
Pertemuan keluarga mereka dalam sidang wanjak yang berlangsung tadi pagi, membuat Queen masih terharu dan tak percaya. Segala petuah juga petunjuk yang di berikan oleh Wakapolsek Cengkareng, juga anggota Ibu Bhayangkari yang tergabung dalam Bp4.
Masih jelas betul, gambaran situasi disaat mama Queen datang lebih dulu sebelum dirinya. Tangis haru langsung Queen rasakan, mengingat seberapa dalam rasa dendam yang ia pendam dulu. Untuk pertama kalinya dalam ingatan Queen, ia bisa berpeluk hangat tanpa ada emosi di antaranya. Queen benar-benar memiliki seorang mama saat ini.
Tepatnya dua orang wanita mulia hadir di kehidupan Queen. Selain mama nya yang kini rela mengorbankan waktunya demi acara Queen, juga ada Ibu Aska yang senyuman dan tata bicaranya selalu membuat hati Queen tenang.
Queen sadar, semakin ia beranjak dewasa, semakin banyak hati yang harus ia jaga. Bukan demi kepentingannya sendiri, atau membesarkan secuil masalah hanya demi mendapatkan perhatian yang tak tepat waktu.
Seperti petuah dari Bapak Wakapolsek tadi yang menjadi ketua dalam jalannya sidang. Dimana kini, Queen harus sadar betul siapa calon imamnya, Aska Prayoga adalah seorang abdi negara yang harus siap di butuhkan kapanpun dan di manapun. "Pernikahan di tuntut agar suami atau istri, harus bisa membuat pasangannya tentram, tenang, nyaman dan damai dalam menjalani kehidupan bersama, supaya rumah tangga bisa hidup langgeng."
Juga petuah dari Ibu bhayangkari. "Jadi istri polisi itu tidak mudah, karena sebagai istri, harus bisa ngeshare suami kita dengan negara ini. Karena memang tugas pokok suamimu itu melindungi, melayani dan mengayomi masyarakat." Tutur salah seorang Ibu bhayangkari yang ikut dalam jalannya sidang wanjak tadi pagi.
Queen tau betul, bagaimana sikap manja dan egois dirinya karena kesalahan dalam pemikiran di masa lalu. Queen berharap, lelakinya itu akan selalu seperti ini, menyayangi juga menerima dirinya apa adanya.
Ini baru awal dari serangkaian proses untuk pernikahannya nanti, tapi Queen sudah terharu dan sedikit terbebani. Ya karena sikap Aska yang menjadi semakin protektif juga posesif.
Saat ini saja, entah sudah berapa kali Aska menghubungi via video call. Hanya karena ucapan Zaki tadi. Lelaki yang tak lain adalah adik sepupunya itu, mengajak Queen untuk ikut pulang ke Semarang, karena Aska yang harus langsung tugas saat sidang selesai tadi.
Dengan ucapan tegas dan wajah serius, Aska menolak ajakan Zaki pada Queen. Aska tidak mengizinkan Queen pergi kemanapun, selain untuk pulang.
Ibu Aska juga sempat menawari Queen untuk ikut sebentar bersamanya. Tapi Aska, masih saja tidak mengizinkannya. "Nanti aja bu, kalo udah halal dan ada waktu, kita berdua bakal pulang sesuai permintaan Ibu." Ucap Aska lembut kepada Ibunya.
Lagi-lagi itu membuat hati Queen sedikit menciut. Padahal Queen sudah senang akan pergi sebentar, melepas penat dan tekanan dari orang-orang besar dihadapannya tadi.
"Mas Aska harus ganti rugi." Ucapnya, saat sekali lagi lelaki itu menghubunginya
"Kenapa?" Tanya Aska tak mengerti.
"Iyalah, gara-gara mas Aska, aku jadi nggak bisa refreshing. Kesini nggak boleh. Kesana nggak boleh. Harusnya aku tuh dirumah aja gitu? Ngerem aja di kamar? Ntar tau-tau aku bertelur, mas Aska nya kaget."
"Ya jelaslah aku kaget. Nanem aja belum, masa' udah bertelur aja. Telurnya siapa coba kalo begitu?" Ledek Aska, membuat hati Queen menjadi semakin panas.
"Udahlah Ra, acaranya tuh seminggu lagi, kamu diem-diem di rumah aja. Nggak akan ada ruginya kok untuk kamu."
