
Acara masak yang tiba-tiba bagi Queen sudah selesai dalam waktu singkat. Untungnya dengan bantuan dua tungku kompor juga keterampilan empat tangan, masakan yang sangat sederhana berhasil mereka taklukan.
Jangan berekspektasi yang berlebihan. Queen bukanlah gadis yang biasa menghabiskan waktunya di balik kompor, dan Aska juga bukan lelaki yang biasa masak sendiri. Meski rasanya tak seenak masakan warteg yang dulu biasa mereka makan. Setidaknya mereka sudah berusaha dan mencoba. Tentang hasil, biarkan cinta yang menjadi penguat keduanya.
Haha.. seperti yang mereka biasa katakan, apapun rasanya, akan enak jika ada cinta diantara keduanya. Entah, tempe yang sedikit berwarna hitam, dan beberapa yang tampak masih pucat sudah tersedia di atas piring berdampingan dengan beberapa telor ceplok, yang sebagian lupa mereka beri rasa.
Jangan lupakan tumis kangkung di beri rasa saos tiram kemasan seperti yang mereka lihat di iklan televisi. Hanya di beri irisan bawang merah dan bawang putih serta beberapa tangkai cabe hijau yang biasa menjadi teman gorengan, Queen dengan telaten mencampurnya, tak lupa ia juga merasakan hasil masakannya sebelum di sajikan di atas piring.
Sambal hasil buah tangan Aska juga siap menemani sayur serta lauk uang sudah di sajikan di atas meja makan.
"Saya mandi dulu ya Ra, abis itu kita makan." Titah Aska, membuka kaosnya yang sudah lengket karena keringat hasil mereka bertarung dengan masakannya.
"Iya jangan lama ya.." Pesan Queen. Wanita itu juga sibuk menyiapkan bekal untuk suaminya, sambil menunggu Aska mandi.
Meski rasa lelah sudah mendera, di tambah kening yang basah karena keringat, Queen tetap sabar menata nasi juga lauk pauk dalam kotak bekal untuk Aska.
Aska sudah selesai mandi, rambut basah yang membuat dirinya terlihat begitu lebih segar dari biasanya. Membuat Queen kembali bersemangat mendekati Aska.
"Wangi banget dah.." Queen mendekati hidungnya hampir menempel dengan dada bidang Aska yang polos dari kain.
Sayangnya, lelaki itu menolak di dekati Queen. Ia mendorong kening Queen dengan jari telunjuknya, hingga mundur beberapa langkah kebelakang.
"Mandi dulu sana, saya tungguin. Buruan." Aska memberikan handuk yang ia kenakan, melingkarkan di leher Queen.
Queen berdecak. Kenapa lelaki ini menjadi begitu manja. Biasanya Aska yang meletakkan handuknya kembali ketempat semula.
Kali ini Aska selalu ingin di turuti juga di siapkan segala keperluannya. Menjengkelkan. Bukannya Queen tak suka, hanya sedikit berbeda dengan seorang Aska sebelumnya.
"Celana saya mana Ra?" Tanya Aska sedikit berteriak. Queen mendengarnya, tapi Queen sedang tanggung dalam urutan mandinya. Tinggal membilas sabun yang menempel di tubuhnya, maka ia akan segera keluar.
"Ira.." Teriak Aska lagi dari kamar.
"Iya sebentaar.." Wanita itu bergegas menuju kamar, menghampiri suaminya yang sudah berteriak tidak sabar.
Dengan handuk yang melilit menutupi dada atas hingga sebatas bagian paha, Queen setengah berlari menghampiri Aska.
"Apaan sih teriak-teriak. Kayak di hutan aja." Omel Queen.
"Celana saya mana? Masa saya tugas pake celana jeans?" Aska mengangkat celana jeans, menunjukkan ke pada Queen.
__ADS_1
"Celana kamu itu, nih disini." Queen mengangkat kaos coklat yang menutupi celana yang Aska cari. "Di cari dulu dong mas, teriak-teriak nggak jelas." Rutuk Queen. Ia berbalik menghadap lemari, mencari kaos yang akan ia kenakan.
Namun saat tangannya hendak meraih kaos pilihannya, Queen dikejutkan dengan tangan yang melingkar di perutnya.
Queen menunduk, memperhatikan tangan Aska yang memeluknya erat. Kecupan demi kecupan juga Queen rasakan, mendarat di pipinya.
"Kamu cantik banget sih Ra.." Tutur Queen, ia menghirup aroma wangi dari tengkuk leher Queen. "Wangi lagi.. aku suka.." Cicitnya.
What? Aku?
"Sabun kita kan sama mas.. ya sama lah wanginya sama kamu." Queen berusaha menolak pesona Aska. Mereka baru saja mandi.
"Mas Aska.." Panggil Queen, wanita itu menutup kembali pintu lemari, menampilkan gambar mereka yang tengah berpelukan.
Aska masih bertelanjang dada, meski celana panjang bahan sudah menutupi kaki jenjangnya. Memeluk Queen dari belakang yang masih terlilit handuk putih.
Sungguh, Queen terbuai dengan sikap Aska kali ini. Lelakinya terasa begitu hangat namun manja.
"Mas Aska.." Panggil Queen sekali lagi, matanya terpejam. Tak ingin melihat intimnya mereka dari cermin.
"Apa sayang?" Bisik Aska di telinga Queen.
