Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
Bencana tak terduga


__ADS_3

Paginya, Queen sudah tampil di depan meja riasnya. Lengkap dengan senyum yang tak henti-hentinya ia tunjukkan.


Raut cerianya timbul saat lelakinya mengirim pesan untuk memenuhi janjinya hari ini. Entah apa yang merasuki Queen. Meski hanya dijanjikan sekedar jalan-jalan santai saja Queen sudah senang setengah mati.


Dulu saat bersama dengan Arya, ini hanyalah kegiatan kecil yang tak ada artinya bagi Queen.


Tapi itu dulu, saat bersama Arya. Berbeda dengan Aska yang tak memiliki waktu senggang sebanyak Arya.


Queen masih bergumam pelan, menyanyikan sebait lagu, yang menggambarkan suasana hatinya. Masih menunggu kedatangan lelakinya, yang bahkan jaraknya sama dengan kamar mandinya.


Queen sungguh tak sabar, sampai ia mendengar ketukan pada daun pintunya, wajahnya semakin terlihat ceria. Dengan cepat Queen menghampiri daun pintunya.


Gadis itu membuka pintunya, terlihat tubuh lelaki yang sudah ia nantikan sejak tadi. Aska tersenyum, terpukau melihat kecantikan Queen saat ini. Bagaimana tidak, kalau biasanya Queen tampil biasa dengan dandanan yang sederhana dan natural.


Tapi kali ini berbeda, Queen rapih, cantik dan harum. Dan alasan itu cukup bagi Aska untuk menyombongkan dirinya saat ini.


"Hai Ra.." Sapa Aska kaku.


"Hai mas.. haha.. kita kayak jauhan aja ya. Padahal cuma lima langkah." Canda Queen. Dan Aska masih diam memandangi wajah cantik kekasihnya.


"Kamu cantik banget sih, wangi lagi." Puji Aska.


"Iyalah mas. Kan aku enggak mau malu-maluin kamu." Queen tersenyum. Tapi jawaban itu juga yang sebenarnya membuat Aska ragu untuk berucap.


"Bentar ya.." Queen hendak mengunci pintunya, sebelum tangan Aska menyentuh lengan Queen.


"Sebentar Ra, ada yang mau saya omongin." Queen nampak ragu melihat raut wajah Aska yang seperti sedang bingung.


"Kenapa mas?"


"Em.." Aska mengalihkan pandangannya dari Queen.


Sial, kemana sih keberaniannya tadi, sekarang hilang begitu saja saat melihat wajah ceria gadisnya itu. Harusnya ini nggak akan sulit, karena memang tidak bisa si tunda. Tapi.. rasanya tidak tega menghancurkan harapan gadis kesayangannya ini.


"Ada apaan sih?" Queen mulai tak sabar. Aska menggaruk alisnya yang tak gatal. Dirinya bingung harus mulai dari mana.


"Em.. maaf ya Ra. Kita nggak jadi jalan sekarang" Ucapnya terbata.


"Kenapa emang?"


"Saya ada panggilan tugas darurat" Aska masih terbata.


"Heemm" Terlihat jelas kesedihan di wajah Queen.

__ADS_1


"Saya janji deh, selesai tugas saya langsung kasih kabar kamu, terus kita jalan. Gimana?"


"Emang harus sekarang banget ya mas? nggak bisa tunggu selesai kita sarapan? Aku belum makan dari kemaren.." Rengek Queen. sorot matanya memelas, membuat hati Aska rasanya tak tega.


"Nggak bisa sayang" Ibu jari Aska mengusap lembut pipi Queen.


"Harus banget emang ya mas?"


"Iya Ra, nanti saya kabarin ya"


"Nantinya itu kapan?" Queen swpeyeti tak rela di tinggal begitu saja.


"Ya, saya nggak tau. Pokoknya begitu selesai saya langsung kabarin kamu." Tangan mereka saling bertautan.


"Kalo selesainya malem?"


"Kalo kamu nya mau jalan-jalan malem. Saya nggak masalah Ra. Yang penting kamu nya seneng." Aska mencoba memberikan senyuman semanis mungkin.


"Yaudahlah.. Percuma juga kamu janji, kalo nantinya bakal di ingkari lagi."


Apa yang bisa di lakukan Aska untuk mengatasi bad mood gadisnya? Ia mengecup pelan kening Queen. Rasanya Aska sudah tak ambil pusing lagi tentang tetangga yang sedang menguping atau mengintip mereka dari balik jendelanya. Yang terpenting saat ini, gadisnya tidak lagi marah.


"Saya jalan sekarang ya Ra" Queen melepaskan pegangan tangannya setelah menerima persetujuan Queen.


