyari komandan."


"Ngapain?"


"Pengen bilang, kalo lu nyindir anaknya komandan." Aska mulai melangkahkan kakinya keluar, hendak mencari orang yang di tuju di warung makan dekat Polsek.


Tapi dengan cepat tangan Fiki mencekal Aska, membuat lelaki itu menghentikan langkahnya.


"Gua kan bercandanya sama lu As, ngapain bawa-bawa anaknya komandan segala sih? Nggak seru kan."


Aska berdecak. Tangannya bertengger di atas pinggang.


"Jadi ragu gua, lu lulus dengan layak, atau nyuap?"


"Weits sorry ya As, gini-gini otak gua pinter kalo lagi serius."


"Otak lu pinter kalo lagi ngomongin cewek."


Aska mengibaskan cekalan tangan Fiki, kembali duduk di kursi meja piket.


"Ada apaan sih mas bro? Kesel gitu keliatannya." Fiki berdiri di balik meja piket depan Aska. Sangat penasaran pada yang terjadi dengan Aska.


"Gua cuma lagi mikir, kira-kira bakal langsung jadi benih nggak sih, gua udah dua kali ngeluarin di dalem." Aska nampak ragu bercerita dengan Fiki.


"Yailah Aska. Umur lu udah bolehlah buat nikah, tapi otak lu nggak cukup buat belajar begituan." Fiki sangat percaya diri. "Begini ya mas Aska yang baru aja ngerasain surganya dunia.. Benih itu, meskipun cuma sekali lu tanem, kalo produk lu bagus dan tanahnya subur, bisa langsung jadi mas bro.. nggak kudu nunggu berulang-ulang."


"Oh gitu.." Aska nampak berfikir.


"Kenapa emang?"


"Enggak, gua cuma belom pengen punya anak aja, gua masih pengen liat manjanya Ira gua."


"Ha? Yang bener aja, bukannya lu takut ngadepin manjanya dede gemes gua waktu ngidam?" Sekali lagi mulut Fiki mengucapkan kata yang di larang oleh Aska.


Ia memukul lengan Fiki dengan pentungan milik Aska yang tergeletak di atas meja piket.


"Haha.. iya maaf.. tapi bener kan kata gua, lu cuma belum siap ngadepin manjanya Queen. Soalnya selain itu lu pasti bisa ngatasinnya. Apalagi kalo alasan lu karena enggak mau repot. Gua rasa lu nggak akan sepelit itu ngeluarin duit buat bayar pembantu." Fiki berdiri dengan angkuh di depan Aska, tangannya mengusap rambutnya ke belakang. Berlagak menjadi detektif yang lihai.

__ADS_1


"Iptu Fiki, ikut saya patroli malam." Suara komandan mereka terdengar jelas di telinga Fiki, membuat kesombongannya luruh seketika.


"Saya tugas piket Ndan malam ini." Fiki mencoba tenang.


"Piket masih ada Aska, dan yang lainnya. Tim saya kurang, jadi saya minta kamu ikut malam ini." Titah komandan tegas tanpa bantahan.


"Sukurin lo." Gumam Aska hanya dengan gerakan bibir.


Fiki tak putus harapan begitu saja, perlahan dan diam-diam ia mengambil bungkusan yang berisi kotak bekal milik Aska.


Membawanya sampai ke dalam mobil patroli. Setelah ia siap meluncur, barulah Fiki sedikit berteriak pada Aska.


"Mas Aska.. makasih ya kotak bekel nya. Nanti aku makan kalo sambil jalan." Tawa Fiki sangat lebar. Selebar langkah kaki Aska yang berusaha mengejar laju mobil itu.


Sialan emang tuh anak. Geram hati Aska.


Dirinya tak ingin berlarut pada emosi karena Fiki, nanti, Fiki pasti akan terima kejutannya. Tidak sadarkah lelaki muda itu, kalau mereka akan bertemu lagi dan lagi. Masih berani bermain-main dengan Aska.


Aska masih berusaha mencari jalan agar Queen menunda kehamilannya. Sebenarnya Aska sendiri belum ingin karena masih ingin terus berdua dengan Queen. Terutama kebebasan Queen. Aska ingin Queen puas dengan masa mudanya. Agar tidak ada penyesalan di kemudian hari. Tapi rasanya Aska tak memahami hati Queen, yang begitu ingin memiliki buah hati, untuk membagi kasih sayangnya, untuk menemani kesehariannya. Queen sudah tidak perduli yang lain. Yang Queen ingini sekarang adalah memiliki keluarga kecil yang hangat dan bahagia.


***


Aska menelfon Rendi. Teman yang kurang bertabiat namun berjasa bagi hidupnya.


"Ren.. dimana lu?" Tanya Aska saat temannya itu menerima panggilannya.


"Di kamar. Ngapain?"


"Maenlah ke tempat gua. Ada yang mau gua konsultasi-in sama lu."


"Masalah kehamilan. Gua pengen nanya ama lu tentang kehamilan."


"WOY... gila lu ya As.. nanya lah sama bidan, jangan nanya sama gua. Lu kira gua cowok apaan lu tanyain begituan." Rendi histeris sendiri mendengar penuturan Aska.


"Santai buaya darat. Gua fikir lu ahli soal cewek. Ya kali aja lu tau sedikit tentang kehamilan." Aska berbicara dengan pelan. Tidak ingin ada yang mendengarnya.


"Nggak tau gue, belom ada cewek yang nangis-nangis ke gua karena tembakan gua." Aska memutar bola matanya malas.


'Jadi pengen liat gua reaksi lu, waktu ada cewek yang minta pertanggung jawaban karena di hamilin sama lu'. Aska bergumam dalam hati.


