
"Ra.." Suara Aska, di tengah keheningan mereka saat bersama di depan televisi. Queen merebahkan tubuhnya di atas pangkuan Aska.
"Apa?" Jawab Queen. Meskipun di depannya sedang berlangsung acara tv kesukaannya. Tapi Queen lebih fokus pada layar ponsel dalam genggamannya.
Kejadian tadi siang, saat Aska meminta dirinya untuk tetap berada dalam dekapannya, saat dinginnya cuaca ketika hujan turun dengan derasnya. Aska yang sempat kehujanan membuat sisi posesif Queen keluar tanpa ia sadari. Dan hal itu yang membuat Aska semakin takjub pada wanitanya.
"Kamu inget nggak sih, kalo ini tuh malem minggu?" Aska menatap wajah Queen yang berada di bawahnya, mengusap pipinya sayang, dengan ibu jari.
"Emang iya ya mas? Aku udah nggak inget begituan. Hehe.." Sebentar Queen melirik suaminya, sedetik kemudian pandangannya kembali pada layar ponsel.
"Ya ampun.." Aska mendesah. "Kasian banget sih kamu, sibuk banget yak, ampe lupa sama hari?"
"Emang gitu mas kalo cewek udah nikah mah. Udah nggak mikirin yang namanya hari. Yang mereka inget ituh, cuma kapan waktunya suami gajian.." Queen tersenyum setelah mengucapkannya.
"Ah, kamu itu." Aska mencubit gemas ujung hidung Queen.
Aska mengusap rambut Queen, perlahan dan mengulang. Sambil terus menatap wajahnya.
"Jalan-jalan yuk Ra, kayaknya udah lama kita nggak keluar."
"Ha?" Queen mendongak. "Emang boleh mas? Kan kamu sendiri yang bilang, katanya kalo abis maghrib, aku nggak boleh keluar?"
"I..ya.. sekali-sekali lah Ra, nggak pa-pa. Ibu nggak ngeliat juga,"
"Ihh.. mas Aska udah mulai nakal ya.." Queen menunjukkan ibu jarinya ke arah suaminya.
"Dari awal ketemu kamu juga, saya udah mulai nakal karena kamu."
"Dih, jadi aku yang kena."
"Yaudah yuk. Keburu malem nanti."
"Yuk!"
Queen bersemangat, karena sudah sekian lama ia tidak pernah menghirup udara malam di luar sana. Dirinya rindu, tapi, demi bukti kepatuhannya pada sang suami ia mengurungkan keinginannya dan tak pernah mengungkitnya.
Namun, kali ini, Aska sendiri yang mengajaknya untuk keluar. Pastilah kesempatan baik ini tidak ia sia-siakan.
"Pake ini, biar anget." Aska menyampirkan sweater milik Queen yang tadi ia ambil dari lemari Queen.
"Makasih mas."
Queen kemudian mengikuti langkah kaki suaminya keluar pintu.
Seperti biasanya, Aska selalu membukakan pintu mobil untuk istri kecilnya yang mulai bersikap dewasa.
"Mau kemana kita?" Tanya Aska yang sudah duduk di balik kemudi. Perlahan ia melajukan mobilnya, meninggalkan jejak-jejak ban di atas tanah basah sisa hujan tadi siang hingga sore. Karena matahari yang tak kunjung muncul, membuat tanah juga dedaunan tidak kunjung mengering. Alhasil, cuaca juga menjadi lebih dingin dari biasanya
"Makan bakso aja yuk. Biar anget."
"Yang anget itu, kalo kamu peluk aku, kayak tadi siang."
"Itu mah mau nya kamu." Queen memukul lengan Aska pelan.
"Emang kamu enggak mau?" Aska mencibir.
"Kamu kok lama-lama mirip sama kak Rendi sih mas? Awas ya kamu, kalo sampe ngikutin kelakuannya dia." Mata Queen memicing. Menunjuk suaminya dengan mimik wajah serius.
"Enggak akan lah. Cuma Ira jelek yang aku sayang." Aska menyombongkan dirinya, seolah bangga dengan apa yang ia rasakan.
"Dasar. Nggak inget kelakuan."
Siapa yang menyangka, jika ucapan singkat Queen benar-benar memukul telak hati Aska. Fikirannya sekilas melayang mengingat kejadian lalu. Tapi Aska sudah berniat membuang jauh, mengubur dalam-dalam masa kelam nya itu. Ia tidak ingin lagi lama-lama berada dalam bayangan masa lalu yang menyakitkan. Ia merasa itu juga tidak baik untuk kelangsungan kehidupan rumah tangganya kedepan.