"Jangan gini mas, kamu udah mau berangkat kan?"
Queen melingkarkan tangannya di leher Aska. Seberapa pun Queen mencoba, pesona dan sentuhan Aska begitu mendamba baginya.
Perlahan dengan lembut, Aska meminta tubuh Queen menerima setiap kecupan-kecupan kecil darinya. Mulai dari bibir, ke pipi, beranjak ke perpotongan leher Queen, sedikit berlama-lama di pundak wanitanya. Bulu halus Queen sudah meremang. Menikmati sensasi dingin di atas kulitnya.
Terakhir Aska meninggalkan kecupannya yang dalam dan lama pada kening Queen. Setelah ia puas, Aska memeluk Queen, menjatuhkan dagunya di atas pundak kanan Queen. Sedikit menggoyangkan tubuh wanitanya ke kiri dan ke kanan.
Queen kini sangat bingung dengan sikap Aska. Queen fikir Aska akan meminta jatahnya saat ini. Ternyata tidak.
Setelah Aska melepaskan pelukannya, lelaki itu menyentil kening Queen. "Milih baju aja lama banget."
Queen diam. Bukan karena sentilan dikening yang terasa sakit sesaat itu, tapi lebih karena ucapan Aska yang lebih dari sekedar sentilan untuknya.
Siapa yang tiba-tiba memeluk dari belakang, saat Queen sudah memilih pakaiannya. Siapa juga yang meminta Queen menuruti sikap manjanya, sampai Queen berfikir mereka akan melakukannya lagi. Dasar lelaki. Suka semaunya sendiri.
"Ayok Ra.. Saya udah mau waktunya berangkat, belom makan, pake sepatu. Belom lagi nanti macet, ya ampun.." Aska menjatuhkan tubuhnya duduk di atas sofa.
__ADS_1
"Nggak usah ngeluh lah mas.." Queen memberikan piring yang sudah terisi dengan nasi dan lauk pauk hasil mereka tadi.
"Bukannya saya ngeluh Ra.."
"Tapi?"
"Cuma.. nggak tau aja, males banget kalo inget jalanan yang macet. Enakan berangkat kalo pagi." Aska mengangkat gelas yang sudah diisi air putih oleh Queen tadi.
"Ya udah makannya buruan." Titah Queen.
Aska mengangguk. Sesuap demi sesuap isi dari piring mereka mulai habis. Aska yang menyelesaikannya lebih dulu. Dan Queen menyusul kemudian.
Setelah menenggak habis minumnya, Aska langsung bangun, berjalan ke arah pintu, memakai sepatu dinasnya yang lebih mirip sepatu boot.
"Buru-buru banget sih mas?" Tanya Queen, ikut berdiri menghampiri lelakinya.
"Saya mau dateng lebih awal dari Fiki. Dia nggak boleh lolos lagi." Aska dengan cepat menyelesaikan gerakannya. Berdiri menyatukan seleting jaketnya.
"Saya berangkat dulu ya Ra. Baik-baik di rumah." Queen mengangguk, mencium punggung tangan suaminya. Dan Aska membalasnya dengan kecupan di kening Queen.
Queen melambaikan tangannya, mengantar kepergian Aska dengan motornya. Yang dengan perlahan dan semakin menjauh, hingga suara motornya sudah tak terlihat lagi. Barulah Queen masuk kedalam, mengunci pintu rumahnya.
Kini tinggal dirinya sendiri yang ada di rumah, membereskan semua yang berantakan selepas keberangkatan suaminya.
Piring kotor bekas mereka makan tadi, Queen membawanya kebelakang, langsung mencucinya. Queen ingin segalanya terlihat rapih dan bersih. Berbeda dengan Aska yang kini sangat santai. Bukan santai tepatnya asal-asalan.
Baju kotornya tidak langsung ia taruh di dalam keranjang baju kotor, handuk bekas pakainya juga tidak ia letakkan kembali ke tempatnya, kini ia lebih suka memberikannya pada Queen, atau meletakkannya asal di atas meja.
Kunci mobil dan tas kecil yang tadi Aska pakai saat mereka makan dan mencari hadiah ulang tahun tetangganya. Queen mengangkat celana jeans bekas tadi Aska pakai.
Ia hendak meletakkannya ke dalam keranjang cucian. Dan saat Queen memeriksa setiap isi kantong celana itu, Queen menemukan dompet milik Aska.
Astaga. Lelaki biasanya pada umumnya hanya memiliki satu dompet dan satu tas kecil. Lalu, bagaimana jika tas kecil dan dompet tertinggal di rumah saat sang pemilik tidak ada di rumah.
Queen panik, ia lalu mencari ponselnya, hendak menghubungi Aska. Semoga saja suaminya itu belum pergi jauh.
Sambungannya terhubung, namun suara ponsel lain mulai mengusik pendengaran telinga Queen. dobel astaga..
Ponsel Aska yang juga hanya satu-satunya tertinggal di dalam tas kecilnya. Queen menggeram kesal.
__ADS_1
Entah apa pikiran dalam kepala Aska. Suaminya begitu ceroboh, lagi dan lagi.. membuat Queen tak tahan kali ini.
Apa yang harus ia lakukan kali ini, jika semua benda penting milik lelakinya tertinggal di rumah. Queen pasrah. Dia memilih menunggu Aska menyadari keteledorannya, dan menghubunginya lebih dulu.