Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
mama Queen 2


__ADS_3

Rindu akan sosok masa lalu, seperti berjalan dengan menghadap kebelakang. Beruntung jika apa yang kita rindukan hanya sekedar suasana dan tempat yang kita suka. Tapi jika masalah waktu, akan sulit bagi kita jika ingin itu semua terulang.


Disinilah Aska dan Rendi, di Bandung tempat dimana kemarin ia bertemu dengan mama Queen. Datang dengan penuh keyakinan untuk meminta Restu bagi hubungan mereka, sayangnya apa yang mereka harapkan tak sesuai dengan kenyataan yang ada.


Wanita karir yang begitu sibuk, tidak ingin melepaskan putri semata wayangnya begitu saja. Segalanya tidak berjalan lancar, Queen sangat kaku saat berbicara dengan mama kandungnya sendiri.


Aska bingung, jika suara Queen saja tidak dibutuhkan oleh mamanya sendiri, lalu untuk apa wanita mulia itu meminta Aska datang lagi. Di tambah embel-embel akan merestui mereka nantinya.


Aska di temani Rendi datang mengetuk pintu kamar hotel tempat mama Queen berada. Kenapa harus di kamar hotel? Kenapa harus saat weekend? Kenapa juga Queen tidak boleh ikut? Banyak pertanyaan bersarang di kepala Aska.


"Assalamualaikum tante.." Sapa Aska saat mama Queen membuka pintu kamarnya.


"Oh udah dateng, kita bicara di dalam." Ajak mama Queen, yang menatap Aska juga Rendi bergantian.


Aska sudah tak asing dengan sikap wanita setengah baya di hadapannya, begitu juga dengan Rendi yang sudah tau karena cerita Aska selama di perjalanan tadi.


"Duduk!" Perintah mama Queen. Aska dan Rendi menurutinya.


"Kamu tau kenapa saya minta kamu tidak membawa Queen?" Mata mama Queen memicing, tak sedikitpun nada bersahabat terdengar.


Namun begitu, tidak membuat hati Aska bergetar, wajahnya tegas dengan wibawa yang terasa dari setiap gerakan atau ucapannya. "Maaf, saya tidak tau." Aska berkata tegas namun sopan.


Mama Queen terkekeh mendengar ucapan calon menantunya. "Kenapa bawa teman?" Tutur mama Queen.


"Maaf sebelumnya, saya tidak ingin ada kesalahpahaman nantinya, jadi saya membutuhkan saksi disini." Aska masih sadar, wanita angkuh dihadapannya ini adalah calon ibu mertuanya. Aska tidak ingin di cap sebagai lelaki tidak beretika.


"Apa alasan kamu menikahi Queen?" Pandangan mama Queen lekat, menelisik lewat manik mata Aska.


"Kami saling mencintai Tante, itu alasan utama kami."


"Apa?" Mama Queen tertawa. "Cinta itu hanya alasan yang di buat buat. Cinta itu tidak pernah ada." Aska dan Rendi saling melirik, membuat mereka mengerti dengan sikap angkuh wanita di hadapan mereka.


"Kamu juga kenal sama anak saya?" Mama Queen menatap Rendi.


Rendi mengangguk. "Iya Tante, saya juga kenal Queen."

__ADS_1


"Oh.. saya mengerti." Mama Queen mengangguk pelan. "Kenapa Queen tidak memilih kamu?" Aska mengerutkan dahi mendengar ucapan mama Queen kepada Rendi.


"Hatinya yang tidak bisa memilih saya Tante." Rendi memang lebih brengsek di banding Aska, tapi ia tidak kalah dewasa dengan Aska.


"Waw.. Kalian polisi melan kolis ya.." Mama Queen tertawa. Aska dan Rendi tidak sempat mengganti pakaian dinas mereka. Karena Aska tidak pulang ke kontrakannya lebih dulu, ia tidak ingin Queen tau.


"Kalian tau, bagaimana hubungan saya sama Queen?" Mama Queen menatap Aska dan Rendi bergantian.


Sekali lagi Aska dan Rendi bertatapan, wanita di hadapan mereka sangat bertele-tele.


"Yang saya tau, dia seperti seorang gadis sebatang kara." Jawab Aska.


"Memang. Dia sebatang kara semenjak SMP." Raut wajah mama Queen mulai berubah, matanya sendu menerawang masa lalunya.


Mama Queen mengusap air mata di pelupuk matanya, bersamaan dengan dering ponsel Aska berbunyi.


Aska merogoh saku celananya, melihat layar ponsel. Queen memanggil, di tengah obrolan tentang dirinya. Aska melirik mama Queen sebentar. Meminta waktu untuk mengangkat panggilan di ponselnya.