"Ya udahlah, terserah mas Aska aja." Queen mengakhiri sambungannya.
Merebahkan tubuhnya di atas kasur Aska. Ya, sejak kepulangan Ibu Aska tadi, Queen masih enggan beranjak dari kamar lelakinya. Asa rasa tenang dan nyaman saat Queen merebahkan tubuh di atas kasur Aska.
Bukan karena kasurnya yang mahal, mungkin karena sang pemilik yang selalu memberikan kelembutan untuk Queen di atas kasur yang ia tiduri saat ini.
***
Malam semakin larut, Aska sudah berada di kamarnya, setelah selesai bertugas hingga hampir menjelang maghrib.
Dirinya sudah tidak di sibukkan dengan urusan akad yang sudah rampung dan sepenuhnya di bawah kendali abang Is, lelaki yang ia tua kan, dan karena memang mereka satu kampung.
Queen juga sudah berada di kamarnya sendiri. selesai makan malam bersama Aska, gadis itu lebih memilih beristirahat di kamarnya, dan Aska tidak masalah. Selama gadisnya merasa nyaman dan masih dalam jangkauan Aska.
Hujan yang selalu turun saat hampir tengah malam, volumenya juga tak tanggung-tanggung. Begitu deras dan lebat, suara gemuruh petir juga saling bersautan, nyaring dan menggelegar, seperti akan menyambar apapun yang mereka lewati.
__ADS_1
Queen takut, matanya sulit terpejam, mendengar gemuruh petir yang begitu memekakkan telinga, membuatnya sangat terkejut.
Kenapa harus malam ini, saat dirinya tengah tidur sendiri dan petir datang menggoda mimpi indahnya tadi.
Queen mencoba menghubungi Aska, tetapi sialnya lelaki itu tidak menjawab. Rasanya juga tidak mungkin kalau Queen harus datang tengah malam di bawah guyuran hujan, hanya karena ia takut petir.
Sekali lagi, Queen mencoba menghubungi lelakinya, namun masih tidak ada jawaban. Queen kesal, ia membuang ponselnya jauh di bawah telapak kakinya. Rasa jengkel dan takut semakin membuat Queen menciut.
Ia memilih menyembunyikan tubuhnya di bawah selimut tebal, berusaha tidak fokus pada suara petir. Hatinya mulai tenang, pelariannya membuahkan hasil. Sampai ia mendapati ruangannya menjadi lebih gelap.
Queen tidak tau apa yang terjadi, dalam persembunyiannya Queen merasa ruangannya lebih gelap dari sebelumnya. Rasa panas juga menguar, saat Ac di kamar Queen mati.
"Ha? Kenapa lagi sih?" Rutuk Queen kesal.
Queen berusaha mencari letak ponsel yang tadi ia lempar. Gadis itu merasakan air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. Dengan segenap kesabaran yang Queen punya, ia berusaha melawan tangisnya pecah.
Tapi perasaan kesal karena sial yang terus terjadi. Hampir membuat Queen tak tahan. Jika saja Queen tidak mendengar suara itu. Ya.. suara lelaki yang sedari tadi Queen harap kehadirannya.
"Ra.." Panggil Aska, setelah membuka pintu kamar Queen dan menutupnya kembali.
Aska berjalan masuk mencari sosok tubuh pemilik kamar yang ia sambangi.
"Ira? Kamu ngapain?" Queen mendapati selimut tebal yang menggunung, seperti menyembunyikan sesuatu di dalam ya.
"Mas Aska?" Queen membuka penutup tubuhnya, bangkit dan berlari menghambur memeluk Aska.
"Iya tau. Makanya saya kesini bawa lampu." Jawab Aska santai.
Queen melepas pelukannya, beralih pada lampu penerangan yang Aska pegang. Bagi Queen, entah dalam situasi apapun, lelakinya adalah penerang dalam hidupnya. Seperti saat ini.
"Kemana aja sih mas, telfon aku nggak di angkat?" Rengek Queen.
"Di kamar mandi tadi."
"Ngapain di kamar mandi?"
"Pipis."
"Ngapain pipis?" Pertanyaan konyol Queen yang terlontar akibat kurang fokus. Aska memicing, menautkan alisnya, tak mengerti dengan pertanyaan Queen.
