
Lewat tengah malam, Queen dan Aska telah sampai di kabupaten Kota Semarang. Satu demi satu penumpang mulai di turunkan di pinggir jalan, sesuai dengan arah tujuan mereka. Tibalah kini pada Aska dan Queen saat mereka turun di depan terminal Terboyo milik Kota Semarang.
Adzan subuh masih lama untuk berkumandang, awalnya Aska juga sudah meminta salah satu sepupunya untuk menjemput mereka, tapi entah kenapa, orang suruhannya belum nampak. Membuat Aska menjadi bingung dan khawatir.
Bukan karena lelaki itu, melainkan gadisnya yang kini berdiri di sebelahnya dengan ekspresi wajah yang sangat lelah. Rasanya Aska ingin segera membawanya sampai di rumah, untuk bisa merebahkan tubuh dan melepas penat selama perjalanan cukup panjang di bis tadi.
Aska memutuskan untuk menaiki becak yang ada di sekitar mereka sedari tadi. Lelaki itu tidak menawar, saat bapak tua sang pengayuh becak menawarkan harga. Bagi Aska yang penting kenyamanan untuk gadisnya.
"mas... seru banget dah. Aku baru kali ini naik becak" tutur Queen. Aska tersenyum melihatnya. Juga sedikit miris melihat Queen yang terus mengusap lengan kanan dan kirinya secara menyilang.
"Mana jaket kamu?" tanya Aska.
"Enggak bawa.." cengiran Queen malah membuat hati Aska terasa kesal.
"Kan kemaren mas bilangnya bawa baju yang santai aja." lanjut Queen.
"Iya, tapi jaket itu juga harus di bawa setiap kemanapun kamu pergi jauh ira..." Jelas Aska.
Tanpa jeda lagi, Aska membuka jaketnya yang sedari tadi ia kenakan, dan memberikan kepada Queen.
"pake sendiri." Titah Aska.
"dih.." Queen nampak kesal dengan sikap dingin lelakinya.
"Ini becak Ira.. Bukan mobil. Kasian si bapak nya kalo kita nggak bisa diem." Jelas Aska, Queen mendekatkan bibirnya ke arah telinga Aska, hendak membisikkan sesuatu.
"Oh.. jadi mas lebih sayang sama abang tukang becak, dari pada aku?" Suara Queen halus di telinga Aska, membuat bulu halus Aska meremang.
"Kalo aja si bapak nggak ada di belakang kita, udah saya gigit bibir kamu ra!" Jawab Aska tegas, tanpa berbisik seperti Queen tadi.
wajah Queen merona malu mendengar Aska tanpa malu berkata demikian. Ia tak sanggup meski hanya sekedar melirik wajah sang pengayuh di belakangnya.
"Buruan pake!" Aska menekankan. Dengan cepat Queen mengenakkan jaket yang tadi di berikan oleh Aska.
Sudah cukup jauh, saat roda becak yang bapak tua kayuh berlalu sari tempatnya tadi.
Suara nafas memburu juga semakin terdengar di telinga penumpangnya. Ada rasa kasihan di dalam hati kedua pasangan itu. Tapi mereka enggan berkomentar. Tak ingin menambah lelah sang pengayuh, jika harus menjawab pertanyaan Queen dan Aska.
Tak lama, suara klakson mobil terdengar, yang sejajar dengan becak mereka membuat Aska dan Queen menoleh.
"stop mas.." pinta si pengemudi mobil tersebut, sebelum melajukan mobilnya, menghadang laju becak.
__ADS_1
Hati Queen tiba-tiba berdetak lebih kencang. Di malam yang sepi ini, perjalanannya harus terganggu oleh mobil yang meminta mereka untuk berhenti. Begitu pula si bapak pengayuh becak. Raut wajah nya begitu cemas, dalam situasi seperti ini.
Aska turun dari becak. Saat melihat sang pengemudi mobil turun menghampirinya. Entah apa yang mereka perbincangkan, yang jelas wajah Aska terlihat kesal saat berbicara dengan lawannya.
Kekasihnya itu berbalik dan menghampiri Queen, mengusap lembut pucuk kepala Queen.
"Nggak usah takut, dia sepupu saya" jelasnya, seketika tubuh Queen yang tadinya menegang, kini terasa lemas.
"Kenapa caranya gitu si mas.. Kan kasian si bapaknya juga ketakutan." Dalih Queen.
Sambil memberikan satu lembar lima puluh ribu kepada si bapak tua, Aska masih sempat melemparkan senyuman untuk Queen.
