Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
Pecah


__ADS_3

Tuhan tolonglah,


hapus dia dari hatiku.


kini semua percuma,


takkan mungkin terjadi kisah cinta yang selalu aku banggakan.


Kau hempas semua,


rasa yang tercipta untukku.


tanpa pernah mencoba betapa ku mencoba jadi yang terbaik,


untuk dirimu..


Oh mengapa, tak bisa dirimu


yang mencintaiku, tulus dan apa adanya..


aku memang,bukan manusia sempurna tapi ku layak dicinta, karena ketulusan..


kini biarlah, waktu yang jawab semua,


tanya hatiku..


***


Sore harinya, Queen tengah duduk santai di sofa, pikirannya sudah sedikit lebih tenang di banding semalam. Ya, seusai bercerita pada Rindi saat di kampus tadi, adalah jalan yang terbaik bagi ketenangan batinnya.


Queen benar-benar masih beruntung karena memiliki teman sebaik Rindi, yang siap melakukan apapun demi kebaikan Queen. Itu juga termasuk bentuk tanggung jawab Rindi yang turut andil dengan hubungan antara Queen juga Aska. Rindi juga merasa bersalah jika nantinya Aska bukanlah yang terbaik untuk sahabat satu-satunya itu.


Namun saat asik mendengar musik di ponselnya, ia juga mendengar pintunya seperti diketuk seseorang. Dengan malas, ia bangun menghampiri pintu, Queen juga berharap itu adalah suaminya tercinta yang tidak jadi pulang telat, seperti apa yang ia katakan semalam.


"Hai Queen.." Senyum sumringah Rendi menambah ketampanan wajahnya.


"Oh kak Rendi.. masuk kak.." Ajak Queen, sambil membuka lebar pintu kontrakannya.


"Iya, Aska udah balik belom?"


"Belom. Loh, katanya mau ada janji sama kakak?"


"Lah.. dia bilangnya nggak jadi sih.." Rendi sedikit bingung dengan keadaan yang ada. Berbeda dengan Queen yang sudah mengerti apa yang akan terjadi.


"Mungkin macet kali mas Askanya, tunggu di dalem aja kak.."


"Nggak usah, aku tunggu sini aja Queen, takut khilaf. Hehe.."


"Khilaf kenapa?"


"Nggak pa-pa." Cengiran misterius Rendi, sedikit menghibur hati Queen.


"Mau minum apa kak Ren?"

__ADS_1


"Yang ada aja keluarin semua. Haha.."


"Bisa aja kak Rendi. Sebentar ya.." Queen masuk kedalam dengan seulas senyuman. Tapi langkah kakinya terhenti, seraya merasakan lemah. Tenaga Queen mendadak menghilang, dadanya juga terasa sesak. Suaminya pasti tetap pulang telat. Dan jika Rendi berada disini, maka bersama siapa lelakinya berada kini?.


Meskipun begitu, Queen harus tetap sabar menghadapi keadaan ini. Terlebih ada kak Rendi di luar. Ia tidak boleh tau masalah internal rumah tangganya.


Queen kembali ke depan sambil membawa teh hangat juga cemilan biskuit. Kesedihannya sebisa mungkin tidak ia tunjukkan.


"Di dalem aja sih kak, disini banyak debu."


"Nggak pa-pa. Aku kan bukan ibu-ibu hamil. Oh iya, perut kamu udah keliatan buncit ya Ra? Udah berapa bulan emang?" Rendi memandang lurus perut Queen yang semakin membesar.


"Lima bulan kak, alhamdulilah.. "


"Oh, sehat-sehat ya debay.. biar cakep kayak emaknya." Rendi ingin sekali mengusap perut Queen. Tapi ia tidak memiliki hak itu, meskipun hubungan dirinya juga suami Queen terbilang sangat akrab.


"Oh iya kak, ngomong-ngomong.. tadi kakak janjian sama mas Aska dimana?"


"Em.. tadinya mau nonton Ra. Tapi salah satunya ngebatalin janji. Jadi nggak jadi deh." Rendi nampak terlihat tak masalah dengan batalnya janji mereka. Ia bersikap sangat biasa, sampai Queen tidak bisa menebak dengan siapa saja mereka akan bertemu.


Tapi untuk sekedar bertanya, Queen juga takut kalau sampai Rendi mengucapkan ada nama seorang wanita. Ia lebih memilih diam dan menghindari sakit hati itu.


Tanpa di ketahui oleh Rendi yang duduknya sedikit jauh, karena Queen berada di atas sofa. Ia menginformasikan pada Rindi, apa yang Rendi ucapkan. Sayangnya, Rindi tidak membalas chat dari Queen.


Waktu yang terus berjalan membuat Rendi berada lama di depan rumah Queen, karena memunguti Aska yang tak kunjung datang. Queen merasa iba. Dengan segenap keberanian yang ia miliki, akhirnya ia berbohong pada Rendi.


