Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
Mas Aska


__ADS_3

**Bagaimana caranya oh kasihku, ku ingin jumpa dengan kamu, bagaimana caranya...


Haruskah ku teteskan air mata di pipi, haruskah ku curahkan segala isi di hati..


Oh haruskah kau ku peluk dan tak ku lepas lagi, agar tiada pernah ada kata berpisah**


***


Matahari belum muncul sepenuhnya saat kesadaran Aska datang. Lelaki itu mengerjap silau karena cahaya lampu. Diliriknya jam dinding dalam kamar. Baru pukul empat lewat, dan artinya ia baru tidur selama 2 jam.


Tapi, mau tidak mau Aska dan Queen harus kembali ke Jakarta karena ia bertugas di pagi hari. Aska menghampiri ranjang kasur Queen yang berada di sebelahnya.


"Ra.." Usap tangan Aska pada kening gadisnya. "Bangun, kita pulang sekarang yuk!" Ajak Aska.


"Hm.." Queen merentangkan tubuhnya, berbalik memunggungi Aska.


"Ayuk sebentar, nanti di mobil tidur lagi." Tawar Aska yang tak kunjung dapat balasan dari gadisnya. "Ira..." Aska mengguncang bahu Queen.


"Eem.. aku masih ngantuk mas.." Cicit Queen. Queen memang baru saja memejamkan matanya satu jam yang lalu, sibuk menceritakan apa yang terjadi dengan sahabatnya semalam.


Aska sudah tidak ada pilihan lain, melihat mata gadisnya yang masih terpejam erat, mau tidak mau ia harus menggendongnya keluar, dari pada ia nanti terlambat.


Lelaki itu memaksakan tubuh gadisnya duduk, menggendong gadisnya di punggung belakang. "Kebo banget kamu Ra.." Rutuknya, sembari mengambil semua peralatan mereka.


Aska berjalan keluar kamar, untung saja lantai Aska tidak lupa untuk selalu menjaga stamina tubuhnya, andai saja ia tidak rajin berolah raga, entah bagaimana nasibnya setelah menggendong Queen apalagi ia belum makan sejak kemarin siang.


Rasa malu dalam diri Aska ia pendam dalam-dalam. Baginya, sudah tidak aneh jika dirinya selalu menarik perhatian orang lain semenjak bersama Queen.


Bagaimana tidak, siapa yang tidak curiga melihat seorang lelaki dengan wajah kusut, menggendong seorang gadis muda cantik yang masih terpejam. Pastilah berbagai macam pertanyaan bersarang di otak kotor mereka.


Setelah Aska berhasil meletakkan tubuh Queen di bangku penumpang samping dirinya, Aska langsung melajukan mobilnya keluar dari parkiran motel.


Queen sebenarnya sadar dalam gendongan lelakinya tadi, hanya saja Queen ingin membalas rasa jengkelnya semalam, setelah merasa di abaikan.


Udra kota Bandung di pagi buta seperti ini, sangat menyejukkan, meskipun masih ada bayangan tentang kejadian saat bersama mama Queen, tapi Aska tak ingin ambil pusing lagi. Yang sekarang ia yakini, pasti ada cara untuk mendapat restu dari mama Queen, gadis tersayangnya.


Aska mengusap punggung tangan Queen dengan satu tangan memegang kemudi. Sesekali ia lirik wajah gadis di sampingnya. Rasa gemas dalam hati Aska tak sadar membuat bibirnya tersenyum. "Kamu manis banget sih Ra.." Ucapnya pelan, sambil mengusap pipi Queen.


Sebelum memasuki jalan tol, Aska menyempatkan diri untuk berhenti di salah satu rumah makan cepat saji 24 jam. Ingatkah dia kalau Queen belum makan semalam.


Aska keluar sendiri meninggalkan Queen yang masih nampak tertidur di dalam mobil. Tak perlu waktu lama bagi Aska menerima pesanannya, karena pelanggan sedang kosong, lelaki itu sudah kembali kedalam mobilnya. Duduk kembali di balik kemudi.


"Nih, sarapan.." Aska meletakkan bungkusan berisi makanan itu di atas pangkuan Queen. Kembali melajukan mobilnya, menembus jalanan kota Bandung, bersiap meninggalkannya.