"Matur nuwun nggeh pak" Tutur Aska kepada si bapak pengayuh becak.
"Nggeh. Sami-sami.." Balas si bapak. Aska mengangkat barang bawaan mereka. Yang tak lain adalah koper milik Queen dan jajanan yang masih tersisa waktu ia beli di tempat istirahat tadi.
Berjalan mengajak Queen masuk kedalam mobil sedan warna hitam di depannya.
"Hai mbak..." Sapa Zaki, adik sepupu Aska. Sambil membukakan pintu penumpang belakang untuk Queen. Sedangkan Aska sedang memasukkan koper Queen ke dalam bagasi.
"Hai juga." Jawab Queen.
Melihat sikap adik sepupunya, Aska mendorong tubuh lelaki itu menjauh dari pintu yang ia buka tadi.
"oalah mas... ambe' sepupu dewe ko' ngono."
(oalah mas.. sama sepupu sendiri kok gitu)
Zaki menggerutu di belakang Aska yang kini sudah duduk di balik kemudinya. Queen tersenyum kepada Zaki, yang nampak kesal.
"Meneng." Ucap Aska tegas.
(diem)
"Kenapa sih mas.. galak bener" Queen membela Zaki.
"Jangan ketipu sama muka bocahnya dia ra.. Diem-diem pacarnya banyak."
"Kata siapa? Aku belum punya kok" Bela Zaki yang sedang menjadi bahan omongan.
"Kata saya! Kenapa?" Aska melirik Zaki dari kaca dashboardnya.
__ADS_1
"Ada juga mas Aska lah yang pacarnya banyak. Ntar kalo udah sampe juga si mbak nya tau sendiri."
Queen terdiam mencerna ucapan Zaki, yang mendapat perhatian dari Aska.
"Bohong dia ra.. Jangan percaya" Bantah Aska
"Emang si mbak pacar nya mas Aska?" Tanya Zaki sambil mendekatkan wajahnya ke arah samping Queen.
Queen menoleh. Agak canggung berada sedekat itu dengan adik sepupu Aska. Queen tersenyum kaku. Mata nya melirik Aska, meminta bantuan untuk jawabannya.
Aska yang mengerti arti tatapan Queen, menjawab nya dengan cepat.
"Ngapain nanya-nanya. Duduk aja yang bener. Kalo nggak mas turunin nih" Gertak Aska.
Zaki kembali membenarkan posisi duduknya, menyandarkan tubuh di sandaran bangku, melipat kedua tangannya.
"Mas Aska emang gitu mbak. Nggak mau ngakuin pacarnya. Tinggalin aja mbak mending,dari pada sakit hati." Tutur Zaki tanpa sadar.
Mendadak Aska menginjak pedal remnya. Membuat mobil terhenti seketika. Zaki terhempas kearah depan. Keningnya terbentuk belakang jok tempat duduk Queen.
"Ngomong apa kamu?" Suara Aska menekan.
"Nggak mas, cuma bercanda. Maaf,Maaf."
"Kalo berani ngomong gitu lagi, mas beneran turunin kamu di tengah sawah" Ancam Aska. Tatapan matanya intens kepada Zaki. Membuat nyali pemuda itu ciut seketika.
Aska kembali melajukan mobilnya. Kali ini wajahnya nampak gusar melihat Queen. Entah apa yang lelaki itu pikirkan. Tapi Queen enggan bertanya. Tidak ingin ada perdebatan lagi di dalam mobil selama sisa perjalanan.
Ia memilih menyandarkan kepalanya di sudut sandaran bangku dan pintu mobil. memejamkan mata sambil melipat kedua tangannya di atas dada.
Ini adalah perjalanan yang panjang untuknya, Queen tidak ingin memiliki perasaan yang mengganjal selama ia berada di sini. Karena akan sulit baginya untuk pulang ke pinggiran ibu kota, jika hanya sendiri.
Berbeda dengan Aska. Ia nampak khawatir dengan sikap Queen setelah mendengar omongan Zaki tadi. Seharusnya ia membenarkan hubungan mereka di depan bocah yang tak lain adalah adik sepupunya itu.
Aska takut, Queen akan terpengaruh dan meninggalkan dirinya. Dia tidak sampai hati memikirkannya, apalagi kalau sampai merasakannya. Sungguh hal yang tak ingin terjadi selama masa hidupnya.
***ini masih ada lanjutannya, tapi aku mau merem sebentar. pagi di lanjut lagi.*
"minta like dan komentar kalian doang untuk aska dan ira. please**..."
💙💙💙
__ADS_1
😴😴
...