
hai.. maaf sebelumnya, kalo kalian sampe mungkok karena cerita ini. Haha..
tapi cerita ini bakalan up buanyak banget, ampe kalian bosen bacanya. haha. (ketawa jahat)
***
Perjalanan menuju gedung tempat akad sekaligus resepsi pernikahan antara bang Is dan Rindi, memang sedikit jauh. Karena Queen dan Aska yang bangun saat matahari sudah terlanjur muncul, maka, mereka tidak memiliki waktu untuk sarapan dirumah. Menyiasatinya, Aska sengaja membawa piring juga sendok garpu, dan meletakkannya di dalam mobil. Mereka akan membeli sarapan di tengah jalan, menuju tempat acara berlangsung.
Queen sebenarnya sedang ingin makan sate ayam. Tapi kenyataannya entah ada atau tidak tukang yang menjual sate ayam di pagi hari, kebanyakan yang mereka temui adalah abang bubur ayam, soto ayam juga nasi uduk. Alhasil, mau tidak mau Queen harus menerima asupan untuk energinya, meskipun ia tidak menyukai nasi uduk yang Aska belikan untuk sarapan mereka.
"Di makan Ra, jangan di aduk-aduk terus, makanan itu." Aska sekilas memperhatikan gerakan Queen, sebelum fokus kembali melihat ke arah depan.
"Aku enggak mau ini mas.." Rengek Queen.
"Iya aku tau, tapi adanya ini calon bunda.. makan aja dulu. Nanti sampe rumah aku bikinin sate ayam nya." Tawar Aska, namun tak lantas membuat Queen cepat memakan makanannya.
"Di makan dulu. Itu rezeki kita hari ini. Jangan di sia-sia-in."
Titah Aska dengan tegas selalu membuat Queen menciut. Mau tak mau ia harus segera menelan makanan itu. Tidak ingin Aska berceramah lebih panjang lebar.
"Mas Aska sendiri aja nggak mau makan. Tapi aku di paksa makan."
"Iya aku makan. Tapi aku kan sambil nyetir gini Ram Agak susah."
"Aku suapin ya calon ayah.."
Aska mengangguk sambil tersenyum. Membuat hati Queen lebih senang dari sebelumnya.
Suap demi suap, Queen memberikan untuk lelakinya. Saking sibuk juga senangnya Aska, sampai ia tidak menyadari kalo Queen hanya menyuapinya, tidak untuk dirinya sendiri. Sampai suapan terakhir, barulah Aska menyadari.
"Kok aku kenyang ya Ra?"
"Kenyang? Alhamdulillah.." Queen melipat bekas bungkusannya, lalu memasukkan ke dalam bungkusannya.
"Kamu nggak makan ya?" Selidik Aska.
"Aku makan kok."
"Makan beberapa suapan doang kan, yang tadi sebelum aku?"
Bukannya menjawab, Queen malah nyengir kaku.
"Awas ya nanti, kalo kamu teriak laper. Aku bakalan sibuk disana, susah buat kamu ganggu." Ancam Aska.
"Nggak masalah, ada banyak makanan disana nanti."
"Heuh.." Aska membuang nafasnya berat. Ia tak mengerti, Queen semakin sering berganti sikap. Terkadang, ia begitu dewasa, terkadang ia seperti anak kecil, membuat Aska bingung menempatkan posisinya.
Selama sisa perjalanan, Aska hanya diam mendengarkan wanitanya bercerita sendiri. Menceritakan bagaimana sang calon pengantin hari ini saat pertama kali bertemu. Bercerita, bagaimana masa-masa lalu saat mereka masih sekolah, bercerita bagaimana kisah-kisah persahabatan mereka. Queen menceritakannya dengan semangat dan panjang kali lebar.
__ADS_1
Tapi Aska?
Ia hanya diam, masih ada rasa kesal dalam hati lelaki itu, ia kesal karena wanitanya yang tak mau mendengar ucapannya. Membuatnya sedikit kecewa.
"Mas.." Panggil Queen, sambil mencubit lengan Aska.
"Auww.. sakit Ira."
"Lagian, kamu sih. Aku cerita tapi kamunya diem aja." Queen melipat kedua tangannya di depan dada.
"Aku udah tau semua Ra. Biarpun kamu nggak cerita, tapi aku masih inget."
"Masa sih mas?" Queen mencondongkan wajahnya mendekat ke arah Aska.
"Iyalah. Mereka kenalan kan waktu ayah kamu meninggal dulu. Bang Is nganterin aku, terus si Rindi minta nomor hp nya bang Is. Ya kan?"
"Masa sih mas? Jadi si Rindi duluan yang minta nomornya bang Is? Ya ampun.. kok aku enggak tau sih mas?"
"Ya kamu kan lagi dalam keadaan berduka waktu itu Ra. Tapi karena keberanian Rindi, bang Is jadi beneran kecantol deh sama dia."
"Oohh gitu.." Queen mengangguk seolah paham. Pandangannya menerawang jauh, membuat bibirnya tertarik tersenyum ketika membayangkannya.
"Udahlah.. ngapain sih ngelamunin yang nggak jelas. Masih banyak yang kamu enggak tau tentang mereka."
