
Ku pejamkan mata ini
mencoba tuk melupakan
segala kenangan indah
tentang dirimu tentang mimpiku
Semakin aku hindari
bayangmu semakin nyata
merasuk hingga ke jiwa
tuhan tolonglah diriku.
Tak bisa aku ingkari
engkaulah satu-satunya
yang pernah membuat diriku
yang pernah mati, menjadi berarti
Namun kini kau menghilang
bagaikan di telan bumi
tak pernah kau sadari
__ADS_1
arti cintamu untukku
Entah dimana dirimu berada
hampa terasa hidupku tanpa dirimu
apakah disana kau merindukan aku
seperti diriku yang selalu merindukan mu
selalu merindu kan mu..
***
Detik waktu terus berlalu, bermain dengan menit, berganti dengan jam, hari dan bulan. Hingga waktu yang selalu kita nantikan tentang suatu hal yang akan datang atau sesuatu spesial. Begitu juga dengan usia kandungan Queen yang semakin membesar. Hari-hari indah nan bahagia dengan sedikit konflik perdebatan konyol tak penting, terus mereka lewati. Masih dalam suasana rumah tangga yang harmonis, Queen terus mengulas senyumnya setiap memandang teduh wajah suaminya ketika tertidur di hadapannya.
"Mari kita biarkan lelaki ini beristirahat sebentar Tuhan. Ia sudah lelah menjalani detik dalam kesehariannya." Lirih Queen. Usapan lembut jemarinya menyentuh tiap inci di atas kulit wajah Aska-suaminya.
Bukan tanpa alasan. Ini juga permintaan dari kedua belah pihak keluarga. Mama Queen juga menyetujui permintaan besannya itu. Hari pertama kedatangan mereka membuat tubuh keduanya terasa lelah lebih dari biasanya. Queen yang membawa perut besarnya, juga Aska yang selalu siaga tanpa sedikitpun mampu memejamkan matanya saat berada di perjalanan.
Mereka pergi dengan menumpangi bus. Bukan kali pertama bagi mereka untuk pergi, tapi situasinya kini berbeda. Ada nyawa lain yang belum terlihat yang mesti harus mereka jaga, terutama Aska seorang calon ayah yang harus siap siaga kapanpun itu.
Aska tidak mungkin meninggalkan Queen sendirian dirumah dengan harus merawat anak mereka nanti yang baru lahir, lelaki itu tidak akan tenang selama ia bertugas. Dan bukannya mereka tidak mampu membayar seorang untuk membantu Queen, tapi wanita muda itu sudah memutuskan untuk hidup sederhana setelah ia melangkahkan kakinya keluar sejak ia remaja dulu.
Uang memang berharga, segalanya membutuhkan uang, apapun itu bisa ia dapatkan hanya dengan memiliki uang. Tapi Queen sudah bertekad untuk hidup lebih sederhana seperti kebanyakan orang di kanan kirinya di kontrakan. Ia hanya ingin memiliki lelaki yang bertanggung jawab dan menyayangi dirinya dalam keadaan apapun itu.
Terdengar egois, naif atau munafik? Itulah kenyataannya. Seseorang yang sudah terlalu muak dengan kemewahan yang hampa akan bertindak melawan arus dari biasanya. Dan itu hanya salah satu contoh kecil dari drama kehidupan yang konyol.
***
__ADS_1
Orang tua mana yang tidak bahagia melihat rumah tangganya yang begitu manis dan harmonis. Bahkan, tetangga sekitar yang baru sekali melihat pun tau, pasangan muda itu nampak bahagia, setidaknya untuk saat itu. Queen bukan gadis manja disana. Ia membantu menjemur pakaian, setelah Aini yang sehabis mencuci. Tidak ada mesin cuci disana, dan Queen sendiri yang mencuci dalaman miliknya juga suaminya.
Di bantu Aska yang membawa ember berat isi pakaian mereka, Queen dan Aska nampak kompak melakukannya. Setelah itu, Queen yang mengatakan ingin makan mie instan buatan Aska, tanpa perlu waktu lama untuk menunggu, Queen sudah mendapatkan apa yang ia mau.
"Ra, aku mau keluar sebentar ya?" Setelah meletakkan mangkuk berisi makanan itu, Aska meminta ijin pada istri kesayangannya.
"Kemana?" Tanya Queen santai.
"Em, ketemu temen bentar Ra. Kemarin aku ketemu mereka, nggak enak kalo nggak nyapa bentar."
"Yaudah, jangan lama-lama ya."
"Oke ndoro putri, sebelum siang aku udah pulang kok." Aska mengusap lembut pucuk kepala Queen dengan senyum kemenangan.
Seperginya Aska dari hadaapn Queen, ia merasa masih santai, masih seperti biasanya, Queen belum menyadari akan rasa sakit perut yang sudah ia rasakan sejak kemarin. Bukan, bukan tidak merasakan, tapi Queen masih mengabaikannya, ia hanya mengira itu hanya kontraksi palsu, sama seperti sebelumnya.
Karena, banyak yang bilang, persalinan anak pertama adalah lebih sulit dari anak selanjutnya nanti. itu sedikit lebih menyakitkan, lebih lama, dan lebih-lebih lainnya. Jadi, faktor pemikiran itulah yang membuat Queen tidak terlalu ambil pusing dengan keadaan itu.
Sampai saat rasa sakit itu kian menjadi, Queen merasakan rasa yang begitu sakit di antara perut juga pinggang belakang. Rasa sakit itu lebih dari sebelumnya dan jeda waktunya juga semakin cepat. Belum habis makanan di dalam mangkuk itu, tapi Queen sudah keluar keringat dengan becucuran.
Dimana ibu mertuanya? Ah.. ini masih waktunya beliau berada di sawah. Dimana Aini? Ia juga berpamitan untuk menyusul ibunya di sawah, seperti kebiasannya.
Dengan kaki yang lemas dan gemetar, Queen terus menahan sakit yang menusuk itu. Rasa panas dan nyeri bergelut di pinggangnya. Ia harus segera menelfon suaminya, lelaki itu pasti belum pergi terlalu jauh. Susah payah Queen berusaha mencapai ponselnya yang berada di kamar, ia terus mengusap perutnya, meminta agar calon anaknya itu sedikit lebih tenang di dalam, sabar menunggu bundanya untuk menghubungi ayahnya.
Queen terus berusaha mengatur nafasnya, menghirup dalam-dalam, lalu mengeluarkannya secara perlahan. Melakukannya berulang agar tidak terlalu merasakan sakit itu. "Mas Aska.." Lirih suara Queen.
Kenapa sakit ini begitu sakit sekali, Queen baru pertama kali merasakan rasa nyeri ini. Begitu tajam, panas dan menusuk. Tangannya yang gemetar mencari kontak suaminya. Susah payah ia berusaha dan akhirnya tersambung. Dering ponsel Aska terdengar dekat dengan diri Queen. Dimana suara itu? Ah. Kenapa lelaki itu pergi tanpa membawa ponselnya.
Sial sekali. Bukankah ia selalu mengatakan untuk menjadi suami siaga? Kenapa sekarang menjadi seperti ini. Saat Queen merasakan kontraksi yang kian nyata, suaminya justru tidak ada di sisinya. Begitu juga dengan ibu dan adik perempuannya. Haruskah ia menunggu hingga seseorang datang? Queen rasanya tidak sanggup untuk sekedar berteriak, atau jalan keluar mencari bantuan di luar.
__ADS_1
🙃🙃😉