
Rumah Farhan sama abang bakso langganan ini emang jauh, ya karena deketnya dari rumah ku, jadi perlu sekitar satu jam buat nyampe di rumah bocil labil yang ngeselin plus bikin eneg pengen gumoh yang banyak. tapi sayang sayang, bakso nya terlalu enak kalo buat di keluarin cuma karena cewek ABG nggak jelas tadi.
Ya.. akhirnya aku beneran jalan sendiri menggunakan taxi online, dan lucunya karena nggak mau sampe ada drama lagi kalo sampe Farhan bisa nyusul aku, aku sampe mesen sambil jalan, untung aja si abang driver nya bisa nemuin meskipun agak nggak sesuai sama titik penjemputan.
"Mas Lana... " Tanpa salam tanpa permisi, karena rumah ini emang udah kayak rumah kedua buat ku, aku masuk nyelonong aja, toh pak satpam dan segala penghuni isi rumah ini udah kenal banget pake akrab sama aku, termasuk mungkin mereka yang tak kasat mata, terlalu bosen buat ngeliat aku maen kesini.
"Waalaikum salam.. " jawab nya,
Yess ciri khas banget mas Lana.
"Kapan sampe? " Pengennya sih make peluk, karena kangen juga, tapi nggak bakal boleh deh. Auto di dorong menjauh pake tenaga kuda kayaknya.
"Tadi pagi, kamu kesini sama siapa? " Tanya nya yang masih pake baju koko, heran.. di rumah orang aja masih pake baju gitu.
"Sendiri, Farhan yang kasih tau mas disini."
"Emh.. tapi dia lagi pergi."
"Aku tau kok. Duduk yuk mas.. "
Ngedenger ucapan ku, mas Lana malah senyum manis banget. Salah ku dimana??
"Segitu seringnya ya kamu disini? sampe udah senyaman itu." Dia lebih milih duduk di sofa sebelah, kalo Farhan udah auto nempel nih, bisa jadi langsung tidur dengan kaki ku sebagai bantalan.
"Yah.. udah terlalu kebiasaan dari kecil mas, maklum aja yah.. hehe.. "
"Iyah.. ini sebagai bukti kalo kamu memang bukan untuk saya. "
__ADS_1
What.. omong kosong macam apakah ini??
Ngeliat aku yang nggak ngerti sama arti pembicaraan nya, Mas Lana memilih memperbaiki sikap duduk nya menjadi lebih tegak, terlihat lebih fokus ke aku dengan telapak tangannya yang saling berkaitan.
"Gita.." panggilnya halus.. suara yang udah aku rindukan selama ini. "Maaf ya, waktu kamu pulang kemarin, saya nggak bisa antar kamu."
"Nggak papa kok mas Lana.. santai aja, aku ngerti kok mas Lana sibuk."
"Itu cuma salah satu alasan aku aja, tapi maaf sebelumnya, boleh aku ngomong dulu, jangan bicara sampai aku selesai."
Hadoh.
"Soal apa?"
"Kita." Ada jeda sesaat, sebelum aku ngerti. "Kamu, aku dan Farhan. " Tuturnya.
"Oke, maaf sebelumnya kalau nanti saya menyinggung perasaan kamu, atau menyakiti hati kamu, tapi yang perlu kamu tau dan kamu garis bawahi, saya punya perasaan sama kamu dan itu tulus. Bukan untuk main main ataupun hanya sesaat saja. Hanya itu yang perlu kamu ingat kalau nanti saya melakukan kesalahan. Oke? Saya nggak mau kamu marah, lalu dendam dan kita nggak bisa komunikasi lagi."
Mas Lana menarik nafas dan mengeluarkan nya, seperti ada perasaan berat di hati nya. Jangan kan dia, aku aja kaget ngedenger pengakuannya.