"Makan, saya tau kamu udah bangun.." Titah Aska. Satu mata Queen mengintip, melihat wajah kekasihnya lalu tersenyum.


"Ketauan ya.. hehe.." Queen tertawa kecil. "Tau aja kamu mas, aku lagi laper." Queen membongkar isi bungkusan itu. Melahapnya seketika.


"Maaf ya, semalem saya nggak kasih kamu makan." Queen melirik, tak percaya dengan apa yang di dengarnya. "Apaan mas?" Tanya Queen menelan paksa isi dalam mulutnya.


"Iya, maaf semalam kita nggak sempet makan." Ulang Aska. Dengan nada bersalah.


"Aku masih nggak ngerti deh." Queen lebih tertarik dengan ucapan lelaki di sebelahnya, dari pada makanan yang ada di depannya.


"Ck, kamu itu." Aska menyentil kening Queen, gemas. "Saya tau kamu ngerti, cuma pengen saya ngerasa bersalah aja kan.." Tebak Aska yang langsung dapat cengiran Queen.


"Semalem itu saya ngerasa, sedikit kalut. Isi kepala saya cuma muka jelek kamu doang. Makanya nggak sempet mikirin yang lain." Jelas Aska.


"Aku nggak jelek ya. Kamu doang yang berani bilang aku jelek." Queen tak terima dengan ucapan kekasihnya. Wajahnya langsung tertekuk seketika.


"Kamu jelek, karena mau sama saya. Kalau kamu cantik, harusnya kamu bisa depetin pengusaha muda yang gantengnya lebih dari saya." Aska menggoda.

__ADS_1


"Aku bisa kalo aku mau." Queen kembali memakan ayam goreng tepung di tangannya.


"Masa? Nggak percaya ah, kan cowok yang deketin kamu cuma anak ingusan yang belum lulus kuliah.." Aska tersenyum lebar, puas menggoda gadisnya.


"Nih ya mas.." Queen menghadap Aska dengan serius. "Kalau aku mau, aku tinggal telfon mama atau eyang, terus bilang, oke aku mau di jodohin, gitu doang terus dateng deh, pengusaha-pengusaha muda, atau anak seorang pengusaha besar." Queen menyombongkan diri, tak mau kalah dengan tuduhan Aska.


"Masa? Belum tentu mereka nya mau sama kamu!" Aska mencolek hidung Queen.


Kali ini Queen merasa geram. Kesal dengan ejekan tentang dirinya, Queen mengambil ponsel miliknya di atas dashboard di depannya.


"Oke, kalo kamu nggak percaya, aku bisa buktiin ke kamu, nih kamu denger ya aku telfon mama.." Queen menyelancarkan jemarinya di atas layar ponsel. Namun gerakannya seketika berhenti, saat ponsel miliknya kembali di ambil Aska. "Jangan!" Tolak Aska.


Queen terpana. Terpana pada sikap Aska yang dominan, terpana pada mata lekat Aska, terpana pada suara tegas Aska. Queen terpaku beberapa saat di tatap tajam oleh lelakinya itu.


"Kamu ada ada aja dah. Saya masih mikirin caranya dapet restu mama kamu. Eh kamu malah mau dijodohin. Sama aja kayak kamu ngebuang saya itu mah." Cicit Aska.


"Lah, kan tadi mas sendiri yang nantangin aku." Bela Queen tak terima dirinya dituduh


"Iya iya.. salah saya.. maaf.." Bibir Aska mengerucut, merasa dirinya kalah.


"Makanya, hati-hati kalo ngomong." Queen tersenyum. "Eh, mas.. semalem kok tumben kamu sebut nama aku di depan mama?" Queen antusias.


"Terus, saya harus sebut nama wanita lain di depan mama kamu?" Aska ambigu dengan pertanyaan Queen.


"Awas aja!" Ancam Queen. "Maksud aku, kamu panggil aku Queen bukan Ira." pandangan Queen serius menatap Aska.


"Iya lah Ra. Itu kan mama kamu. Ira itu panggilan sayang saya buat kamu." Jelas Aska santai.


"Ha? Bukannya kamu bilang nama aku susah, makanya mas panggil ujungnya doang!" Queen masih penasaran.


"Ya enggak gitu juga, masih banyak nama yang lebih rumit dari nama kamu. Tapi kan saya malu kalo bilang itu panggilan sayang saya.."