"Heum. Yang penting kan sayangnya aku tetap sama kamu." Jawab Aska dengan bibir mengerucut.
"Terserah.." Queen kembali mengeluarkan ponselnya dan mulai mengacuhkan Aska.
Aska tak ingin membuatnya panjang. Ia hanya diam membiarkan istrinya sibuk tertawa atau sekedar cengar-cengir sambil melihat ke arah layar ponsel yang terus menyala.
Tak lama, lajunya perlahan berbelok dan berhenti. Aska menarik tuas rem tangan. Barulah ia membuka sabuk pengaman miliknya. Tanpa memerdulikan Queen yang masih sibuk sendiri, Aska keluar dari mobil. Beralih dari sisinya, berganti ke arah tempat Queen duduk.
__ADS_1
Aska membantu Queen membuka sabuk pengaman yang membelit tubuhnya. "Udah simpen dulu hp nya. Sibuk banget dah."
"Aku chat sama mama. Dia seneng banget tau mas, waktu tau aku hamil." Queen turun, dan Aska menutup pintunya.
"Kamu udah kasih tau? Bukannya kamu bilang, biar mama sendiri yang tau pas dia dateng nanti?"
Queen dan Aska berjalan beriringan menuju gerobak bakso.
"Nggak papalah, aku juga nggak tau kapan dia datengnya."
"Aku pikir juga gitu."
Malam minggu dengan cuaca dingin, tentu saja membuat kedai bakso menjadi lebih ramai dari biasanya. Dan hampir dari setiap pelanggan yang datang adalah pasangan. Entah mereka sudah menikah atau masih pacaran. Tapi yang Aska sempat lihat, ada kecanggungan dari beberapa pasangan saat melihat pasangannya makan.
"Kita makan disini ya mas.." Rengek Queen. Membuyarkan pandangan Aska dari sekitarnya. Aska tak menyahut, ia hanya senyum sambil mengusap pucuk rambut Queen. Lelaki itu lalu berdiri, menghampiri abangnya, memesan dua porsi bakso dengan teh hangat. Tak kan ia ijinkan Queen minum es di saat cuaca seperti ini.
Sambil menunggu pesanannya, Queen masih sibuk bermain dengan ponsel, Aska hanya memperhatikan setiap senyum yang Queen ulas. Menopang dagunya dengan tangan yang berpangku di atas meja. Sesaat Aska ikut tersenyum saat melihat Queen tersenyum Hatinya menghangat melihat wanitanya seperti ini.
Aska bahkan sengaja tidak membawa ponselnya, demi fokus pada wanita tersayang. Tekadnya sudah bulat. Biarlah orang lain memandangnya sebagai budak cinta. Aska tak masalah dengan julukan itu. Toh hatinya memang seperti demikian. Dan ia bangga dengan apa yang ia rasakan, sebangga dirinya yang memiliki istri cantik, lucu nan imut.
Apalagi perubahan sikap Queen yang berubah drastis ketika mereka sudah menikah. Tak mungkin dirinya bisa berpaling dari wajah manis Queen.
Pelayan bakso yang mengantarkan pesanan mereka, bahkan sempat salah tingkah. Takut mengganggu lamunan Aska yang masih tersenyum memperhatikan Queen.
"Permisi mas.." Ucap pelayan itu sebelum meletakkan mangkok di atas meja, depan mereka.
"Ah iya mas." Aska menurunkan tangannya, memberikan ruang lebih untuk pesanan mereka.
"Mumpung masih anget mas,"
"Ha?"
Jujur saja Aska tak mengerti dengan maksud dari ucapan lelaki pelayan muda itu. 'Apanya yang masih anget? Ah, mungkin baksonya' gumam Aska dalam hati.
Buakannya yang namanya bakso itu anget, nggak perlu di bilangin juga mereka pasti tahu. Ya kan???
***
Nyanyi dikit ah..
namun tak pernah aku temui cinta
sekuat aku menginginkan dia.
Hal hebat ku rasakan
kini di cintai seseorang
yang ku pun mencintai
itu sempurna
Takkan dua kan dia
belum tentu esok kan masih ada
kesempatan tak kedua kalinya
hargai dan jaga hatinya.
Dalam diam ku
ku panjatkan selalu do'a untuknya
jodoh bukan soal sempurna
namun yang mampu tangguh tuk bertahan dan berjuang
Tak kan sia kan dia
belum tentu ada yeng seperti dia
__ADS_1
satu dunia tahu aku bahagia
banyak pasang mata jadi saksinya
Tak kan dua kan dia
belum tentu esok kan masih ada
kesempatan tak kedua kalinya
hargai dan jaga hatinya
***
Setelah acara makan bakso selesai, Queen langsung meminta Aska untuk berkeliling. Ia masih ingin merasakan udara malam. Meskipun itu tak baik untuk dirinya atau kandungannya, tapi ia masih belum puas.
