
Siapa yang nggak sibuk kala pagi hari? Apalagi kalau udah punya momongan, di tambah bocahnya udah sekolah. Ya ampun.. bisa di bayangin tuh ribetnya pagi hari.
Sama kayak keluarga kecil Aska. Queen yang statusnya masih ibu muda, anak pertama, juga mantan anak manja. Bisa di pastikan setiap Gita masuk pagi, pasti deh, kaki mulusnya udah berasa pegel duluan. Padahal masih pagi, gimana sampe nanti sore. Belum lagi ngurusin suami yang berangkatnya pagi banget. Jangan di bayangin deh.. please.. yang ada bikin mumet, mood berantakan.
Gita, yang udah beranjak jadi anak kelas satu SD, masih belum satu kelas sama adik kesayangan yang di gadang-gadang bakal jadi calon suaminya - paksaan dari bundanya - dari kecil. Jadi, bisa di bilang hati Aska masih bisa tenang, sesaat.
Tapi, sebelum mama muda itu ngurusin keperluan anak pertama mereka, Queen juga harus ngurusin perlengkapan suaminya. Sama seperti hari kemarin. Nyiapin teh hangat, baju seragamnya, kotak bekalnya, terus nemenin suaminya sarapan sebentar, masih dengan mode diam. Tanpa mau berucap atau memandang wajah ganteng suaminya, Queen hanya menunduk, menatapi piring dengan makanan yang cuma di aduk-aduk ga jelas.
Tapi sekali lagi, Aska itu suami yang idola banget bagi saya. Dia tau setiap detil sikap dari istri manjanya, meskipun wanita muda itu masih dengan cekatan menyiapkan segala keperluannya, sampai menemaninya duduk bersama, tetap saja, suaranya belum ia dengar pagi ini. Membuat hatinya sedikit kecewa.
"Itu rezeki Ra, jangan di mainin." Tutur Aska pelan, tidak ingin memancing keributan di pagi hari, tapi hatinya gemas melihat kelakuan wanita cantik di sebelahnya itu.
"Hem.." Singkat saja jawaban Queen.
"Kalau belum mau makan, di simpen aja dulu."
"Hem.." Lagi.
Kalau sudah begini, Aska tidak mau berucap apapun lagi. Ia tau betul, wanita kalau sampai diam, bisa dikatakan marahnya sudah level tinggi. Tapia, kalau istrinya masih mencak-mencak dengan segala uneg-uneg di hatinya, bisa di bilang itu cuma marah sesaat.
Masih ada beberapa menit biasanya, sebelum lelaki itu harus beranjak, namun, karena situasi dan fikiran yang masih tidak terkontrol, Aska memutuskan untuk segera berangkat. Ia takut, malah nantinya akan membolos demi menyelesaikan obrolan semalam.
"Aku jalan sekarang Ra." Lelaki itu beranjak, sesaat setelah meneguk habis minumannya.
Masih tanpa suara, Queen mengangkat arah pandangnya, mengikuti setiap gerak dari sosok suami yang sedang ia acuhkan.
"Jangan lupa sarapannya di makan." Setelah mengecup kening buah hati mereka yang masih tertidur, Aska beralih mengecup kening Queen, memandang manik mata itu sebentar, meskipun Queen enggan membalas tatapannya.
"Nanti, kabarin saya setiap kamu masih di luar." Titahnya dingin. Tanpa perlu menunggu jawaban meski hanya sekedar deheman atau anggukan dari istrinya, ia berlalu. Dan baru kali ini selama mereka bersama, Queen tidak mencium punggung tangan suaminya saat akan berangkat kerja.
Menyedihkan.
Dalam hati, ada rasa bersalah dan kecewa secara bersamaan, tapi Queen tidak mau terlalu larut. Masih ada satu kepentingan yang harus ia selesaikan. Gita. Hari ini ia berangkat pagi. Maka Queen, segera mengalihkan fokusnya pada buah hati tercinta. Meskipun dalam hatinya dan sebagian fikirannya masih ada tentang kejadian tadi.
"Sayaang.. ayok bangun.. waktunya berangkat sekolah.." Bisik Queen lembut, seraya tangannya mengusap usap pipi chubby Gita.
__ADS_1
Beruntung Queen di berikan buah hati yang begitu nurut dan ceria. Jadi tidak terlalu sulit untuk mengaturnya.