"Mending lu cari tau sedikit deh tentang begituan, dari pada ntar lu di ****-in gara-gara nggak tau apa-apa soal itu." Usul Aska.


Dengan cepat Rendi menjawab. "Bener juga lu As, pinter banget otak lu sekarang. Ayok lah, besok kelar lu tugas gua anterin lu ke bidan. Gimana?"


"Ogah gua."


"Kenapa?"


"Gua nggak mau bidannya mikir lu pasangan gua." Aska seketika memutuskan sambungan teleponnya. Meski suara Rendi masih sempat terdengar tadi.


Ia sudah tidak perduli, rasanya pusing sendiri jika Aska terus memikirkan hal itu.


Aska pikir, setelah semua yang ia lalui kemarin sebelum menjadi halal dengan Queen, akan mengakhiri persoalan apapun tentang mereka. Ternyata, hari baru dan lembaran baru yang di maksud orang tua adalah tak serta merta hal yang baik juga menyenangkan.

__ADS_1


Konflik selalu ada si setiap pemikiran dengan dua isi kepala yang berbeda. Selalu ada perdebatan meski dari hal-hal kecil nan sepele sedikitpun.


***


Disinilah Aska, duduk sambil makan dalam kedai yang menyediakan pecel lele dan ayam, dekat kantor Polsek Aska.


Aska tadi sudah di siapkan bekal oleh sang Istri tercinta, tapi sialnya bekal itu di bawa pergi oleh Fiki. Jadilah Aska harus mencari lagi makanan demi mengisi perutnya yang berdemo.


Sedang asik melahap makanan di hadapannya, ponsel milik Aska berdering, dengan nama kontak 'Wife'. Aska mengubahnya setelah acara malam pertama mereka.


"Hai sayang." Sapa Aska, menerima panggilan video call dari Queen.


"Lagi ngapain mas Aska?" Queen melihat makanan yang berbeda dengan apa yang ia siapkan tadi untuk lelakinya. "Kamu makan di warung?" Queen mulai emosi.


Aska yang baru tersadar, segera menggeser piring-piring dari hadapannya, agar tidak terlihat kamera Queen.


"Ini, lagi nemenin temen saya makan." Aska sedikit panik, ia segera beranjak keluar.


"Yang bener? Bekel kamu mana?" Selidik Queen.


"Udah. Udah saya makan tadi. Ini cuma lagi keluar sebentar sama temen."


"Bohong nggak tuh?"


"Bener Ira." Aska melirik jam tangannya. "Udah mau tengah malem, kenapa belom tidur?" Aska mengganti topik.


"Aku nungguin telfon mas Aska dari tadi. Tapi kayaknya mas Aska lupa sama istrinya." Queen merajuk. Bibirnya mulai mengerucut.


"Maaf ya Ra.. tadi saya sibuk sendiri. Yaudah tidur udah malam. Besok saya pulang, kamu harus udah mandi ya." Pinta Aska dengan suara menggoda. Senyumnya juga ia berikan semanis mungkin, agar Queen lupa tentang masalah bekalnya tadi.


"Love you mas Aska.." Suara merdu Queen membuat Aska terdiam seketika. Manisnya ucapan Queen yang sudah menjadi istrinya sekarang. Kenapa Aska bisa dengan mudah membohongi wanita itu hanya karena takut Queen akan merajuk.


"Love you too sweetie." Dengan tulus Aska mengucapkannya. Lambaian tangan dari keduanya mengakhiri sambungan video mereka.


setelahnya Aska kembali masuk kedalam kedai makan tadi. Niatnya ingin melanjutkan acara makannya. Tapi entah hilang kemana selera makannya tadi.


Yang ada di benak Aska hanya suara Queen saat mengucapkan kalimat sayang untuknya.


"Nggak di abisin As?" Tanya teman Aska, yang tadi makan bersama dengannya.


"Tiba-tiba kangen makanan istri." Cicit Aska.


"Yailah pengantin baru dasar. Ntar juga beda As kalo udah lama, kayak gue. Mulai santai sama makanan ibu warteg."


Aska mendengus. Rasa kesalnya pada Fiki kian membuncah. Bagaimana ia menjelaskan pada Queen nanti. Ia sudah berbohong. Bagaimana jika Aska tidak membawa kotak bekalnya pulang nanti.


"Ngapain bohong segala si Aska. Harusnya kamu ngomong apa adanya aja. Apa karena takut nggak di bukain pintu ya?" Teman Aska yang lebih tu darinya, kembali membuyarkan lamunannya.


"Emang begitu bang?" Aska nampak terkejut, ia mulai antusias.


"Itu enggak seberapa As, saya paling takut kalo istri saya udah bilang, nggak mau ngasih jatah buat saya, padahal saya udah kasih jatah belanja dia. Paling bingung saya kalo udah gitu, jadinya, mau nggak mau ya harus turutin mau nya dia. Ya nggak?" Di tanya pendapatnya dari orang yang lebih berpengalaman darinya, membuat Aska menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.


Waduh, sikap Queen saat marah sangat tidak bisa di prediksi oleh Aska. Bagaimana jika Queen mengancam hal yang sama untuk Aska. Aska yang baru saja menikmati nikmatnya surga dunia dengan satu wanita. Wanita yang sudah menjadi miliknya sah dalam pandangan apapun.

__ADS_1


Aska tidak ingin kalau sampai dirinya tidak di bukakan pintu, atau Queen yang menolak tidur dalam pelukannya. OH TIDAK. Itu akan sangat mengganggu pikiran Aska. Mengganggu Aska dalam alam bawah sadarnya.


🙃🙃😉


__ADS_2