Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
lelah


__ADS_3

Adzan subuh sudah berkumandang, Aska dan yang lainnya mulai bergegas melaksanakan tugas agama mereka. Aska, ibunya dan Zaki beranjak menuju surau terdekat di kampung mereka, sedangkan Queen dan Aini melaksanakannya di dalam rumah secara bergantian.


Setelahnya, Zaki dan ibu Aska pulang terlebih dulu, meninggalkan Aska yang masih sibuk berbincang dengan beberapa lelaki seusianya.


"Cah ayu..." panggil ibu Aska kepada Queen. Tapi Queen masih belum hapal tentang sebutan untuk dirinya. Queen masih asik memainkan gadget di tangannya.


"Mbak Queen.. Di panggil ibu." Aini menghampiri Queen yang duduk di bangku ruang depan.


"Hah? oh iya.. Dimana ibunya?" tanya Queen seraya berdiri.


"Di dapur"


"Oke, makasih.." Queen bergegas masuk kedalam ruangan yang paling ujung dari rumah tersebut.


Sesampainya Queen, ia melihat wanita setengah baya itu tengah memasak nasi menggunakan tungku kayu yang terbuat dari batu bata di sisi kiri kanannya. memasaknya pun masih dengan cara tradisional, sebelahnya tangan kanan sang ibu terlihat lihai membalik telur dadar di atas wajan kecil.


"Rene ndo'.." (sini nak) titahnya.


Queen menghampiri, meski asap mulai memenuhi ruangan, Queen tak merasa perduli. Ia berjongkok tepat di sebelah sang ibu.


"Makan dulu ya, baru istirahat nanti." Ucapnya.


"Iya bu.." Jawabnya sopan


"Mas Aska nya lagi temu kangen sama temennya, jadi kamu mending makan duluan aja. Kalo nungguin dia nanti kelamaan"


"iya bu.. Makasih, tapi aku nungguin mas Aska nya aja,"


"Nggak usah, makan bareng ibu sama Aini sama Zaki. Aska mah lelaki, dia sudah biasa nahan lapar.."


"Tolong ambilkan piring ndo' buat telurnya" Sambung ibu.


"Iya" Queen beranjak menuju rak piring yang tak jauh dari letak kompor. membawa piring yang terbuat dari seng, bermotif bunga di pinggirnya.


"Terima kasih" Tutur ibu dengan senyum.


Wanita paruh baya itu meletakkan telur di atas piring dan memberikannya kepada Queen.


"Ini taruh di atas meja ya.." Titah ibu.


"Nasinya belum matang, jadi cah ayu tunggu di luar sebentar ya.. Nggak lama kok ini" lanjutnya.


Queen mengangguk pelan, ia kemudian pamit meninggalkan ruangan itu dengan ibu yang masih duduk, menunggu api agar tidak padam di sebelahnya.


Tak lama Queen kembali lagi ke dapur, meminta ijin untuk merebahkan tubuhnya sebentar. Ibu Aska menyuruhnya untuk istirahat di dalam kamar Aini.


***


"Assalamualaikum..." Suara Aska mengucapkan salam. Dan segera di jawab oleh Aini.


"Wa'alaikumsalam.. Ya ampun mas.. Ini jam berapa baru pulang?" Tanya Aini kesal.


"Nggak tau, mas nggak bawa jam" balasnya cuek.


"Nang..." panggil ibu. Aska menyalami punggung tangan wanita itu.


"Dari mana aja toh? Nggak inget ada tamu di rumah ya?" cerca ibu.


"Engga lupa bu.. Cuma kasih dia waktu istirahat aja" Alasan Aska.


"Ada-ada aja kamu, kalo mas belum bisa bertanggungjawab lebih baik tunda aja mas niat mu itu" Nasihat ibu itu jelas membuat Aska tertegun. Bagaimana bisa ia meninggalkan Queen sendiri, meski ini bukan rumahnya, dan keluarga Aska sangat menerimanya, tetapi Queen tidak mengenal siapapun disini. Terlebih Queen akan canggung jika membutuhkan sesuatu.


"Maaf bu... Tadi cuma keasikan ngobrol aja ama yang lain." Tutur Aska.

__ADS_1


"Mbaknya belum makan loh mas. Ini udah hampir jam sembilan." Aini ikut berbicara.


"Kenapa belum?" Sedikit ada rasa marah di hati Aska, juga khawatir.


"Dia keburu tidur waktu nunggu nasinya belum matang" Jelas Ibu.


"Dimana dia?"


"Dikamar aku" mendengar perkataan terakhir Aini, Aska segera meletakkan perlengkapan shalatnya di kamar miliknya, bergegas mencari Queen yang katanya tadi tengah tertidur di kamar sang adik.


Perlahan Aska membuka gagang pintu kamar adik, sedikit mengintip gadisnya yang tengah tertidur.


"Ra...." Panggil Aska yang tengah berdiri di ambang pintu.


"Ira... ayok makan.." Ajak Aska lagi. Tapi gadisnya tidak juga bergerak.


Aska menghampiri, duduk di sebelah Queen, mengusap lembut rambut gadisnya, juga pipi nya.


"Ira... ayok bangun, makan"


"eumm..." Queen mulai tersadar, membalikkan tubuhnya yang semula berbaring miring menghadap arah pintu, sambil memeluk guling. berbalik memunggungi Aska.


"Ira... ayok..." Suara Aska sedikit meninggi. Membuat Zaki yang masih ada di rumah Aska beranjak menghampiri mereka.


