
**maaf sebelumnya, cerita ini hanya fiktif yang kadang di ambil dari bagian hidup seseorang. Jadi bagi yang kurang suka, mohon maklum nya, ini hanya sebagai pelampiasan dari isi kepala aku yang kurang pengalaman. Jadi mungkin ceritanya sedikit atau sangat membosankan**
Queen merangkul lengan Aska manja. Wanita itu sangat terlihat bahagia sejak Aska mengajaknya mencari hadiah untuk undangan ulang tahun tetangga mereka.
"Mas.. liat deh, baju nya lucu-lucu kan?" Queen menarik lengan Aska melihat deretan baju balita laki-laki dengan tema karakter super hero dan binatang.
"Liat deh mas, yang ini piyamanya ada kuping nya. Lucu ya.." Queen mengambil satu baju tidur dengan karakter kelinci.
Aska hanya diam, memandangi Queen yang terlihat bahagia. Pemandangan yang tak pernah Aska temukan sebelumnya.
Aska masih dalam lamunannya, mengamati manik mata Queen yang begitu berbinar. Sedalam itukah keinginan Queen memiliki anak? Tidak bisakah Queen bersabar hingga dirinya lulus kuliah? Hanya dua tahun lagi, waktu yang Aska inginkan, dan saat itu Queen sudah bisa menjadi seorang ibu yang ideal menurutnya.
"Mas Aska aku bingung deh, mau pilih yang mana." Queen menatap mata Aska sendu. Dirinya seperti bersedih karena tidak bisa memilih hadiah yang cocok. Semuanya terlihat lucu, tapi tidak mungkin bagi mereka jika harus membeli banyak.
Seorang pegawai toko tersebut menghampiri Queen yang terlihat kebingungan. "Bisa saya bantu mba?" Tawar pegawai toko ber-name tag Desi.
"Em.. masih pilih-pilih nih mbak, yang paling lucu." Jawab Queen sekilas melirik pegawai itu.
"Bisa saya bantu pilihkan, untuk anak usia berapa mba?"
"Usia tiga tahun. Dia kulitnya agak sawo matang gitu mbak, yang cocok warna apa ya mbak?" Queen masih sibuk memilih deretan baju gantung di hadapannya.
"Mungkin motifnya ada yang dia suka mbak? Biar dia lebih PeDe makenya."
"Ehm.. kurang tau deh mbak, ini untuk kado."
"Oh kado.. kirain untuk anak sendiri mba.." Sang pegawai toko itu sedikit terkejut. Sama halnya dengan Queen yang tiba-tiba menjadi diam.
Aska yang semenjak tadi memperhatikan interaksi keduanya, menghampiri Queen dan merangkulnya dari samping.
"Masih proses mba.. mohon doanya ya, biar cepet jadi." Aska tersenyum ke arah Queen.
Queen yang begitu terkejut dengan ucapan suaminya, seperti mendapat lampu hijau. Perlahan Queen tersenyum, rasa haru begitu menyeruak di hatinya.
"Kalo menurut saya sih, kita beli mainan aja Ra. Anak kecil kan biasanya suka banget sama mainan." Usul Aska.
Queen mengangguk. Tak perduli dengan apapun yang di usulkan Aska saat ini, Queen akan senang menurutinya.
"Pilih satu yang kamu suka, terus kita ke toko mainan ya." Ajak Aska.
"Kok cuma satu mas? Emang nanti anak kamu nggak ganti-ganti bajunya?" Cebik Queen.
Aska menangkup pipi Queen, menatapnya lekat dengan senyum tak memudar.
"Ini untuk kado Ira.. untuk anak kita, nanti kita beli yang banyak kalo udah ada kabar baik." Selanjutnya Aska mencubit ke dua pipi Queen gemas.
__ADS_1
Queen yang dalam hatinya sangat bahagia, tapi juga mengaduk kesakitan karena cubitan tangan suaminya tadi.
Sedangkan pegawai toko hanya diam memandangi dua sejoli yang sedang bermesraan di hadapannya. Konyol, harusnya pegawai tadi membuang arah pandangnya, agar pipi nya tidak ikut bersemu merah.
"Yang ini aja mbak." Queen menyerahkan satu setelan pakaian warna merah dengan gambar kapten America.
***
Aska dan Queen meneruskan acara mereka masih memilih kado untuk tetangganya. Tapi kali ini, Queen sedang senang. Rangkulannya kian mesra melingkar di lengan Aska.
"Kita beliin mobilan aja ya Ra. anak laki kan suka nya mobil-mobilan. Yang pake remote kontrol, biar nggak bosen mainin nya." Kali ini Aska yang sibuk memilih. Queen yang giliran diam memandangi wajah antusias lelakinya.
"Ra.. saya mau beli PlayStation boleh nggak?"
"Buat apaan? kamu kan udah punya?"
"Ya buat nanti main sama debay kita. Kan keren Ra masih kecil udah bisa main Ps" Aska menaikkan alisnya naik turun.