"Kalo kamu jenuh, keluar sama Rindi aja. Jangan sama cowok. Nanti saya pesenin makanan untuk kamu." Kedipan mata genit yang Aska berikan, bahkan tak bisa menyentuh hati Queen.


***


Siapa yang mengira, kalau awal tahun ini akan ada banyak bencana yang datang. Banjir ada dimana-mana. Salah satunya yang saat ini tengah Aska dan anggota lainnya kunjungi.


Banjir yang datang tiba-tiba dan hampir setinggi dua meter, membuat warga tak sempat mengevakuasi barang-barangnya, bahkan dirinya sendiri.


Alhasil, banyak yang terjebak di atas atap atau langit-langit rumahnya. Aska bersama anggota lainnya membantu warga untuk pindah ketempat yang lebih aman. Ada banyak balita dan juga lansia yang harus mereka bantu secepatnya.


Sampai hari menjelang siang, Aska masih sibuk dengan tugas daruratnya. Setelah semua berhasil di evakuasi, selanjutnya mereka harus membagikan makanan kepada warga sekitar yang terkena dampak banjir.


Aska benar-benar lupa pada janjinya yang akan memesan makanan untuk Queen. Hingga beberapa anak gadis yang ia beri nasi bungkus mengingatkannya pada Queen.


Dengan cepat jari Aska berseluncur, memesan makanan via aplikasi online. Butuh waktu beberapa saat sampai Aska menerima panggilan masuk dari driver online tersebut.


"Halo pak selamat siang." Bang ojol membuka percakapan.


"Iya selamat siang. Ada apa bang?" Tanya Aska, suaranya tegas.

__ADS_1


"Maaf pak, ini alamat yang dituju, orangnya nggak ada di rumah pak. Kata tetangganya sih, si mbaknya pergi. Gimana dong pak?"


"Pergi kemana?" Aska terkejut.


"Waduh, saya kurang tau tuh pak. Si mbaknya juga nggak bilang sama saya" Entah apa maksud bang ojol menjawab dengan perkataan yang konyol itu.


"Oh, gantungin aja di gagang pintu, atau taro di samping pintu." Jawab Aska singkat. Isi kepalanya penuh dengan pertanyaan tentang gadisnya.


"Baik pak. Trima kasih" Bang ojol mematikan telfonnya.


Aska yang sudah selesai membagikan nasi bungkus untuk korban bencana banjir, langsung mencari keberadaan komandannya yang tak lain adalah pacar dari Rindi.


"Bang, si Rindi ada kasih kabar nggak?" Tanya Aska mulai panik.


"Kabar apaan?"


"Ya, dia lagi dimana gitu atau sama siapa gitu"


"Emang hubungannya sama lu apaan?" Bang Is sengaja mempermainkan Aska yang terlihat risau, padahal ia tau arah dari perkataan Aska.


"Yaelah bang.. Si Queen enggak ada kabar, katanya di rumahnya juga nggak ada. Siapa tau dia pergi sama Rindi."


"Siapa tau juga dia di bawa sama mantan pacarnya." Ledekan komandannya itu semakin menjadi.


"Yaelah, tolongin saya dong komandan, sekali ini aja." Pinta Aska.


"Udah sering gua tolongin juga. Tadi Rindi bilang, katanya dia lagi nemenin Queen periksa, si Queen nya mual-mual terus katanya."


"Mual kenapa?" Aska mengerjap tak percaya dengan jawaban lelaki di depannya.


"Lah, mana gua tau. Lu yang ngelakuin nanyanya ke gua"


"Lah.. Saya nggak apa-apain kok. Masa iya di cium doang bisa hamil?" Aska semakin gusar, kepalanya seketika berdenyut nyeri. Begitu juga dengan jantungnya yang berpacu lebih cepat.


"Ini, kita masih lama ya bang? saya udah pengen ketemu si Queen." Bang Is malah tertawa mendengar ucapan Aska. Layaknya seorang suami yang menantikan kelahiran anaknya.


"Masih. Lu jaga nanti malam sampe besok di sini." Setelah berucap, bang Is pergi tanpa mau mendengar sangkalan dari Aska.


Apakah mengerjai orang yang tengah menjadi bucin itu menyenangkan? Atau ini balasan dari seorang kakak, karena adiknya yang sudah di tolak dulu?


Aska menarik rambutnya kasar. Senyumnya tak ada lagi sejak ia tau Queen tak ada di kamarnya.


Tunggu saya Ra, selesai ini, seluruh waktu saya untuk kamu. Batin Aska

__ADS_1


__ADS_2