***
Rendi sudah seperti ayah kedua bagi Gita. Jadwalnya yang tak pernah sama dengan Aska, bisa membuat Rendi menggantikan ayahnya untuk mengantar dua malaikat bagi Aska. Tanpa di komando pun, Rendi seolah tau jadwal dirinya mengantar dan menjemput Gita kesekolah.
"Ka Rendi.." Cicit Queen dari bangku penumpang belakang. Ia duduk bersama Gita dan Rendi di depan sendiri, persis seperti supir yang mengantar majikannya.
"Apa?" Jawab Rendi, melirik dari kaca spion dalam.
"Mas Aska ada cerita sesuatu nggak sama kakak?"
"Ada."
"Apaan?" Queen antusias, mencondongkan tubuhnya kedepan, dengan satu tangan di atas sandaran jok Rendi.
"Maunya apa?"
"ya elah." Queen kembali lemas, ia sentak kasar tubuhnya bersandar, tidak ketinggalan raut wajahnya yang juga ikut berubah.
"Nanti ya Queen.. ada waktunya buat cerita." Jelas Rendi, ia tentu tidak ingin suasana di mobilnya menjadi mencekam hanya karena rajukan Queen merembet pada dirinya.
"Tata.. mau makan di luar atau langsung pulang?" Tanya Rendi.
"Aku terserah enda aja om," Jawab si kecil.
"Oke, kita langsung pulang aja ya, soalnya ayah bilang bunda Tata lagi kurang sehat."
"Tapi aku mau makan ayam goreng tepung om.." Rengek Gita.
Rendi dan Queen jelas-jelas mendengar rengekan itu. Queen memutar bola matanya malas, mungkin karena suasana hatinya yang kurang baik. Berbeda dengan Rendi yang malah tertawa lima jari, ia begitu gemas dengan setiap ucapan si kecil.
"Oke tuan putri. Om minta ijin sama ayah dulu ya?!"
"Oke.. Om Rendi yang terbaik." Satu ibu jari kanan terangkat untuk Rendi.
__ADS_1
Rendi menoleh sebentar sambil tersenyum manis ke arah Gita.
"Liat tuh Ra. Kamu banget dah kelakuan si Gita."
"Aku nggak plin plan gitu ya kak." Bantah Queen.
Tanpa memerdulikan sanggahan itu, Rendi malah sibuk menghubungi ayah dari si kecil, memberi kabar tentang keinginannya.
"Oke Tata sayang, ayah kamu udah kasih izin buat kita."
"Yeay..."
"Jadi, sekarang kita anter bunda pulang dulu, baru kita cari ayam goreng tepung yang paaaling enak."
"Ha? Enda nggak ikut om? Kenapa?"
"Ayah nggak kasih ijin buat bunda keluar. Katanya bunda kamu harus banyak-banyak, sebanyak-banyaknya dia istirahat."
"Banyak banget om banyaknya. Aku bingung." Celetuk si kecil."
Lagi lagi, Rendi hanya tertawa lebar dengan gemas. Berbeda dengan Queen yang masih menekuk wajahnya memandang ke arah luar jendela.
Fikirannya masih tidak lepas tentang kejadian tadi pagi. Kenapa suaminya pergi begitu saja, tanpa perlakuan seperti biasa. Bukan Queen yang menolak. Tapi Aska yang tidak memberi kesempatan padanya. Dalam hati, rasa bersalah dan rasa kecewa saling menunjukan eksistensinya. Queen tidak tau yang mana yang menjadi dominan. Yang jelas, ia tidak ingin merasakan ini berlarut-larut. Tidak mau tau juga alasan suaminya melarang dirinya ikut pergi bersama Rendi juga buah hatinya. Fikirannya sudah sangat penuh tentang kejadian yang hanya beberapa detik dalam paginya tadi.
"Jangan banyak-banyak ngelamun Queen. Nanti di tinggal di rumah sendiri malah ngelakuin yang enggak-enggak lagi." Suara Rendi membuyarkan lamunannya.
Tidak terasa juga sudah sampai di depan gerbang kediaman mereka.
Rendi enggan mengantarnya ke dalam. Ia hanya membiarkan Ibu dari anak kecil yang kini berpindah di bangku penumpang depan samping dirinya, berlalu. Memastikannya ia sampai di depan pintu kamarnya. Barulah Rendi kembali fokus pada si kecil.
"Mau kemana kita sekarang?" Semangat Rendi
"Ke ayam goreng tepung. Yeay..." Jawaban si kecil tak kalah antusias.
🙃🙃😉
__ADS_1