"Tapi maaf Gita. Saya hanya bisa sebatas menyayangi kamu hanya sebagai adik. Bukan karena kamu masih terlalu kecil. Bahkan kamu sudah sepenuhnya mengambil alih dunia saya, pikiran juga alam bawah sadar saya, saya bahkan harus di bantu oleh dukungan ibu saya, untuk berani datang kesini, mengakui juga untuk menyelesaikan perkara ini. Ini adalah hal berat pertama kali yang harus saya lalui. Berat sangat berat.. sampai rasanya sulit untuk mengatakan ikhlas menerimanya."
Ada yang berubah dari sorot mata mas Lana, raut wajahnya, sesekali matanya berani untuk menatap mata ku, tapi terkadang dia lebih memilih untuk melihat ke arah tangannya yang masih saling bertautan.
"Gita. Kamu tau? Dulu ibu saya diam diam mencintai ayah kamu, tapi dia memilih untuk menikah dengan ayah saya. Karena ibu merasa kurang percaya diri untuk bisa bersanding dengan beliau. Dan sekarang.. saya juga merasakannya, entah ini kebetulan atau bukan, tapi saya juga suka kamu. Hanya saja, kamu sudah milik orang lain sejak awal dan itu adalah saudara saya sendiri. Bagaimana saya bisa merasakan cinta yang sesulit ini. Ibu meminta saya untuk menjaga jarak dengan kamu, karena itu saya lebih memilih balik ke pondok saat waktu kamu pulang, tapi rasanya terlalu berat untuk tidak berkata apa apa."
Ketika kepala mas Lana tertunduk, aku tau ada rasa yang coba ia tahan.
__ADS_1
"Tolong kasih saya pendapat kamu Gita, kasih tau saya apa yang harus saya lakukan selanjutnya, saya terlalu tidak berani untuk mengakui kekalahan saya. "
"Aku udah boleh jawab mas Lana."
"Hem..," Jawab nya singkat dengan kepala tertunduk.
"Mas tau.. sepanjang perjalanan menuju kesini tadi, aku tuh harus sekuat tenaga buat ngebalikin mood aku yang bener bener anjlok karena si Farhan. Aku harus kuat buat nggak caci maki dia yang dengan gampangnya ngegandeng tangan cewek laen pas nyamperin aku tadi. Kesel banget sumpah. Padahal ada mas Lana yang datang dari jauh, dan aku emang udah nunggu buat ketemu sama mas. ngeselin banget kan. Tapi dari situ aku sadar, sadar banget kalau rasa aku untuk dia itu bukan hal biasa. Aku bener bener nggak sudi ada cewek lain yang bisa nyentuh dia, apalagi sampe berstatus sama dia. Aku nggak pengen cuma jadi masa lalunya dia yang cuma bisa di ceritain ke anak anak kita nanti, aku mau dia sama sama terus sama aku. "
Bisa aku liat, bibir mas Lana tersenyum, meskipun sedikit, tapi aku tau itu dengan jelas.
"Tapi aku juga nggak mau kehilangan mas Lana begitu aja. Paling nggak aku pengen selalu denger suara mas Lana setiap hari, aku juga pengen fokus mas Lana selalu berpusat sama aku. "
"Jangan serakah.. " tuturnya sambil tersenyum.
"Ya wajar lah mas, aku kan perempuan, kodratnya perempuan itu untuk di sayangi sebanyak banyak nya.. "
"Iya." Jawabnya lebih santai.
"Mungkin, kalau aku kenal mas Lana lebih dulu, mungkin aku bakalan lebih egois tentang mas dari pada Farhan."
"Iya. Tetap saja, itu akan sulit buat saya bisa bertahan sama kamu. Melihat dari masa lalu orang tua kita. "
"Tapi sayangnya, aku terlambat sadar tentang Farhan, sekarang dia lagi asik sama cewek lain. Kalo gitu, bisa ga sih mas kita berdua juga secara diam diam.. "
"Enggak." Tolak nya tegas. "Kalau kamu milik saya, harus sepenuhnya, saya akan langsung minta kamu dari kedua orang tua kamu."
"Idiihhh.. orang tua mah beda, kalo suka langsung lamar..." Itu suara Farhan yang dengan tiba tiba menyela obrolan kami. "Coba gue, dari bayi udah nungguin, pas gede langsung di comot orang."
__ADS_1