"Kok gitu sih mas? Aku kan sahabatnya dia, kok dia nggak kasih tau aku sih?"
"Ya karena kamu masih childis. Orang, kita bisa deket juga karena Rindi yang paling aktif nyomblangin kita." Aska menjeda sebentar, ia ikut tersenyum sinis. "Untung aja, aku cintanya beneran sama kamu."
"Iyalah Ra, biasanya kan kalo nyomblangin itu yang jadi malah mak comblangnya."
"Emm.. aku juga belom tau sih mas, kenapa kamu bisa suka sama aku secepet itu. Soalnya, aku kurang yakin sama yang namanya cinta pandangan pertama." Queen mengedikkan bahunya, merasa aneh dengan apa yang ia ucapkan.
"Lah terus, kenapa kamu mau sama aku? Kan kamu masih punya pacar waktu itu. Hayo? Kenapa?" Aska balik bertanya.
"Ya.. karena.. aku ngerasa nyaman sama kamu. Hehe.."
"Jangan cengar-cengir, jelek tau.."
"Mas.. cerita lagi dong."
"Cerita apa lagi?" Aska memutar kemudinya, perlahan ia memarkirkan mobilnya.
"Cerita semuanya yang aku nggak tau. Kenapa kamu bisa suka sama aku? Kenapa kamu mau perjuangin aku? Kenapa sekarang kita bisa nikah? Cerita dong.. cerita..." Queen menggoyang lengan Aska. Merengek dengan suara manja.
"Apa yang mau di ceritain sih Ra? Kan kita yang ngejalanin. Aku sama kamu. Ya harusnya kamu udah tau dong.. udahlah, udahan ceritanya, yok turun. Udah nyampe." Aska membuka pintu mobilnya, beralih ke arah Queen. Seperti biasa, Aska akan membukakan pintu untuk Queen.
"Ayok turun.."
"Nggak mau!" Cebik Queen.
__ADS_1
"Yaudahlah aku tinggal." Aska berbalik, hendak pergi.
"Ih.. kok gitu sih."
"Ya katanya kamu nggak mau, yaudah, kita udah hampir telat ini."
"Kalo istri ngambek itu di bujuk mas, di rayu gitu lho.. di gendong ke, gimana ke. Ini mah malah di tinggal pergi. Jahat banget sih kamu."
Aska menarik nafasnya dalam-dalam.
"Gendongnya nanti aja, kalo udah selesai acara. Kamu kan berat Ra. Aku keburu capek nanti,"
"Ya ampun, mas!!" Suara Queen meninggi. "Jahat banget sih kamu, aku kan istri kamu tau."
"Iya tau, aku tau.. Kalo aku gendong kamu, nanti baju kamu lecek. Jadi nggak cantik. Aku kan pengen pamer ke orang-orang kalo istri cantik aku ini lagi hamil."
Queen berfikir sebentar.
"Udahlah.. nggak usah ribut mulu.. nih, gua bawain bensin sekalian.." Suara Rendi memecah kediaman antara Queen dan Aska. Sontak membuat keduanya menoleh secara bersamaan.
Yang paling terkejut adalah Aska. Melihat wanita yang tangannya dalam genggaman tangan Rendi, Aska mengenalinya, wanita yang pernah ia boncengi beberapa kali di atas motornya selain Queen.
"Hai mas Aska.." Sapa Dissa.
"Oh.. ya.. halo Di..s" Aska agak enggan mengucapkan nama wanita di depannya. Takut akan menjadi sebuah kesalahan lagi baginya nanti.
Benar saja perkiraan Aska, Queen tersentak mendengar nama itu, nama yang hampir membuat masa depannya menjadi suram.
"Queen.. kenalin ini Dissa. Dis.. ini my Queen.. istri tersayang Aska." Dengan santainya Rendi mengenalkan keduanya. Aura canggung langsung terasa di antara mereka.
"My Queen?" Aska menegaskan. "Enak amat lu ngomong!"
"Yaelah.. As.. udah biasa kali gua manggil begitu? Masih kaku aja lu."
"Istri gua coy.. enak banget lu ngaku-ngakuin dia, bosen jadi orang kaya lu ya?"
"Tuh Dis, lu liat.. gimana marahnya si Aska, padahal gua cuma ngomong biasa doang kan? Itulah bukti cintanya Aska sama istrinya. Jadi lu nggak usah ngarepin dia lagi." Rendi memainkan ke dua alisnya, seolah mengejek Dissa.
Wanita itu hanya bisa menarik ujung bibirnya kaku. Berusaha menampilkan senyum meski terpaksa.
"Gua duluan ya As.." Rendi pamit, masuk ke dalam gedung terlebih dulu bersama gandengannya.
"Ayok Ra masuk." Queen yang masih mematung di posisi duduknya, membuat Aska semakin tidak sabar.
"Aku enggak mau. Di dalem ada Nissa, ada Dissa. Terus aku??"
"Lah kamu kenapa?"
"Enggak. Pokoknya enggak. Kalo kamu mau masuk, titip salam aja buat bang Is sama Rindi. Aku tunggu disini aja." Queen menarik pintu mobilnya, menutupnya dengan keras. Membuat Aska terkejut.
__ADS_1
Sialan si Rendi emang!
🙃🙃😉