"Anak kita itu nanti cewek mas, bukan cowok. Jadi nggak usah beli begituan. Yang ada nanti kamu lupa sama aku gara-gara ke asikan main begituan."
Queen berjalan meninggalkan Aska yang masih terdiam di antara rak mainan yang berisi penuh mobil-mobilan teranyar.
***
"Makanya kamu nggak usah pake sendal yang tinggi-tinggi gitu. Katanya persiapan kehamilan. Itu kan nggak bagus juga Ra." Tutur Aska, tangannya tengah sibuk mengendalikan stir mobil, keluar dari halaman parkir.
Queen tersenyum. Lagi-lagi Aska membicarakan tentang kehamilan.
"Makasih ya mas, udah mau turutin maunya aku." Queen mengecup pipi Aska.
Mobil mereka sudah melaju di antara hiruk pikuk keramaian jalanan yang hampir menjelang sore.
Suara lagu dari radio dalam mobil Aska, memecah keheningan di antara mereka.
Queen sudah siap memejamkan matanya, saat Aska mengajaknya berbicara.
"Saya bekel apa nanti Ra? Kita kan nggak masak tadi." Aska melirik Queen sekilas.
"Bekel? Ngapain? Nanti juga kamu kasih ke orang lagi."
Bodohnya Aska, membicarakan tentang kotak bekal sama saja mengorek lagi luka yang Queen rasakan tadi pagi.
"Enggak enggak. Kali ini pasti saya yang makan." Aska meyakinkan Queen.
"Yang bener? Aku tuh udah capek-capek nyiapin buat kamu, eh kamu malah santai aja kasih ke orang. Siapa yang nggak sebel coba kalo di gituin."
__ADS_1
"Iya maaf.. kemaren emang saya yang kurang ati-ati sama Fiki. Tapi kali ini Fiki yang harus hati-hati sama saya. Oke Ra?" Queen menarik dagu Queen. Mendekatkan wajah wanitanya ke arah wajahnya.
"Mas ih.." Queen mengibaskan tangan Aska. "Lagi bawa mobil juga. Ada-ada aja deh." Kesal Queen.
"Hehe.. gemes sama kamu si Ra. Pengen cium aja bawaannya."
"Dasar. Dari tadi kamu tuh sok mesra mulu sama aku. Tumben lho mau peluk aku di depan SPG kayak tadi."
"Emang kenapa? Dulu kan kamu yang minta saya tunjukin kemesraan di depan SPG."
"Iya sih.. masih inget aja sih kamu mas." Queen menatap Aska dengan wajah menggemaskan.
"Jangan nyodorin gitu, kalo di cium aja nggak mau." Kali ini Aska yang merajuk.
Sejak tadi Queen tidak memperhatikan jalan yang mereka lewati, sampai Queen merasakan laju mobil mereka berhenti. Queen fikir mereka sudah sampai di kontrakan, ternyata mobil Aska berhenti di depan toko sayur.
"Ngapain kita kesini?" Queen bingung.
"Beli sayuran lah.. ngapain lagi. Ayok turun" Setelah menarik rem tangan mobilnya, dan memastikan mobilnya sudah terparkir dengan aman, Aska membuka pintu mobilnya, lalu berjalan masuk ke dalam toko meninggalkan Queen yang masih nampak bingung dengan sikap suaminya itu.
"Kenapa dah nih orang." Gumam Queen. Menutup pintu mobilnya dengan keras.
Aska tersenyum melihat Queen dari dalam toko sayur. Tangannya melambai, meminta Queen cepat bergabung dengannya.
"Mau masak apa kita sekarang?" Tanya Aska, memilih-milih sayuran di hadapannya.
"Masak telor ceplok ajalah mas yang gampang bin cepet. Kamu udah mepet juga kan waktunya." Queen enggan berbelanja kali ini.
"Saya bantuin kan Ra masaknya, jadi pasti keburu deh.." Yakin Aska.
"Terserahlah.."
Selanjutnya Aska lah yang sibuk berinteraksi dengan pedagang sayur tersebut. Bertanya apakah ada telur, berapa harga telur, kangkung, tempe lalu meminta pedagang itu menyiapkan sambelan untuknya.
"Udah nih Ra. Kita masak tumis kangkung pake Saori sama tempe goreng, terus ceplok telur, kamu yang nyambel. Gimana? Pas nggak paduannya?"
Queen yang hanya berdiri dekat Aska yang sibuk memilih masakannya, nampak terpukau tak percaya.
"Banyak banget lauknya, siapa yang makan, kita kan cuma berdua?" Queen membuka isi kantong belanjaan Aska. "Pilih ceplok telur atau goreng tempe?"
"Ck.. Nggak pa-pa Ra. Saya nanti yang habisin. Pasti habis kalo kamu yang masak."
"Aku yang masak, kamu yang bawa, temen kamu yang makan." Ketus Queen. Ia memilih masuk ke dalam mobil, mempersingkat waktu, mengingat begitu banyak yang harus mereka masak dalam waktu singkat.
🙃🙃😉
__ADS_1