
Siapa yang sangka, langit yang tadinya begitu cerah dan sinar yang menyengat, tiba-tiba kini berganti dengan awan mendung mulai pekat, cuaca berubah menjadi dingin. Perlahan tapi pasti, angin serasa membawa hujan melewati tempat di mana Aska tengah berdiri kini, mengamati wanitanya sedang bersama pria di masa lalunya.
Rintik hujan perlahan turun, menyapu debu yang awalnya menyelimuti jalanan. Aska masih diam tak bergeming, ia hanya menatap ke arah awan yang berlalu di hadapannya. Alhasil itu membuat wajahnya sedikit demi sedikit menjadi basah. Ia sudah tak perduli, dengan guyuran yang semakin deras membasahi tubuhnya.
Queen yang tadinya masih ingin bercerita banyak dengan Arya, mulai resah saat ia menyadari hujan turun dengan derasnya.
"Ar, aku pamit pulang duluan ya. Kasian mas Aska kelamaan di luar sana." Queen buru-buru menyampirkan tali tas kecilnya di pundak.
"Tapi di luar hujan Queen."
"Ya karena itu, mas Aska masih nunggu di luar, kasian dia kelamaan nunggunya." Arya menghembuskan nafasnya berat.
"Yaudah, yuk aku antar ke luar." Arya hendak berdiri, namun buru-buru Queen cegah.
"Nggak usah Ar, aku duluan aja. Enggak enak sama mas Aska kalo ngeliat kita barengan keluarnya."
"Ya ampun Ra. Segitunya kamu mikirin perasaan dia." Queen tersenyum kaku. Ia berjalan keluar tanpa di dampingi Arya sesuai keinginannya.
Namun, Queen begitu terkejut saat ia membuka pintu restoran tersebut. Aska sudah menghampirinya dengan membawa payung, sebelum Queen menghubunginya.
"Lho, kamu kok tau sih mas, aku mau keluar?"
Aska tidak menjawab, ia hanya tersenyum seraya memayungi wanitanya.
"Ayok jalan." Ajak Aska. Satu tangannya merangkul pundak Queen, berusaha merapatkan tubuh Queen dengan dirinya, memastikan Queen tidak terkena percikan air hujan. "Pelan-pelan ya Ra. Jalanannya licin."
Queen tersenyum menatapnya. Lelakinya ini selalu membuat hati Queen nyaman, sebelum dan sesudahnya insiden kemarin.
Langkah demi langkah Queen berjalan beriringan dengan suaminya. Aska mengantarkan Queen lebih dulu masuk ke dalam pintu mobil sebelah kiri. Memastikan wanitanya sudah aman, barulah Aska menutup pintunya dan beralih ke pintu sebelahnya.
"Kamu kok basah gini sih mas?" Queen menyentuh kaos yang Aska kenakan. "Ya ampun, kamu kayak abis ujan-ujanan. Buka deh mas kaosnya mending, dari pada kamu sakit nanti."
"Enggak pa-pa. Kayak gini mah nggak masalah buat aku Ra."
"Enggak, enggak. Aku nggak mau, harus ganti pokoknya."
__ADS_1
"Mau ganti pake apa sih Ra, orang kita ini di mobil, bukan di rumah." Aska mengacak-acak rambut Queen. "Ada-ada aja kamu nih."
Queen cemberut. Ia sangat tidak nyaman dengan keadaan Aska kali ini. Ini sangat tidak baik bagi kesehatan suaminya.
"Yaudah, nyetir nya buruan, biar cepet nyampe rumah."
"Ya ampun. Galak amat sih calon bunda.." Aska mencubit hidung Queen, yang segera di tepis oleh tangan si pemilik hidung.
Aska hanya tersenyum senang, memastikan Queen sudah menggunakan seatbelt nya, barulah Aska menyalakan mesin dan menginjak pedal gas nya, berlalu meninggalkan tempat yang seperti neraka baginya tadi.
Sesampainya dirumah, Queen tidak ingin berbasa-basi lagi. Ia langsung berhambur ke dalam, melemparkan tas kecilnya di atas kasur, berlalu ke dalam mengambil handuk untuk Aska yang masih menunggunya di luar.
"Kayak anak kecil aja deh kamu mas." Gerutu Queen. Aska yang menerima handuk serta omelannya, sekali lagi hanya tersenyum, menatap kepergian istrinya sambil berusaha mengeringkan rambutnya.
Sedangkan Queen di dalam sibuk berkutat dengan kompor. Cepat-cepat ia memasak air untuk membuat teh hangat.
"Cepetan dong mas ganti bajunya. Nanti keburu demam."
"Iya Ira iya.. " Melihat wajah Queen yang jutek, bukannya kesal, Aska justru malah semakin gemas. Aska masuk kedalam kamar mandi, mengguyur seluruh badannya dengan air. Yang ia ingat, ibunya pernah bilang. 'Kalo habis kena air hujan, langsung di bilas biar nggak pusing'. Setelah selesai, baru saja Aska keluar kamar mandi, Aska sudah disodorkan baju oleh Queen dengan paksa.
Aska hanya menggeleng pelan. Ia sangat gemas dengan sikap jutek Queen.
"Ini teh nya. Mumpung masih anget, cepet di minum."
Tidak ada daya lagi, Aska hanya menuruti setiap perintah Queen.
"Kok belum di minum sih mas? Kamu tuh ya?"
"Ini masih panas banget tau Ra. Ya ampun.. yang ada malah lidah aku yang kebakar nantinya." Elak Aska.
"Alasan aja deh kamu mas. Awas ya kalo sampe sakit, jangan sampe minta bantuan aku!"
"Ya ampun.." Aska menarik tangan istrinya, membawanya ke dalam kamar, dan memaksanya untuk berbaring di atas kasur.
"Mau ngapain sih? Kamu belum makan tau."
__ADS_1
Aska tak menghiraukan ocehan Queen. Ia memeluk tubuh gadisnya sebatas dada, dan menyelimuti tubuh mereka.
"Begini kan lebih anget Ra."
"Tapi kamu belom makan."
"Makannya nanti aja. Sekarang aku lagi pengen berduaan sama kamu dulu." Aska memeluk tubuh Queen, sambil memejamkan matanya. Ia berusaha menyelami hatinya yang kini mulai menghangat setelah melihat kecemasan Queen pada dirinya.
"Enak banget dah kalo udah sah mah ya Ra?"
Queen mengangguk samar. Merasakan pucuk kepalanya di kecup pelan oleh Aska.
"Udah ayok makan dulu."
"Nanti aja, kamu tuh pikirannya makan melulu."
"Tapi kamu nya belum makan tau. Aku nggak mau kamu sakit."
"Iya udah, sambil nunggu aku puas peluk kamu, kita pesen makanan aja ya Ra, gimana?" Tawar Aska.
"Boleh."
Aska sebenarnya enggan melepaskan pelukan mereka. Tapi bagaimanapun ia juga tidak mau Queen terus menerus merasa cemas. Karena itu, ia memilih menurutinya sambil menikmati keinginannya.
"Makan apa aja ya terserah aku?" Tanya Aska.
"Iya."
Aska memilih menunya sendiri, memesan dua porsi. Setelah mengkonfirmasi pesanannya. Ia buru-buru memeluk Queen kembali dan menutupnya dengan selimut.
"Jangan bergerak sampe makannya dateng!" Titah Aska yang gak mungkin Queen tolak.
***
Tinggalin mereka berdua yuk! biar cepet baikan.
__ADS_1
🙃🙃😉