Dan entah ada apa dengan suaminya kali ini. Aska menuruti keinginan Queen. Ia membawa mobilnya, menembus diantara ramainya jalanan.
"Harusnya kita naik motor aja tadi mas." Queen merasa, tak ada bedanya dengan siang hari. Ia sama-sama hanya merasakan udara dalam mobil. Hanya saja langit di depannya berganti dengan warna gelap, di penuhi bintang yang bersinar, menandakan awan mendung sudah menghilang.
"Enak aja!" Aska memicing. "Kamu boleh keluar, kalo naik mobil. Kalo naik motor, saya nggak bakal ajak kamu tau."
Queen mencebik. Ia tak lagi memandangi suaminya. Lebih menarik melihat keadaan jalanan yang ramai. Lalu lalang motor dengan pasangan yang duduk di atasnya sambil berpelukan, membuat Queen sekilas mengingat saat mereka masih menjalin hubungan pacaran dulu.
Tak perduli itu malam apa, Aska selalu mengajaknya keluar, meski hanya sekedar membeli jajanan ringan. Kali ini, Queen sudah bisa memeluk tubuh Aska dari belakang saat naik motor, karena sudah ada makhluk yang siap berada di antara dirinya juga suaminya nanti.
Membayangkan itu membuat Queen kembali mengulas senyum. Hal itu tak lepas dari pandangan Aska.
"Ra.." Aska menggenggam satu tangan Aska di atas pangkuan Queen. Queen menoleh. "Kamu ngeliatin apa sih? Senyum-senyum begitu?" Selidik Aska.
"Enggak. Ini ngeliatin mereka." Queen menunjuk ke luar jendela. "Jadi inget waktu pacaran dulu deh mas. Haha.."
"Emang apa bedanya sekarang sama kita dulu? Sama aja ah... Enakkan sekarang malah, bisa kelonan kapan aja."
"Dih.. otak kamu mas."
"Kenapa? Udah sah kok."
"Eh mas.. aku jadi kangen ama kita yang dulu deh."
"Kita yang mana?"
"Kita yang kangen-kangenan.."
"Ha?" Aska sebentar terpaku melihat ke arah Queen. Tak percaya dengan apa yang di katakan wanitanya. "Aku juga masih kangen kok sama kamu."
"Iih.. bukan gitu mas." Queen merengek.
"Terus?"
"Aku pengen tidur di kamar aku deh malam ini."
"Yaudah, entar aku bersihin dulu ya Ra." Aska tersenyum sebentar ke arahnya. Bagi Aska tak masalah, di manapun mereka tidur, selama dengan istri tercintanya, Aska akan selalu bahagia.
Queen memeluk lengan Aska, merebahkan kepalanya di atas pundak suaminya itu. Hatinya sangat bahagia malam ini.
"Makasih ya mas.. Aku seneng deh, beruntung banget punya suami kayak kamu. Yang selalu nurutin kemauan aku." Queen menatap wajah suaminya.
"Iya. sama-sama." Aska mengecup kening Queen sebentar. Bahaya juga kalo kelamaan.
"Nggak sabar deh mas, seru kali ya, kalo aku sama kamu telfonan di kamar yang sebelahan, padahal kita udah nikah." Queen tersenyum lagi.
"Apa? Gimana Ra?" Aska tak mengerti.
Queen kembali dalam posisi semula. Melihat ke arah luar jendela. Ia hafal dengan jalanannya yang sudah menuju ke arah pulang.
"Coba jelasin deh, aku bingung." Pinta Aska, sambil menggaruk keningnya sendiri.
"Iya. Aku tidur di kamar aku, kamu tidur di kamar kamu, terus kita telfonan sampe kita tidur, kayak waktu dulu gitu." Jelas Queen.
"Maksudnya, aku nggak bareng kamu gitu tidurnya? Kita misah?"
__ADS_1
Anggukkan kepala Queen yang bersemangat, membuat hati Aska mencelos. Bukan itu yang ia pikirkan tadi. Bukan gitu yang Aska kira tadi. Aska terpana, ia melihat ke arah jalanan tapi tak fokus. Sebelah pikirannya teralihkan dengan penjelasan Queen tadi. Apa maksudnya Queen, Aska tak mengerti.
🙃🙃😉