"Oh.. jadi mas malu nunjukin sayang mas buat aku di depan orang?" Queen salah paham.


Dengan tangan yang masih memegang kendali kemudi, Aska berusaha membuat hatinya kembali nyaman dan hidup. Yah.. meskipun kadang ada kesalahpahaman dalam kata-kata mereka.


"Oh, jadi semalam kamu sadar mas? Kamu tau apa aja yang kamu lakuin ke aku?" Queen menunjuk dirinya sendiri.


"Tau. Kan saya bilang, saya nggak minum alkohol. Itu cuma minuman rasa asam, biar sedikit ilang pusingnya." Aska menjawab pertanyaan Queen dengan santai. Mengeluarkan satu tangannya untuk menempelkan kartu e-toll pada mesin.


"Mas Aska ih.. nyebelin." Queen memukul lengan Aska pelan. "Mas Aska tau nggak aku kedinginan, tau nggak aku malu di liatin orang, tau nggak aku tuh laper banget ngeliat gerobak tukang nasi goreng itu.." Bibir Queen mencebik. Tangannya terlipat di depan dada, dengan nafas yang memburu.


"Oh, kalo semua itu saya nggak tau.. kan kamu nggak bilang apa apa." Aska mengedikkan bahunya santai, sambil tersenyum menggoda.


"Tau ah." Queen membuang pandangannya ke arah luar jendela samping.


"Makan dulu sayang.. nanti baru lanjut lagi ngambeknya." Aska mencolek lengan Queen, berkali kali, membuat Queen semakin kesal.


"Kamu itu kenapa sih mas? Ngantuk ya? Makanya isengin aku terus?" Selidik Queen, yang kembali memandang lelakinya.


"Sekarang sih belum. Nggak tau kalo nanti." Aska meniru gaya film Dillan.


"Dih." Queen memicing, pandangannya jijik mendengar ucapan Aska. "Aku nggak nyangka kamu nonton film genre manis gitu?" Kali ini Queen yang meledek.


"Saya tau dari lita, dia yang milih filmnya, saya sih manut aja."


"Siapa mas?" Queen berkata dengan cepat.


"Ha? I..itu.. temen saya, eh dia temennya Rendi." Aska menelan salivanya kasar, bergantian menatap gadisnya juga arah jalan di depan dengan kaku sambil berusaha mencari alasan.


"Temen Rendi atau temen kamu?" Queen semakin menyudutkan Aska. "Kayaknya aku belum pernah cek ponsel kamu kan mas? Coba mana hp kamu?" Queen mengadahkan tangannya meminta pada Aska.

__ADS_1


"Dih.. Ponsel saya mati, nggak di cas dari kemarin." Aska berkilah. "Nih, di dalam tas kecil ini, coba liat kalo nggak percaya." Aska menyodorkan tas kecil hitam bertali panjang miliknya.


Tak ingin mudah tertipu Queen bergegas mengobrak abrik isi dalam tas itu. Ternyata benar saja, setelah Queen mendapatkan apa yang ia cari, kenyataannya ponsel itu dalam keadaan mati. Queen kecewa. Tapi tak lantas membuatnya putus asa.


"Nggak masalah. Nanti aku cas di kamar aku. Kamu kerjakan pake radio khusus buat komunikasi sesama tim. Kalo gitu, kamu bawa hp aku aja." Queen melemparkan ponselnya di atas pangkuan Aska.


"Ya ampun Ira sayang.. casingnya warna pink gini, ada kuping kelincinya segala. Malu dong Ra saya. Apa kata temen saya nanti.." Aska memohon.


"Ya mas Aska bilang aja, lagi tukeran sama pacar, nggak usah di bikin ribet deh mas.." Queen tersenyum penuh kemenangan..


"Kejam banget kamu Ra, sama saya.." Suara Aska memelas.


"Nggak usah kayak teraniaya gitu lah mas. Yang masih kecil itu aku atau kamu."


"Kejam.. kejam.. kejam.." Aska memukulkan tangannya di atas kemudi dengan pelan. Sebenarnya bukan karena ia malu dengan ponsel canggih Queen. Ia tinggal membuka hard case nya saja. Yang jadi masalah, Rendi pernah mengirimnya film biru juga menyimpan beberapa kontak nomor telepon wanita waktu jadi relawan banjir kemarin. Gimana kalau gadis konyol manja kesayangannya itu salah paham.