"Kak.. mas Aska nya pulang malem. Soalnya harus nyariin bahan buat aku tugas. Maaf banget ya kak.." Wajah Queen di buat semelas mungkin, agar ia nampak menyesal. Ya, sebenarnya memang menyesal, tapi bukan karena kesalahan yang ia buat, melainkan berbohong demi menutupi kesalahan suaminya.


"Iya. maaf banget ya kak,"


"Iya nggak pa-pa. Kamu ati-ati di rumah." Rendi mengulas senyumnya, setelah Queen mengangguk mengerti. Barulah Rendi pergi meninggalkan Queen. Yah.. menilai seseorang memang tidak dapat dilihat dari sisi luarnya. Jika Rendi hari ini masih melihat Queen yang baik-baik saja, entah bagaimana esok ia melihatnya lagi.


Sepeninggalnya Rendi, Queen membereskan kembali yang tadi di suguhkan untuk tamunya. Langkahnya gontai, menyusuri setiap jejak lantai kontrakannya menuju dapur. Ia sudah tidak tahan lagi dengan sikap suaminya, yang kian hari makin menjadi-jadi. Dalam hatinya ia berjanji, jika memang Aska pergi bersama wanita lain, maka, tanpa kompromi lagi Queen akan meninggalkan suaminya kini, pergi membesarkan bayi dalam kandungannya seorang diri. Entah bagaimana caranya, tapi pasti ada jalan. Dari pada Queen harus larut dalam kesakitan yang mendera.


Queen siap mengemas barang-barangnya ke dalam koper. Hatinya sudah tidak tahan lagi. Air mata itu terus meluncur di wajah halusnya. Sekelebat bayangan tentang hal-hal romantis yang Aska lakukan selalu terngiang-ngiang di fikirannya, itu tentu membuat hati rapuh Queen semakin tersayat.


Queen masih menunggu, dan terus menunggu, hingga sampai lelakinya pulang nanti. Waktu yang sudah semakin larut menghabiskan kesabaran Queen hingga tak tersisa. Lalu datanglah kabar dari Rindi lewat ponselnya. Satu video tentang Aska dan satu wanita tengah makan di dalam resto cepat saji.


Siapa yang tak terluka melihat suaminya bersenda gurau dengan wanita lain yang tak ia kenal. Rindi mengirimkan kabar di waktu yang tepat. Itu sama halnya dengan memasukan amunisi ke dalam meriam, yang siap meledak kapan saja. Tak tau bagaimana Rindi mendapatkan situasi itu, kapan dan dimana. Queen tidak mau tau. Yang ia pedulikan adalah orang di dalam video adalah orang yang ia sayang dan sudah mengkhianatinya.


Apa yang harus Queen lakukan, pergi adalah hal terbaik. Queen bisa pergi sekarang juga kalau ia mau, tapi Queen tidak ingin pergi dalam keadaan hati yang bimbang. Ia masih ingin tau kebenarannya langsung dari mulut suaminya.


Sambil menunggu, Queen meringkuk di atas sofanya, air mata itu terus turun tanpa perlu Queen pinta. Menangis seorang diri di atas sofa dengan keadaan hamil tanpa ada yang memberi semangat. Haruskah Queen mengakhiri hidupnya detik ini. Itu lebih mudah, di banding harus hidup dengan berjuta kenangan indah yang ternodai dengan penghianatan.


Queen terus menangis, sambil menunggu suaminya pulang. Sampai kesadarannya hilang. Dan tanpa ia sadari, satu kecupan mendarat di keningnya dengan lembut. Queen terkesiap, perlahan ia membuka matanya dengan berat. Tertidur setelah menangis sekian lama membuat mata Queen sulit untuk terbuka. Bahkan sisa isaknya masih ada.


"Kenapa tidur di sofa?" Suara lelaki yang sedari tadi Queen tunggu kedatangannya, akhirnya datang.


Tanpa menunggu jawaban Queen, Aska mengangkat tubuh wanitanya, pindah ke atas tempat tidur. Namun, Aska begitu terkejut melihat koper Queen yang sudah siap di samping ranjangnya.


"Ra?" Suara Aska dengan nada meminta penjelasan. "Kamu mau kemana?" suaranya masih lembut, sembari menatap wajah Queen yang terlihat kusut. "Kamu abis nangis? Kenapa?"


what? kenapa?? salah banget tuh orang nanyanya.

__ADS_1


Queen langsung bangun dengan tergesa-gesa. Ia mencari ponselnya, dan menunjukan video yang Rindi kirim tadi.


Wajah Aska berubah seketika. Wajah yang tadinya akan marah, yang tak sabaran tadi, berubah menjadi terkejut dan tak percaya.