"Kayak kamu nggak pernah pipis aja." Aska mencubit pipi Queen gemas. Membuat Queen mengaduh kesakitan.
"Udah ayok tidur, saya taro lampunya disini." Aska meletakkan lampunya di atas meja sebelah kasur Queen.
Queen beranjak naik kembali ke atas kasur. Kali ini tidak masuk salam selimut. Ia biarkan saja selimutnya berantakan di bawah kakinya.
"Mas Aska mau kemana?" Aska sempat memajukan langkahnya hendak meninggalkan Queen.
"Mau pulang lah, ngantuk, mau tidur."
__ADS_1
"Terus aku tidur sendiri?"
"Terus?"
"Ya temenin dulu lah sebentar.."
"Sebentar nya itu sampe kapan?" Aska terkekeh. Ia tau betul trik kata permainan Queen. Sebentar, sebentar, sebentar lagi, sampai akhirnya Aska ketiduran di sampingnya.
"Paling nggak ya, sampe lampunya nyala lah. Paling bentar lagi, kan mati lampunya nggak pernah lama." Queen masih berusaha membujuk lelakinya.
"Kamu harus biasa tidur sendiri Ira.. jangan maunya di temenin terus." Aska beranjak mendekati Queen, merangsek naik ke atas kasur dan berbaring di sebelah Queen.
"Maksudnya gimana mas?" Tanya Queen tak terima.
"Iya.. kamu nggak inget tadi kata salah seorang Ibu bhayangkari. Kalo kemungkinan saya bakal nggak pulang satu atau dua malam. Gimana kalo saya kayak gitu nanti?" Aska balik bertanya.
"Loh? kok baru sekarang mas Aska ngomong kayak gitu sama aku? Kemarin-kemarin kemana aja? Kan mas Aska sendiri yang selalu ngebiarin aku tidur bareng mas. Terus kenapa sekarang ngomongnya kayak gitu? Lagian, kalo emang mas nggak pulang berhari-hari, aku telfon aja Arya, buat nemenin aku tidur kalo kamu nggak ada." Bagaikan kereta api yang sedang lewat tanpa palang perlintasan, Ucapan Queen mengalir tanpa jeda sedikitpun.
Hati dan fikirannya seketika menyambung, jika sedang beradu argumen dengan Aska.
Sadarnya Aska pada kalimat terakhir Queen, ia segera menjapit bibir Queen dengan dua jemarinya. "Enak banget ya kamu kalo ngomong. Berasa ngomong ama tembok." Tegas Aska.
"Ya lagian mas Aska aneh. Kemaren kemana aja, hari gini baru ngebahas soal tidur bareng." Queen berbalik memunggungi Aska.
"Kemaren itu, saya nggak kepikiran."
"Mikirinnya apaan emang?"
"Ya, yang saya pikirin cuma, ciptain waktu sebanyak-banyaknya sama kamu, dan nikmatin setiap momen sama kamu." Ucapan Aska yang lembut juga lirih, membuat mata Queen yang mulanya hampir terpejam, kini terbuka lagi.
"Gombal." Celetuk Queen.
Aska tersenyum, memang dirinya sedang merayu Queen, tapi itu juga kenyataan yang ia rasakan saat bersama Queen, apalagi sebelum mereka menjalani hubungan resmi seperti sekarang.
Aska rasanya ingin memeras otaknya agar bisa menciptakan suasana berdua dengan gadis pujaannya.
Tapi sekarang, Queen sudah berada di dalam genggamannya sekarang. Sudah menjadi miliknya dan hampir sepenuhnya menjadi miliknya. Aska tak perlu alasan untuk bisa berdua dengan Queen lagi. Kapanpun ia mau, ia bisa berdekatan dengan Queen.
Lampu kembali menyala, Hati Queen sekarang juga semakin tenang dari sebelumnya.
"Udah nyala, udah sana balik ke kamar mas Aska." Usir Queen, ia masih enggan berbalik menghadap lelakinya.
"Ya ampun saya di usir."
"Tadi katanya aku suruh biasain tidur sendiri, gimana sih?"
"Iya iya maaf.. tapi sekarang, saya yang nggak bisa tidur sendirian. Gimana dong?" Aska membelai rambut Queen lembut.
"Au amat.." Kesal Queen.
__ADS_1