"Tidur gih Ra, kasian kamu baru tidur sebentar. Nanti saya bangunin kalo udah sampe." Tawar Aska semanis mungkin.


"Aku nggak ngantuk." Queen kembali melanjutkan makan potongan ayam yang masih tersisa banyak. Hanya saja ia sudah tidak berselera makan dengan nasi.


"Mas.. Aaa.." Queen memasukkan suwiran ayam ke dalam mulut Aska yang masih mengerucut. Lucu juga menggoda lelakinya sekali-sekali..


***


Arus balik dari Bandung menuju Jakarta pada hari minggu tidak sepadat arah sebaliknya. Malah bisa dibilang lancar pake banget. Jadi Aska bisa tepat waktu sampai di kontrakan, untuk mengantar Queen, juga mengganti seragam dinasnya.


Kenapa selama sisa perjalanan Queen tidak juga tidur, padahal Aska tau gadisnya berusaha melawan rasa kantuknya. Mungkinkah karena ponsel milik Aska?


"Sampe juga akhirnya.." Queen merentangkan ke dua tangannya ke atas, sedikit menggeliat, mengendurkan otot-otot tubuhnya, saat mobil sudah terparkir sempurna.


"Langsung mandi, bau.." Aska bersuara sambil berjalan keluar pintu mobil. Lelaki itu masih terlihat kesal, membuat Queen semakin semangat melihat seluruh isi data dalam ponsel.


"Aku nggak di bukain pintu mas?" Teriak Queen, melihat lelakinya sudah sampai depan pintu kamarnya. Baru saja Aska melepas sepatunya, mendengar suara gadisnya yang masih di dalam mobil, lelaki itu bergegas menghampiri Queen tanpa menggunakan alas kaki.


"Makasih mas Aska.." Puji Queen selembut mungkin, dengan senyum gemas. Aska setengah berlari menuju pintu kamarnya lagi tanpa menjawab pujian kekasihnya.


Queen segera masuk ke kamarnya, tak sabar mengisi daya baterai ponsel Aska. Segera ingin menyudutkan Aska dengan kesalahan-kesalahannya nanti. Dengan begitu, apapun yang Queen inginkan pasti akan ia dapat.


Dasar Queen.


Tak lama, terdengar bunyi ketukan pintu kamar Queen, dengan suara Aska di luar.


"Kenapa mas?" Suara Queen masih lembut dengan senyuman penuh misteri, setelah membukakan pintu


"Saya mau berangkat Ra.." Pamit Aska tegas.


"Oke, hati-hati di jalan ya mas Aska ter..cinta.." Queen mengecup pipi Aska, namun lelakinya itu tak kunjung pergi. "Kenapa lagi?" Tanya Queen heran.


"Saya mau berangkat pake taxi online, biar bisa curi waktu istirahat." Tutur Aska.


"Ya udah, hp aku masih ada di mobil kamu. Itu juga ada kok aplikasinya. Saldonya juga ada." Jawab Queen cepat.


"Ra.. please.. gini aja deh.. nanti saya pulang langsung kasih ke kamu lagi hpnya." Aska memohon, suaranya memelas, namun langsung mendapatkan gelengan kepala sebagai jawaban.


"Mas Aska sayang.." Queen meletakkan tangannya di atas pundak Aska. "Ponsel kamu kan mati, jadi nggak bisa pesan taxi onlinenya.. pake hp aku aja sekali, aku nggak pa-pa kok." Manis benar suara Queen. Membuat Aska semakin bingung.


"Atau gini aja deh mas.. Nanti kamu pulang aku langsung kasih ke kamu hpnya. Sekarang aku cas dulu ya punya kamunya.." Queen membalik ucapan Aska.


Dengan berat hati Aska meninggalkan Queen dengan wajah memelas.


"Ah saya nggak mau pulang ntar malem." Ucapnya sembari ngeluyur pergi.

__ADS_1


Kenapa Aska nggak mau pulang? Nggak mau pulang atau nggak berani pulang. Entah, hanya Aska yang tau. Yang jelas, wajahnya kali ini benar-benar menggemaskan bagi Queen.


Boleh minta like nya ??


__ADS_2