"Masih nggak mau bangun mas.. Biarin aja sih mas. Masih ngantuk mungkin." Tutur Zaki.


"Ira... ayok. Ini bukan di rumah kita.."


"Kita???" Zaki nampak terkejut mendengarnya.


"Kalian tinggal bareng mas?" Tanya Zaki


"Enggak. Kita sebelahan tinggalnya, jangan mikir yang aneh aneh deh kamu." Tutur Aska. Sorot matanya tegas dan tajam membuat mulut Aska seketika tertutup rapat.


"Ira!"


"Abis makan kamu boleh tidur lagi." Bujuk Aska.


"Jangan percaya mbak.. Disini nggak ada yang boleh tidur sebelum matahari naik"


"Diem kamu Zaki. Pulang sana. Ngapain masih disini."


"Yaudah.. Mbak Queen, aku mau pulang. Mbak jadi ikut apa engga?" Zaki sedikit teriak.


Queen segera bangun dari tidurnya,


"Ikut ikut.. Aku ikut." Queen antusias. Aska yang mendengarnya langsung merasakan darahnya naik ke kepala dan hatinya memanas.


"Ayok mbak.." Queen turun dari kasur, sesaat sebelum tangannya di pegang oleh Aska yang masih tak mengerti dengan keadaan saat ini.


"Apa sih mas?" Tanya Queen. Suara parau Queen setelah bangun tidur membuatnya melemah.


"Mau kemana?"


"Mau ikut Zaki, maen ke rumahnya"


"Ngapain?"


"Main. Kan aku udah bilang main."


"Enggak. Udah sana pulang kamu." Aska menatap lekat mata Zaki.


"Cuma sebentar doang mas, ajak Queen keliling, abis itu aku anter kesini lagi." Bujuk Zaki memelas.

__ADS_1


"Enggak enggak enggak.. Kalau mau pulang, pulang sendiri. Nanti aku yang ajak dia keliling."


"Ah.. palingan mau di pamerin depan mantan mas Aska. Palingan di bawa nya kerumah Nisya"


"Zaki. Pulang. Pulang sana." Aska melepaskan pegangannya pada Queen, beralih mendorong Zaki hingga keluar pintu.


"Mobilnya kamu bawa aja. Sana cepet pulang" sergah Aska. Zaki mendengus kesal, segera ia masuk ke dalam mobil dan menutupnya keras. Membuat Aini yang sedang duduk di teras terkejut.


"Kenapa sih mas? Berantem terus sama mas Zaki" Tanya Aini.


"Enggak. Ibu mana?" Tanya Aska.


"Lagi di rumah Mbah Micha. Anaknya jadi manten, jadi ibu bantu masak masak" Jelas Aini.


"Oh... yo wiss.." Aska berlalu kedalam. Menghampiri Queen yang sudah selesai membasuh muka.


"Kamu udah janjian ama Zaki? Ngobrolin apa aja?" Tanya Aska tidak suka.


"Kenapa kepo? Terserah aku lah" Queen mengabaikan Aska berlalu menuju meja makan.


"Ira.. Kamu disini itu tamu saya, kenapa malah mau pergi sama Zaki?"


"Dari tadi yang nemenin aku tuh Zaki sama Aini. Kalo Aini sibuk, Zaki yang temenin aku. Kamu ? kemana?" Queen balik tanya.


"Saya cuma ketemu temen sebentar. Kamu udah janjian aja sama cowok lain."


"Ya ampun mas... Dia itu sepupu kamu. Masa iya kamu cemburu sama dia" Queen menghentikan gerakannya yang sedang menyendok nasi.


Suara mereka pelan namun menekan. Jadi Aini tidak mendengar percakapan mereka.


"Yang namanya lelaki itu ya lelaki Ira.. Dia itu playboy, kalo kamu sampe kemakan gombalannya dia gimana?"


"ya nggak tau deh gimana!" Queen kembali melanjutkan gerakannya. Menaruh nasi di atas piring beserta sambal dan telur dadarnya.


"Aku mau makan. Jangan bikin aku nggak selera ya mas." Pinta Queen dengan jelas.


"Pokoknya ya Ra.. Kamu nggak boleh kemana-mana selain sama saya" Aska berbalik meninggalkan Queen yang tak perduli dengan sikap lelakinya.


Tak lama Aini masuk menghampiri Queen.


"Eh, mbaknya udah bangun. Abis makan kita keluar yuk mbak. Ngeliat keadaan disini" Ajak Aini.


Queen pikir, Aini adalah adik perempuan Aska, mana mungkin Aska cemburu kepada adiknya sendiri, apalagi perempuan. Benar gila, kalo itu sampe benar terjadi.


"Boleh, naik apa?"


"Naik motor Aku"


"Tapi aku nggak bisa bawa motor." Queen sedikit kecewa.


"Nggak apa-apa, aku yang bawa, mbak aku bonceng. Gimana?"


"Oke"


Queen terasa senang, akhirnya dia bisa menikmati suasana lain dari pinggiran ibu kota.


Tanpa memperdulikan ucapan Aska tadi. Sedangkan Aska yang tadi meninggalkan Queen, dengan hati yang panas ia masuk kedalam kamarnya, merebahkan tubuh dan memejamkan matanya.


Dia sangat lelah, kemarin dia benar-benar tidak tidur. Mungkin itu juga yang menjadi penyebab dirinya mudah tersulut emosi tadi.


💓💓💓


💔💔

__ADS_1


🙃


...


__ADS_2