"Permisi Tante." Aska beranjak dari duduknya, berjalan sedikit menjauh.


"Halo Ra.." Sapa Aska lembut.


"Lagi ada urusan sebentar sama Rendi." Aska melirik jam tangannya. "Mungkin tengah malam nanti saya baru sampe rumah Ra.." Ada sedikit rasa tak enak di hati Aska.


Mama Queen memperhatikan bagaimana Aska berucap pada Queen. Dan Rendi sedang menelisik raut wajah mama Queen.


"Ini malam minggu mas Aska, kamu malah sama Rendi. Aku curiga lho.." Aska terkekeh.


"Iya sayang, maaf ya.." Aska mengurut pangkal hidungnya. "Kamu jangan tidur malam-malam ya.. nggak usah keluar rumah, udah makan belum? saya pesenin mau nggak?" Perhatian Aska tak luput dari pengawasan mama Queen. Tapi benar itulah isi hati Aska saat ini.


"Aku mau makan kalo mas Aska udah pulang. tut.. tut.." Queen mematikan sambungan telfonnya, membuat Aska kebingungan.


Dasar Queen.


Sebelum kembali duduk, Aska menyempatkan diri, memesan makanan via aplikasi untuk Queen. Aska tau Queen tidak pernah main-main dengan ucapannya saat sedang merajuk.

__ADS_1


Aska kembali duduk, diantar Rendi dan calon ibu mertuanya.


"Maaf Tante agak lama." Aska masih memegang ponsel, sesekali ia melihat isi layarnya. Fokusnya belum sempurna untuk melanjutkan obrolan mereka tadi.


"Mereka memang gini Tante, nggak bisa pisah dalam waktu yang lama, apalagi tanpa kabar seperti sekarang." Rendi berucap dengan santai, berusaha meyakinkan hati mama Queen.


Mama Queen memicing, tidak mengerti. Sedangkan Aska yang tengah menjadi pusat perhatian, menatap Rendi tak mengerti dengan ucapan rekannya.


Rendi melirik isi layar ponsel Aska. "Lagi pesen makanan untuk Queen ya? Kenapa lagi, belom makan?" Rendi sengaja menekankan ucapannya, agar mama Queen tau bagaimana hubungan nyata antara Aska dan anak Queen.


"Sejauh mana hubungan kalian?" Akhirnya mama Queen bersuara.


"Mereka masih sebatas pacaran, tapi hati mereka sudah terikat dalam." Sela Rendi. "Aska lelaki yang bertanggung jawab Tante, saya bisa jamin itu." Rendi menepuk pelan bahu Aska. Aska yang masih fokus menunggu konfirmasi pesanannya hanya diam menatap Rendi sekilas.


Tak lama ponsel Aska berdering. Aska segera mengangkatnya, masih duduk di tempat.


"Halo, kenapa bang?" Aska serius.


"*Halo iya pak, maaf.. saya sudah sampai, tapi si mbaknya nggak mau nerima makanannya. Gimana pak*?" Tanya abang ojol.


"Oh.. apa tadi dia bilang?" Aska mulai gusar.


"Katanya buat saya aja pak." Abang ojol terkekeh pelan.


"Yaudah kalo gitu buat abang aja. Makasih ya bang." Aska langsung mematikan sambungannya. Wajahnya mulai gusar, ia tidak bisa berlama-lama lagi disini. Gadisnya menunggunya di rumah.


"Maaf Tante, bisa kita langsung ke intinya? Saya tidak bisa lebih lama lagi disini." Aska meminta dengan sopan.


Tatapan mama Queen mulai melembut. "Oke. Saya rasa saya bisa mulai lebih tenang sedikit sekarang, saya cuma mau hubungan saya sama anak manja itu lebih baik dari sebelumnya." Mama Queen memejamkan matanya, merasakan desiran di hati yang begitu menyayat.


Aska dan Rendi tidak mengerti. Hubungan seperti apalagi yang lebih baik dari antara mama dan anak perempuan. Ibunya di kampung dan adik perempuannya, selalu kompak dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Ada apa dengan hubungan Queen dan mamanya? Aska dan Rendi terheran.


"Kalian bisa pulang sekarang, saya tidak mau anak saya jatuh sakit karena telat makan." Mama Queen mengerti dengan ucapan Rendi tadi.


Bagi Aska, alasan dirinya berada jauh di sini, karena demi hubungan yang lebih baik dengan gadisnya. Tetapi apa gunanya kalau gadisnya merajuk karena dirinya yang jauh dan jatuh sakit karenanya. Tidak masuk akal untuk seorang seperti Aska.

__ADS_1


**lanjutannya nanti malam.**


🙃🙃😉


__ADS_2