
Kenapa pas udah akhir baru banyak yang komen. Coba kalo dari awal yang komennya rame, pasti belum ending ini cerita. 😅
***
Setiap orang selalu memiliki akhir kisah hidup masing-masing. Tergantung di mana mereka ingin mengakhiri jalan ceritanya. Bukan seperti akhir dengan kematian, bisa saja tentang akhir dari sebuah penantian atau akhir dari lika-liku hidupnya. Sama seperti kisah Queen dan Aska.
Penantian Queen yang selalu bermimpi tentang kebahagiaan yang dan kedamaian dalam hidupnya kini, sudah ia dapatkan. Memiliki lelaki yang mencintainya dengan sangat, sampai ia juga di berikan anak perempuan yang ia idam-idamkan. Seperti itulah mantra yang dimiliki Aska. Ia mampu memberikan apapun yang Queen inginkan, bahkan sekalipun itu rahasia terbesar dari sang penguasa hidup.
Sebegitu yakinnya Queen akan mendapatkan anak perempuan yang cantik dan manis, bisa di bilang itu seperti kembaran dirinya ketika masih bayi. Ya.. masih bayi, waktu masih bayi. Dan sekarang waktu terus berjalan, anak perempuan cantiknya yang di beri nama Arkadewi Basagita Wijaya, bidadari penerang keluarga yang bertutur indah. Tidak muluk-muluk impian mereka, setidaknya balita yang kini berusia empat tahun itu bisa menjadi penguat kebahagiaan rumah tangga mereka.
Karena Queen yang dulunya hidup dalam kesendirian, selalu menginginkan rumah tangga yang hangat dan harmonis. Itu berarti Queen ingin memiliki anak lebih dari satu, setidaknya ia bisa memberikan satu anak laki-laki seperti yang Aska inginkan dari awal. Melihat persalinan yang begitu dramatis, Aska tidak menginginkan wanitanya kesakitan lagi, tidak ingin mengulang kesalahan yang kedua kali.
Keluarga hangat bukan berarti memiliki banyak anggota di dalamnya, menurut Aska mereka sudah cukup, ia akan selalu berusaha menghangatkan hati wanitanya hingga kelak, dan mampu memberikan setiap hal positif yang Queen inginkan, tapi tidak dengan persalinan lagi. Ia sangat menolak keras.
Seperti hari ini, adalah hari waktunya Queen untuk rutin mendapatkan suntikan. Setelah usia anak mereka menapaki usia satu tahun, Queen dan Aska mantap membawanya kembali ke ibukota, tidak lagi tinggal bersama ibu kandung dari Aska. Queen merasa sudah mampu mengurus buah hatinya saat lelakinya tengah bekerja. Lagipula kasian juga suaminya harus tinggal kesepian sendiri di rumah kecil mereka, hanya bisa bertemu dengan buah hatinya sebentar dan hanya bisa mengetahui perkembangannya melalui sambungan video. Itu cukup membuat dalam hati masing-masing merasa tercubit, miris.
Satu tahun itu bukanlah hal yang lama bagi mereka, terutama Aska, ia harus mempersiapkan segalanya dengan matang bagi dua bidadari kesayangannya. Aska menyatukan dua kamar kontrakan miliknya juga milik Queen sebelumnya, untungnya kamar mereka bersebelahan, jadi tidak rumit untuk di pikirkan.
Kenapa Aska dan istrinya keukeuh untuk tetap tinggal di sana? Bahkan menolak rumah pemberian dari mama Queen. Bagi mereka kediamannya saat ini adalah saksi bisu perjalanan cinta mereka dan satu-satunya kenangan tertinggal dari almarhum ayah Queen. Begitu berat dan tak terpikir lagi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
***
Queen enggan untuk pergi ke jadwal rutinnya, setiap bulan ia harus merasakan jarum suntik di menusuk kulitnya. Bukan hal yang terlalu sakit, tapi Queen enggan menerimanya. Meskipun setiap kepergiannya selalu di temani sang suami. Entah, mungkin Aska ingin menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri tentang keamanan rahim istrinya.
"Aku jadi tambah sebel sama kamu." Queen memberengut kesal di dalam mobil, sambil memeluk buah hatinya yang duduk di samping sirinya, Queen bahkan enggan duduk bersebelahan dengan Aska di depan. Ia memilih duduk di belakang sambil memeluk buah hatinya.
Aska hanya menanggapinya dengan kekehan kecil. Ia gemas, sangat pada istrinya yang masih terlihat muda dan cantik. Selalu seperti ini setiap Queen mendapatkan suntikan. Tidak pernah berubah selama empat tahun ini.
"Kan kamu yang nggak pengen punya anak, kenapa harus aku yang usaha?" Cicit nya terus, tanpa ingin berusaha menatap wajah suaminya.
"Iya iya maaf.." Jawab Aska selalu sama.
"Kamu mau makan apa sayang?" Tanya Aska lembut.
"Enggak. Enggak mau makan apapun." Jawab Queen sinis.
"Lho?" Aska menoleh sebentar kebelakang, menatap wajah Queen. "Aku nanyanya sama Gita kok, kamu yang jawab."
Jleb! Dasar mas Aska.
__ADS_1
Queen menghirup nafasnya dalam-dalam, menahan rasa kesal yang terus bertambah. Melihatnya Aska semakin tak tahan menahan tawanya.
"Tata mau makan apa?" Suara Aska lebih lembut.
"Jangan nanya kayak gitu ya mas, nggak baik. Nantinya dia jadi pemilih soal makanan. Aku nggak mau." Queen sudah lebih dulu menyela sebelum buah hatinya membuka suara.
"Sekali-sekali mah nggak papa lah Ra. Anggap aja itu hadiah dari aku."
"Hadiah untuk apa? Nggak ada yang spesial juga."
"Hadiah karena liat kamu yang lagi cemberut. Kasian kan dia harus liat muka jelek kamu." Ya ampun. Menyerah sudah Queen, semakin banyak bicara pada suaminya, semakin banyak pula kesal yang ia rasakan.
Dan akhirnya dengan persetujuan dari buah hati mereka, Aska menepikan mobilnya, membeli cemilan favorit Queen, bakso isi telur dan kue dongkal.
"Ini ndoro putri." Aska menyerahkan bungkusannya pada Queen setelah ia masuk ke dalam mobil. "Udah ya, jangan ngambek-ngambek lagi." Bujuknya cukup dengan bakso dan Queen tak akan menolaknya.
🙃🙃😉
Oiya guys.. bagi yang masih punya waktu untuk baca, boleh dong minta tolong di riview cerita baru aku "Kepingan hati." Tapi itu bukan tentang si Rendi di cerita ini.
__ADS_1
Butuh banget komentar yang membangun untuk cerita itu. 😅😅