Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
ulah Aska


__ADS_3

Rasa sesak di dasar hati,


diam tak mau pergi.


Haruskah aku lari dari kenyataan ini.


Pernah ku mencoba tuk sembunyi.


Namun bayangmu tetap mengikuti.


...


Aska baru saja pulang dari dinasnya. Pagi ini jam enam pagi. Queen yang terbangun karena suara ketukan pintu dan Aska juga sudah menghubungi Queen sesaat sebelum dirinya sampai di rumah.


Semenjak Aska yang merestui keinginan Queen yang memiliki seorang malaikat di samping mereka, Aska selalu menyempatkan diri untuk menanam benih dalam perut Queen.


Keduanya sama-sama ingin semuanya cepat terwujud. Meskipun sikap Aska yang sekarang berubah menjadi sangat manja, tapi Aska tak pernah lupa memberi semangat serta dorongan untuk Queen.


Aska sebenarnya sedikit ragu tentang keinginan mereka yang satu ini. Tapi melihat wanitanya yang begitu serius dalam keinginannya. Membuat hati Aska luluh dan menyerahkan segalanya pada sang pencipta.


Sudah sebulan sejak mereka di nyatakan sah. Queen masih tidak menunjukan gejala-gejala kehamilan. Yang ia tau, ia akan merasa lelah dan mual ketika ada sesuatu nanti yang tersimpan di rahimnya. Queen masih terlalu awam soal kehamilan.


"Ra.. kok belum bangun sih?" Aska yang baru saja melihat Wanitanya saat di bukakan pintu.


"Iya.. aku susah tidur semalem." Adu Queen, setelah mencium punggung tangan Aska. Mengekorinya masuk ke dalam. "Aku ambilin minum dulu ya mas.."


Queen berlalu kedalam. Meninggalkan suaminya yang tengah duduk bersandar di sofa depan dengan mata terpejam, mencoba melepas penat.


"Ini mas teh nya.." Tutur Queen meletakkan satu cangkir teh di hadapan Queen. Aska terbangun, mengulas satu senyuman untuk Queen.


"Makasih ya sayang.." Satu sesapan teh hangat buatan Queen, meluncur masuk membasahi rongga mulut Aska. "Pas.. engga kemanisan. Makin pinter deh kamu.." Puji Aska. Lelaki itu menepuk sofa sebelahnya. Meminta Queen duduk dekatnya.


"Coba ceritain, kenapa semalem bisa susah tidur?" Tanya Aska. Matanya menatap Queen intens yang berada di dekatnya.


"Ya mana aku tau mas.. pokoknya susah aja buat merem nya." Queen tertunduk. Ada satu rasa di mana hatinya begitu tak tenang dan takut.


"Hm.. terus kenapa engga telfon saya?" Belaian lembut tangan Aska membuat Queen mengangkat wajahnya. Mencoba membalas tatapan Aska. "Takut ganggu kamu." Cicitnya.


Aska terdiam sebentar, bola matanya membulat mendengar ucapan Queen.

__ADS_1


"Kok kamu bisa mikir gitu sih Ra.. mas punya kamu, dan kamu juga punya mas.. kenapa bisa mikir kayak gitu sih Ra?" Terdengar ada nada kekecewaan dalam suara Aska. Ia tak percaya Queen bisa berfikiran sedemikian. Padahal Aska tak pernah melarang Queen menghubungi dirinya, kapanpun itu. Aska akan selalu berusaha ada dalam setiap panggilan dari istrinya.


"Yaudah, saya mandi dulu ya, ntar kita belanja bareng." Aska mengecup puncak kepala Queen dalam. Menyalurkan segala perasaan dalam hatinya. "Bau ih, belom mandi." Dengus Aska beranjak ke dalam.


Queen yang tertohok dengan ucapan suaminya, langsung saja mencium sendiri ujung rambutnya yang terurai. "Masa sih, perasaan kemaren pagi baru keramas. Engga bau kok."


Tak perlu lama bagi Queen, menanti suaminya keluar dari kamar mandi. Wangi sabun beraroma antiseptik, menguar dari tubuh lelakinya, dengan rambut basah dan handuk yang melilit di pinggang sebatas lutut.


"Seger banget sih mas.." Ucap Queen dengan senyumnya. Ia segera beranjak ke kamar mandi. Namun baru saja Queen menutup pintu, suara Aska sudah terdengar memanggilnya. Membuat Queen gemas.


"Apa sih mas?" Queen mendapati Aska tengah duduk di pinggiran ranjang, masih seperti yang ia lihat tadi. "Kenapa?" Queen mengulangi.