"Masih tanya kenapa aku nangis?" Air mata Queen kembali turun, seiring terbukanya luka yang ia pendam.


"Tunggu dulu Ira. Ini emang saya, tapi cewek ini temennya Rendi. Kita nggak berdua doang kok." Aska memberi penjelasan, sambil menenangkan Queen yang tak terkendali.


"Nggak berdua? Coba kamu tunjukin, mana temen kamu yang lain, yang ada di dalem video itu? Coba, yang mana?"


"Iya emang nggak ada, tapi kita lagi nunggu Rendi dateng."


"Tadi kak Rendi kemari. Nungguin kamu sampe sore. Tapi kamunya nggak pulang-pulang. Kamu pergi sama cewek itu sampe lupa waktu."


"Bukan lupa waktu Ira.. tapi emang kita janjiannya udah sore."


"Oh.. udah janjian toh. Bukannya kamu bilang perginya sama Dimas. Itu dia yang namanya Dimas? Hah?" Melihat Queen yang semakin menjadi, Aska rasanya mulai menggila. Ia tak tahan melihat wanita yang ia sayang, harus terluka.


"Tenang dulu Ra.. kita bisa bicarain ini baik-baik."


"baik-baik? Semua orang kalo udah kayak gini pasti bilangnya begitu mas."


"Iya saya tau saya salah Ra. Tapi kamu harus dengerin saya dulu, tolong."


"Udahlah, aku udah males denger kamu. Satu kebohongan bakal nyiptain kebohongan lainnya mas. Aku tau apa yang bakal kamu ucapin." Queen mengenakan sweater yang sudah ia siapkan di atas koper, lalu menarik kopernya ingin keluar pergi.


Namun langkah kaki Aska lebih cepat. Bukannya mencegah Queen, lelaki itu lebih memilih mengunci pintu kontrakan mereka, agar Queen tidak bisa bertindak sesukanya.


"Mas Aska!!" Bentak Queen. Ia kesal melihat kuncinya di buang entah kemana.


"Kamu nggak bisa pergi tanpa izin dari saya."


"Jahat banget kamu mas. Kamu lelaki paling jahat yang pernah aku kenaall.." Queen berteriak seraya memaki suaminya. Ia juga memukul dada Aska sekuat ia bisa.


"Dengerin saya dulu Ra, tolong.. masalah ini nggak akan selesai kalo kamu nggak tau kebenarannya." Aska mencoba memeluk Queen, agar wanitanya bisa tenang. Tapi Queen masih belom puas melampiaskan kekesalannya pada Aska. Pukulannya masih terus mengarah pada lengan juga dada bidang Aska.


Aska yang melihat Queen terus menangis, membuat hatinya tersadar. Betapa besar kesalahan yang sudah ia buat pada wanita tersayangnya.


Dalam hati Aska juga tersayat, merasa ngilu mendengar isakan tangis Queen yang semakin menjadi.


Ia tak berkata atau mencoba menjelaskan apapun pada Queen. Aska ingin Queen merasa tenang dulu barulah ia membahas kebenarannya.


Bagaimanapun juga, situasi ini tidak baik bagi kesehatan Queen juga calon bayi mereka. Karena itu Aska terus memeluk tubuh Queen. Tak perduli dengan apapun yang Queen perbuat pada tubuh Aska, ia tak mempermasalahkannya. Yang terpenting kini adalah ketenangan hati Queen. Sampai Queen menggigit pundak Aska untuk melampiaskan rasa sakitnya hingga dalam. Aska juga tak bersuara. Ia hanya menggeram menahan sakit, mungkin berdarah. Tapi sakit hatinya Queen lebih dalam dan tak terlihat.


Aska merasa Queen sudah tenang, karena entah berapa lama pelukan mereka, sampai Aska tak menyadari bahwa Queen sudah tertidur dalam dekapannya.


Aska masih tak mau melepaskannya. Ia justru semakin mendekapnya erat. Lelaki itu juga mengeluarkan air mata tanpa ia sadari. Tak pernah ia bayangkan, dirinya akan membuat Queen sesedih ini. Melihatnya menangis sama saja menusuk belati di hatinya.


Queen semakin tak sadar, mungkin dirinya sudah larut dalam mimpi, akhirnya Aska memilih mengangkat tubuh rapuh Queen dan membaringkannya di kasur.


Dengan rasa sakit dan penyesalan yang dalam, Aska menyelimuti tubuh Queen, mencium keningnya dalam lalu memeluknya dari belakang. Seerat mungkin, tak ingin terlepas apalagi melepaskannya. Sebelum menutup matanya, Aska juga berjanji akan menyelesaikan masalah mereka secepat mungkin. Agar tangis Queen segera hilang, terganti dengan senyum yang selalu menjadi penyemangat hidup Aska


😉😉🙃

__ADS_1


__ADS_2