"Em.. mana baju saya? Kok nggak di siapin?" Wajah memelas Aska, membuat Queen menahan kesabarannya


"Iya aku lupa." Queen membuka lemarinya, mengambil kaos oblong yang berada paling atas dari tumpukan. Tak lupa celana pendek selutut, juga celana dalam milik Aska, semuanya Queen yang siapkan.


"Ini. Udah semua ya.." Queen meletakkan di atas ranjang sebelah Aska.


"Aku nggak mau yang warna ini. Ganti." Titah Aska. Queen memicing, masih dengan kesabarannya.


Ia meletakkan kembali, ganti dengan kemeja tangan pendek. "Yang ini?"


"Ya tadi di ambilin kaos, mas nggak mau."


"Tadi udah bener, tapi warnanya saya aku nggak suka."


Hadoh.. Rutuk Queen dalam hati. Queen berbalik, kembali menggantinya dengan yang lain.


"Yang warna apa?" Mata Queen meneliti setiap tumpukan baju Aska di hadapannya.


"Warna coklat." Queen berbalik.


"Kamu nggak punya kaos warna coklat mas." Wanitanya berusaha mengingatkan Aska. Tapi yang ada malam membuat raut wajah lelakinya kecewa.


"Ck, gimana sih, aku pengen pake yang coklat. Yaudahlah nggak usah make baju."


Aska berdiri, mulai mengenakan celana dalam di lanjut dengan celana pendek selutut dari Queen tadi.


"Gimana sih mas.. katanya mau belanja, tapi nggak make baju. Emang nggak malu sama orang-orang nanti?"

__ADS_1


"Nggak masalah. Badan aku bagus kok, enggak malu-maluin."


Sombong amat!


Aska beranjak ke arah depan, kembali menyesap teh yang sudah dingin. "Ra.." Panggil Aska lagi. Queen yang masih berusaha mencari baju untuk lelakinya, terinterupsi oleh suara Aska.


"Apa lagi mas?"


"Ambilin biskuit yang bisa buat celup celup teh dong.."


"Udah abis kan mas." Lagi-lagi raut wajah Aska kecewa.


"Semua yang aku mau nggak ada. Udah buruan kamu mandi. Biar cepet berangkat kita." Titah Aska.


'Dari tadi juga aku mau mandi, tapi kamu manggilin aku mulu'. Lagi-lagi hanya Queen ucapkan dalam hati.


Setelah siap dengan segala keperluan wanita, Queen menghampiri Aska yang masih duduk di sofa sambil memainkan gadget nya.


"Ayok mas, aku udah siap." Aska mendongak, menilai penampilan Queen. "Cantik." Puji Aska.


"Makasih.. nih aku ambilin kaos daleman baju seragam kamu. Sama-sama coklat kan?"


"Enggak. Pilihin yang warnanya sama aja kayak baju kamu. Biru terang, aku suka." Queen terdiam. Bagaimana Aska bisa mengatakannya dengan sangat santai. Padahal selama dalam kamar mandi Queen berusaha mencari cara agar lelakinya mau mengenakan baju. Tidak ada wanita yang ingin membagi tubuh lelakinya dengan orang lain.


"Nanti kita beli baju juga ya mas."


"Buat apa?"


"Buat kamu. Kita cari warna yang kamu belum punya. Terus kita juga beli Beberapa kaos yang couple." Queen menyerahkan kaos lengan pendek berwarna yang senada dengan dirinya.


"Nggak usah yang kayak gitu Ra. Itu pemborosan." Sambil memakai kaos pemberian Queen. "Aku mah nggak pilih-pilih soal baju. Apa aja yang ada aku pake kok, selama itu pilihan kamu." Aska tersenyum, mengecup kening Queen sebentar. "Ayuk jalan." Tuturnya.


Queen mematung. Hanya bola matanya yang mengamati pergerakan langkah Aska sampai keluar pintu dan tak terlihat.


Parkiran mobilnya memang agak sedikit jauh dari pintu kamarnya.


"Apa katanya tadi, nggak pilih-pilih? Apa aja dia pake asal itu gue yang pilihin. Terus dari tadi siapa yang sampe nggak mau pake baju karena nggak ada warna yang dia mau." Andai saja Queen bisa mengungkapkan isi hatinya di depan Aska.


Tapi Queen masih menahan kesabarannya. Ia segera tersadar dan beranjak keluar, menutup pintunya lalu mengunci. Sebelum Aska menunggunya terlalu lama.

__ADS_1


🙃🙃😉


__ADS_2